Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Pacitan, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Nawangan Dan Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Pacitan, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Nawangan, dan Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, sebagai berikut:

A. Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 09’ 07,7” LS dan 111° 06’ 32,9” BT. Gerakan tanah pernah terjadi pada tahun 1950, 1986 dan pada hari Selasa, 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal. Lokasi daerah bencana berada pada ketinggian 345 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma). Pada area lokasi longsor litologi yang tersingkap adalah perselingan batupasir dan batu lempung yang telah mengalami pelapukan dengan arah jurus dan kemiringan N350°E/33°.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa ladang, jalan, pemukiman, kebun dan sawah tadah hujan sedangkan pada lereng bagian bawah berupa lading,  semak belukar dan permukiman.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan, dan kering saat musim kemarau. Hal ini menyebabkan terjadinya retakan-retakan pada musim kemarau yang kemudian air akan masuk pada retakan pada musim hujan. Pada lokasi ini tidak ditemukan adanya system drainase yang baik
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pacitan termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa runtuhan batu pada lereng bagian atas dan longsoran rotasional pada lereng bagian bawah. Arah longsoran N 160° E (relatif ke arah tenggara).

Dampak gerakan tanah:

  • 10 rumah rusak berat;
  • 9 KK diungsikan
  • Jalan rusak dan amblas sepanjang 27 meter.
  • Kebun dan ladang yang rusak
4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Lereng yang terjal (> 59°) pada lereng bagian atas sehingga tanah mudah bergerak,
  • Sistem drainase yang tidak kedap air sehingga air permukaan langsung meresap ke dalam lereng dan menjenuhi lereng,
  • Curah hujan yang tinggi dengan durasi yang lama;
  • Kemiringan batuan yang searah dengan lereng menyebabkan terjadinya pergerakan dari punggungan hingga dasar lembah.
5. Rekomendasi:
  • Masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • 10 (satu) rumah yang rusak berat sudah tidak layak untuk dihuni, dan agar direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Membuat saluran drainase yang kedap air dan mengalirkannya menjauhi lereng;
  • Alih fungsi lahan dari pemukiman ke lahan kering dengan penanaman dan pemeliharaan pohon yang memiliki akar tunggal;
  • Pembangunan pemukiman tidak berdekatan dengan tebing dan bantaran sungai;
  • Meningkatkan sosialisasi gerakan tanah;
  • Masyarakat agar memantau retakan dan selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

B. Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan 

B.1. Desa Gembong, Kecamatan Arjosari 

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Papringan, Desa Gembong, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 07’ 16,9” LS dan 111° 10’ 01,8” BT. Gerakan tanah terjadi pada tanggal 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa dataran dan perbukitan dengan kemiringan lereng terjal dengan sudut 20° - 35o . Daerah bencana berada pada ketinggian 52 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma). Pada lokasi gerakan tanah tersusun oleh batuan breksi yang telah mengalami pelapukan tingkat tinggi.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, bagian tengah pemukiman dan kebun campuran sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman dan persawahan.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Pada lereng bagian atas terdapat aliran air yang mengalir di sepanjang longsoran.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Arjosari termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa longsoran tanah dan lumpur pada lereng setinggi 46 meter dengan arah longsoran N 274° E (relatif ke arah barat).

Dampak bencana: 

  • 30 KK (128 jiwa) mengungsi
  • 22 unit rumah rusak
4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal dan sangat jenuh air,
  • Sistem drainase yang kurang baik,
  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah. Menurut informasi warga, terjadi hujan yang lebat selama 2 hari berturut-turut sebelum terjadinya gerakan tanah.

5. Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada atau dibawah lereng, terutama pada waktu dan setelah hujan, dikarenakan daerah ini masih berpotensi untuk terjadinya longsor;
  • Rumah-rumah yang menggantung di atas tebing serta rumah yang rusak berat di bawah lereng agar direlokasi ke tampat yang lebih aman;
  • Pembuatan pemukiman agar tidak berada atau dekat lereng dan memiliki jarak dengan lereng. Jarak aman antara lereng dan rumah 1:3 (artinya jika tinggi lereng 10 meter, jarak aman pemukiman lk 30 meter.
  • Masyarakat yang terancam gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
  • Membuat saluran drainase untuk mengalirkan air dari lereng pada bagian atas dengan menggunakan saluran yang kedap air dan dialirkan menjauhi lereng;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

B.2. Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Tegal RT 02, Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 06’ 38,7” LS dan 111° 13’ 02” BT. Gerakan tanah terjadi sejak tanggal 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng sangat terjal (>50°). Daerah bencana berada pada ketinggian lebih dari 493 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma). Pada lokasi gerakan tanah tersusun oleh batuan breksi yang telah mengalami pelapukan tingkat tinggi.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa ladang sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun, ladang, sawah dan pemukiman yang terancam gerakan tanah.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan dan kering dimusim kemarau.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Arjosari termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa rayapan yang berpotensi menjadi longsoran bahan rombakan. Pada lereng bagian atas terdapat retakan sepanjang 70 meter dan mengalami amblasan sedalam 20 – 70 cm. Di beberapa tempat telah terjadi longsoran bahan rombakan.

Dampak bencana: 

  • 4 rumah di RT 02 yang berada dibawah lereng terancam gerakan tanah 
  • 105 KK (303 jiwa) mengungsi
4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang sangat terjal (>50°) mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal,
  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
5. Rekomendasi:
  • Merelokasi 4 rumah di RT 02 yang berada dibawah lereng terancam gerakan tanah; 
  • Rumah lainnya masih aman untuk ditempati dengan syarat: 
    • Harus waspada, terutama pada waktu hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama; 
    • Apabila dijumpai adanya retakan, segera menutup retakan dengan lempung yang dipadatkan dan selalu memantau retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar mengungsi ke tempat yang lebih aman serta melaporkannya ke pemerintah daerag setempat;  
    • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (sub surface drainage) serta pengaliran parit pencegat. 
  • Tidak membangun pemukiman di atas, pada, dan di bawah lereng dengan kemiringan sedang hingga terjal terutama pada alur -alur sungai atau lembah; 
  • Meningkatkan sosialisasi gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

B.3. Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di 3 lokasi yaitu:

  1. Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 06’ 42,2” LS dan 111° 11’ 55,8” BT.
  2. Dusun Jati, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 06’ 42,5” LS dan 111° 12’ 11,1” BT.
  3. Dusun Tanggung, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 06’ 59,6” LS dan 111° 12’ 25,5” BT.

Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan yang terjal. Derah bencana berada pada ketinggian 263 – 375 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma). Pada lokasi gerakan tanah tersusun oleh batuan breksi dan batupasir yang telah mengalami pelapukan dan alterasi tingkat tinggi.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa semak belukar dan ladang sedangkan pada lereng bagian bawah berupa permukiman dan ladang.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Pada bagian lembah mengalir Kali Tengil yang mengalir cukup deras pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Arjosari termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:
  • Gerakan tanah di Dusun Banyuanget berupa rayapan yang ditandai dengan adanya retakan sepanjang 35 meter dengan arah N 50° E (timur laut – barat daya). Retakan ini mengalami amblasan sedalam 16 cm dengan lebar 10 cm.
  • Gerakan tanah di Dusun Jati berupa longsoran bahan rombakan pada tebing setinggi 89 meter, dengan lebar mahkota longsoran sebesar 145 meter dan panjang landaan 105 meter. Arah longsoran N 340° E (barat laut). Pada bagian puncak terdapat amblasan sedalam 3 meter.
  • Gerakan tanah di Dusun Tanggung berupa longsoran bahan rombakan dengan lebar mahkota longsor 10 meter. Arah longsoran N 340° E (barat laut).

