Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kec. Sawoo, Pulung, Ngebel Dan Slahung Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Kecamatan Sawoo, Pulung, Ngebel dan Slahung Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur  sebagai berikut : 

A. Kecamatan Sawoo

1. Desa Sriti ( Lokasi – 1 )

1.1. Dukuh Tarap, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah

 

Lokasi bencana terletak di Dukuh Tarap, Lingkungan Nggemblung, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordin at : 070 57’ 50,5” LU & 1110 37’ 29,3”BT, elevasi + 565 m sampai 578 m di atas muka laut (dpl).

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa Nendatan, Retakan dan Rayapan, nendatan dengan ukuran  panjang 34 - 67 m, lebar 26 – 62 m, tinggi gawir 0,4 – 1,8 m dengan arah N 2640 E  dan Retakan dengan ukuran panjang  20 – 45 m, lebar 0,3 – 0,8 m, dalam 0,2 – 1,5 m dengan arah N 2560 E  -  N 2700 E , sedangkan rayapan dengan arah umum  N  2920 E.

Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 2 rumah rusak berat
  • 3 rumah terancam
  • 2 Ha lahan pekarangan dan kebun campuran rusak 

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng selatan perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan lereng bagian atas 30 – 400, sedangkan di bagian tengah 5 – 150 dan lereng bagian bawah 15 – 300. Pada bagian kaki lereng mengalir Kali Gemblung (anak Kali Plapar) beupa sungai “temporer” (berair pada musim hujan, kering pada musim kemarau) 
  • Geologi, Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah pada bagian atas berupa breksi gunungapi dan di bagian bawah tufa pasiran dan batu pasir tufaan, lapuk lanjut – lapuk sempurna, berupa lempung pasiran, coklat, gembur-lunak, sarang tebal > 4 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan bagian atas lereng berupa kebun campuran, sedangkan bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran, tegalan dan sebagian pemukiman. 
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan yang cukup  melimpah pada musim hujan, untuk keperluan sehari-hari air diambil dari mata air dari sumber mata air terdekat yang banyak pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah di daerah ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( 30 - > 450 ) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama, sehingga tanah menjadi jenuh dan mudah bergerak.
  • Adanya bidang gelincir berupa sisipan tufa dan batu lempung pada satuan batuan ini.

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori, menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.      Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

  • Daerah ini pada setiap musim hujan akan selalu bergerak (terjadi nendatan, retakan dan rayapan)
  • Masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) dan dipadatkan.
  • Tidak melakukan penggalian secara terjal/tegak, terutama pada lereng bagian atas.
  • Tidak menebang pohon (tanaman keras), terutama pada lereng
  • Rumah yang aman untuk daerah ini adalah rumah kayu (rumah panggung)
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan bagian tengah).
  • Melakukan penghijauan terutama pada lereng bagian atas dan tengah.
  • Apabila gerakan tanah di daerah ini terus berkembang, maka rumah-rumah perlu direlokasi ke tempat yang aman

 

1.2.  Dukuh Dasri, Lingkungan Ngelo, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi bencana terletak di Dukuh Dasri, Lingkungan Ngelo, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordinat : 070 58’ 43,6” LU & 1110 37’ 11,7”BT, elevasi + 568 m sampai 582 m di atas muka laut (dpl).

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa Nendatan, Retakan dan Rayapan, nendatan pada lereng bagian tengah dan bawah dengan ukuran  panjang 70 m, lebar 36 – 82 m, tinggi gawir 0,4 – 0,8 m dengan arah N 2130 E  dan Retakan pada lereng bagian atas dengan ukuran panjang  20 – 65 m, lebar 0,3 – 0,8 m, dalam 0,2 – 1,2 m dengan arah N 960 E  -  N 1240 E , sedangkan rayapan dengan arah umum  N  2210 E. Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 1 rumah rusak
  • 2 rumah terancam
  • 2 Ha lahan pekarangan dan kebun campuran rusak

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng selatan perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan lereng bagian atas relatif datar (2 - 50), sedangkan di bagian tengah 10 – 250 dan lereng bagian bawah 15 – > 300. Pada bagian kaki lereng mengalir Kali Cakaran yang berupa sungai “temporer” (berair pada musim hujan, kering pada musim kemarau)
  • Geologi, Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah pada bagian atas berupa breksi gunungapi dan di bagian bawah tufa pasiran dan batu pasir tufaan, lapuk lanjut – lapuk sempurna, berupa lempung pasiran, coklat, gembur-lunak, sarang tebal > 4 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan bagian atas lereng (datar) berupa pemukiman dan kebun campuran, sedangkan bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran, tegalan dan belukar.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan (run off) yang cukup  melimpah pada musim hujan, untuk keperluan sehari-hari air diambil dari mata air dari sumber mata air terdekat yang banyak pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( 25 - > 350 ) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan mudah bergerak.
  • Adanya bidang gelincir berupa sisipan tufa dan batu lempung pada satuan batuan ini.

 

e.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori, menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.  Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g.  Rekomendasi

  • Masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Menutup retakan dengan tanah lempung dan dipadatkan
  • Rumah yang aman untuk daerah ini adalah rumah kayu (rumah panggung)
  • Air permukaan pada lereng bagian atas disalurkan ke kaki lereng dengan saluran kedap/pralon agar tidak menjenuhi lereng.
  • Tidak menggali/memotong lereng secara terjal/tegak
  • Tidak menebang pohon-pohon  (tanaman keras) terutama pada lereng/tebing terjal/curam.
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan bagian tengah).
  • Melakukan penghijauan terutama pada lereng bagian atas dan tengah
  • Apabila gerakan tanah di daerah ini terus berkembang, maka rumah-rumah perlu direlokasi ke tempat yang aman

 

1. 3.  Dukuh Dasri, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi bencana terletak di Dukuh Dasri, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordin at : 070 58 42,8” LU & 1110 37’ 17,4”BT, elevasi + 602 m sampai 616 m di atas muka laut (dpl).

