Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Kaligesing, Kab. Purworejo Provinsi Jawa Tengah

 

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari BPBD Kabupaten Purworejo 383/221/2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

 A. Dusun Sibatur, Desa Jelok

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di  Dusun Sibatur, Desa Jelok, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan koordinat 7°42'47.1"LS dan 110°03'58.4"BT. Namun pada saat ini penduduk masih khawatir karena pergerakan masih intensif dan menyebabkan rumah dan tanah retak-retak.

 2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Sibatur, Desa Jelok berupa tipe longsoran, retakan dan nendatan. Longsoran pada bagian atas pemukiman (kebun campuran) serta diikuti retakan disekitarnya. Lebar mahkota sekitar 20 m dan panjang landaan longsoran mencapai 50 m dan tinggi 30 m. Berdasarkan informasi dari warga setempat di bagian bawah longsoran di dekat mahkota longsoran tersebut  banyak terdapat retakan dengan lebar berkisar 20 cm dan panjang 30 m dengan arah N337°E. Material longsoran di tebing sungai dapat menimbun dan membendung  alur sungai dan mata air sehingga berpotensi menjadi aliran bahan rombakan (banjir bandang) serta mengancam pemukiman di bawahnya. Arah longsoran berarah ke barat laut.

 3. Dampak gerakan tanah

 

Dampak gerakan tanah di Dusun Sibatur, Desa Jelok berdasarkan data lapangan antara lain :

  • Kebun dan pemukiman yang berada dibawah gawir gerakan tanah terancam longsor
  • Pemukiman yang ada di bantaran Kali Kerso berpotensi terlanda aliran bahan rombakan.

 4. Kondisi daerah bencana

a. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Dusun Sibatur berupa perbukitan dengan ketinggian antara 200 - 400 meter di atas permukaan laut. Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng 15-30° pada lereng bawah dan tengah, untuk lereng bagian atas lebih dari 30°.

 b. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa breksi tufaan dan dibagian bawahnya berupa perselingan napal dan lava andesit. Bagian atas adalah tanah pelapukan lempung pasiran dengan ketebalan lebih dari 3 meter.

 c. Tata guna lahan dan Keairan

Tata guna lahan pada bagian atas berupa kebun campuran. Sedangkan di bagaian bawah lereng berupa jalan dan pemukiman.  Muka air tanah di daerah ini cukup dalam, sehingga penduduk memanfaatkan mata air dan air sungai untuk keperluan sehari-hari.

 d. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Kelerengan agak curam – curam, 15 - 30° pada lereng bawah dan tengah dan lebih dari 30° pada lereng bagian atas.
  • Tanah pelapukan berupa lempung pasiran dengan ketebalan 3-5 meter menumpang pada breksi tuff yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah. Di sungai dijumpai lava andesit.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air masuk ke dalam bidang longsoran dan retakan.

 Mekanisme

Akibat  kandungan air dan tekanan air pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan lereng yang terjal maka terjadi gerakan tanah tipe longsoran  bahan rombakan. Longsoran bahan rombakan di tebing sungai dapat menimbun dan membendung  alur sungai dan mata air sehingga berpotensi menjadi aliran bahan rombakan (banjir bandang).

 7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

Ds. Sibatur, Desa Jelok: 

  • Daerah ini beresiko tinggi terkena gerakan tanah tipe longsoran dan tipe aliran bahan rombakan. Hal ini karena tanah pelapukan yang tebal dan kelerengan yang terjal.
  • Selalu melakukan pengecekan di hulu Kali Kerso yang terdapat air terjun dan tanah yang retak di sekitar hulu sungai.
  • Dikarenakan banyaknya retakan tanah yang berpotensi longsor di hulu sungai Kali Kerso yang dapat membendung aliran sungai, maka sebaiknya pemukiman yang berada di tebing dan bantaran sungai di pindahkan ke tempat yang lebih aman.
  • Membuat cek dam pada alur sungai untuk mengurangi dampak aliran bahan rombakan.
  • Perbaikan saluran drainase permukaan dan menutup retakan supaya air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam pada daerah longsoran
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan.
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang terlalu terjal pada lereng dengan ketinggian lebih dari 2 meter.
  • Jika muncul retakan segera ditutup dengan tanah lempung yang dipadatkan, agar air tidak masuk kedalam retakan, jika retakan bertambah lebar dan muncul rembesan-rembesan air, segera mengungsi dan melaporkanya ke Pemerintah Daerah setempat.

 B. Dusun Denansri, Desa Donorejo

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah berupa retakan di pemukiman dan runtuhan batu pada bukit Keseneng sebelah timur Dusun Denansri, Desa Donorejo, Kabupaten Purworejo dengan koordinat 110⁰ 06’ 35.4 ” BT dan 07⁰45’ 10,1” LS dan 110⁰ 06’ 38,3” BT dan 07⁰45’ 12,” LS. Namun pada saat ini penduduk masih khawatir karena tebing yang telah mengalami runtuhan batu mengalami retak-retak. Serta masih terjadi pergerakan tanah pada bagian pemukiman yang menyebabkan rumah dan tanah retak-retak.