Dampak gerakan tanah:

  1. Dusun Banyuanget: 18 KK terancam gerakan tanah
  2. Dusun Jati: Satu rumah di gawir longsoran, dan Pemukiman di RT 02 yang berada dibawah lereng terancam gerakan tanah
  3. Dusun Tanggung: 1 Rumah di Dusun Tanggung terancam gerakan tanah

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal,
  • Sistem drainase yang kurang baik,
  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

5. Rekomendasi:

1. Dusun Banyuanget
  • 18 KK  yang berada di Dusun Banyuanget tidak perlu direlokasi, dengan syarat :
    • Ø Harus waspada, terutama pada waktu hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama; 
    • Ø Segera menutup retakan dengan lempung dan dipadatkan agar air permukaan dan air rembesan tidak masuk ke dalam tanah;  
    • Ø Melakukan pemantauan retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar mengungsi ke tempat yang lebih aman serta melaporkannya ke pemerintah daerah setempat; 
    • Ø Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (sub surface drainage) serta pengaliran parit pencegat. 
    • Melakukan kajian kestabilan lereng untuk mengetahui faktor keamanan dan kekuatan batuan/tanah terhadap potensi pergerakan tanah.
    • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
    • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

2. Dusun Jati

  • Rumah yang tepat berada di gawir longsoran sebaiknya di relokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada atau dibawah lereng, terutama pada waktu dan setelah hujan, dikarekan daerah ini masih berpotensi untuk terjadinya longsor;
  • Masyarakat RT 02 berada dibawah lereng yang terancam gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
  • Warga Dusun Jati agar tidak mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan tebing;
  • Mengatur sistem drainase agar air permukaan tidak masuk ke dalam retakan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

3. Dusun Tanggung

  • Lokasi potensi gerakan tanah cukup jauh dengan pemukiman namun masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di Dusun Tanggung harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Tidak membuat pemukiman di dekat/dibawah lereng maupun di lembah/alur sungai;
  • Perubahan vegetasi dari berakar serabut (seperti bambu) ke vegetasi berakar tunggal;
  • Apabila muncul retakan pada lereng bagian atas atau di areal permukiman, agar melaporkannya ke pemerintah daerah setempat dan mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Menanami lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

B.4. Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 07’ 03” LS dan 111° 11’ 20,7” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017. 

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal. Daerah bencana berada pada ketinggian lebih dari 150 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma).
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa semak belukar sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman dan sawah.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Pada bagian lembah mengalir Kali Grindulu yang mengalir sangat deras pada musim hujan bahkan sampai terjadi banjir akibat luapan sungai ini.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Arjosari termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan dengan arah N 310° E. Pada lereng bagian atas terdapat retakan dengan lebar retakan 1,3 meter dan kedalaman 50 cm.

Dampak gerakan tanah:

  • 3 rumah di Dusun Kedung Gerombyang, Desa Kedung Bendo terancam gerakan tanah
  • 6 rumah di Dusun Patuk, Desa Gegeran terancam gerakan tanah

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal, lunak, sarang dan mudah jenuh air,
  • Kemiringan lereng yang terjal – sangat,
  • Adanya retakan-retakan yang menyebabkan air permukaan masuk kedalam tanah dan menjenuhi tanah,
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air hujan maupun air limbah terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor,
  • Curah hujan yang tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

5. Rekomendasi:

  • Masyarakat di Dusun Kedung Gerombyang (3 rumah) dan Dusun Patuk (6 rumah) yang terancam gerakan tanah agar direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada atau dibawah lereng, terutama pada waktu dan setelah hujan, dikarekan daerah ini masih berpotensi untuk terjadinya longsor;
  • Membuat saluran drainase dengan saluran yang kedap air dan mengalirkanya menjauhi retakan;
  • Selalu memantau retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar melaporkannya ke pemerintah daerah setempat dan mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

C. Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan

C.1. Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :
  1. Dusun Sengon, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 56’ 50,3” LS dan 111° 09’ 22,2” BT.
  2. Dusun Sikih RT 4/6, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 57’ 01,0” LS dan 111° 09’ 09,5” BT.
  3. Dusun Petunggro Bawah, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 56’ 12,3” LS dan 111° 09’ 22,3” BT
  4. Dusun Pagersari, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 57’ 22,8” LS dan 111° 10’ 41,1” BT.

Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng yang landai pada bagian atas, hampir tegak pada lereng bagian tengah dan agak terjal pada lereng bagian bawah. Lokasi bencana berada pada ketinggian 1095 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa (Sampurno, 1997), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Semilir yang terdiri dari breksi batuapung dan perselingan antara batupasir kerilikan, batupasir dan batulempung (Tms). Pada lokasi gerakan tanah umumnya litologi breksi yang telah mengalami alterasi dan pelapukan sedang.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan daerah bencana berupa pemukiman, ladang, kebun campuran, dan semak belukar.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam melimpah pada musim hujan. Pada bagian lembah mengalir sungai-sungai kecil dan sungai besar yang mengalir sangat deras pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Nawangan termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Nawangan berupa rayapan dan longsoran bahan rombakan.