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa Longsoran bahan rombakan  dengan ukuran  panjang 21 m, lebar 18 – 24 m, tinggi gawir 1,0 – 2,4 m dengan arah N 2970 E  dan Retakan dengan ukuran panjang  10 – 17 m, lebar 0,2 – 0,5 m, dalam 0,2 – 1,0 m dengan arah N 1270 E  -  N 2480 E. Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 1 rumah rusak
  • 1 rumah terancam

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng selatan perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan lereng bagian atas relatif datar (2 - 50), sedangkan di bagian tengah 10 – 250 dan lereng bagian bawah 15 – > 300. Pada bagian kaki lereng mengalir Kali Cakaran yang beupa sungai “temporer” (berair pada musim hujan, kering pada musim kemarau)
  • Geologi, Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah berupa batu pasir dan di bagian bawah tufa pasiran dan batu pasir tufaan, lapuk lanjut – lapuk sempurna, berupa lempung pasiran, coklat, gembur-lunak, sarang tebal > 4 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, sedangkan bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran, tegalan dan pemukiman.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan (run off) yang cukup  melimpah pada musim hujan, untuk keperluan sehari-hari air diambil dari mata air dari sumber mata air terdekat yang banyak pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( 25 - > 350 )
  • Adanya pemotongan lereng ( > 600 ) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan mudah bergerak.
  • Adanya bidang gelincir berupa sisipan tufa dan batu lempung pada satuan batuan ini.
  • Kondisi lahan yang relatif gundul (perubahan tata guna lahan) dari hutan ke ladang/tegalan.

 

e.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori, menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun.

Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.    Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g.  Rekomendasi

  • Lokasi tersebut masih berpotensi terjadi longsoran susulan, maka masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Pelandaian lereng dengan undak (terasering) dengan tinggi jenjang 1,0 m sudut < 300
  • Menutup retakan dengan tanah lempung dan dipadatkan
  • Air permukaan pada lereng bagian atas disalurkan ke kaki lereng dengan saluran kedap/pralon agar tidak menjenuhi lereng.
  • Tidak menggali/memotong lereng secara terjal/tegak
  • Tidak menebang pohon-pohon  (tanaman keras) terutama pada lereng.
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan bagian tengah).

 

1.4. Dukuh Badot, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo

a.  Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi gerakan tanah terletak di Dukuh Badot, Desa Sriti, Kec. Sawoo, Kab. Ponorogo, Prov. Jawa Timur terletak pada koordinat N 1110 38’ 07,5”E dan 070 57’ 24,2” LS. Gerakan tanah terjadi pada bulan November 2016 yang lalu

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Gerakan tanah berupa Nendatan, dengan lebar 25 meter, tinggi nendat 20 – 40 cm, dan arah umum gerakan tanah N 1200E dan menimbulkan retakan tidak beraturan. Dampak gerakan tanah ini menyebabkan 1 rumah hancur dan beberapa terancam, rumah yang hancur telah dipindahkan pada lereng bagian atas sejauh 60 m dari lokasi semula namun pada lokasi baru masih tetap terancam karena terletak pada kemiringan lereng yang terjal > 300.

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Daerah bencana terletak di lereng yang relatif agak terjal dengan kemiringan lereng antara 10 – 150 setempat terjal – curam > 60⁰.
  • Geologi, Batuan di daerah ini pada bagian bawah berupa batuan tuf, berwarna putih kecoklatan, mudah pecah, dan pada bagian atas ditutupi oleh breksi warna abu abu kecoklatan, agak keras, kurang kompak. Tanah pelapukan daerah ini berupa lempung pasiran, coklat muda, sarang, porositas tinggi, gembur mudah menyerap air, tebal 1,5 – 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada umumnya berupa peladangan dan kebun campuran setempat terdapat rumah penduduk
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan yang cukup  melimpah pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( > 450 ) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama, menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan mudah bergerak.
  • Adanya retakan-retakan pada lereng bagian atas, sehingga limpasan air permukaan (air hujan) mudah masuk ke dalam tanah dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Adanya bidang gelincir berupa sisipan tufa pada satuan batuan napal pasiran

 

e.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g.  Rekomendasi

  • Daerah ini pada setiap musim hujan akan dapat selalu bergerak (terjadi gerakan tanah)
  • Masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Daerah ini pada setiap musim hujan akan selalu bergerak, sehingga daerah ini tidak aman untuk pemukiman.
  • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan agar air permukaan tidak mudah masuk ke dalam dan menjenuhi tanah
  • Rumah yang rusak dan terancam agar direlokasi ke tempat yang aman
  • Tidak menebang pohon terutama pada lereng
  • Melakukan penghijauan terutama pada lereng bagian atas dan tengah Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng).

 

1. 5.  Lingkungan Ngemplak/Setren, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi bencana terletak di Lingkungan Ngemplak, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordin at : 070 58 20,6” LU & 1110 38’ 44,5”BT, elevasi + 702 m di atas muka laut (dpl).