 2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Denansri, Desa Donorejo, berupa tipe nendatan, retakan dan runtuhan batu. Arah umum gerakan pada daerah retakan N 330° E dengan lebar retakan kurang lebih 20 cm. Untuk runtuhan batu, tinggi 35 meter dengan sebaran material runtuhan sejauh 70 meter.

  3. Dampak gerakan tanah

 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • 2 rumah rusak ringan
  • 11 rumah terancam
  • Jalan desa di bagian utara terancam sepanjang 150 meter

 4. Kondisi daerah bencana

c. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Desa Donorejo berupa perbukitan dengan ketinggian antara 500 - 750 meter di atas permukaan laut. Pemukiman daerah bencana berupa pedataran, sedangkan dibagian timur pemukiman merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng lebih dari 35°.

d. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa batugamping terumbu sebagai batuan dasar dengan tanah pelapukan berupa lanau pasiran diatasnya.

 e. Tata guna lahan dan Keairan

Tata lahan pada bagian atas berupa semak belukar. Pada bagian tengah berupa kebun campuran.Sedangkan di bagaian bawah lereng berupa pemukiman, jalan dan kebun.  Muka air tanah di daerah ini sangat dalam, sehingga penduduk memanfaatkan mata air untuk keperluan sehari-hari.

 f. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Kemiringan lereng yang sangat curam lebih dari 35° pada daerah gerakan tanah jenis runtuhan batu.
  • Retakan yang terjadi kemungkinan disebabkan oleh adanya rongga di bawah permukaan seperti umumnya yang terdapat pada daerah gamping.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 6. Mekanisme:

Batugamping yang poros mengalami retak-retak membuat air mudah masuk dan melarutkan batugamping. Curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang sangat curam, menambah bobot masa tanah dan batuan sehingga menyebabkan terjadinya runtuhan batu. Pada daerah gerakan jenis retakan dan nendatan, diduga terjadi karena adanya rongga dibawah permukaan seperti umumnya yang terdapat pada daerah gamping.

 7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Daerah ini beresiko tinggi terkena gerakan tanah tipe jatuhan batu dikarenakan tebing yang memiliki kemiringan lereng yang sangat curam serta masih terdapat retakan-retakan pada bagian atasnya.
  • Untuk tidak beraktifitas disekitar area runtuhan batu.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi runtuhan batu.
  • Pemukiman di dusun Denansri terletak pada zona gerakan tanah tipe lambat, sehingga apabila dibangun rumah permanen akan mudah mengalami retak-retak, maka rumah panggung dengan konstruksi kayu akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen.
  • Jenis gerakan tanah tipe rayapan umunya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, rusaknya sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.
  • Masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan jika muncul rembesan pada tekuk lereng dan muncul retakan.
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut, dan jika retakan bertambah lebar, segera mengungsi dan melaporkan ke pemerintah daerah.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air.
  • Tidak mencetak kolam dan sawah karena kejenuhan air mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah hujan, karena gerakan tanah lama masih ada.

 

kali gesing

Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa  dan Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing

 

 

kali gesing2

Peta Geologi daerah Kecamatan Kaligesing dan sekitarnya, Kabupaten Purworejo

 

kali gesing3

Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo

Bulan Juni 2017

 

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN JUNI 2017

kali gesing4

kali gesing5

 

kali gesing6

Peta situasi gerakan tanah Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo

 

kali gesing7

Gambar penampang A-B situasi gerakan tanah di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing

 

kali gesing 8

Peta situasi gerakan tanah Desa , Kecamatan Kaligesing, Purworejo

 

kali gesing8

Gambar penampang A-B situasi gerakan tanah di Desa , Kecamatan Kaligesing

 

kali gesing9

 Foto longsoran baru yang terjadi pada bulan Maret 2017 disebelah timur longsoran tahun 2016 di Desa Jelok

 

kali gesing10

Foto paritan yang dibuat oleh BPBD Kabupaten Purworejo untuk mengalihkan aliran air permukaan agar tidak masuk kedalam retakan

 

 kali gesing11

Foto Breksi sisipan tufaan di daerah Desa Jelok

 

kali gesing12

Foto air terjun di Kali Kerso dan tanah retak di tebing sungai bagian hulu yang

memiliki potensi longsor dan dapat mengakibatkan aliran bahan rombakan (banjir bandang) di Dusun Sibatur, Desa Jelok.

 

kali gesing13

Foto rumah retak Desa Jelok

 

kali gesing14

Foto gamping terumbu di Dusun Denansri, Desa Donorejo

 

kali gesing15

Foto sisa tebing yang masih berpotensi terjadinya runtuhan batu di Dusun Denansri, Desa Donorejo.

 

 kali gesing13

Foto retakan di dekat pemukiman

 

kali gesing17

Foto retakan yang terjadi pada rumah penduduk di Dusun Denansri, Desa Donorejo