Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Cilebak Dan Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah dan Penyelidikan tempat relokasi di Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat berdasarkan informasi media elektronik dan media sosial. Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:
  1. Desa Patala, Gerakan tanah terjadi di Dusun Umbul Kalapa, Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : 1080 35'03,8" BT dan 70 06' 43,0" LS. Gerakan tanah tipe rayapan dan longsoran terjadi pada tanggal, 8 Januari 2018 pada jam 18:00 WIB.
  2. Desa Cilebak, Gerakan tanah terjadi di Dusun Wage dan Dusun Kliwon, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Di Dusun Wage terjadi di beberapa titik yang tidak terlalu jauh jaraknya, baik itu longsoran kecil maupun retakan. Secara geografis titik di Dusun Wage terletak pada koordinat :1080 34'50,3"  BT dan 70 08' 32,1" LS, sedangkan di Dusun Kliwon terletak pada koordinat: 1080 35'18,7" BT dan 70 07' 59,6" LS. Gerakan tanah di Dusun Wage berupa tipe rayapan dan longsoran terjadi pada tanggal 8 Januari 2018 pada jam 18:00 WIB, sedangkan di Dusun Kliwon gerakan tanah berupa longsoran terjadi pada tanggal 9 Januari 2018 pada jam 07:00 WIB.

 

2. Kondisi daerah bencana :

a. Morfologi
  1. Desa Patala, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang rendah sampai sedang dengan kemiringan lereng bervariasi dari  ±100-220, pada lembah dan tebingnya kemiringan mencapai 450.
  2. Desa Cilebak, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan sedang dengan kemiringan lereng ±20°-25°.

b. Geologi

  • Berdasarkan peta geologi lembar Majenang (Kastowo dan N. Suwarna, 1996), lokasi bencana di Desa Patala termasuk dalam Anggota Gununghurip Formasi Halang (Tmhg). Hasil pengamatan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah Desa Patala merupakan breksi dan batupasir sisipan batulempung. Tanah pelapukan yang berupa pasir lempungan yang menumpang di atas batuan tersebut.
  • Sedangkan di Desa Cilebak, berdasarkan peta geologi lembar Majenang termasuk ke dalam Formasi Halang (Tmhg). Hasil pengamatan di lapangan batuan disusun oleh batulempung pada bagian bawah dan batupasir tufaan pada bagian atas. Batuan tersebut telah lapuk berupa lempung pasiran, coklat tua, sarang, porositas tinggi, gembur mudah menyerap air, tebal 1 – 1,5 meter. Struktur geologi akibat deformasi seperti patahan/sesar naik dan lipatan antiklin (fold) terdapat di bagian barat daerah ini.

c. Keairan

 

  • Kondisi keairan di daerah Desa Patala terdapat aliran sungai (anak sungai Srigading) yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan untuk air bersih terdapat mataair dari ±1 Km yang dialirkan menggunakan pipa.
  • Sedangkan di lokasi Dusun Wage dan Dusun Kliwon, Desa Cilebak untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mataair yang ditampung dalam bak penampungan.

 

d. Tata guna lahan
  • Desa Patala, Pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, ladang dan lereng bagian tengah berupa sawah serta lereng bagian atas merupakan bangunan SD, pemukiman dan sebagian sawah.
  • Desa Cilebak, Pada lereng atas di Dusun Wage, berupa kebun campuran dan pemukiman, sedangkan lereng bagian bawah berupa kolam, jalan, dan bangunan kantor kecamatan. Sedangkan di Dusun Kliwon, baik lereng atas maupun lereng bawah merupakan pemukiman dan kebun campuran.

e. Kerentanan gerakan tanah

  • Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Kuningan bulan Januari 2017 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah-tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi menegah - tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana
a. Desa Patala

Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Umbulkalapa, Desa Patala berupa longsoran bahan rombakan. Mahkota longsoran panjang 7m, panjang landaan material ±10m. Di bagian Utara dari lokasi bencana terdapat beberapa retakan di pematang sawah dan halaman Sekolah Dasar. Arah retakan relatif Barat-Timur dengan lebar rekan 5-10cm dan sudah mengalami penurunan 20-50 cm. Karena lereng yang agak terjal (25°) dan tanah pelapukan menumpang di atas breksi dan batupasir sisipan lempung, maka berpotensi terjadi perubahan tipe gerakan tanah dari rayapan menjadi tipe cepat. Dampak bencana menyebabkan :

  • 1 Bangunan Sekolah Dasar terancam
  • 6 rumah terancam

a. Desa Cilebak

Gerakan tanah terjadi di beberapa titik lokasi, yaitu 3 titik di Dusun Wage dan 1 titik di Dusun Kliwon. Secara umum gerakan tanah berupa tipe rayapan dan longsoran.

