Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sungai Are, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan (oku Selatan) Provinsi Sumatera Selatan

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim pasca bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Sungai Are, Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, sebagai berikut:

A. Jalur Jalan Antar Kecamatan, Desa Cukoh Nau

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Jalur jalan penghubung antar kecamatan di Desa Cukoh Nau terletak pada koordinat 04o 28’ 40,19” LS dan 103o 31’ 59” BT. Gerakan tanah mulai terjadi pada hari Sabtu, 3 Desember 2016, kemudian secara intensif berkembang sampai hari Rabu, 7 Desember 2016. Gerakan tanah terjadi setelah turun hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari sebelum kejadian.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di jalur jalan antar kecamatan, Desa Cukoh dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 16 - 40°. Lokasi bencana berada pada lereng yang terjal dengan kemiringan > 40o dan ketinggian antara 725 - 760 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Baturaja, Sumatera (S. Agfoer, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1993), batuan penyusun di daerah bencana berupa lava, breksi gunungapi dan tuf (Formasi Hulusimpang, Tmoh). Berdasarkan pengamatan lapangan tanah pelapukan berupa pasir tufaan berwarna coklat kekuningan sampai coklat kemerahan dengan ketebalan di atas 3 - 6 meter, yang kontak langsung dengan batulempung di bawahnya sebagai bidang gelincir.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan relatif cukup tinggi dikarenakan musim hujan masih berlangsung. Terdapat mata air yang mengalir dari tebing bekas longsoran. Pada bagian lembah mengalir Sungai Luas yang mengalir cukup deras.
  • Tata guna lahan: Tata lahan di sekitar lokasi bencana pada lereng atas berupa perkebunan kopi, bambu, dan sayuran, pada lerneg bagian tengah berupa jalur jalan serta pesawahan pada lereng bagian bawah.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten OKU Selatan bulan Desember 2016 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana di Kecamatan Sungai Are termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Badan jalan jalur penghubung antar kecamatan di Desa Cukoh Nau mengalami rayapan dan amblasan dengan ketinggian dari 0,5 meter – 6 meter, sepanjang kurang lebih 200 meter (Foto 1-2). Di lereng atas badan jalan terjadi longsoran bahan rombakan dengan mahkota longsoran berbentuk tapal kuda yang membentang relatif barat – timur. Arah gerakan tanah umumnya N 20º E. Di atas mahkota longsoran ini masih terdapat retakan memanjang pada tanah yang berpotensi menjadi longsoran susulan (Foto 3). 

Dampak Gerakan Tanah:

  • Badan jalan rusak berat dan menghambat lalu lintas antar antar kecamatan.
  • Lahan perkebunan dan 1 (satu) bangunan kantor Penyuluh Pertanian di sekitar jalur jalan Cukoh Nau rusak berat (Foto 3).
  • 1,5 hektar lahan persawahan di bawah badan jalan Cukoh Nau tertimbun material longsoran (Foto 4).

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir (breksi dengan batulempung).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Alih fungsi lahan menjadi lahan perkebunan di lereng bagian atas.

 

5.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

Jangka Pendek:

  • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini karena daerahnya termasuk daerah rawan longsor tinggi, terutama pada waktu hujan.
  • Segera membersihkan material longsoran yang masih menumpuk di sisi badan jalan karena material longsoran tersebut berpotensi menutup badan jalan kembali saat terjadi hujan deras. Pembersihan material longsoran jangan dilakukan pada saat dan setelah hujan.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada di atas mahkota longsoran dan jika terjadi perkembangan yang cepat segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsor susulan.
  • Guna meningkatkan kewaspadaan pengguna jalur jalan ini, Pemerintah Kabupaten (BPBD dan pemda setempat) hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor yang permanen, karena jalur ini rawan longsor tinggi. Juga menyiapkan peralatan berat jika sewaktu-waktu terjadi longsor dapat digunakan untuk membersihkan material longsoran.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah

 

Jangka Menengah dan Panjang:

  • Merelokasi bangunan penyuluh yang rusak berat (Foto 3).
  • Untuk memperlambat peresapan air dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan:
    • Pengarahan aliran air (air hujan dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
    • Penataan saluran drainase permukaan sekitar jalur jalan dengan konstruksi yang kedap air supaya air tidak masuk ke area longsoran.
    • Mengeringkan kolam air atau genangan air lainnya yang ada di atas lereng badan jalan.
  • Memperbaiki tata guna lahan di lereng sepanjang jalan yang berupa lahan pertanian basah menjadi lahan tanaman berakar kuat dan dalam.
  • Tidak melakukan pemotongan lereng terlalu terjal yang dapat menurunkan ketahanan lereng terhadap keruntuhan yang dapat menimbulkan terjadinya gerakan tanah/tanah longsor.

 

 

B. Desa Pecah Pinggan dan Desa Simpang Luas

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi pada daerah pemukiman yaitu di:

  • Desa Simpang Luas dengan koordinat gerakan tanah di 04o 28’ 57,26” LS dan 103o 30’ 50,27” BT; 04o 28’ 51,9” LS dan 103o 30’ 47,22” BT.
  • Desa Pecah Pinggan dengan koordinat gerakan tanah di 04o 28’ 49,65” LS dan 103o 30’ 43,04” BT; 04o 28’ 40,18” LS dan 103o 30’ 40,67” BT.

Gerakan tanah mulai terjadi pada hari Sabtu, 3 Desember 2016, kemudian secara intensif berkembang sampai hari Rabu, 7 Desember 2016. Gerakan tanah terjadi setelah turun hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari sebelum kejadian

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di antar kecamatan di Desa Simpang Luas dan Desa Pecah Pinggan, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 15 - 30°, dengan ketinggian antara 748 – 802 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Baturaja, Sumatera (S. Agfoer, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1993), batuan penyusun di daerah bencana berupa lava, breksi gunungapi dan tuf (Formasi Hulusimpang, Tmoh). Berdasarkan pengamatan lapangan tanah pelapukan berupa pasir tufaan berwarna coklat kekuningan sampai coklat dengan ketebalan di atas 2 - 4 meter, yang kontak langsung dengan batulempung di bawahnya sebagai bidang gelincir.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, relatif cukup tinggi dengan adanya mata air yang mengalir baik di musim hujan maupun pada musim kemarau. Pada bagian lembah mengalir Sungai Luas yang mengalir cukup deras, berair pada musim hujan dan musim kemarau. Mata air banyak terdapat di sekitar lokasi gerakan tanah dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan untuk pertanian.
  • Tata guna lahan: Lahan di lokasi gerakan tanah dimanfaatkan umumnya sebagai pemukiman, perkebunan kopi, bambu, dan sayuran, serta pesawahan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten OKU Selatan bulan Desember 2016 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana di Kecamatan Sungai Are termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi berupa rayapan dan longsoran bahan rombakan pada tebing di areal permukiman, dengan jarak gawir longsoran dari rumah terdekat sekitar 4 meter, arah longsoran N 52º E.

Dampak bencana:

  • Beberapa rumah yang berada di dekat tebing longsoran terancam longsor susulan (Foto 5),
  • 4 (empat) rumah di Desa Simpang Luas mengalami retak-retak dan rusak akibat rayapan tanah (Foto 6),
  • 16 rumah warga di Desa Pecah Pinggan rusak akibat rayapan tanah (Foto 7).

