Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Malasari Dan Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Desa Malasari dan desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilakukan mengingat kekhawatiran masyarakat akan  terjadinya gerakan tanah akibat gempabumi tektonik yang terjadi pada 23 Januari 2018. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, kerusakan rumah dan bangunan lainnya yang terjadi di lokasi becana adalah akibat getaran gempabumi (data kerusakan terlampir). Adapun kondisi gerakan tanah di lokasi bencana berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan adalah sebagai berikut: 

A. Kampung Citalahab Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Citalahab dan Kp. Citalahab Kampung RT 01 dan 05 RW 11 Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini secara geografis terletak pada koordinat :  6° 43' 41.8" LS dan 106° 32' 11.9" BT. Gerakan tanah terjadi dipicu oleh gempabumi yang terjadi pada tanggal 23 Januari 2017 yang berpusat di Kabupaten Lebak Provinsi Banten dan menurut keterangan penduduk gerakan tanah masih terjadi sampai dengan tanggal 27 Januari 2018 pukul 19,30 Wib pada saat turun hujan. Pada saat pemeriksaan penduduk khawatir terhadap terjadinya longsoran yang besar akibat terjadinya retakan-retakan pada tanah.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi di daerah bencana secara umum merupakan lereng perbukitan bergelombang kuat dengan kemiringan lereng 20 - 35° pada ketinggian 1000 – 1100 mdpl, yang terletak di lereng bagian barat G. Kendang dan berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan, batuan di lokasi bencana  tersusun oleh tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat terang dengan ketebalan > 2m  di atas batuan dasar vulkanik berupa breksi andesit, lava dan tuf (Effendi, 1996).
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah bencana melimpah dan untuk keperluan sehari-hari memanfaatkan mata air.
  • Tata guna lahan, Lahan di Kampung Citalahab dan Kampung Citalahab Kampung, Desa Malasari dimanfaatkan sebagai permukiman pada bagian bawah lereng, persawahan pada bagian lembah, serta semak belukar dan kebun campuran pada lereng bagian atas.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor lokasi bencana terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bogor bulan Januari 2018 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah - tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Citalahab adalah longsoran (slide) dengan dimensi kecil dan retakan-retakan pada tanah permukaan akibat getaran gempabumi. Longsoran terjadi pada tebing jalan setapak di sekitar permukiman dengan panjang 10 meter, tinggi lereng 2 meter dan lebar 1 - 1.5 meter. Arah gerakan tanah N 235o E atau ke arah Timur Laut. Retakan-retakan pada permukaan tanah terjadi di sekitar permukiman dengan lebar 1 - 30 cm dengan arah antara N 45o - 87o E. Retakan-retakan ini berkembang pada tanah yang dekat dengan lereng tebing yang di bawahnya dimanfaatkan sebagai lahan persawahan dan kolam serta mengalir anak sungai Citalahab.

Di kampung Citalahab Kampung RT 01 RW 011, gerakan tanah yang terjadi adalah nendatan pada badan jalan sepanjang 50 meter yang mengarah ke tebing yang di bawahnya dimanfaatkan sebagai jalan setapak dan kolam. Tinggi nendatan antara 5 - 15 centimeter bergerak relatif ke Timur Laut dengan arah umum N 340o E. Pada saat dilakukan pemeriksaan, nendatan ini sudah ditutup dan dipadatkan. Di RT 05 RW 011 kampung Citalahab Kampung, gerakan tanah yang terjadi adalah retakan-retakan pada tebing yang berada di permukiman dan di bawahnya terdapat jalan setapak dan rumah. Lebar retakan antara 1 - 5 centimeter dan pada saat pemeriksaan sudah ditutup dan dipadatkan.

