Laporan Singkat Tanggap Darurat Bencana Gerakan Tanah Di Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara

Hasil pemeriksaan gerakan tanah di 2 lokasi di Desa Pandanarum, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara, Prov. Jawa Tengah sebagai berikut : 

1. Lokasi

Gerakan tanah terjadi di Dusun Situkang, Desa Pandanarum, Kec.Pandanarum, Kab. Banjarnegara, Prov. Jawa Tengah pada hari Jumat 22 Desember 2017 jam 16.00 WIB setelah turun hujan semalam. Terdapat 2 (dua) lokasi gerakan tanah, antara lain: 

  • Lokasi gerakan tanah pertama (tanah lapang), terletak pada koordinat 07016” 04,3” LS dan 1090 36” 37,7” BT, dengan ketinggian sekitar 827 meter diatas muka laut.
  • Lokasi gerakan tanah kedua (hutan pinus), terletak pada koordinat 07015” 56,4” LS dan 1090 36” 41,2” BT, dengan ketinggian sekitar 831 meter diatas muka laut.

 

2. Jenis gerakan tanah dan dampaknya

  • Jenis gerakan tanah adalah Rayapan. Area yang terkena Rayapan berada di tanah lapang mempunyai panjang sekitar 175 meter, lebar 70 meter, kemiringan lereng berkisar 180, mempunyai arah umum N 3300E. Retakan tidak teratur, mempunyai arah sekitar N 540E, ukuran bervariasi panjang sekitar 4 - 27 meter, lebar 3 – 10 cm, penurunan tanah 25 cm. Gerakan tanah mengancam 2 rumah di lereng yang berdekatan dengan tebing terjal dan mengancam ± 1,2 Ha lahan sawah
  • Jenis gerakan tanah kedua (hutan pinus), adalah Longsoran bahan rombakan, terletak di hutan pinus, lebar 30 meter di bagian atas dan 98 meter di bagian bawah, panjang 110 meter, kemiringan bidang longsor 520 dan material longsoran terbawa sejauh 200 meter dan mengakibatkan hutan pinus seluas ±2100 m2 rusak dan mengancam ± 2 Ha lahan sawah/kebun warga.

 

3. Kondisi daerah pemeriksaan 

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana di 2 lokasi Desa Pandanarum merupakan bagian morfologi perbukitan Gn.Jaran yang bergelombang dengan relief rendah hingga kasar dengan kemiringan lereng antara 10 – 250, setempat-setempat pada gawir lereng dan tebingnya kemiringan mencapai 600. Terdapat sungai kecil lebar sekitar 2 meter di lereng bagian bawah, baik di areal gerakan tanah pertama (tanah lapang) maupun di areal gerakan tanah kedua (hutan pinus) yang bertemu di S. Brasa
  • Geologi, Dari Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan (Puslitbang Geologi, 1996), batuan penyusun tersingkap adalah batupasir tufaan di bagian atas dan batulempung di bagian bawah. Batupasir tufaan, warna abu-abu kecoklatan, agak keras, kurang kompak, belum padu, belum terkonsolidasi dengan baik dan mudah bergerak, dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, coklat tua, plastisitas sedang, permeabilitas tinggi, gembur dan mudah menyerap air, tebal 1,5 – 4 meter. Daerah ini banyak dipengaruhi oleh struksur sesar yang melibatkan batuan Formasi Rambatan (Tmr) dan Formasi Halang (Tmp) berupa sesar normal di bagian barat sekitar 1 km berarah utara – selatan dan sesar naik di bagian utara sekitar 500 m berarah kurang lebih barat - timur
  • Tataguna lahan, Tata guna lahan umumnya berupa berupa hutan pinus pada lereng bagian atas dan kebun campuran terdiri dari pohon berakar cukup kuat, pada lereng bagian bawah, terdiri dari pesawahan, pohon kelapa, akasia, ketela, bambu, jagung dan sayur-sayuran dan lainnya. Pemukiman warga menempati lereng bergelombang rendah dan sebagian diatas dan dibawah lereng terjal.
  • Keairan, Air yang melimpas di areal bencana sangat jernih, berasal dari mata air terletak lereng bagian atas yang digunakan untuk bercocok tanam, mengaliri sawah dan untuk keperluan MCK dan kolam ikan. Air dari mata air yang dialirkan melalui slang plastik sederhana ke rumah-rumah warga
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara (PVMBG, Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Jawa Barat Bulan Desember 2017 daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah hingga Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah sampai tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

a. Untuk lokasi pertama (rayapan)