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa Nendatan  dengan ukuran  panjang 12 m, lebar 10 – 18 m, tinggi gawir 0,4 – 1,0 m dengan arah N 2570 E  pada badan jalan dan Retakan dengan ukuran panjang  10 – 18 m, lebar 0,2 – 0,5 m, dalam 0,2 – 1,0 m dengan arah N 1140 E  -  N 2780 E

Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • jalan sepanjang 15 meter rusak
  • 1  rumah rusak dan 2 rumah terancam

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa tebing jalan dari lereng selatan perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan lereng > 450
  • Geologi, Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah berupa batu pasir tufaan dimana bagian permukaan lapuk lanjut – lapuk sempurna, berupa lempung pasiran, coklat, gembur-lunak, sarang tebal > 4 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, sedangkan bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran, tegalan, pemukiman dan jalan raya.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan (run off) yang cukup  melimpah pada musim hujan. Terdapat saluran permanen pada sisi jalan yang sudah rusak (tidak berfungsi).
  •  Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat fisik tanah urugan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( > 450 )
  • Tembok penahan yang kurang kuat (tidak bertulang)
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah sehingga tanah mudah bergerak.

 

e.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori pada tanah timbunan (jalan), menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya kemiringan lereng yang tegak dan tembok penahan yang kurang kuat,  maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak badan jalan dan mengancam beberapa rumah di daerah tersebut.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

  • Masyarakat yang masih berada di daerah tersebut (terutama yang di bawah jalan) perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Pemadatan tanah urugan pada badan jalan
  • Air permukaan pada lereng bagian atas disalurkan ke kaki lereng dengan saluran kedap agar air tidak masuk dan menjenuhi lereng.
  • Tembok penahan tebing dibuat bertulang yang dasarnya masuk ke dalam tanah (tanah keras)
  • Memperbanyak lubang-lubang pembuangan air dengan pralon (diameter > 3 inchi)
  • Membuat saluran kedap pada sisi jalan bagian bawah
  • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan
  • Membuat/memperbaiki saluran kedap pada sisi jalan, sehingga aliran air permukaan tidak masuk ke dalam badan jalan
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan bagian tengah).

 

1.6.  Lingkungan Ngemplak, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi bencana terletak di Lingkungan Ngemplak, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordin at : 070 58 08,9” LU & 1110 39’ 19,3”BT, elevasi + 703 m di atas muka laut (dpl).

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa Nendatan dengan ukuran  panjang 42 m, lebar 25 – 34 m, tinggi gawir 0,2 – 0,7 m dengan arah N 3010 E  dan Retakan dengan ukuran panjang  12 – 19 m, lebar 0,2 – 0,5 m, dalam 0,2 – 1,0 m dengan arah N 2770 E  -  N 3120 E

Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 1  rumah rusak dan 4 rumah terancam
  • 40 meter badan jalan desa rusak tertimbun material longsoran
  • 0,5 Ha lahan pekarangan rusak dan 2,5 Ha kebun campuran terancam rusak

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng selatan perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan lereng antara 10 – 250 dan setempat curam dengan kemiringan lereng > 600
  • Geologi, Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah berupa breksi di bagian permukaan lapuk lanjut – lapuk sempurna, berupa lempung pasiran, coklat, gembur-lunak, sarang tebal > 4 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, jalan dan perumahan penduduk, sedangkan bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran, tegalan dan ladang.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan (run off) yang cukup  melimpah pada musim hujan, untuk keperluan sehari-hari air diambil dari mata air dari sumber mata air terdekat yang banyak pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( 25 - > 350 )
  • Adanya bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar.
  • Kondisi lahan yang relatif gundul (perubahan tata guna lahan) dari hutan ke ladang/tegalan.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan mudah bergerak.

 

e.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori, menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g.  Rekomendasi

  • Masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Menutup retakan dengan tanah lempung dan dipadatkan
  • Air permukaan pada lereng bagian atas disalurkan ke kaki lereng dengan saluran kedap/pralon agar tidak menjenuhi lereng.
  • Tidak menggali/memotong lereng secara tegak
  • Tidak menebang pohon-pohon  (tanaman keras) terutama pada lereng/tebing terjal/curam.
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan bagian tengah).
  • Melakukan penghijauan terutama pada lereng bagian atas dan tengah

 

2.  Desa Tempuran (Lokasi – 2) 

2.1.  Dusun Karangrejo, Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi bencana terletak di Dukuh Jeruk, Dusun Karangrejo, Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordinat : 080 00’ 11,0” LU & 1110 39’ 08,2”BT, elevasi +376 m dpl.

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa Nendatan beberapa tingkat dengan ukuran  panjang 90 m, lebar 30 – 56 m, tinggi gawir 6 – 10 m dengan arah N 2230 E  dan Retakan dengan ukuran panjang  20 – 44 m, lebar 0,3 – 0,7 m, dalam 0,2 – 1,5 m dengan arah N 2230 E  -  N 2420 E  yang terjadi pada gawir terjal lereng timur Gunung Panggang berkemiringan antara 10 - > 450 setempat > 700. Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 4 rumah hancur
  • 11 rumah terancam gerakan tanah
  • 2 Ha lahan pekarangan dan kebun campuran rusak

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa pada gawir terjal lereng timur Gunung Panggang berkemiringan antara 10 - > 450 setempat > 700 dan setempat berupa dataran untuk pemukiman, berketinggian  + 376 m dpl.
  • Batuan penyusun, Batuan penyusun di lokasi gerakan tanah berupa napal setempat bersisipan tufa di bagian permukaan lapuk sedang – lapuk sempurna, dengan pelapukan lempung pasiran, coklat, lunak-agak padat, sarang, gembur dengan tebal > 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan bagian atas lereng berupa kebun campuran dengan hutan pinus, sedangkan bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran, tegalan dan pemukiman.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan yang cukup  melimpah pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( > 450 ) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan mudah bergerak.
  • Adanya retakan-retakan pada lereng bagian atas, sehingga limpasan air permukaan (air hujan) mudah masuk ke dalam tanah dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Adanya bidang gelincir berupa sisipan tufa pada satuan batuan napal pasiran