Dampak bencana:

  • Kerusakan pada rumah-rumah di lokasi ini disebabkan oleh getaran gempabumi yang terjadi pada 23 januari 2018.
  • 1 (satu) rumah yang rusak akibat gempabumi mengalami perkembangan retakan pada dinding dan lantai (Foto 1.1)
  • 2 (dua) rumah yang mengalami kerusakan parah akibat gempabumi sudah tidak layak dihuni dan harus direlokasi karena tanah tempat berdirinya ke dua bangunan tersebut sudah mengalami retakan yang parah dan letaknya yang sangat dekat dengan bibir tebing (Foto 1.2).
  • Tiang listrik mengalami pergeseran karena tanah tempat berdirinya tiang tersebut telah bergeser akibat gerakan tanah yang dipicu gempabumi (Foto 1.3).
  • Jalan mengalami nendatan dan akan mengancam jalan setapak dan kolam yang berada di bawahnya (Foto 1.4).

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah adalah gempa bumi yang berpusat di daerah Lebak, Banten, Selasa siang 23 Januari 2018, pukul 13.35 WIB, berkekuatan 6,1 Skala Richter (SR). Gempa ini terjadi di 67 km Barat Daya Lebak, Banten dengan kedalaman 61 km. Selain dipicu oleh gempabumi, secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang sangat terjal (>60).
  • Sistem drainase yang kurang baik, sehingga aliran air masuk ke dalam retakan.
  • Bebanan bangunan yang berdiri di atas lereng yang mengalami pergerakan akibat gempabumi.
  • Pelunakan pada bagian bawah lereng akibat pemanfaatan lahan basah dan aliran air sungai.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Guncangan gempabumi yang terjadi mengakibatkan terbentuknya retakan-retakan pada permukaan tanah. Kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal, beban bangunan yang berdiri di atasnya, dan pelunakan pada bagian bawah lereng akibat penjenuhan mengakibatkan tanah semakin mudah bergerak ke luar lereng sehingga retakan yang terbentuk semakin berkembang.

 

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih terdapatnya retakan-retakan yang belum ditutup dan dipadatkan, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, maka direkomendasikan:

  • Merelokasi 2 (dua) rumah yang rusak akibat gempabumi dan sudah tidak layak huni akibat retakan pada tanah permukaan  dan letaknya yang sangat dekat dengan lereng.
  • Untuk menghindari perkembangan kerusakan pada rumah yang mengalami kerusakan akibat gempabumi, agar segera dilakukan perbaikan dan perkuatan dengan memperhatikan kestabilan lerengnya.
  • Segera membersihkan material longsoran.
  • Segera menutup retakan dan memadatkannya serta mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari retakan untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat meningkatan pembebanan dan penjenuhan tanah.
  • Pembuatan bronjong/tembok penahan pada tebing-tebing di sekitar pemukiman dengan saluran pengering dan pondasi sampai batuan keras.
  • Masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan, jika muncul rembesan atau aliran lumpur pada tekuk lereng sebaiknya mengungsi atau dievakuasi secepatnya.
  • Masyarakat agar selalu memantau perkembangan retakan, jika muncul retakan baru agar segera ditutup dan dipadatkan. Apabila terjadi perkembangan pada retakan yang telah ada dan muncul rembesan air agar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah, sehingga perlu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan desa di sekitar lokasi bencana. 

 

 

B. Kp. Garung, Desa Malasari dan Kp. Cilanggar Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah yang dipicu oleh gempabumi 23 Januari 2018 juga terjadi di Kampung Garung RT 04 RW 011, Desa Malasari, Kec Nanggung, Kabupaten Bogor yang secara geografis berada pada 6° 43' 14.42" LS dan 106° 32' 32.02" BT. Selain itu di Kp. Legok Batu yang dijumpai rekahan  di areal sawah sehingga air sawah masuk melalui rekahan tersebut dan muncul di bagian bawah lereng yang secara geografis terletak pada koordinat 6° 43' 35.7" LS dan 106° 32' 32" BT.