  • Kemiringan lereng yang agak terjal
  • Sifat fisik tanah lapukan yang sarang, tebal dan mudah menyerap air
  • Adanyanya batuan lunak, kedap air (batulempung Formasi Halang), yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah
  • Lahan kebun pesawahan yang memerlukan banyak air
  • Gerakan tanah dipicu oleh curah hujan tinggi

b. Untuk lokasi kedua (longsoran bahan rombakan)

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Sifat fisik tanah lapukan yang sarang, tebal dan mudah menyerap air
  • Batupasir tufaan yang belum padu, hasil longsoran lama, belum terkonsolidasi dengan baik sehingga mudah bergerak
  • Adanya pengaruh struktur sesar yang membuat batuan kurang kompak dan mudah hancur
  • Gerakan tanah dipicu oleh curah hujan tinggi

 

5. Mekanisme terjadinya gerakan tanah

  • Pada lokasi pertama (tanah lapang), gerakan tanah diawali dengan urah hujan yang tinggi yang langsung diserap oleh tanah lapukan yang tebal, sarang dan gembur hingga tanah menjadi jenuh air, karena ada kemiringan lereng maka masa tanah hilang kesetimbannya dan bergerak sangat pelan melalui bidang gelincir gerakan tanah yaitu pada batas tanah lapukan batupasir tufaan dengan lapisan kedap air (batulempung) dibawahnya.
  • Pada lokasi kedua (hutan pinus), air yang meresap ke dalam tanah pada lereng terjal menyebabkan masa tanah hilang kesetimbannya dan bergerak sangat cepat melalui bidang gelincir gerakan tanah yaitu pada batas tanah lapukan dengan batuan yang masih segar dan menimbulkan gerakan tanah longsoran bahan rombakan

 

6. Rekomendasi

a. Untuk lokasi pertama (tanah lapang)
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas maupun bawah lereng
  • Retakan yang muncul segera diisi dengan tanah liat setempat dan dipadatkan
  • Perlu control lereng diatas maupun dibawah saat musim hujan, jika masih terjadi retakan dan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Pemukiman masih aman, namun perlu kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana, jika terjadi hujan deras lebih 3 jam segera mengungsi ke tempat yang aman
  • Perlu pengaktifan tim siaga bencana desa

 

b. Untuk lokasi kedua (hutan pinus)
  • Pembersihan material longsoran pada bagian bawah lereng
  • Bekas longsor perlu ditanami kembali dengan pohon yang kuat untuk menahan lereng
  • Perlu control lereng diatas maupun dibawah saat musim hujan, jika masih terjadi retakan dan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Longsor tidak mengancam ke pemukiman

 

LAMPIRAN

Banjarnegara 1 (110118)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah Dusun Situkang, Desa Situksng, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara

 

Banjarnegara 2 (110118)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Situksng, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara

 

Banjarnegara 3 (110118)

Gambar 3. Peta Prakiraan Terjkadinya Gerakan Tanah, Bulan Desember 2017, Kab. Banjarnegara

 

Banjarnegara 4 (110118)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah Dusun Situkang, Desa Situksng, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara

 

Banjarnegara 5 (110118)

Gambar 5. Sketsa penampang gerakan tanah A-B (lokasi kedua/hutan pinus) Desa Situkang, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara

 

Banjarnegara 6 (110118)

Gambar 6. Sketsa penampang gerakan tanah C-D (lokasi pertama/tanah lapang) Desa Situkang, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara

 

FOTO LAPANGAN

Banjarnegara 7 (110118)

Foto 1 dan 2. Tampak lokasi gerakan tanah pertama Ds. Pandanarum, di tanah lapang, retakan yang muncul sdh diisi tanah liat, tampak retakan yang di pesawahan. Sekaligus tim melakukan sosialisasi di lokasi kejadian

 

Banjarnegara 8 (110118)

Foto - 3. Tampak retakan yang muncul di pesawahan di lokasi gerakan tanah pertama Ds. Pandanarum.

 

Banjarnegara 9 (110118)

Foto-4. Lokasi longsor kedua Ds. Pandanarum, di hutan pinus, berupa Longsoran bahan rombakan berubah menjadi aliran bahan rombakan, yang jauh dari pemukiman

 

Banjarnegara 10 (110118)

Foto-5. Tampak aliran bahan rombakan di lokasi longsor kedua Ds. Pandanarum, mengancam pesawahan di bawahnya