Dampak bencana:

  1. Dusun Sengon, Sebanyak 103 rumah di Dusun Penggung dan Dusun Sengon terancam gerakan tanah
  2. Dusun Sikih RT 4/6, 2 (dua) rumah rusak dan 4 (empat) rumah terancam
  3. Dusun Petunggero Bawah, 2 (dua) rumah terdampak dan 6 (enam) rumah terancam
  4. Dusun Pagersari, 4 (empat) rumah terancam

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang berada di atas batuan dasar yang lebih kedap air, batas diantara kedua lapisan tersebut diperkirakan sebagai bidang gelincir,
  • Sistem drainase yang kurang baik,
  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
5. Rekomendasi:
a. Dusun Sengon dan Penggung 
  • Masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Sementara Masyarakat di Dusun Penggung dan Dusun Sengon yang terancam gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman terutama pada waktu dan setelah hujan hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
  • Selalu memantau retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar mengungsi ke tempat yang lebih aman serta melaporkannya ke pemerintah daerah setempat;
  • Penanaman dan pemeliharaan tanaman berakar tunggal untuk menahan laju pergerakan tanah.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

b. Dusun Sikih RT 4/6

  • 2 (dua) rumah yang rusak dan 4 (empat) rumah yang terancam sebaiknya dipindahkan karena berada pada mahkota longsoran yang masih memiliki potensi pergerakan tanah.
  • Warga Dusun Sikih RT 4/6 agar tidak mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan tebing terutama di area mahkota longsoran;
  • Mengatur sistem drainase agar air permukaan tidak masuk ke dalam retakan;
  • Selalu memantau retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar mengungsi ke tempat yang lebih aman serta melaporkannya ke pemerintah daerag setempat;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

c. Dusun Petunggero Bawah

  • 2 (dua) rumah terdampak dan 6 (enam) rumah terancam sebaiknya dipindahkan karena masih dalam jangkauan potensi longsoran susulan.
  • Masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Masyarakat di Dusun Petunggero Bawah yang terancam gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat; pada saat pemeriksaan, daerah ini masih belum stabil dimana masih terdapat longsoran-longsoran pada lereng;
  • Pembuatan alur sungai pada area longsoran yang mengalirkan air langsung ke sungai utama untuk mengurangi aliran air liar dan mengatur sistem drainase agar air permukaan tidak masuk ke dalam retakan;
  • Pemantauan retakan pada lereng bagian atas dan peningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

d. Dusun Pagorsari

  • Pemukiman yang mengalami retakan sebaiknya tidak digunakan kembali dan dipindahkan tidak di dekat mahkota longsoran, karena jika tidak akan menambah beban pada mahkota longsoran yang berpotensi terjadinya gerakan tanah.
  • Membuat dan mengatur sistem drainase yang baik pada tepi jalan agar air permukaan tidak masuk ke dalam retakan;
  • Masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Tidak mendirikan bangunan yang terlalu dekat dengan tebing;
  • Masyarakat yang tinggal pada tubuh longsoran, agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

C.2. Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Bandaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 58’ 18,3” LS dan 111° 09’ 03,9” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak terjal – terjal. Daerah bencana berada pada ketinggian lebih dari 1076 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa (Sampurno, 1997), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Panggang yang terdiri dari breksi gunungapi dan lava bersusunan andesit dan basal, bersisipan batupasir (Tomp). Litologi yang tersingkap di lokasi merupakan perlapisan batupasir dan breksi yang mengalami tingkat pelapukan dan alterasi yang tinggi.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman.
  • Keairan: Keairan pada daerah bencana berasal dari air permukaan dan mata air. Pada bagian lembah mengalir sungai.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Gondangrejo termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa rayapan yang berpotensi menjadi longsoran bahan rombakan. Pada bagian mahkota terjadi amblasan sedalam 1 meter. Arah longsoran N 170° E (relatif ke arah selatan).