Sebelum terjadinya gempabumi 23 Januari 2018, gerakan tanah juga terjadi di Kampung Garung RT 04 RW 011 yang secara geografis terletak pada koordinat  6° 43' 24.2" LS dan 106° 32' 33.0" BT. Di lokasi ini sudah dilakukan pemeriksaan pada bulan Desember 2017. Berdasarkan informasi dari warga setempat dan laporan hasil pemeriksaan sebelumnya, gerakan tanah tipe nendatan dan rayapan ini pertama kali terjadi pada bulan Januari 2014, masyarakat merasa khawatir dikarenakan retakan dan amblasan masih berkembang sampai pada saat pemeriksaan.

Di Kampung Cilanggar Desa Bantar Karet yang letaknya berdekatan dengan Kampung Garung, gempabumi juga menimbulkan retakan-retakan pada permukaan tanah di sekitar permukiman. Lokasi ini secara geografis terletak pada koordinat  6° 43' 18.1" LS dan 106° 32' 42.6" BT.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana di Kp. Garung dan Kampung Cilanggar merupakan lereng perbukitan bergelombang kuat dengan kemiringan lereng 12 - 30° setempat lebih dari  30° dan berada ketinggian 900 – 1000 mdpl, yang terletak di lereng bagian barat G. Kendang di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
  • Geologi, Secara geologi lokasi pemeriksaan disusun oleh tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat terang hingga cokat dengan ketebalan antara 1 m sampai dengan > 3m di atas batuan vulkanik berupa breksi andesit, lava dan tuf (Effendi, 1996).
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah bencana melimpah dan mengalir sungai Citalahab yang berair sepanjang tahun. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan mata air.
  • Tata guna lahan, Lahan bagian atas di Kp. Garung dan Kampung Cilangar dimanfaatkan sebagai hutan, di bagian tengah lereng ladang, kebun dan pemukiman serta lereng bagian bawah dijadikan lahan  persawahan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor lokasi bencana terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bogor bulan Januari 2018 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah - tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Setelah terjadinya gempabumi 23 Januari 2018, di lokasi ini tidak dijumpai gerakan tanah dengan dimensi besar. Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Garung adalah retakan-retakan pada permukaan tanah di dekat tebing-tebing yang terjal dengan tinggi antara 1,5 sampai 2 meter dan berdekatan dengan rumah-rumah penduduk. Retakan ini akan mengancam rumah di bawahnya jika runtuh. Gerakan tanah berupa retakan-retakan pada permukaan tanah yang dekat dengan tebing di sekitar permukiman. Lebar retakan antara 1- 3 centi meter dengan arah umum retakan  N 5 - 7o E (Foto 1.5).

Gerakan tanah yang sebelumnya sudah terjadi di lokasi pemeriksaan adalah gerakan tanah tipe lambat berupa nendatan dan retakan. Arah umum gerakan tanah di lokasi ini adalah N 127°E dengan arah pergerakan relatif utara searah dengan kelerengan bukit, lebar retakan 5 – 10 cm, panjang retakan ± 50 meter, dengan kelerengan 30°.  Pada bagian barat daya pemukiman terdapat amblesan yang berarah N 198°E dengan tinggi amblesan 1,92 m. Di bagian tengah pemukiman juga terdapat retakan dengan arah retakan utara – selatan. Setelah terjadinya gempabumi 23 Januari 2018, nendatan pada badan jalan mengalami perkembangan, hal ini ditandai dengan bertambahnnya kedalaman nendatan dan lebar retakannya (Foto 1.6).

Di kampung Cilanggar Desa Bantarkaret terjadi retakan dengan lebar antara 5 – 10 cm pada lereng dengan ketinggian 1 – 3 m dan kemiringan > 30° dan pada beberapa tempat lebih dari 60°. Arah umum gerakan tanah di lokasi ini adalah N 285°E. Di sekitar permukiman dijumpai rumah-rumah yang dibangun sangat dekat denga lereng serta pemotongan lereng yang sangat terjal utuk lahan pemukiman (Gambar 1.7). Retakan tanah lainnya dijumpai di sekitar permukiman yang terletak di  punggungan bukit dengan arah antara N 5°E - N 12°E .

