Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Di Kodya Bitung, Provinsi Sulawesi Utara

Tanggapan bencana gerakan tanah di Kabupaten Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, berdasarkan berita dari:

  1. http://www.tribunnews.com/nasional/2017/02/12/bnpb-4510-jiwa-mengungsi-akibat-banjir-dan-longsor-di-bitung
  2. http://www.beritasatu.com/nusantara/414032-banjir-di-bitung-sulut-genangi-600-rumah.html
  3. https://news.detik.com/berita/d-3420431/banjir-bandang-rendam-permukiman-di-bitung-sulawesi-utara
  4. http://manadoline.com/turun-lapangan-walikota-himbau-warga-waspada/

pada hari Minggu, 12 Februari 2017 dan Senin, 13 Februari 2017 sebagai berikut :

 

1. Lokasi dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di tiga kecamatan yaitu Kelurahan Pandurusa Kecamatan Aer Tembaga, Kelurahan Mawali dan Pintu Kota Kecamatan Lembeh Utara, dan Kelurahan Pakusungan Kecamatan Lembeh Selatan, Kodya Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Gerakan tanah ini terjadi hari Minggu 12 Februari 2017.

 

2. Jenis bencana :

Bencana gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan yang menutupi Jalan dan rumah warga.

 

3. Dampak gerakan tanah :
  • 2 (dua) orang luka berat tertimpa longsor
  • 5 (lima) orang tertimbun longsoran sedang dalam perawatan di rumah sakit
  • 1 (satu) rumah tertimbun longsor di Kota Bitung
  • Akses jalan terputus

  

4. Kondisi daerah bencana :
  • Secara umum topografi di sekitar lokasi gerakan tanah berupa perbukitan bergelombang dengan ketinggian lebih dari 264 m dpl.
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Manado, Sulawesi Utara (A.C Effendi, dan S.S Bawono, 1997) batuan penyusun di daerah bencana Kecamatan Lembeh Selatan dan Lembeh Utara merupakan anggota dari Batuan Gunungapi (Tmv) yang terdiri dari breksi, lava dan tufa, sedangkan pada kecamatan Aer Tembaga merupakan anggota dari Batuan Gunungapi Muda (Qv) yang terdiri dari lava, bomb, lapili dan abu.
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2017 di Gorontalo (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya  pada daerah ini jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

5. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena :
  • Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama sebelum terjadi gerakan tanah.
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil.

 

6. Rekomendasi
  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan, terutama pada saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama.
  • Warga pemilik rumah yang rusak agar mengungsi ke tempat yang aman dan agar mengikuti  arahan dari pemerintah setempat.
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan longsor terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas kembali normal, tanpa mengurangi kewaspadaan saat melakukan pembersihan tersebut terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Pemasangan rambu rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

 

LAMPIRAN

 

Bitung 1 (140217)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara

 

Bitung 2 (140217)

Gambar 2. Peta prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah pada bulan Februari  2017 di Provinsi Sulawesi Utara

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

 DI KODYA BITUNG BULAN FEBRUARI 2017

Bitung 3 (140217)

Keterangan :

Bitung 4 (140217)