Dampak bencana:

  • 5 (lima) rumah terancam gerakan tanah
  • Jalan mengalami retakan dan amblas
4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang agak terjal - terjal (> 25°) mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang berada di atas batuan dasar yang lebih kedap air, batas diantara kedua lapisan tersebut diperkirakan sebagai bidang gelincir,
  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

5. Rekomendasi:

  • Perbaikan jalan rusak dan membuat dinding penahan longsoran pada lereng yang disertai system drainase yang baik;
  • Pengguna jalan di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan dan perlu dibuat rambu-rambu rawan longsor;
  • Relokasi pemukiman yang mengalami retakan karena berada pada tubuh pergerakan tanah.
  • Masyarakat yang terancam gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat dikarekan daerah ini masih berpotensi untuk terjadinya longsor;
  • Melakukan pemantauan retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar melaporkannya ke pemerintah daerah setempat dan mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

D. Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan

D.1. Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada dua bukit, bukit 1 berada pada koordinat 08° 04’ 35,8” LS dan 111° 05’ 33,5” BT sedangkan bukit 2 berada pada koordinat 08° 04’ 34,5” LS dan 111° 05’ 32,4” BT. Menurut informasi dari warga, gerakan tanah pernah terjadi pada tahun 1983, dan terakhir pada hari selasa, 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng yang agak terjal sampai terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian 250 - 365 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma). Litologi daerah longsoran merupakan lapukan batupasir dan breksi (Toma)
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa semak belukar dan hutan sedangkan pada lereng bagian bawah terdapat permukiman warga yang terancam gerakan tanah.
  • Keairan: Keairan pada lokasi bencana berasal dari mata air dengan muka air tanah yang dangkal. Pada lereng bagian bawah terdapat sungai grindulu yang mengalir cukup deras pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Punung termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung berupa rayapan dan longsoran bahan rombakan dan longsoran tanah. Arah longsoran N 190° E, kemudian berbelok menjadi N 150° E. Lebah mahkota longsoran 72 meter.

Dampak bencana:

  • 6 (enam) rumah telah pindah,
  • 4 (empat) rumah terancam gerakan tanah.
4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang berada di atas batuan dasar yang lebih kedap air, batas diantara kedua lapisan tersebut diperkirakan sebagai bidang gelincir,
  • Sistem drainase yang kurang baik,
  • Curah hujan yang tinggi akibat Badai Cempaka sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

5. Rekomendasi:

  • Longsoran yang besar berada diatas hanya berpotensi pada area 6 rumah yang telah dipindahkan;
  • 4 (rumah) yang terancam sebaiknya direlokasi karena sangat dekat dengan lereng dan berada pada lembah yang sama dengan longsoran.
  • Membuat dan mengatur sistem drainase yang baik agar air permukaan tidak masuk ke dalam retakan;
  • Melandaikan lereng dengan cara terasering dan penanaman vegetasi berakar kuat.
  • Memperkuat lereng dengan cara membuat tembok penahan;
  • Selalu memantau retakan pada lereng bagian atas, apabila retakan terus berkembang agar mengungsi ke tempat yang lebih aman serta melaporkannya ke pemerintah daerag setempat;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

D.2. Dusun Ngasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di 2 (dua) lokasi yaitu:

  1. Dusun Ngasem RT 1, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 05’ 02,1” LS dan 111° 05’ 37” BT.
  2. Dusun Ngasem RT 2, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 04’ 52,2” LS dan 111° 05’ 40,6” LS. 