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

  • Daerah ini sudah tidak layak huni, karena pada setiap musim hujan akan selalu bergerak.
  • Rumah-rumah yang hancur dan terancam agar direlokasi ke tempat yang aman
  • Masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
  • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan
  • Tidak menebang pohon terutama pada lereng
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng).
  • Melakukan penghijauan terutama pada lereng bagian atas dan tengah

 

2. 2.  Dusun Petung, Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo

a. Lokasi Gerakan Tanah  

Lokasi bencana terletak di Dusun Petung, Lingkungan Bandungan, Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo, terletak pada koordinat : 070 59’ 41,4” LU & 1110 38’ 25,5”BT dengan ketinggian + 556 m dpl

 

b. Kondisi Bencana dan Dampaknya 

Jenis gerakan tanah berupa retakan dan rayapan dengan ukuran  panjang 30 - 43 m, lebar 0,25 – 0,60 m, dalam 0,4 – lebuh 4,0 m dengan arah N 1740 E  dan pada lereng bagian tengah dan bawah pernah terjadi Retakan dengan ukuran panjang  25 – 48 m, lebar 0,3 – 0,7 m, dalam 0,2 – 1,5 m dengan arah N 2200 E  -  N 2500 E (informasi penduduk). Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 1 rumah rusak berat dan 2 rumah terancam gerakan tanah
  • 1,5 Ha lahan pekarangan dan kebun campuran terancam rusak

 

c. Kondisi Daerah Bencana  

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng selatan  perbukitan bergelombang lemah – sedang berkemiringan antara 10 - 150 setempat > 700 dan setempat berupa dataran untuk pemukiman, berketinggian  + 376 m dpl.
  • GeologiBatuan penyusun di lokasi gerakan tanah berupa napal setempat bersisipan tufa di bagian permukaan lapuk sedang – lapuk sempurna, dengan pelapukan lempung pasiran, coklat, lunak-agak padat, sarang, gembur,  tebal > 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tulungagung, Jawa (Hanang Samodra, dkk., Puslitbang Geologi, tahun 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Jaten (Tmj) yang terdiri dari : tufa pasiran, napal dan batu lanau, breksi vulkanik, batu pasir tufaan dan batu lempung berumur Miosen. Struktur geologi yang berkembang di wilayah ini berupa patahan (sesar) normal berarah  timur laut- barat daya.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan bagian atas lereng berupa kebun campuran dan pemukiman pada lereng bagian atas sedangkan bagian tengah dan bawah berupa sawah.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan yang cukup  melimpah pada musim hujan, air sawah basah pada lereng bagian tengah dan bawah serta mata air pada lereng bagian bawah.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal > 5 meter.
  • Lahan sawah pada lereng bagian tengah dan bawah yang jenuh air, sehingga tanah tidak stabil
  • Adanya retakan dan longsoran pada lereng bagian bawah yang menarik lereng di bagian atas.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( > 350 ) pada lereng bagian bawah, mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan mudah bergerak.
  • Adanya bidang gelincir berupa batuan keras (batu pasir tufa dan lava) dengan tanah pelapukan.

 

e.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang berlangsung lama, maka limpasan air permukaan akan masuk melalui retakan dan ruang antar pori menyebabkan bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya menurun. Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang terjal, maka masa tanah pada lereng akan menjadi tidak stabil dan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak rumah-rumah di daerah tersebut.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi  

  • Jangka pendek
    • Daerah ini akan selalu bergerak pada setiap musim hujan, maka masyarakat yang masih berada di daerah tersebut perlu waspada dan segera mengungsi ke tempat aman bila terjadi hujan deras (terutama hujan yang berlangsung lama).
    • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan
    • Mengeringkan limpahan air permukaan dengan saluran kedap dan dialirkan ke kaki lereng (alur sungai)
    • Tidak melakukan pemotongan lereng (pada gawir/lereng terjal)
    • Rumah-rumah yang rusak dapat diganti dengan rumah kayu (rumah panggung)

 

  • Jangka panjang
    • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah).
    • Mengganti lahan sawah menjadi lahan kering (perkebunan) pada  lereng bagian tengah dan bawah
    • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka rumah-rumah di lokasi tersebut perlu direlokasi ke tempat yang aman.

 

B.  Kecamatan Pulung (Lokasi – 3)

a.  Lokasi Gerakan Tanah

Lokasi gerakan tanah terletak di Dusun Nguncup RT-2/RW-2, Desa Bekiring, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, secara geografis terletak pada  koordinat 111° 39' 35,8" BT dan 07° 50' 56,6" LS;. Gerakan tanah ini terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan bertambah parah pada awal November 2016 hingga sekarang.

 

b.  Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Jenis gerakan tanah berupa nendatan dan retakan. Nendatan terjadi pada lereng bagian atas dengan ukuran panjang antara 24 – 35 m, lebar antara 12 – 32 m, tinggi antara 0,5 – 0,7 m dengan arah N 187 E dan N 236 E; sedangkan retakanya  terjadi pada lereng bagian atas hingga bagian bawah dengan ukuran panjang anatara 20 – 42 m, lebar antara 0,2 – 0,8 m, dalam antara 0,3 – 1,2 m dengan arah N 46 E -  N 107 E. Dampak gerakan tanah : 35 rumah rusak dan terancam.