Berdasarkan hasil pemerikasaan pada bulan Desember 2017 di kampung Garung, gerakan tanah ini menyebabkan:

  • 1 (satu) rumah retak retak
  • Jalan desa terancam putus
  • 35 KK terancam longsoran dan minta direlokasi

Berdasarkan hasil pemeriksaan setelah gempabumi, teramati bahwa:

  • Gerakan tanah ini mengalami perkembangan dengan bertambahnya lebar retakan dan kedalaman  nendatan pada badan jalan.
  • Gerakan tanah ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan terjadinya gerakan tanah/longsoran yang kebih besar.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah yang terjadi di daerah pemeriksaan dipicu oleh gempabumi yang terjadi pada 23 Januari 2018. Selain dipicu oleh gempabumi, secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang umumnya terjal >30°, abhakan pada beberapa tempat kemiringan > 60°.
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah yang mengakibatkan penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah pembentuk lereng, sehingga lereng menjadi tidak stabil dan mudah bergerak.
  • Tata guna lahan berupa persawahan di bagian tengah dan bawah lereng
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah sebelum gempabumi. Gempabumi yang terjadi kemudian, semakin memicu berkembangya gerakan tanah ini.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Guncangan gempabumi yang terjadi mengakibatkan terbentuknya retakan-retakan pada permukaan tanah. Kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal, beban bangunan yang berdiri di atasnya, dan pelunakan pada bagian bawah lereng akibat penjenuhan mengakibatkan tanah semakin mudah bergerak ke luar lereng sehingga retakan yang terbentuk semakin berkembang.

Guncangan gempabumi ini juga meyebabkan bertambahnya lebar retakan dan kedalaan nendatan yang sebelumnya sudah terjadi di lokasi ini.

 

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih terdapatnya retakan-retakan yang belum ditutup dan dipadatkan, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, maka direkomendasikan:

  • Segera menutup retakan dan memadatkannya serta mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari retakan untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat meningkatan pembebanan dan penjenuhan tanah.
  • Pembuatan bronjong/tembok penahan pada tebing-tebing di sekitar pemukiman dengan dilengkapi saluran pengering dan pondasi sampai batuan keras.
  • Memperbaiki dan memberi perkuatan pada tembok penahan yang mengalami retakan dengan dilengkapi saluran pengering yang cukup agar tidak runtuh dan menimpa rumah di bawahnya.
  • Segera mengalihkan saluran air yang mengarah ke retakan yang muncul di pesawahan di Kp. Legok Batu dan menutup serta memadatkan retakan tersebut.
  • Masyarakat agar memantau perkembangan retakan, jika muncul retakan baru agar segera ditutup dan dipadatkan. Apabila terjadi perkembangan pada retakan yang telah ada dan muncul rembesan agar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Tidak membuat kolam dan sawah pada daerah retakan karena akan mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Masyarakat yang sudah terlanjur tinggal di bawah dan dekat dengan tebing agar meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap ancaman gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Pengungsi sudah bisa kembali ke tempat tinggal masing-masing dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terutama saat turun hujan dengan intensitas tinggi dan lama.
  • Pengungsi di kampung Cilanggar, desa Bantar Karet yang rumahnya hancur dan rusak berat  (sebanyak 4 unit rumah) akibat gempabumi dan 8 rumah yang tepat berada di bawah retakan agar direlokasi untuk menghindari terjadinya longsoran susulan dan timbulnya korban jiwa (Foto 1.8).
  • Sesuai dengan rekomendasi yang sebelumnya disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan gerakan tanah pada bulan Desember 2017, permukiman di Kp. Garung yang terkena longsor sebelum terjadinya gempabumi 23 Januari 2018, sebaiknya direlokasi ke tempat yang aman, hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah yang akan merelokasi tempat tersebut.
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah, sehingga perlu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan desa di sekitar lokasi bencana. 