  • Titik pertama di Dusun Wage, berupa rayapan, dengan arah gerakan tanah N 340 E, menimbulkan retakan, lebar 5 – 25 cm, penurunan10 – 130 cm, kemiringan lereng 220 - 600. Gerakan tanah ini mengancam 1 buah rumah di lereng bagian bawah.
  • Titik kedua, berupa longsoran bahan rombakan, dengan arah umum gerakan tanah N 1080 E, lebar 16 meter, tinggi gawir longsoran 11 meter, kemiringan lereng asli 400-500.

Dampak gerakan tanah ini mengancam 2 rumah di lereng bawah dan 3 rumah di lereng atas.

  • Titik ketiga, terdapat longsoran bahan rombakan merupakan gabungan dari 3 titik longsor yang berdampingan, arah umum gerakan tanah N 2700 E dan kemiringan bidang longsor 220 dengan dimensi masing-masing :
  • Longsor paling selatan panjang 21 meter dan lebar 42 meter
  • Longsor di tengah panjang 15 meter dan lebar 28 meter
  • Longsor paling utara panjang 34 meter dan lebar 42 meter

Dampak gerakan tanah ini mengkibatkan:

  • 1 unit rumah di lereng bawah rusak
  • 3 unit rumah di lereng atas terancam
  • 1 bangunan kantor desa di lereng bawah terancam.

Karena lereng yang agak terjal-terjal (30° - 40°) dan tanah pelapukan menumpang di atas batuan sedimen (breksi dan batupasir) cukup tebal, maka berpotensi terjadi perubahan tipe gerakan tanah dari rayapan menjadi tipe cepat.

Sedangkan kondisi gerakan tanah di Dusun Kliwon berupa longsoran bahan rombakan pada pemukiman dan areal tegalan, dengan kemiringan lereng 300, panjang 42 meter, lebar 13 meter, dengan arah umum gerakan tanah N 1980 E.  Menurut informasi setempat, longsoran diawali dengan terjadinya retakan pada 2 unit rumah di lereng atas. Gerakan tanah mengakibatkan 1 rumah rusak dan mengancam 3 rumah di lereng atas dan 8 rumah di lereng bawah.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

a. Desa Patala

  • Kemiringan lereng yang agak terjal
  • Intensitas curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap kedalam tanah yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air
  • Limpasan air hujan (run off) yang menyebabkan lapisan tanah pelapukan menjadi jenuh air dan mudah bergerak
  • Adanya kolam di bagian bawah lereng dan adanya saluran irigasi yang belum permanen, sehingga air mudah bocor dan menggenangi lereng bawahnya.

b. Desa Cilebak

 

  • Dusun Wage
    • Kemiringan lereng yang agak terjal
    • Intensitas curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap kedalam tanah yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air
    • Pemotongan lereng yang digunakan untuk akses jalan setapak
    • Lahan tegalan dengan vegetasi yang kurang rapat
    • Adanya saluran irigasi yang belum permanen di lereng bagian atas serta, sehingga air mudah bocor dan menggenangi lereng bawahnya.
  • Dusun Kliwon
    • Kemiringan lereng yang agak terjal
    • Intensitas curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap kedalam tanah yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air
    • Pemotongan lereng yang digunakan untuk pemukiman

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum mekanisme terjadinya gerakan tanah di beberapa lokasi di Kecamatan Cilebak berawal dari curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik dan kelerengan terjal menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui retakan sehingga  jenuh air. Akibatnya bobot masanya tanah bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Tanah pelapukan yang tebal yang menumpang pada batuan sedimen (beksi, batupasir sisipan lempung) dengan kemiringan terjal tersebut menyebabkan terjadinya gerakan tanah. Pada saat ini gerakan tanah berupa rayapan, namun karena kemiringan lereng yang terjal jika dipicu curah hujan yang tinggi secara terus menerus memungkinkan terjadi perubahan gerakan tanah dari tipe lambat (rayapan) menjadi tipe cepat (longsoran).