 

c.  Kondisi Daerah Gerakan Tanah

  • Morfologi, Secara umum daerah gerakan tanah merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang dengan ketinggian ± 829 m di atas permukaan laut dengan kemiringan 15 – 400 setempat > 600.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan di lapangan, batuan dasar penyusun daerah gerakan tanah berupa breksi dan tufa pasiran, dimana bagian permukaan lapuk lanjut – lapuk sempurna berupa lempung pasiran, coklat, lunak, tebal (> 4 m) dan sarang. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Madiun ( Udi Hartono, dkk., Puslitbang Geologi, 1992)  batuan penyusun daerah tersebut termasuk Morfoset Jeding-Patukbanteng (Qj) yang terdiri dari lava andesit piroksen, breksi gunungapi dan sisipan tuf dan batuapung. Struktur geologi baik berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak terdapat pada daerah tersebut.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas berupa hutan pinus dan kebun campuran, pada bagian tengah berupa kebun campuran dan belukar setempat rumah-rumah penduduk, sedangkan bagian bawah berupa kebun campuran, tegalan/lading  dan pemukiman yang tersebar.
  • Keairan, Berupa aliran air permukaan (run off) pada waktu hujan dan air permukaan melalui alur sungai yang mengalir pada lereng bagian tengah (hanya berair
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang gembur, bersifat lepas dan sarang sehingga air hujan cepat masuk kedalam tanah menyebabkan tanah menjadi njenuh sehingga bobot masa dan tekanan air pori tanah meningkat
  • Adanya zona lemah berupa bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar (batu pasir tufa dan tuf).Kemiringan lereng yang terjal ( > 450 )
  • Adanya perubahan fungsi lahan dari hutan pinus menjadi lading/tegalan dan perumahan.
  • Kurangnya tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Daerah gerakan tanah merupakan lereng yang terjal yang dibentuk oleh batuan vulkanik dengan tanah pelapukan yang tebal ( > 5 m), bersifat gembur dan sarang, maka air hujan mudah meresap kedalam tanah menyebabkan tanah menjadi jenuh, sehingga bobot masanya bertambah dan tekanan air pori tanah meningkat. Adanya kemiringan lereng yang cukup terjal dan adanya bidang gelincir antara tanah pelapukan dengan batuan dasar (batu pasir tufa) dan ditambah kondisi lahan yang gundul, maka lereng menjadi tidak stabil dan terjadi nendatan yang diikuti oleh retakan-retakan.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

Daerah sekitar bencana gerakan tanah masih berpotensi untuk terjadi gerakan  tanah susulan untuk itu di rekomendasikan sebagai berikut :

  • Daerah ini pada setiap musim hujan akan berpotensi terjadi gerakan tanah (nendatan, retakan dan rayapan)
  • masyarakat yang tinggal di daerah sekitar gerakan tanah terutama sekitar alur yang berhulu pada daerah gerakan tanah harus selalu waspada karena retakan tanah masih terus berkembang dan membentuk tapal kuda dan berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat agar selalu mengamati perkembangan retakan tanah. Jika gerakan tanah terus berkembang maka agar masyarakat di sekitar gerakan tanah mengungsi atau melapor kepada Aparat Desa dan BPBD Kabupaten Ponorogo.
  • Segera menutup retakan tanah, dan dipadatkan jika retakan tetap berkembang, masyarakat agar segera mengungsi ke tempat yang aman.
  • Daerah gerakan tanah agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
  • Untuk jangka panjang, masyarakat yang bermukim di sekitar alur sungai pada lereng bagian bawah perlu direlokasi ke tempat yang aman (diperkirakan dapat terjadi banjir bandang).

 

C. Kecamatan Ngebel (Lokasi – 4)

a.  Lokasi Gerakan Tanah

  • Lokasi gerakan tanah terletak di lereng G. Banyon, Desa Talun, Kecamatan ngebel, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.
  • Secara geografis terletak pada  koordinat 111°39'33,3" BT dan 07°48'27,8" LS;.
  • Retakan tanah terjadi diawali sejak 5 (lima) tahun yang lalu dan retakan masih terus berkembang, sedangkan  longsoran pada bagian bawah terjadi pada 14 April 2016.

 

b.  Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan dan nendatan yang disertai retakan-retakan. Longsoran bahan rombakan dengan panjang 90 m, lebar 20 – 40 m dan terdapat 2 (dua) unit gerakan tanah jenis nendatan dengan panjang  250 - 300 m, lebar 50 - 100 m, tinggi penurunan  2 -  4 m dengan arah gerakan tanah N 253° E - N 262° E. Dampak gerakan tanah : 39 KK penduduk Desa Talun terancam gerakan tanah.

 