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir (breksi dengan batulempung).
  • Konsentrasi rumah yang terlalu padat dengan beban rumah-rumah permanen (tembok), sehingga beban di atas tanah tinggi.
  • Di lain pihak daya dukung tanah berkurang akibat tingginya kandungan air di dalam tanah, hal ini dikarenakan sistem drainase permukaan yang kurang baik dimana seluruh air permukaan baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke dalam tanah dan mempercepat berkembangnya longsor
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

6.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

Jangka Pendek:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Apabila ditemukan adanya retakan di sekitar pemukiman, segera dilakukan penutupan dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mengalirkan genangan-genangan yang terdapat pada bagian atas lereng.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada pada bukit di atas pemukiman (Foto 8) dan jika terjadi perkembangan yang cepat segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang (BPBD dan pemda setempat) untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

Jangka Menengah dan Panjang:

  • Pemukiman yang terkena rayapan di Desa Simpang Luas dan Desa Pecah Pinggan masih layak huni, jika pemukiman dipertahankan maka dengan syarat:
    • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
    • Penataan drainase di sekitar pemukiman dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
    • Mengeringkan kolam air atau genangan air lainnya yang ada di sekitar pemukiman yang telah mengalami gerakan tanah.
    • Mengganti rumah permanen dengan bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan seperti rumah kayu untuk mengurangi pembebanan.
  • Melakukan penanaman pohon dengan akar  yang besar dan dalam untuk meningkatkan daya ikat tanah.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat tebing yang curam dan alur aliran sungai.
  • Tidak mencetak lahan basah dan penampungan air (kolam) pada bagian atas dan bawah lahan yang berdekatan dengan tebing lereng.

 

 

LAMPIRAN

 

Oku 1 (080217)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Sungai Are, Kabupaten OKU Selatan

 

Oku 2 (080217)

Gambar 2. Peta Geologi Lokasi Bencana Gerakan Tanah

 

Oku 3 (080217)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Potensi gerakan Tanah Bulan Desember 2016

 

Oku 4 (080217)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di Sungai Are, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan, Prov. Sumatera Selatan

 

Oku 5 (080217)

Gambar 5. Penampang situasi gerakan tanah di Desa Cukoh Nau, Kec. Sungai Are, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan

 

Oku 6 (080217)

Gambar 6. Penampang situasi gerakan tanah di Desa Simpang Luas dan Desa Pecah Pinggan, Kec. Sungai Are, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan, Prov. Sumatera Selatan

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN OKU SELATAN, SUMATERA SELATAN

 BULAN DESEMBER 2016

Oku 7 (080217)

Keterangan :

Oku 8 (080217)

 

Oku 9 (080217)

Foto 1. Kondisi jalur jalan penghubung antar kecamatan di Desa Cukoh Nau akibat gerakan tanah yang berkembang secara intensif pada periode 3 – 7 Desember 2016 (Sumber Foto: BPBD OKU Selatan).

 

Oku 10 (080217)

Foto 2. Kondisi jalur jalan penghubung antar kecamatan di Desa Cukoh Nau yang mengalami rayapan berupa retakan dan amblasan pada badan jalan. Kondisi pada saat pemeriksaan Januari 2017.

 

Oku 11 (080217)

Foto 3. (a) Kolam air yang harus dikeringkan agar tidak membebani lereng dan tidak menyebabkan longsor susulan; (b); Bangunan Penyuluh Pertanian yang rusak berat akibat rayapan dan harus direlokasi; (c) Jalur jalan di Desa Cukoh Nau yang rusak akibat rayapan, berada di bawah mahkota longsoran.

 

Oku 12 (080217)

 

Oku 13 (080217)

 

Oku 14 (080217)

Foto 6. Salah satu rumah di Desa Simpang Luas yang mengalami rayapan berupa retakan pada bangunan rumah. Rumah di sekitarnya pun mengalami retakan yang sama.

 

Oku 15 (080217)

Foto 7. Tipe Rayapan berupa amblasan di daerah pemukiman Desa Pecah Pinggan yang merusak rumah warga.

 

Oku 16 (080217)

Foto 8. Retakan pada lahan perkebunan kopi di bukit yang terletak di atas pemukiman Desa Pecah Pinggan agar diwaspadai perkembangannya oleh warga setempat dan intansi terkait.

 

Oku 17 (080217)

Foto 9 . Kegiatan pemeriksaan dan sosialisasi gerakan tanah yang dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Kabupaten OKU Selatan kepada warga dan pemerintah di lokasi bencana.