Longsoran bahan rombakan bergerak dengan cepat, berawal dari saluran irigasi belum permanen yang mudah bocor, ditambah hujan deras sebelumnya yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk ke dalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak dengan bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusunnya atau pada batulempung, yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut:

1. Desa Patala

  • Pembersihan material longsoran
  • Bangunan di sekitar lokasi bencana tidak perlu direlokasi, dengan syarat:
    • Lereng yang terjal dilandaikan dan ditanami pohon yang kuat dan berakar dalam untuk menahan lereng
    • Bangun tembok penahan lereng di bekas longsoran, sementara bangunan tembok yang sudah ada di area SD diperbaiki kembali dengan diberi lubang saluran air, dengan pondasi mencapai lapisan keras
    • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen drainase diatas lereng atas dan bawah
    • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi pihak sekolah, aparat dan masyarakat di sekitar lokasi bencana  
  • Untuk bangunan rumah lebih cocok adalah dengan konstruksi panggung dengan fondasi umpak. 

2. Desa Cilebak

 a. Dusun Wage

  • Pembersihan material longsoran di jalan desa
  • Retakan pada lereng atas (lokasi gerakan tanah pertama) segera diisi dengan tanah liat setempat dan dipadatkan agar air tidak masuk kedalamnya
  • Tebing yang terkena longsor segera diperbaiki dengan memasang fondasi dan bangunan penahan tebing hingga mencapai lapisan keras
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas lereng maupun lereng bawah dan di sisi jalan desa
  • Perlu ditanam pohon berakar dalam untuk menahan lereng, terutama lereng yang sedikit vegetasinya.
  • 3 rumah yang berada di lereng bagian atas dekat bibir tebing yang longsor agar dijauhkan 15 meter dari tebing tersebut.
  • Kolam ikan agar dikeringkan. Jika dipertahankan maka agar dibuat permanen dengan alas dan dinding dipasang terpal/disemen
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan desa di sekitar lokasi bencana
b. Dusun Kliwon
  • Lereng yang terjal dilandaikan dan ditanami pohon yang kuat berakar dalam untuk menahan lereng
  • Pembersihan material longsoran pada rumah yang terkena longsor
  • Bekas rumah yang terkena longsoran sebaiknya dipindahkan karena menempati tebing terjal
  • Pemukiman yang terancam tidak perlu direlokasi, dengan beberapa syarat sebagai berikut:
    • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen drainase diatas lereng atas dan bawah
    • Untuk mengurangi ancaman, tebing yang berada di atas pemukiman yang terancam perlu dibuat dinding penahan tebing (retaining wall)
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana dan bila perlu dipasang alat pantau longsor
  • Untuk bangunan rumah lebih cocok adalah dengan konstruksi panggung dengan fondasi umpak.

 

LAMPIRAN

Patala 1 (020218)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Dusun Umbulkelapa, Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 2 (020218)

Gambar 2. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Dusun Wage dan Dusun Kliwon, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 3 (020218)

Gambar 3. Peta Geologi Desa Cilebak dan Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.


TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN KUNINGAN, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN JANUARI 2017

Patala 4 (020218)

Keterangan : 

Patala 5 (020218)

 

Patala 6 (020218)

Gambar 4. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Januari 2017, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 7 (020218)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 8 (020218)

Gambar 6. Sketsa Penampang A – B Gerakan Tanah Desa Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 9 (020218)

Gambar 7. Sketsa Penampang C – D Gerakan Tanah Desa Desa Patala, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 10 (020218)

Gambar 8. Peta Situasi Gerakan Tanah Dusun Wage, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 11 (020218)

Gambar 9. Sketsa Penampang A – B Gerakan Tanah Dusun Wage, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

 

Patala 12 (020218)

Gambar 10. Sketsa Penampang C – D Gerakan Tanah Dusun Wage, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan,Jawa Barat.