c.  Kondisi Daerah Gerakan Tanah

  • Morfologi, Secara umum daerah gerakan tanah terletak pada Morfonit Ngebel yang merupakan kompleks dari G. Willis dan gerakan tanah  terletak di sebelah Barat Daya dari perbukitan  dengan ketingian tempat sekitar 900 - 1170 m diatas permukaan air laut,  dengan kemiringan lereng rata - rata  25 – 35° dan pada lereng bawah lebih besar dari .45°.
  • Geologi, Berdasarkan peta geologi lembar Madiun (Hartono, U, dkk, 1992)  dan pengamatan di lapangan, batuan dasar penyusun daerah gerakan tanah bagian atas berupa batuan breksi gunung api berkeping dan diorite, tuf dan konglomerat gunung api. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Madiun ( Udi Hartono, dkk., Puslitbang Geologi, 1992)  batuan penyusun daerah tersebut termasuk Morfoset Jeding-Patukbanteng (Qj) yang terdiri dari lava andesit piroksen, breksi gunungapi dan sisipan tuf dan batuapung. Struktur geologi baik berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak terdapat pada daerah tersebut.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas berupa hutan pinus dan kebun campuran, pada bagian tengah berupa kebun campuran dan belukar, sedangkan bagian bawah berupa kebun campuran dan pemukiman yang berjarak sekitar  700 m dari daerah gerakan tanah.
  • Keairan, Berupa aliran air permukaan (run off) pada waktu hujan dan air permukaan melalui alur sungai yang mengalir dari kawasan hutan pinus ke lereng bawah yang berdekatan dengan daerah pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Adanya retakan sebelumnya yang telah terjadi sejak 5  tahun yang lalu sehingga air hujan banyak masuk kedalam retakan tanah sehingga meningkatkan bobot massa tanah.
  • Tanah pelapukan yang gembur, bersifat lepas dan sarang sehingga air hujan cepat masuk kedalam tanah menyebabkan tanah menjadi njenuh sehingga bobot masa dan tekanan air pori tanah meningkat
  • Adanya zona lemah berupa bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar (breksi tuf dan tuf).
  • kemiringan lereng yang terjal sampai curam ( > 650 )
  • Hutan pinus yang berdiameter cukup besar serta sistim perakaran yang kurang dalam dan tidak menembus bidang gelincir gerakan tanah sehingga menambah gaya dorong lereng kearah bawah.
  • Kurangnya tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Daerah gerakan tanah merupakan lereng yang terjal yang dibentuk oleh batuan vulkanik dengan tanah pelapukan yang tebal ( > 5 m), bersifat gembur dan sarang, maka air hujan mudah meresap kedalam tanah menyebabkan tanah menjadi jenuh, sehingga bobot masanya bertambah dan tekanan air pori tanah meningkat. Hal ini diperburuk dengan adanya retakan yang telah terjadi  sejak 5 (lima) tahun yang lalu serta pohon pinus dengan diameter yang cukup besar pada lereng yang terjal, karena pohon pinus tersebut sistim perakarannya kurang dalam dan tidak menembus bidang gelincir sehingga dapat meningkatkan gaya dorong kearah bawah. Gabungan dari beberapa faktor penyebab tersebut menyebabkan terjadinya longsoran pada lereng bagian tengah dan diikuti dengan  nendatan pada lereng atasnya.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

Daerah sekitar bencana gerakan tanah masih berpotensi untuk terjadi gerakan  tanah susulan untuk itu di rekomendasikan sebagai berikut :

  • Kepada masyarakat yang tinggal di daerah sekitar gerakan tanah terutama sekitar alur yang berhulu pada daerah gerakan tanah harus selalu waspada karena retakan tanah masih terus berkembang dan membentuk tapal kuda dan berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat agar selalu mengamati perkembangan retakan tanah. Jika gerakan tanakan terus berkembang maka agar masyarakat di sekitar gerakan tanah mengungsi atau melapor kepada Aparat Desa dan BPBD Kabupaten Ponorogo.
  • Segera menutup retakan tanah, dan dipadatkan jika retakan tetap berkembang, masyarakat agar segera mengungsi ke tempat yang aman.
  • Daerah gerakan tanah agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
  • Untuk jangka panjang, masyarakat yang bermukim di sekitar alur sungai pada lereng bagian bawah perlu direlokasi ke tempat yang aman (diperkirakan dapat terjadi banjir bandang).

 

D.  Kecamatan Slahung (Lokasi – 5)

1. Kampung Ngepung, Desa Tugu Rejo, Kecamatan Slahung

a. Lokasi Gerakan Tanah

Lokasi gerakan tanah terletak di Kampung Ngepung, Desa Tugu Rejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis terletak pada  koordinat 111°23' 09,2" BT dan 08° 02' 06,1" LS . Gerakan tanah ini terjadi sejak tahun 2013 dan bergerak menjadi nendatan pada akhir bulan November 2016 dan berkembang terus hingga sekarang.

 

b. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Jenis gerakan tanah adalah jenis  nendatan.dengan panjang 120 m dan lebar 20 - 76 m dengan arah gerakan N 162° E dan retakan dengan arah . N 246° E  N 213° E  N 14° E dengan panjang 12 – 68 m, lebar 0,2 – 0,7 m dan dalam 0,4 – 1,2 m

Dampak gerakan tanah :

  • 1 (satu) rumah rusak berat dan sudah dipindahkan.
  • 4 (empat) rumah rusak ringan
  • 1 (satu) sekolah (SD Tugurejo-2 ) sebagian rusak dan terancam
  • 1 (satu) ruang TK rusak ringan dan terancam
  • 4 (empat) rumah terancam
  • Jalan raya yang menghubungkan Ponorogo – Pacitan rusak sepanjang 25 meter

.

c. Kondisi Daerah Gerakan Tanah

  • Morfologi, Daerah gerakan tanah merupakan lereng selatan dari perbukitan Bukit Palaman dengan ketingian  + 281 m diatas permukaan air laut,  dengan kemiringan lereng rata - rata  20°.- 25°, sedangkan pada lereng atas pada kemiringan lereng lebih besar dari 40°.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan di lapangan, batuan dasar penyusun daerah gerakan tanah berupa batuan beku (lava) yang terkekarkan akibat pengaruh patahan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan (Hanang Samudra, dkk, 1992)  batuan penyusun daerah tersebut berupa Formasi Watupatok (Tomw)  terdiri dari lava basal berstruktur bantal, bersisipan batu pasir, batu lempung dan rijang. Struktur geologi berupa patahan (sesar) normal yang berkembang di sekitar daerah tersebut dengan arah Barat Daya  - Timur Laut.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran antara lain jati, bambu, pisang, kelapa dan sebagainya; bagian tengah pemukiman dan bagian bawah sawah, jalan raya (aspal), sekolahan dan rumah-rumah penduduk.
  • Keairan, Berupa air permukaan yang mengalir bebas di permukaan pada waktu hujan dan masuk ke dalam tanah melalui rekahan dan ruang antar pori. Air permukaan juga berasal dari sawah yang selalu basah yang meresap ke dalam tanah/batuan. Air untuk keperluan sehari - hari masyarakat menggunakan air dari mata air yang berada di sekitar daerah pemukiman yang didistribusikan dengan selang.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah
  • Sifat fisik endapan bahan rombakan yang lepas (tidak kompak), sarang (mudah menyerap air) dan tebal (> 5 m)
  • Daerah gerakan tanah merupakan daerah zona lemah (daerah patahan), yang dicirikan dengan kondisi batuan (batuan beku) yang hancur terkekarkan dan tidak stabil.
  • Adanya lahan sawah pada lereng bagian tengah yang menyebabkan tanah selalu jenuh air dan tidak stabil.
  • Adanya bidang lincir antara material bahan rombakan dengan batuan dasar (batuan beku) yang kedap air
  • Pemukiman yang sudah berkembang menjadi rumah dari tembok sehingga meningkatkan  gaya dorong kearah lereng bawah.
  • Dipicu hujan deras dalam waktu lama

