Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Gebang, Kab. Purworejo Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari BPBD Kabupaten Purworejo 383/221/2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

 A. Dusun Guyangan, Desa Bulus

 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi Di Dusun Guyangan, Desa Bulus, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan koordinat 7°40'25.5”LS dan 110°00'40.9"BT. Pada lokasi ini gerakan tanah secara perlahan dan sampai saat ini masih terus bergerak yang terlihat dari jalan rusak pada beberapa tempat.

 2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Guyangan, Desa Bulus berupa tipe gerakan tanah rayapan. Terjadi nendatan di beberapa tempat di sepanjang jalan desa. Nendatan sedalam 40cm. Arah umum nendatan N181°E

 3. Dampak gerakan tanah

 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • Jalan retak-retak
  • 1 buah mushola rusak

 4. Kondisi daerah bencana

a. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Desa Bulus berupa perbukitan bergelombang dengan ketinggian antara 50-206 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan perbukitan dengan dengan kemiringan lereng dari 5-10°.

b. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa tuff dengan sisipan breksi dan diatasnya berupa tanah pelapukan.

 c. Tata guna lahan dan Keairan

Tata lahan pada bagian atas kebun campuran. Sedangkan di bagaian bawah lereng berupa pemukiman, kebun dan ladang.  Muka air tanah di daerah ini dangkal, sekitar 10m.

 d. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Curah hujan yang tinggi yang turun memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Berdasarkan kondisi geologi dengan adanya tuff memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
  • Tanah pelapukan berupa lempung pasiran menumpang pada breksi tuff yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik.
  • Kemiringan lereng yang landai - agak curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Erosi yang disebabkan oleh sungai.

 Mekanisme:

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi ke daerah longsoran. Air kemudian meresap pada tanah pelapukan yang bersifat sarang, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Kemiringan lereng yang landai – agak curam menyebabkan tanah pelapukan bergerak secara lambat maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan.

 7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Jenis gerakan tanah tipe rayapan umunya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, rusaknya sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal. Pada saat ini daerah bencana masih relatif aman. Namun demikian warga harus tetap meningkatkan kewaspadaan terutama jika muncul rembesan pada tekuk lereng dan retakan bertambah lebar.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air
  • Menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Tidak membuat kolam dan mencetak sawah baru dan atau pertanian lahan basah pada lereng bagian tengah dan atas.
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan, maka rumah panggung dengan konstruksi kayu akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen. 

 B. Dusun Karangrejo, Desa Ngaglik

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan terjadi pada Januari 2016. Gerakan tanah terjadi di Dusun Karangrejo, Desa Ngaglik, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, dengan koordinat 109⁰ 58’ 5,15” BT dan 07⁰37’ 7,00” LS. Longsoran ini terjadi pada kebun warga yang diatasnya terdapat pemukiman. Apabila hujan lebat sering keluar lumpur dari rekahan di tanah.

 2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Karangrejo, Desa Ngaglik, Kecamatan Gebang berupa tipe longsoran bahan rombakan. Longsoran terjadi pada bagian bawah pemukiman dengan arah N305°E. Di bagian atas dari pemukiman terdapat gawir gerakan tanah lama. Adanya retakan dilereng bagian tengah dan atas dari pemukiman.

 3. Dampak gerakan tanah

 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • 8 rumah  dibagian tengah lereng dan 2 rumah dibagian bawah lereng terancam longsoran bahan rombakan
  • Lahan kebun rusak

 4. Kondisi daerah bencana

c. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Dusun Karangrejo berupa perbukitan dengan ketinggian antara 100 - 295 meter di atas permukaan laut. Daerah bencana merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng lebih dari 30°.

 d. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa breksi sisipan tufaan (Formasi Peniron) dan tanah pelapukan dibagian atasnya yang berupa lempung pasiran.

 e. Tata guna lahan dan Keairan

Tata guna lahan pada bagian atas berupa hutan dan ladang. Bagian tengah berupa pemukiman. Sedangkan di bagaian bawah lereng berupa kebun dan ladang. Pada daerah ini kedalaman muka air tanah cukup dalam dan penduduk memanfaatkan mata air untuk keperluan sehari-hari.

 f. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Kemiringan lereng yang sangat curam menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi longsor.
  • Tanah pelapukan yang menumpang diatas breksi andesit yang relatif kedap air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.

 Mekanisme:

Akibat  kandungan air dan tekanan air pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan lereng yang terjal maka terjadi gerakan tanah tipe longsoran  bahan rombakan.

 7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Daerah ini beresiko tinggi terkena gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan. Hal ini karena tanah pelapukan yang tebal dan kelerengan yang terjal. Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka 8 rumah yang berada diatas dan 2 rumah dibagian bawah daerah longsoran sebaiknya di relokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air
  • Menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Tidak membuat kolam dan mencetak sawah baru dan atau pertanian lahan basah pada lereng bagian tengah dan atas.
  • Tidak melakukan pemotongan tebing/lereng secara sembarangan
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsor.

gebang

 

Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Bulus dan Desa Ngaglik, Kecamatan Gebang

 

gebang2

Peta Geologi daerah Kecamatan Gebang dan sekitarnya, Kabupaten Purworejo

 

gebang3

Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo

Bulan Juni 2017

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN JUNI 2017

gebang4

gebang5

 

gebang6

Peta situasi gerakan tanah Desa Bulus, Kecamatan Gebang, Purworejo

 

gebang7

Gambar Penampang A-B situasi gerakan tanah di Desa Bulus, Kecamatan Gebang

 

gebang8

Peta situasi gerakan tanah Desa Ngaglik, Kecamatan Gebang, Purworejo

 

gebang9

Gambar Penampang A-B situasi gerakan tanah di Desa Ngaglik, Kecamatan Gebang

 


 

gebang10

 

Foto breksi tuffan Formasi Halang (kiri) dan nendatan di depan masjid yang rusak

 

gebang11

Foto masjid yang rusak di Dusun Guyangan

 

gebang12

Foto lembah di daerah Dusun Karangrejo yang mengalami longsor

 

 gebang13

Foto breksi andesit yang ada dibawah tanah pelapukan di Dusun Karangrejo

 

gebang14

Foto pemukiman yang berpotensi terlanda longsoran bahan rombakan

 

gebang15

Foto koordinasi dengan Kepala Desa Ngaglik Kecamatan Gebang sebelum peninjauan lokasi gerakan tanah