Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lahan relokasi di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat, Nomor : 360/367 - BPBD, tanggal 02 November 2017 perihal Permohonan Kajian Tanah Calon Tempat Relokasi. Pemeriksaan dilaksanakan bersama dengan pihak dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat dan pihak aparat Desa Wangunsari, sebagai berikut :

A. Kampung Pasir Beuleud RT 02 RW 01, Desa Wangunsari.

Rencana lahan relokasi ini digunakan untuk 57 KK dari Kampung Dengkeng, dan Kampung Kubang, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

1. Lokasi Lahan Relokasi :

Rencana lahan calon relokasi secara administratif berada di wilayah Kampung Pasir Beuleud RT 02 RW 01, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat  107° 24' 29.9" BT dan 07° 01' 18.7" LS. Status tanah milik penduduk atas nama : Muslim.

2.   Kondisi daerah lahan relokasi: 

  • Morfologi: Morfologi di sekitar calon lahan relokasi ini merupakan pedataran,  dengan  kemiringan lereng landai antara  5º sampai 10º. Pada bagian timur laut lahan relokasi adalah lereng dengan kemiringan terjal 15º sampai 20º.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (M. Koesmono, dkk., 1996), secara regional calon lahan relokasi berada pada daerah yang disusun oleh Formasi Beser (Tmbe) yang terdiri dari breksi andesit, breksi tuf, tuf kristal dan batulempung. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, tanah penutup di lokasi ini tersusun oleh pasir lempungan berwarna coklat terang sampai coklat tua, bersifat gembur dengan ketebalan antara 0.5 – 1 meter. Tanah pelapukan ini berada di atas batuan dasar breksi berwarna coklat terang.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi ini bersumber dari mata air sumur dengan kedalaman 20 - 25 meter dengan debit cukup dan melimpah pada musim hujan.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan di sekitar lahan relokasi ini sebagian besar adalah tegalan dan kebun campuran. Pada bagian timur lokasi dimanfaatkan sebagai sawah, bagian selatan berupa rumpun bambu, sedangkan pada bagian barat berupa jalan desa.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah calon lahan relokasi terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3.  Kondisi gerakan tanah

Tidak dijumpai jejak-jejak gerakan tanah di sekitar lahan yang disiapkan untuk relokasi, baik gerakan tanah baru maupun lama.

 

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan :

Berdasarkan kondisi geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Pada lokasi ini dapat dijadikan lahan relokasi dengan maksimal untuk 30 rumah, dengan luas tanah tiap rumah adalah 70 m².
  • Berdasarkan analisis peta situasi lahan relokasi, yang terdiri dari satu blok yang yang berada tepat disisi jalan raya dengan luas adalah  ± 2.300 m².
  • Dengan mempertimbangkan keamanan lereng, luas total lahan yang dapat dipergunakan untuk relokasi  adalah ± 2.100 m².

Rekomendasi :

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya gerakan tanah dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Menjaga kelestarian dan melakukan penanaman pohon besar yang berakar kuat dan dalam, pada bagian tebing – tebing yang terjal.
  • Pemotongan lereng disarankan tidak lebih dari 100 dengan perbandingan horisontal : vertikal (2:1)
  • Penataan drainase dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tidak mencetak lahan basah dan penampungan air (kolam) pada bagian atas dan bawah lahan yang berdekatan dengan tebing lereng,
  • Sistem penampungan limbah (septic tank) dibuat kedap dan dirancang dengan sistem kelompok.
  • Kenali gejala-gejala awal gerakan tanah seperti timbulnya retakan, munculnya mata air baru, atau  terjadi perubahan warna pada mata air,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

B. Kampung Pasir Puspa RT 02 RW 04, Desa Wangunsari.
1. Lokasi Lahan Relokasi

Secara administratif, lahan calon relokasi berada di wilayah Kampung Pasir Puspa RT 02 RW 04, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat  107° 24' 43.4" BT dan 07° 01' 10.6" LS. Status tanah milik penduduk yang bernama Oneng, dengan luas tanah ± 5.000 m².

 

2. Kondisi daerah lahan relokasi:

  • Morfologi: Morfologi di sekitar calon lahan relokasi ini merupakan perbukitan bergelombang,  dengan  kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal antara  10º sampai 25º. Pada bagian utara lahan relokasi adalah lereng dengan kemiringan sangat terjal 15º sampai 25º.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (M. Koesmono, dkk., 1996), secara regional calon lahan relokasi berada pada daerah yang disusun oleh Formasi Beser (Tmbe) yang terdiri dari breksi andesit, breksi tuf, tuf kristal dan batulempung. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, tanah penutup di lokasi ini tersusun oleh pasir dan pasir lempungan berwarna coklat terang sampai coklat tua, bersifat gembur dengan ketebalan antara 1 – 1,5 meter. Tanah pelapukan ini berada di atas batuan dasar breksi berwarna coklat terang.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi ini bersumber dari mata air sumur dengan kedalaman 22 - 25 meter dengan intensitas tinggi dengan debit cukup dan melimpah pada saat musim penghujan.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan di sekitar lahan relokasi ini sebagian besar adalah tegalan semak belukar. Pada bagian utara adalah tebing dan tanaman rumpun bambu, serta dibeberapa tempat terdapat pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah calon lahan relokasi terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3.  Kondisi gerakan tanah

Tidak dijumpai jejak-jejak gerakan tanah di sekitar lahan yang disiapkan untuk relokasi, baik gerakan tanah baru maupun lama.