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Akibat daerah tersebut dilalui jalur patahan maka daerah tersebut merupakan zona lemah (batuanya hancur terkekarkan) dan merupakan gawir gerakan tanah lama.akibat hujan terus menerus menyebabkan air masuk ke dalam material bahan rombakan sehingga menjadi jenuh dan bobot masanya bertambah. adanya lahan sawah dan berkembangnya pemukiman dari rumah sederhana dengan konstruksi ringan menjadi rumah berkonstruksi berat seperti rumah dari tembok serta kemiringan lereng yang terjal, maka akan meningkatkan gaya dorong kearah lereng bawah. Serta adanya bidang lincir antara material bahan rombakan dan tanah pelapukan dengan batuan dasar (lava andesit), menyebabkan lereng menjadi labil sehingga terjadi nendatan dan retakan yang merusak bangunan dan isfra struktur di daerah tersebut.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

Daerah sekitar bencana gerakan tanah masihg berpotensi untuk terjadinya retakan tanah susulan untuk itu di rekomendasikan sebagai berikut :

  • Jangka pendek
    • Kepada masyarakat yang berakitas dan tinggal di daerah tersebut agar waspada dan memantau perkembangan gerakan tanah.
    • Retakan yang terjadi agar segera ditutup,dengan tanah lempung dan dipadatkan.
    • mengganti lahan sawah menjadi kebun atau lahan tanaman kering
    • Jika mmembangun rumah di kawasan tersebut agar dengan menggunakan konstruksi rumah kayu (rumah panggung).
    • tidak membuat kolam/genangan pada lereng
    • Saluran agar dibuat kedap air agar air permukaan tidak masuk kedalam tanah.
    • Agar diperbanyak tanaman yang berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah).
  • Jangka panjang
    • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka bangunan di daerah tersebut perlu direlokasi ke lokasi yang aman.
    • Menanami lahan daerah tersebut dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng (jati, nangka, durian, mahoni dan lain-lain)

 

2. Kampung Krajan RT.01/Rw.03, Desa Tugu Rejo

a.  Lokasi Gerakan Tanah

Lokasi gerakan tanah terletak di Kampung Krajan RT.01/Rw.03, Desa Tugu Rejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, secara geografis terletak pada  koordinat 111°23'24,7" BT dan 08°01'57" LS .

Waktu Kejadian gerakan tanah : retakan tanah terjadi sejak tahun 2013 dan terjadi lagi pada akhir November 2016 dan terus berkembang hingga sekarang.

 

b.  Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Jenis gerakan tanah adalah jenis  nendatan.dengan panjang 800 m dan lebar 300 m dengan arah gerakan N 145° E. Dampak gerakan tanah.

  • 3 (tiga) rumah rusak berat dan sudah dipindahkan.
  • 38 KK. Rumah rusak ringan dan terancam.

.

c.  Kondisi Daerah Gerakan Tanah

  • Morfologi, Daerah gerakan tanah merupakan lereng dari perbukitan G. Parang .dengan ketingian tempat sekitar 400 – 500  m diatas permukaan air laut,  dengan kemiringan lereng rata –rata  20°.- 25°, sedangkan pada lereng atas berkemiringan lereng lebih besar dari 40°,
  • Geologi, Batuan penyusun di daerah gerakan tanah berupa lava andesit terkekarkan rapat (batuan hancur), sedang bagian bawahnya berupa batu pasir bersisipan batu lempung, dengan pelapukan berupa lempung pasiran, coklat keabuan, lunak, tebal ( > 3 m) dan sarang. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan (Hanang Samudra, dkk, 1992)  batuan penyusun daerah tersebut berupa Formasi Watupatok (Tomw)  terdiri dari lava basal berstruktur bantal, bersisipan batu pasir, batu lempung dan rijang. Struktur geologi berupa patahan (sesar) normal yang berkembang di sekitar daerah tersebut dengan arah Barat Daya  - Timur Laut. Patahan tersebut menyebabkan kondisi batuan menjadi hancur (retak-retak) dan tidak stabil.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas, tengah dan bawah berupa kebun campuran dan setempat pemukiman yang tersebar dan lading/tegalan.
  • Keairan , Berupa air permukaan yang mengalir bebas di permukaan pada waktu hujan dan masuk ke dalam tanah melalui rekahan dan ruang antar pori. Air untuk keperluan sehari - hari masyarakat menggunakan air dari mata air yang berada di sekitar daerah pemukiman yang didistribusikan dengan selang.
  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 Kabupaten Ponorogo (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Daerah gerakan tanah merupakan daerah zona lemah yaitu merupakan daerah patahan, yang dicirikan dengan kondisi batuan (batuan beku) yang hancur terkekarkan dan tidak stabil.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam ( > 450 )
  • Pemukiman yang sudah berkembang menjadi rumah dari tembok sehingga meningkatkan  gaya dorong kearah lereng bawah.
  • Dipicu hujan deras dalam waktu lama

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah  

Akibat daerah tersebut dilalui jalur patahan maka daerah tersebut merupakan zona lemah. Dengan berkembangnya pemukiman dari rumah sederhana dengan konstruksi ringan menjadi rumah berkonstruksi berat seperti rumah dari tembok maka akan meningkatkan gaya dorong kearah lereng bawah. Serta adanya sisipan batu lempung dan tuf pada batuan tersebut maka batuan tersebut dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah. Gabungan dari beberapa faktor penyebab tersebut menyebabkan daerah pemukiman menjadi labil yang dicirikan dengan adanya retakan dan nendatan.

