Badan Geologi Lakukan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gempabumi Daerah Semenanjung Muria, Jawa Tengah

1. Latar Belakang

Semenanjung Muria yang meliputi daerah Kabupaten Jepara, Pati, dan Kudus, Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah rawan bencana gempabumi. Meskipun daerah ini jarang terjadi gempabumi, namun ada beberapa kejadian gempabumi merusak. Kejadian gempabumi merusak terakhir terjadi pada tanggal 23 Oktober 2015 pukul 01.10 WIB. Berdasarkan data BMKG posisi pusat gempabumi pada koordinat 6.39o LS dan 110.91o BT dengan magnitudo 5 Skala Richter (SR) dan kedalaman 14 km. Kejadian gempabumi tersebut mengakibatkan terjadinya gerakan tanah di Desa Pendem, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara (Harian Kompas, 24 Oktober 2015). Dengan kejadian tersebut membuktikan bahwa daerah Semenanjung Muria tidak sepenuhnya aman dari goncangan gempabumi. Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka pada tahun 2018, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi mengirimkan Tim Pemetaan Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempabumi daerah Semenanjung Muria.

2. Tim Pemetaan KRB Gempabumi Daerah Semenanjung Muria

Tim Pemetaan KRB Gempabumi daerah Semenanjung Muria terdiri-dari empat orang, yaitu : Amalfi Omang, M.Phil sebagai kepala tim dengan anggota                Dr. Supartoyo, Dr. Sri Hidayati dan Deden Junaedi. Tim tersebut bertugas melakukan survei lapangan dari tanggal 16 hingga 27 April 2018 dengan tugas : melakukan pengamatan kondisi geologi, melakukan pengukuran mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah setempat, identifikasi sumber gempabumi, dan mengidentifikasi upaya mitigasi gempabumi di daerah pemetaan melalui wawancara dengan aparat setempat dan masyarakat setempat. Dalam melaksanakan tugasnya tim pemetaan tersebut membawa peralatan satu set seismograf portabel merk sara.

3. Hasil Sementara

Berdasarkan pengamatan lapangan morfologi daerah pemetaan terdiri-dari perbukitan yang terletak di sekitar Gunung Muria, dataran dan dataran bergelombang. Morfologi perbukitan pada umumnya tersusun oleh batuan rombakan gunungapi yang telah mengalami pelapukan, seperti lava, tuf dan breksi gunungapi. Morfologi dataran bergelombang sebagian tersusun oleh batuan rombakan gunungapi yang juga telah mengalami pelapukan, dan sebagian lagi merupakan endapan aluvial. Morfologi dataran bergelombang terdapat pada bagian bawah/ kaki dari Gunung Muria. Adapun morfologi dataran tersusun oleh endapan aluvial pantai dan sungai, terdapat pada wilayah pantai.

Hal menarik adalah untuk mengidentifikasi sumber gempabumi daerah Semenanjung Muria. Daerah ini terletak jauh dari zona penunjaman, sehingga sumber gempabumi yang terdekat adalah sesar aktif. Untuk penyusunan peta KRB gempabumi, input dari karakteristik sumber gempabumi memegang peranan penting. Pada peta sumber gempabumi nasional tahun 2010 sumber gempabumi di daerah Semenanjung Muria adalah Sesar Pati dengan magnitudo maksimum 6,8 Mw (moment magnitude), slip rate 0,5 mm/tahun dan Sesar Lasem dengan magnitudo maksimum 6,5 Mw (moment magnitude), slip rate 0,5 mm/tahun (Kementerian PU, 2010), sedangkan pada gempabumi nasional tahun 2017 sumber gempabuminya adalah Sesar naik Pati dengan magnitudo maksimum 6,5 Mw (moment magnitude), slip rate 0,1 mm/tahun dan Sesar Muria dengan magnitudo maksimum 6,2 Mw (moment magnitude), slip rate 1 mm/tahun (Kementerian PU, 2017). Berdasarkan katalog gempabumi merusak yang disusun oleh PVMBG Badan Geologi, daerah Semenanjung Muria paling tidak telah tiga kali mengalami kejadian gempabumi merusak yaitu tanggal        21 Februari 1877, 12 Desember 1890 dan 23 Oktober 2015. Adanya kejadian gempabumi merusak ini membuktikan bahwa sesar Muria dan sesar Pati tergolong sebagai sesar aktif.

Kegiatan pemetaan KRB gempabumi ini nantinya akan menghitung besarnya nilai percepatan gempabumi pada batuan dasar maupun permukaan tanah. Untuk menyusun peta KRB gempabumi ini diperlukan input dari karakteristik sumber gempabumi dan karakteristik tanah permukaan yang diperoleh dari analisis geomorfologi dan hasil pengukuran mikrotremor. Peta KRB gempabumi ini akan disimulasikan dengan beberapa skenario menggunakan metode PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis) dan DSHA (Deterministic Seismic Hazard Analysis) dengan input sumber gempabumi dari sesar Lasem, Muria dan Pati.

Daerah di sekitar sesar Muria dan sesar Pati pada umumnya tersusun oleh endapan Kuarter berupa batuan rombakan gunungapi muda yang telah mengalami pelapukan, endapan aluvial sungai, pantai dan endapan rawa. Karakteristik endapan Kuarter tersebut pada umumnya bersifat lunak, urai, lepas, belum kompak (unconsolidated), memperkuat efek goncangan/amplifikasi, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.

Berdasarkan pengamatan lapangan terlihat bahwa upaya mitigasi gempabumi di daerah Semenanjung Muria belum optimal. Masyarakat dan aparat setempat yang bermukim dan beraktivitas di daerah Semenanjung Muria belum pernah mendapatkan sosialisasi, simulasi dan pelatihan gempabumi. Hal ini dapat dimengerti karena gempabumi memang jarang terjadi di daerah ini, sehingga apabila terjadi gempabumi, maka akan berpotensi untuk menjadi bencana. Oleh karena daerah Semenanjung Muria merupakan daerah rawan gempabumi yang bersumber dari aktivitas sesar aktif, maka harus dilakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana gempabumi yang mungkin akan berulang di kemudian hari (Pty, 2018).

 

kudus

Gambar 1. Pengukuran mikrotremor di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

 

kudus2

Gambar 2. Pengukuran mikrotremor di Desa Jetis Kapuan Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.


 

kudus3

Gambar 3. Kenampakan Gunung Muria difoto dari daerah Kaliwungu, Kabupaten Jepara ke arah utara.

 

kudus4

Gambar 4. Morfologi perbukitan yang tersusun oleh batuan rombakan gunungapi muda di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

 

kudus5

Gambar 5. Morfologi dataran yang tersusun oleh endapan rawa di daerah Teluk Awur, Kabupaten Jepara.

 

kudus6

Gambar 6. Singkapan breksi gunungapi di sungai pada Desa Buloh, Kecamatan Buloh, Kabupaten Kudus.

 

kudus7

Gambar 7. Kenampakan teras sungai pada zona Sesar Muria di Desa Buloh, Kecamatan Buloh, Kabupaten Kudus.

 

kudus8

Gambar 8. Kenampakan muka pegunungan (mountaint front) berarah barat – timur pada zona sesar naik Pati, di foto ke arah selatan dari Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.