 

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan :

Berdasarkan kondisi geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Pada lokasi ini dapat dijadikan lahan relokasi dengan pengembangan dibagi menjadi beberapa blok, terutama yang menjauh dengan tebing-tebing lereng, maksimal penggunaan lahan untuk pemukima adalah untuk 27 rumah, dengan luas tanah tiap rumah adalah 70 m².
  • Berdasarkan analisis peta situasi lahan relokasi, yang terdiri dari satu blok yang yang berada tepat disisi jalan raya dengan luas adalah  ± 5.000 m².
  • Dengan mempertimbangkan keamanan lereng, luas total lahan yang dapat dipergunakan untuk relokasi  adalah ± 1.890 m².

Rekomendasi :

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya gerakan tanah dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Permukiman sebaiknya dibangun pada daerah yang datar atau landai dan menjauh dari tebing terjal, perlu dilakukan pelandaian dengan sistem terassering mengikuti kontur lereng.
  • Pemotongan lereng disarankan tidak lebih dari 100 dengan perbandingan horisontal : vertikal (2:1)
  • Menjaga kelestarian dan melakukan penanaman pohon besar yang berakar kuat dan dalam, pada bagian tebing – tebing yang terjal.
  • Penataan drainase dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tidak mencetak lahan basah dan penampungan air (kolam) pada bagian atas dan bawah lahan yang berdekatan dengan tebing lereng,
  • Sistem penampungan limbah (septic tank) dibuat kedap dan dirancang dengan sistem kelompok.
  • Kenali gejala-gejala awal gerakan tanah seperti timbulnya retakan, munculnya mata air baru, atau  terjadi perubahan warna pada mata air.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Pola tanam pada lahan dekat lahan calon relokasi harus pola tanaman kering diselingi dengan tanaman yang berakar kuat dan dalam.

 

C. Kampung Cinta Asih RT 04 RW 01, Desa Wangunsari.

1. Lokasi Lahan Relokasi

Secara administratif, lahan calon relokasi berada di wilayah Kampung Cinta Asih RT 04 RW 01, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat  107° 24' 49.4" BT dan 07° 01' 20.7" LS. Status tanah milik Koperasi Desa Wangunsari.

 

2. Kondisi daerah lahan relokasi:

  • Morfologi: Morfologi di sekitar calon lahan relokasi ini merupakan perbukitan bergelombang,  dengan  kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal antara  15º sampai 30º. Pada bagian utara lahan relokasi adalah lereng dengan kemiringan sangat terjal 20º sampai 30º.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (M. Koesmono, dkk., 1996), secara regional calon lahan relokasi berada pada daerah yang disusun oleh Formasi Beser (Tmbe) yang terdiri dari breksi andesit, breksi tuf, tuf kristal dan batulempung. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, tanah penutup di lokasi ini tersusun oleh pasir dan pasir lempungan berwarna coklat terang sampai coklat tua, bersifat gembur dengan ketebalan antara 1 – 1,5 meter. Tanah pelapukan ini berada di atas batuan dasar breksi berwarna coklat terang.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi ini bersumber dari mata air sumur dengan kedalaman 22 - 25 meter dengan intensitas tinggi dengan debit cukup dan melimpah pada saat musim penghujan.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan di sekitar lahan relokasi ini sebagian besar adalah tegalan semak belukar. Pada bagian utara adalah tebing dan tanaman rumpun bambu, serta dibeberapa tempat terdapat pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah calon lahan relokasi terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Kondisi gerakan tanah

Dijumpai jejak-jejak gerakan tanah di sekitar lahan yang disiapkan untuk relokasi, gerakan tanah baru berupa retakan-retakan pada dinding rumah dan tanah.

 

4. Kesimpulan

Berdasarkan kondisi geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Pada lokasi ini tidak layak untuk dijadikan sebagai lahan relokasi, karena lokasi ini berada pada tebing yang sangat terjal dan rentan terhadap gerakan tanah

 

 

LAMPIRAN

Sindangkerta 1 (301117)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi calon lahan relokasi di Desa Wangunsari, Kec. Sindangkerta, Bandung Barat.

 

Sindangkerta 2 (301117)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

 

Sindangkerta 3 (301117)

Gambar 3. Peta Situasi relokasi gerakan tanah Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

 

Sindangkerta 4 (301117)

Gambar 4. Penampang A - B daerah calon relokasi gerakan tanah Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

 

Sindangkerta 5 (301117)

Gambar 5. Penampang C - D daerah calon relokasi gerakan tanah Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

 

Sindangkerta 6 (301117)

Gambar 6. Penampang C - D daerah calon relokasi gerakan tanah Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

 

Sindangkerta 7 (301117)

Gambar 7. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

 

Sindangkerta 8 (301117)

Foto 1. Tata guna lahan pada calon lahan relokasi di Kampung Pasir Puspa berupa kebun campuran dan pepohonan.

 

Sindangkerta 9 (301117)

Foto 2. Morfologi di sekitar calon lahan relokasi di Kampung Pasir Puspa ini merupakan perbukitan bergelombang,  dengan kemiringan lereng terjal sampai landai.

 

Sindangkerta 10 (301117)

Foto 3. Tata guna lahan pada calon lahan relokasi di Kampung Pasir Beuleud berupa kebun pisang.

 

Sindangkerta 11 (301117)

Foto 4. Morfologi di sekitar calon lahan relokasi di Kampung Pasir Beuleud ini pedataran, dengan kemiringan lereng landai.

 

Sindangkerta 12 (301117)

Foto 5. Tata guna lahan pada calon lahan relokasi di Kampung Cinta Asih berupa tegalan semak belukar.

 

Sindangkerta 13 (301117)

Foto 6. Morfologi di sekitar calon lahan relokasi di Kampung Cinta Asih ini merupakan perbukitan bergelombang,  dengan  kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal.

 

Sindangkerta 14 (301117)

Foto 7. Akses jalan kampung di Kampung Pasir Beuleud (a) dan di Kampung Cinta Asih (b).