 

 

C.  Perkebunan Teh Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi ini berada di perkebunan teh yang dikelola oleh PT Nirmala Agung yang secara geografis terletak pada koordinat  6° 43' 51.6" LS dan 106° 32' 48.7" BT Daerah ini juga terkena dampak gempabumi 23 Januari 2018 dan menimbulkan gerakan tanah.

Ancaman gerakan tanah di area perkebunan teh Nirmala terletak di sekitar area kantor perkebunan pada koordinat sekitar 060 43’ 44,6” LS dan 1060 30’ 42,0” BT, dengan ketinggian sekitar 1114 meter diatas muka laut. Gempabumi juga memicu terjadinya jatuhan batu pada tebing jalan di sekitar perkampungan Malani yang berada pada koordinat ;  6° 43' 28.45" LS 106° 30' 38.88" BT pada ketinggian sekitar 1150 meter di atas muka laut.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah pemeriksaan merupakan lereng perbukitan bergelombang kuat. Secara umun kemiringan lereng di lokasi ini antara 15° sampai dengan lebih dari  30° dan setempat setampat  lebih dari 60° terutama pada tebing-tebing yang berbatasan dengan jalan. Kemiringan lereng di sekitar permukiman berkisar antara 5°- 20° dengan ketinggian anatara 1000 – 1200 mdpl di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
  • Geologi, Secara geologi lokasi pemeriksaan disusun oleh tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna coklat terang dengan ketebalan lebih dari 3 meter di atas batuan vulkanik berupa breksi andesit, lava dan tuf (Effendi, 1996).
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah bencana melimpah dan mengalir sungai Cikamar dan sungai Ciangsanadi sebelah barat laut serta sungai Citalahab di Tenggara yang berair sepanjang tahun. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan mata air.
  • Tata guna lahan, Lahan di Kp. Nirmala dan Kp. Malani, Desa Malasari secara umum dimanfaatkan sebagai perkebunan teh dan setempat berupa semak belukar. Permukiman menempati lembah-lembah yang membentuk pedataran di sekitar perkebunan teh.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor lokasi bencana terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bogor bulan Januari 2018 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah - tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Retakan terjadi di dekat Mess yang mengalami kerusakan parah akibat gempabumi (Foto 1.9). Retakan sepanjang 108 m ini memanjang mengikuti tebing yang mengarah ke jalan dan sungai Cikamar di bawahnya dengan lebar antara 1-3 cm. Retakan ini berada pada badan jalan menuju mess dan berada di atas tanah timbunan.

Di sekitar area perkantoran kebun teh, akibat gempa bumi muncul retakan pada area dengan panjang 210 meter, lebar 155 meter, kemiringan lereng 8 - 450, arah umum retakan tanah N 550 E – N 700 E, panjang retakan 5 – 15 meter, lebar retakan 2 – 25 cm. Retakan tanah ini mengancam 1 bangunan kantor perkebunan teh Nirmala pada lereng bagian atas dan 27 rumah warga (pekerja perkebunan teh) pada lereng bagian bawah (Foto 1.10). Gerakan tanah juga mengancam satu rumah di bawah retakan yang terjadi di kebun the dekat gudang penampungan kayu (Foto 1.11).

Di sekitar permukiman Malani terjadi runtuhan batu dan retakan tanah di areal kebun dan pemukiman. Runtuhan batu terjadi pada tebing yang berada di atas badan jalan pada saat gempabumi dan tidak terjadi lagi setelahnya. Retakan di area perkebunan sudah ditutup dan dipadatkan. Menurut keterangan penduduk setempat yang melakukan pengecekan, retakan sudah tidak berkembang lagi. S

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab terjadinya retakan maupun runtuhan batu ini karena dipicu oleh gempa bumi yang berpusat di daerah Lebak, Banten, Selasa siang 23 Januari 2018, pukul 13.35 WIB, berkekuatan 6,1 Skala Richter (SR). Gempa ini terjadi di 67 km Barat Daya Lebak, Banten dengan kedalaman 61 km.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah : 

Guncangan gempabumi yang terjadi mengakibatkan terbentuknya retakan-retakan pada permukaan tanah. Kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal dan pelunakan pada bagian bawah lereng akibat penjenuhan mengakibatkan tanah semakin mudah bergerak ke luar lereng.