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng yang sangat terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian 243 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma).
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa semak belukar dan kebun campuran yang didominasi oleh pohon bambu sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman.
  • Keairan: Kondisi keairan permukaan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Punung termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa pemukinan yang berada di bawahnya. Lebar mahkota longsoran 10 meter dengan panjang longsoran 100 meter. Arah longsoran N 180° E (arah selatan)

Dampak bencana:

  • 4 (empat) rumah terancam di RT 01
  • 9 (sembilan) rumah terancam dan 1 (satu) rumah rusak berat di RT 02

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang terjal (> 35°) mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang berada di atas batuan dasar yang lebih kedap air, batas diantara kedua lapisan tersebut diperkirakan sebagai bidang gelincir,
  • Curah hujan yang tinggi akibat Badai Cempaka sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

5. Rekomendasi:

  • 1 (satu) rumah yang rusak berat di RT 02 agar direlokasi ke tempat yang lebih aman
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu hujan;
  • Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada atau dibawah lereng, terutama pada waktu dan setelah hujan, dikarekan daerah ini masih berpotensi untuk terjadinya longsor;
  • Membuat saluran drainase dengan saluran yang kedap air dan mengalirkanya menjauhi lereng;
  • Perubahan vegetasi dari berakar serabut (spt bambu) ke vegetasi berakar tunggal.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

D.3. Dusun Krajan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi beberapa titik di Dusun Klasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 08° 05’ 29,2” LS dan 111° 05’ 40,5” BT; 08° 05’ 30,0” LS dan 111° 05’ 43,5” BT; 08° 05’ 30,8” LS dan 111° 05’ 49,4” BT; 08° 05’ 31,3 dan 111° 05’ 52,3” BT. Gerakan tanah terjadi hari Selasa, 28 November 2017.

2. Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng yang terjal pada bagian atas dan agak terjal pada lereng bagian bawah. Lokasi bencana berada pada ketinggian 152 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pacitan, Jawa (Samodra, 1992), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Arjosari yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batugamping, batulempung, napal pasiran, batupasir bersisipan breksi, lava dan tuf (Toma). Litologi berupa kontak antara lapukan breksi dan batulanau yang menjadi bidang gelincirnya.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa semak belukar sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman dan sawah.
  • Keairan: Keairan pada lokasi bencana berasal dari mata air yang mengalir pada tubuh longsoran.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Pacitan bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Punung termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada tebing dengan arah N 10° E atau relatif ke arah utara.

Dampak bencana:

  • 3 (tiga) rumah rusak,
  • 18 rumah terancam gerakan tanah.

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 

  • Kemiringan lereng yang terjal (> 30°) mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Sistem drainase yang kurang baik,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang berada di atas batuan dasar yang lebih kedap air, batas diantara kedua lapisan tersebut diperkirakan sebagai bidang gelincir,
  • Curah hujan yang tinggi akibat Badai Cempaka sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
5. Rekomendasi:
  • Potensi gerakan tanah susulan masih dapat terjadi jika intensitas dan durasi hujan masih tinggi, sehingga masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harus waspada dan mengungsi bila perlu;
  • Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada atau dibawah lereng, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Masyarakat yang terancam gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada penanganan dan arahan dari pemerintah setempat;
  • 3 (satu) rumah yang rusak agar direlokasi ke tempat yang lebih aman
  • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (sub surface drainage) serta pengaliran parit pencegat;
  • Melakukan pemantauan rekahan, dan membuat sistem peringatan dini dengan cara pengukuran curah hujan. Harus waspada, terutama pada waktu hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan BPBD atau pemerintah daerah setempat.

 

LAMPIRAN

Pacitan 1 (050118)

Gambar 1. Peta lokasi bencana gerakan tanah di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 2 (050118)

Gambar 2. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Gembong, Desa Mangunharjo, Desa Kedungbendo, dan Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 3 (050118)

Gambar 3. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Penggung dan Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 4 (050118)

Gambar 4. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Tinatar,Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 5 (050118)

Gambar 5. Peta geologi Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 6 (050118)

Gambar 6. Peta geologi Desa Gembong, Desa Mangunharjo, Desa Kedungbendo, dan Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 7 (050118)

Gambar 7. Peta geologi Desa Penggung dan Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 8 (050118)

Gambar 8. Peta geologi Desa Tinatar,Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 9 (050118)

Gambar 9. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada Bulan Desember 2017, Kabupaten Pacitan

 

POTENSI GERAKAN TANAH DI KABUPATEN PACITAN

PROVINSI JAWA TIMUR  BULAN DESEMBER 2017

Pacitan 10 (050118)

Keterangan :

Pacitan 11 (050118)

 

Pacitan 12 (050118)

Gambar 10. Peta Situasi Gerakan Tanah di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok

 

Pacitan 13 (050118)

Gambar 11. Peta Situasi Gerakan Tanah di Dusun Papringan, Desa Gembong

 

Pacitan 14 (050118)

Gambar 12. Peta situasi gerakan tanah Dusun Tegal, Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 15 (050118)

Gambar 13. Penampang gerakan tanah di Dusun Tegal, Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 16 (050118)

Gambar 14. Peta situasi gerakan tanah Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 17 (050118)

Gambar 15. Penampang gerakan tanah di Dusun Banyuanger, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 18 (050118)

Gambar 16. Penampang gerakan tanah di Dusun Jati, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 19 (050118)

Gambar 17. Penampag gerakan tanah di Dusun Jati Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 20 (050118)

Gambar 18. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 21 (050118)

Gambar 19. Penampang gerakan tanah di Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 22 (050118)

Gambar 20. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Sikih, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 23 (050118)

Gambar 21. Penampang gerakan tanah di Dusun Sikih, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 24 (050118)

Gambar 22. Penampang gerakan tanah di Dusun Sikih RT 4/RW 6, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 25 (050118)

Gambar 23. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Pagersari, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 26 (050118)

Gambar 24. Penampang situasi gerakan tanah di Dusun Pagersari, Desa Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 27 (050118)

Gambar 25. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 28 (050118)

Gambar 26. Penampang gerakan tanah di Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 29 (050118)

Gambar 27. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Ngasem RT 01 dan RT 02, Desa Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 30 (050118)

Gambar 28. Penampang situasi gerakan tanah di Dusun Ngasem RT 01, Desa Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 31 (050118)

Gambar 29. Penampang situasi gerakan tanah di Dusun Ngasem RT 02, Desa Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 32 (050118)

Gambar 30. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Krajan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Pacitan 33 (050118)

Gambar 31. Penampang situasi gerakan tanah di Dusun Krajan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

LAMPIRAN FOTO-FOTO KEGIATAN

A. Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan

Pacitan 34 (050118)

Foto 1. Runtuhan batu pada lereng bagian atas di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan

 

Pacitan 35 (050118)

Foto 2. Longsoran rotasional pada lereng bagian bawah di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan

 

Pacitan 36 (050118)

Foto 3. Ruimah-rumah yang hancur berat di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan dan harus direlokasi ke tempat yang lebih aman

 

Pacitan 37 (050118)

Foto 4. Sosialisasi dari tim PVMBG kepada warga mengenai mitigasi gerakan tanah di Dusun Ciwalan, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan

 

B. Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan

B.1. Desa Gembong, Kecamatan Arjosari

Pacitan 38 (050118)

Foto 5. Longsoran bahan rombakan di Dusun Papringan, Desa Gembong, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 39 (050118)

Foto 6. Rumah-rumah yang menggantung di atas lereng (kiri), dan rumah-rumah yang rusak berat di bawah lereng (kanan) agar direlokasi ke tempat yang lebih aman.

 

Pacitan 40 (050118)

Foto 7. Hasil foto udara di Dusun Papringan, Desa Gembong, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 41 (050118)

Foto 8. Sosialisasi dari tim PVMBG kepada warga mengenai mitigasi gerakan tanah di Dusun Papringan, Desa Gembong, Kecamatan Arjosari

 

B.2. Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari

Pacitan 42 (050118)

Foto 9. Retakan pada lereng bagian atas dengan arah barat – timur di Dusun Tegal RT 02, Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 43 (050118)

Foto 10. Longsoran bahan rombakan pada lereng bagian atas di Dusun Tegal RT 02, Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 44 (050118)

Foto 11. Sosialisasi dari tim PVMBG kepada warga dan aparat desa setempat mengenai mitigasi gerakan tanah di Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari.

