Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Bener, Kab. Purworejo Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari BPBD Kabupaten Purworejo 383/221/2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah terjadi di dua lokasi:

  • Dusun Krajan, Desa Pekacangan dengan koordinat 110° 36’ 46.79” BT dan 07° 36’ 49.79” LS.
  • Dusun Ngabean, Desa Pekacangan dengan koordinat 110° 5’ 20.66” BT dan 07° 37’ 3,69” LS.

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Krajan, Desa Pekacangan, berupa rayapan yang terdiri dari nendatan dan retakan pada daerah pemukiman warga. Nedatan pada kebun warga sedalam 30 cm dengan arah umum gerakan N130°E, sedangkan  retakan terjadi di pemukiman warga. Sedangkan jenis gerakan tanah di Dusun Ngabean, Desa Pekacangan berupa longsoran bahan rombakan pada lereng disisi jalan desa dengan arah longsoran N 350°E yang mengancam pemukiman di bawahnya. Longsoran ini merupakan gawir longsoran lama yang aktif kembali. Dibagian bawah lonsoran lama terdapat retakan.

3. Dampak gerakan tanah 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

Dusun Krajan

  • 4 rumah rusak
  • Jalan desa rusak

Dusun Ngabean

  • Jalan desa terancam longsor
  • 5 rumah terancam longsor

4. Kondisi daerah bencana

a. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Desa Pekacangan berupa perbukitan bergelombang dengan ketinggian antara 250 - 350 meter di atas permukaan laut. Daerah Dusun Krajan merupakan pedataran dengan kemiringan lereng kurang dari 15°. Sedangkan daerah bencana di  Dusun Ngabean merupakan punggungan dengan kemiringan lereng 15-35°.

b. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa breksi sisipan tuf  dan atasnya adalah tanah pelapukan lempung pasiran dengan ketebalan lebih dari 3 meter.

c. Tata guna lahan dan Keairan

Tata guna lahan di Dusun Krajan, bagian atas berupa kebun, jalan dan pemukiman, dan sawah pada lereng bagian bawah. Sedangkan tata guna lahan di Dusun Ngabean berupa jalan, dan kebuncampuran pada bagian atas dan pemukiman serta sawah pada lereng bagian bawah. Air permukaan dijumpai pada lereng bagian bawah, berupa aliran sungai.

d. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Faktor penyebab gerakan tanah di Dusun Krajan:

  • Berdasarkan kondisi geologi dengan adanya sisipan tuff memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
  • Tanah pelapukan berupa lempung pasiran menumpang pada breksi tuff yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah.
  • Kemiringan lereng yang agak curam mengakibatkan tanah mudah bergerak namun dengan tipe rayapan.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun memicu terjadinya gerakan tanah.

Faktor penyebab gerakan tanah di Dusun Ngabean:

  • Kemiringan lereng yang curam lebih dari 30° menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan.
  • Tanah pelapukan yang menumpang diatas breksi sisipan tuf yang relatif kedap air. Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Adanya gawir gerakan tanah lama yang aktif kembali.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi longsor.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
Mekanisme:

Akibat curah hujan tinggi kandungan air dalam tanah meningkat, sehingga tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, akibatnya lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari kesetimbangan baru, maka terjadilah gerakan tanah. Karena lereng tidak begitu terjal, pergerakannya lambat berupa nendatan diikuti retakan yang melalui wilayah pemukiman dan ladang, sehingga merusak bangunan yang dilaluinya. Sedangkan pada kemiringan lereng curam dan tanah pelapukan tebal yang terletak diatas breksi sisipan tuf sehingga menjadikannya sebagai bidang gelincir. Dengan adanya bobot massa tanah tinggi dan kemiringan lereng terjal, mengakibatkan tanah mudah bergerak, sehingga terjadi gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan.

7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

Dusun Krajan: 

  • Jenis gerakan tanah tipe rayapan umunya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, rusaknya sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal. Pada saat ini daerah bencana masih relatif aman. Namun demikian warga harus tetap meningkatkan kewaspadaan terutama jika muncul rembesan pada tekuk lereng dan retakan bertambah lebar.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air.
  • Menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Tidak membuat kolam dan mencetak sawah baru dan atau pertanian lahan basah pada lereng bagian tengah dan atas.
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan, maka rumah panggung dengan konstruksi kayu akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen.

Dusun Ngabean:

  • Daerah ini beresiko tinggi terkena gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan. Hal ini karena tanah pelapukan yang tebal dan kelerengan yang terjal. Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka 5 rumah dibagian bawah daerah longsoran sebaiknya meningkatkan sebaiknya meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena potensi pergerakan tanah masih ada.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air
  • Menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Tidak membuat kolam dan mencetak sawah baru dan atau pertanian lahan basah pada lereng bagian tengah dan atas.
  • Tidak melakukan pemotongan tebing/lereng secara sembarangan
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Perlu dibuat dinding penahan longsor pada tebing dibawah jalan, dengan subdrain tiap 1 meter secara grid dengan pipa diameter 2”, masuk kedalam tanah dengan kemiringan 2°-5° secara sepanjang 2 meter.

 

bener 

Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Pekacangan, Kecamatan Bener

 

bener2 

Peta Geologi daerah Kecamatan Bener dan sekitarnya, Kabupaten Purworejo 

 

bener3

Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo

Bulan Juni 2017

 

 

Tabel Gertan

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN JUNI 2017

 

bener4

bener5 

 

 

bener6

Peta situasi gerakan tanah Desa Pekacangan, Kecamatan Bener, Purworejo 

 

 

bener7

Gambar Penampang A-B situasi gerakan tanah di Desa Pekacangan, Kecamatan Bener

 

bener8

Gambar Penampang C-D situasi gerakan tanah di Desa Pekacangan, Kecamatan Bener

 

 bener9

Foto gerakan tanah tipe rayapan di jalan Dusun Krajan, Desa Pekacangan

 

bener10

Foto nendatan di Dusun Krajan 

 

bener11

Foto rumah di Dusun Krajan yang mengalami retakan

 

bener12

Foto Breksi sisipan tuf sebagai batuan dasar di daerah bencana

 

bener13

Foto longsoran bahan rombakan di Dusun Ngabean