 

f.   Kesimpulan

  • Daerah ini masih akan dapat bergerak terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama

 

g. Rekomendasi

Daerah sekitar bencana gerakan tanah masihg berpotensi untuk terjadinya retakan tanah susulan untuk itu di rekomendasikan sebagai berikut :

 

  • Jangka pendek 
    • Kepada masyarakat yang berakitas dan tinggal di daerah tersebut agar waspada dan memantau perkembangan gerakan tanah.
    • Retakan yang terjadi agar segera ditutup, dengan tanah lempung dan dipadatkan.
    • Mengganti lahan sawah menjadi kebun atau lahan tanaman kering
    • Jika membangun rumah di kawasan tersebut agar dengan menggunakan konstruksi rumah kayu (rumah panggung).
    • Tidak membuat kolam/genangan pada lereng
    • Saluran agar dibuat kedap air agar air permukaan tidak masuk kedalam tanah.
    • Agar diperbanyak tanaman yang berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah).
  • Jangka panjang 
    • apabila gerakan tanah terus berkembang, maka bangunan di daerah tersebut perlu direlokasi ke lokasi yang aman.
    • menanami lahan daerah tersebut dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng (jati, nangka, durian, mahoni dan lain-lain)

 

 

 

LAMPIRAN

Ponorogo 1 (020217)

Foto – 1 :  Koordinasi tentang mitigasi bencana gerakan tanah di kantor BPBD

Kab. Ponorogo bersama BPBD, Sekretaris Dewan dan Lurah Desa Sriti sebelum tim turun ke lapangan

 

Ponorogo 2 (020217)

Foto – 2 :  Nendatan yang terjadi di daerah bencana menyebabkan beberapa rumah rusak dan terancam di Desa Sriti

 

Ponorogo 3 (020217)

Foto – 3 :  Penjelasan mitigasi gerakan tanah oleh tim PVMBG di lokasi rumah yang terancam gerakan tanah di Desa Sriti

 

Ponorogo 4 (020217)

Foto – 4 :  Kondisi rumah yang terancam akibat gerakan tanah pada tebing curam di Desa Sriti

 

Ponorogo 5 (020217)

Foto – 5 :  Kondisi rumah-rumah yang rusak akibat bencana gerakan tanah (retak-retak) di Desa Sriti

 

Ponorogo 6 (020217)

Foto – 6 :  Bekas retakan  dan nendatan yang terjadi di daerah Desa Sriti  menyebabkan rumah rusak dan beberapa rumah terancam

 

Ponorogo 7 (020217)

Foto – 7 :  Sosialisasi mitigasi bencana gerakan tanah di rumah warga yang terkena dampak di Desa Sriti

 

Ponorogo 8 (020217)

Foto – 8 :  Pemeriksaan gerakan tanah (terlihat Retakan) di lapangan yang didampingi aparat BPBD, Polsek, Koramil, dan Kecamatan setempat sekaligus sosialisasi di Desa Bekiring, Kec. Pulung.

 

Ponorogo 9 (020217)

Foto – 9 :  Tampak rumah di Kp. Petung, Ds. Tempuran, Kec, Sawoo  yang hancur karena terkena bencana gerakan tanah (nendatan)

 

Ponorogo 10 (020217)

Foto – 10 : Nendatan dan Retakan sedalam 1 m masih mengancam beberapa rumah ini berjarak hanya berjarak 15 m dari rumah yang hancur di Kp. Ngepung, Desa Tugurejo, Kec.  Slahung

 

Ponorogo 11 (020217)

Foto – 11 :  Tampak salah satu rumah yang hancur karena terkena Nendatan yang menumpang diatas batuan tuf dan lempung yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah di Kp. Krajan, Desa Tugurejo, Kec.  Slahung

 

Ponorogo 12 (020217)

Foto – 12 :  Tampak offset (penurunan) tanah setinggi 1,25 m yang terus

berkembang akibat gerakan tanah (nendatan) di Desa Talun, Kecamatan Ngebel

 

Ponorogo 13 (020217)

Foto – 13 : Morfologi agak terjal dengan tatalahan peladangan dan kebun campuran ini masih perlu dipertahankan guna memperkuat lereng agar tidak terkena gerakan tanah di Desa Slahung

 

 

LAMPIRAN PETA

 

Ponorogo 14 (020217)

 

Ponorogo 15 (020217)

 

Ponorogo 16 (020217)

 

Ponorogo 17 (020217)

 

Ponorogo 18 (020217)

 

Ponorogo 19 (020217)

 

Ponorogo 20 (020217)

 

Ponorogo 21 (020217)

 

Ponorogo 22 (020217)

 

Ponorogo 23 (020217)

 

Ponorogo 24 (020217)

 

Ponorogo 25 (020217)

 

Ponorogo 26 (020217)

 

Ponorogo 27 (020217)

 

Ponorogo 28 (020217)

 

Ponorogo 29 (020217)

 

Ponorogo 30 (020217)

 

Ponorogo 31 (020217)

 

Ponorogo 32 (020217)