 

Patala 13 (020218)

Gambar 11. Peta Situasi Gerakan Tanah Dusun Kliwon, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

 

Patala 14 (020218)

Gambar 12. Sketsa Penampang Gerakan Tanah Dusun Kliwon, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

 

Patala 15 (020218)

Foto 1. Lokasi gerakan tanah yang berada di Dusun Satu Blok Umbul Kalapa, Desa Patala dengan arah longsoran N 2750 E dan dimensi longsor  lebar 6 meter panjang 18 meter menyebabkan akses Jalan Desa terganggu akibat tertutup material longsoran.

 

Patala 16 (020218)

Foto 2. Lokasi gerakan tanah yang berada dibawah bangunan Sekolah Dasar Negeri 1 Patala, dengan arah longsoran N 440 E dan dimensi longsoran lebar 6 meter panjang 23,5 meter mengancam satu unit bangunan sekolah yang berada diatasnya.

 

Patala 17 (020218)

Foto 3. Amblesan yang berada di areal pesawahan (bagian atas) bangunan Sekolah Dasar yang membentuk seperti tapal kuda memiliki arah gerak N 480 E dan mengakibatkan satu unit Pondok milik petani yang berada di tengah amblesan mengalami kerusakan.

 

Patala 18 (020218)

Foto 4. Amblesan atau retakan yang berada di areal pesawahan memiliki tinggi 20 – 75 cm, lebar 10 – 35 cm dan kedalaman 20 – 80 cm, sebaiknya segera diisi dengan tanah liat setempat dan dipadatkan agar air tidak masuk kedalamnya.

 

Patala 19 (020218)

Foto 5. Litologi batuan dilokasi gerakan tanah yang berupa Batupasir sisipan Batulempung yang termasuk kedalam Anggota Gununghurip Formasi Halang (Tmhg) yang merupakan bidang gelincir.

 

Patala 20 (020218)

Foto 6. Koordinasi di lokasi gerakan tanah yang terjadi di Desa Patala, Kecamatan Cilebak dengan BPBD Kabupaten Kuningan dan Aparat Desa Patala.

 

Patala 21 (020218)

Foto 7. Koordinasi dengan BPBD Kabupaten Kuningan dan Sekretaris Kecamatan Cilebak terkait bencana gerakan tanah yang terjadi di wilayah Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan

 

Patala 22 (020218)

Foto 8. Lokasi gerakan tanah yang berada tidak jauh dari Kantor Kecamatan Cilebak (bagian atas) sangat mengancam rumah dan jalan kabupaten yang berada di bagian bawah longsoran dan bagian atas dekat mahkota longsoran.

 

Patala 23 (020218)

Foto 9. Amblesan yang berada di kebun bagian utara yang berarah N 180 E kearah pemakaman umum, dengan tinggi amblesan 40 – 130 cm, lebar 5 – 25 cm

 

Patala 24 (020218)

Foto 10. Lokasi gerakan tanah yang berada di Dusun Wage merupakan tipe longsoran tanah dan mengancam satu unit rumah yang berada dibawahnya.

 

Patala 25 (020218)

Foto 11. Lokasi gerakan tanah yang berada di tebing jalan mengakibatkan akses jalan tidak bisa dilewati sementara waktu akibat tertutup material longsoran dan mengancam pemukiman yang berada dekat dengan lokasi gerakan tanah.

 

Patala 26 (020218)

Foto 12. Koordinasi dengan masyarakat Dusun Wage, Desa Cilebak dilokasi, tentang potensi bahaya gerakan tanah yang terjadi.

 

Patala 27 (020218)

Foto 13. Lokasi gerakan tanah di Dusun Kliwon, Desa Cilebak yang merupakan tipe longsoran tanah mengakibatkan 1 rumah rusak dan 11 unit rumah terancam.

 

Patala 28 (020218)

Foto 14. Terdapat 1 unit rumah rusak dan 8 unit rumah yang terancam di Dusun Kliwon yang berada dibagian bawah lokasi gerakan tanah, masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan sesudah turun hujan.

 

Patala 29 (020218)

Foto 15. Rumah rusak akibat bencana gerakan tanah yang terjadi di Dusun Kliwon, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak.