Badan Geologi Turunkan Tim Tanggap Darurat Gempa Bumi Ke Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

1. Latar Belakang

Pada hari hari Kamis tanggal 5 Juli 2018, pukul 01:45:24 WIB, telah terjadi gempa bumi tektonik di daerah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Menurut informasi BMKG lokasi pusat gempa bumi terletak di darat pada koordinat 7.25°LS dan 107.73°BT, berjarak sekitar 18,8 km barat kota Garut atau sekitar 2,4 km selatan kawah Darajat, dengan kedalaman 10 km dan kekuatan/ magnitudo 3,7 SR (Skala Richter). Kejadian gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena lokasi pusat gempa bumi terletak di darat, namun sempat mengagetkan penduduk yang sedang istirahat dan berada di sekitar lokasi pusat gempa bumi yaitu Kecamatan Pasir Wangi, Sukaresmi dan Cisurupan, Kabupaten Garut. Lokasi kecamatan –kecamatan tersebut dapat ditempuh melalui jalan darat dari Kota Garut dengan kondisi jalan beraspal cukup bagus, namun di beberapa tempat kondisi jalan rusak dan berlubang.

2. Tim Tanggap Darurat Badan Geologi

Sehubungan dengan kejadian tersebut dan untuk mengetahui dampak dari kejadian gempa bumi tanggal 5 Juli 2018, maka Badan Geologi (BG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menurunkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana, yaitu : Merry Christina Natalia, ST sebagai kepala tim dengan anggota tim Dr. Sri Hidayati, Dr. Supartoyo dan Fadlianto Nurfalah. TTD BG melaksanakan tugas dari tanggal 5 hingga 9 Juli 2018.

TTD BG bertugas untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait penanggulangan bencana, pemeriksaan dampak gempa bumi dan kondisi geologi setempat, melakukan pengukuran mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah setempat, identifikasi sumber gempa bumi, dan melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah setempat tentang gempa bumi dan bencana geologi. TTD BG nantinya akan memberikan rekomendasi teknis terkait upaya mitigasi gempa bumi kepada Gubernur Jawa Barat, Bupati Garut dan instansi terkait lainnya.

3. Hasil Kegiatan

Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi dan dampaknya, maka kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh sesar aktif setempat yang diperkirakan berarah timur laut – barat daya. Berdasarkan data dari pos pengamatan gunungapi Guntur dan Papandayan, kejadian gempa bumi tersebut tidak diikuti oleh kejadian gempa bumi susulan. 

Daerah Kecamatan Pasir Wangi, Sukaresmi dan Cisurupan merupakan daerah yang terletak dekat dengan lokasi pusat gempa bumi. Berdasarkan pengamatan lapangan morfologi daerah tersebut berupa perbukitan yang tersusun oleh batuan rombakan gunungapi muda terdiri – dari breksi gunungapi, breksi lahar, tuf, abu gunungapi, dan aliran lava komposisi andesitik dan basaltik. Batuan – batuan tersebut sebagian besar telah mengalami pelapukan dan membentuk tanah subur. Hal ini ditunjang melimpahnya air permukaan, sehingga merupakan lokasi pertanian dan perkebunan yang subur. Tata guna lahan berupa permukiman, persawahan, perkebunan, lokasi pariwisata terutama di Kecamatan Pasir Wangi, dan sebagian lagi berupa hutan. Batuan rombakan gunungapi muda yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak, memperkuat efek goncangan/amplifikasi, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi.

Kejadian gempa bumi tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun sempat menimbulkan kepanikan dan kecemasan masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi pusat gempa bumi. Skala intensitas gempa bumi maksimum melanda daerah sekitar pusat gempa bumi yang mencapai skala intensitas V MMI (Modified Mercally Intensity). Adapun daerah Kecamatan Pasir Wangi, Sukaresmi dan Cisurupan, intensitas gempa bumi pada skala IV MMI, dan kota Garut pada skala III MMI. Pos pengamatan gunung api Guntur dan Papandayan mencatat kejadian gempa bumi ini pada skala III-IV MMI. Kerusakan bangunan dijumpai pada masjid Jami Hidayatul Fallah di Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi berupa jatuhnya beberapa genting. Desa lainnya tidak di jumpai adanya kerusakan bangunan.

Selama melaksanakan kegiatan tanggap darurat bencana gempa bumi, disamping melakukan pemetaan dan pemeriksaan dampak gempa bumi tanggal 5 Juli 2018, TTD BG juga melakukan koordinasi dan diskusi tentang mitigasi gempa bumi dengan BPBD Kabupaten Garut, petugas pos pengamatan gunung api Guntur dan Papandayan, pengukuran mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah, dan sosialisasi gempa bumi secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah setempat. Hasil pengukuran mikrotremor pada lokasi yang terletak dekat dengan pusat gempa bumi, yaitu daerah Kecamatan Pasir Wangi, Sukaresmi dan Cisurupan memperlihatkan bahwa daerah tersebut tersusun oleh tanah lunak (nilai Vs30 < 175 m/det) dan tanah sedang (nilai Vs30 175 hingga 350 m/det). Karakteristik tanah seperti itu akan rawan terhadap goncangan gempa bumi.

Kegiatan sosialisasi dan diskusi tentang gempa bumi secara langsung kepada masyarakat dan aparat setempat dilakukan di Kecamatan Sukaresmi (Desa Mekarjaya, Sukalilah, Cinta Damai), Kecamatan Pasir Wangi (Desa Sirnajaya, Pasir Wangi, Karyamekar), dan Kecamatan Cisurupan (Desa Pamulihan, Pangauban). Berdasarkan hasil sosialisasi, masih banyak masyarakat yang khawatir karena beredar berita-berita yang tidak benar tentang gempa bumi. Salah satunya adalah bahwa kejadian gempa bumi yang terjadi terkait dengan aktivitas Kawah Kamojang. TTD BG melalui kegiatan sosialisasi secara langsung ke masyarakat menjelaskan pengetahuan gempa bumi dan upaya mitigasinya. Penduduk yang bermukim di sekitar lokasi pusat gempa bumi belum sepenuhnya memperoleh informasi tentang antisipasi menghadapi gempa bumi. Mereka jarang mendapat kegiatan sosialisasi, simulasi dan wajib latih tentang gempa bumi. Oleh karena daerah Kecamatan Pasir Wangi, Sukaresmi dan Cisurupan merupakan daerah rawan gempa bumi yang bersumber dari aktivitas sesar aktif di darat, maka harus dilakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi yang mungkin akan terulang di kemudian hari (*Pty*).

 

garut

Gambar 1. Peta intensitas dan pusat gempa bumi tanggal 5 Juli 2018.


garut2

Gambar 2. Foto bersama dengan Kepala BPBD Kabupaten Garut (Bpk Djakaria, posisi di tengah) setelah koordinasi dan diskusi terkait kejadian gempa bumi tanggal 5 Juli 2018.


 garut3

Gambar 3. Rumah penduduk di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi yang terletak pada morfologi perbukitan.

 

garut4

Gambar 4. Tanah hasil pelapukan dari batuan rombakan gunungapi muda di Kecamatan Cisurupan.

 

garut5

 

Gambar 5. Catatan seismogram di pos pengamatan Gunungapi Guntur pada kejadian gempa bumi tanggal 5 Juli 2018.

 

garut6

Gambar 6. Material genting yang jatuh dari masjid Jami Hidayatul Fallah di Desa Karyamekar, Kecamatan Pasir Wangi akibat kejadian gempa bumi tanggal

5 Juli 2018.

 

garut7

Gambar 7. Sosialisasi gempa bumi dengan para santri pesantren Darul Ulum, Desa Cinta Damai, Kecamatan Sukaresmi.

 

garut8

Gambar 8. Sosialisasi dan diskusi tentang gempa bumi dengan masyarakat di Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi.

 

garut9

Gambar 9. Diskusi terkait kejadian gempa bumi tanggal 5 Juli 2018 dengan Sekretaris Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi (Bpk Endang, posisi kedua dari kiri).

 

garut10

Gambar 10. Koordinasi dan diskusi terkait kejadian gempa bumi tanggal

5 Juli 2018 dengan staf Kecamatan Pasir Wangi (Bpk H. Tatang, posisi kedua dari kanan).

 

garut11

Gambar 11. Diskusi tentang kejadian gempa bumi tanggal 5 Juli 2018 dengan penduduk di Desa Pangauban, Kecamatan Cisurupan.

 

 garut12

Gambar 12. Kegiatan pengukuran mikrotremor di Desa Sukawangsa, Kecamatan Sukaresmi.