 

B.3. Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

Pacitan 46 (050118)

Foto 12. Retakan di Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 47 (050118)

Foto 13. Retakan di Dusun Jati, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 48 (050118)

Foto 14. Longsoran bahan rombakan Dusun Jati, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 49 (050118)

Foto 15. Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Jati, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 50 (050118)

Foto 16. Longsoran bahan rombakan pada lereng bagian tengah di Dusun Tanggung, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 51 (050118)

Foto 17. Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Tanggung, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 52 (050118)

Foto 18. Sosialisasi dari tim PVMBG kepada masyarakat mengenai mitigasi gerakan tanah di Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari

 

B.4. Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari

Pacitan 53 (050118)

Foto 19. Retakan pada lereng bagian atas di Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 54 (050118)

Foto 20. Longsoran di Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari

 

Pacitan 55 (050118)

Foto 21. Sosialisai dari tim PVMBG mengenai mitigasi gerakan tanah di Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari

C. Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan

C.1. Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

Pacitan 56 (050118)

Foto 22. Longsoran bahan rombakan dan retakan pada lereng bagian atas di Dusun Sikih, Desa Penggung

 

Pacitan 57 (050118)

Foto 23. Batuan dasar berupa breksi di Dusun Sikih, Desa Penggung

 

Pacitan 58 (050118)

Foto 24. Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Penggung dan Dusun Sengon pada lereng bagian bawah

 

Pacitan 59 (050118)

Foto 25. Retakan dan amblasan pada permukaan tanah di Dusun Sikih RT 4/6, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 60 (050118)

Foto 26. Rumah-rumah yang rusak dan terancam gerakan tanah di Dusun Sikih RT 4/6, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 61 (050118)

Foto 27. Longsoran bahan rombakan di Dusun Petunggro Bawah, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 62 (050118)

Foto 28. Sistem drainase yang tidak kedap air agar dibuat jadi kedap air dan mengalirkannya menjauhi retakan

 

Pacitan 63 (050118)

Foto 29. Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Petunggro Bawah, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 64 (050118)

Foto 30. Retakan pada bagian sayap longsoran di Dusun Pagorsari, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan. Pada saat pemeriksaan, retakan telah ditutup menggunakan tanah sebagai salah satu langkah mitigasi gerakan tanah

 

Pacitan 65 (050118)

Foto 31. Longsoran bahan rombakan di Dusun Pagorsari, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 66 (050118)

Foto 32. Rumah-rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Pagorsari, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 67 (050118)

Foto 33. Sosialisai tim PVMBG kepada aparat pemerintah dan warga Desa Penggung mengenai mitigasi gerakan tanah di Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan

 

C.2. Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

Pacitan 68 (050118)

Foto 34. Longsoran pada lereng di Dusun Bandaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 69 (050118)

Foto 35. Retakan pada permukaan tanah di Dusun Bandaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 70 (050118)

Foto 36 Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Bandaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

 

Pacitan 71 (050118)

Foto 37. Sosialisasi tim PVMBG kepada warga mengenai mitigasi gerakan tanah di Dusun Bandaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

 

D. Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan

D.1. Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

Pacitan 72 (050118)

Foto 38. Longsoran bahan rombakan pada tebing di Dusun Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 73 (050118)

Foto 39. Rumah yang terancam gerakan tanah di yang berada di bawah lereng yang curam di Dusun Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung. Diharapkan agar lereng dibuat lebih landai dengan cara terasering

 

Pacitan 74 (050118)

Foto 40. Saluran air agar dibuat kedap air dan dialirkan menjahi lereng di Dusun Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 75 (050118)

Foto 41. Sosialisasi dari tim PVMBG kepada warga Dusun Dusun Buyutan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung mengenai mitigasi gerakan tanah

 

D.2. Dusun Ngasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

Pacitan 76 (050118)

Foto 42. Longsoran di Dusun Ngasem RT 1, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 77 (050118)

Foto 43. Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Ngasem RT 1, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 78 (050118)

Foto 44. Longsoran bahan rombakan di Dusun Ngasem RT 2, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 79 (050118)

Foto 45. Rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Ngasem RT 2, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

D.3. Dusun Krajan, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

Pacitan 80 (050118)

Foto 46.  Longsoran  di  Dusun Klasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 81 (050118)

Foto  47. Rumah yang rusak dan terancam akibat  gerakan tanah di  Dusun Klasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 82 (050118)

Foto 48. Retakan pada permukaan tanah di  Dusun Klasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung

 

Pacitan 83 (050118)

Foto 49.  Sosialisasi mengenai mitigasi gerakan tanah di  Dusun Klasem, Desa Tinatar, Kecamatan Punung