Gempabumi tektonik ini juga meyebabkan terjadinya runtuhan batu akibat terganggunya ikatan antar batu pada saat terjadi guncangan.

 

6. Rekomendasi Teknis

a. Untuk lingkungan kantor perkebunan teh dan pemukiman di bawahnya
  • Pengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing, untuk 3 rumah yang tepat berada di bagian lereng bawah kantor perkebunan dan dekat bibir tebing agar dikosongakan dan dipindah ke lokasi lain yang aman. 25 rumah yang berada di mulut lembah dan bekas situ agar berhati-hati, jika terjadi hujan lebat lebih dari 2 jam segera mengungsi. Ke depan jika sudah ada anggaran agar dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman.
  • Bangunan SD masih bisa dipertahankan, hanya perlu diperkuat bangunan penahan lereng disisi yang mengadap ke lereng terjal.
  • Retakan tanah yang muncul segera diisi dengan tanah liat setempat dan dipadatkan agar air tidak masuk kedalamnya yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas lereng maupun lereng bawah dan di sisi jalan desa.
  • Perlu ditanam pohon berakar dalam di sela-sela kebun teh, untuk menahan lereng, terutama lereng yang sedikit vegetasinya.
  • Kolam ikan agar dikeringkan, jika dipertahankan maka agar dibuat permanen dengan alas dan dinding dipasang terpal/disemen.
  • Perlu melakukan pengontrolan lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang.
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan desa di sekitar lokasi bencana. 

b. Untuk lingkungan pemukiman Blok Malani

  • Pengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing namun tetap waspada.
  • Perlu penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas lereng maupun lereng bawah dan di sisi jalan desa.
  • Perlu ditanam pohon berakar dalam untuk menahan lereng dan menahan runtuhan batu, pada lereng yang ada ancaman runtuhan batu.
  • Perlu dilakukan pengontrolan lereng bagian atas maupun bawah, jika dijumpai retakan tanah segera ditutup dengan tanah liat dan dipadatkan.
  • Jika retakan semakin lebar dan dijumpai batu yang akan runtuh, segera melaporkan ke Pemerintah Daerah setempat.
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah, sehingga perlu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan desa di sekitar lokasi bencana.

 

LAMPIRAN

Malasari 1 (120218)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Desa Malasari dan Desa Bantarkaret Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

 

Malasari 2 (120218)

Gambar 2. Peta Geologi Regional Desa Malasari dan sekitarnya Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

 

Malasari 3 (120218)

Gambar 3. Peta Prakiraan Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Bogor di Bulan  Januari   2018

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN JAUARI 2018

Malasari 4 (120218)

Keterangan : 

Malasari 5 (120218)

 

Malasari 6 (120218)

Gambar 4.  Peta situasi gerakan tanah di Kp Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor

 

Malasari 7 (120218)

Gambar 5. Penampang situasi gerakan tanah di Kp Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor

 

Malasari 8 (120218)

Gambar 6.  Peta situasi gerakan tanah di Kampung Garung dan Cilanggar, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor

 

Malasari 9 (120218)

Gambar 7. Penampang situasi gerakan tanah di Kampung Garung dan Cilanggar, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor

 

Malasari 10 (120218)

Gambar 8. Peta situasi gerakan tanah di Perkebunan Teh Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor

 

Malasari 11 (120218)

Gambar 9. Penampang situasi gerakan tanah di Perkebunan The Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor

 

LAMPIRAN

DATA KERUSAKAN AKIBAT KEJADIAN BENCANA GEMPA BUMI

DESA MALASARI KEC. NANGGUNG KAB. BOGOR

Sumber: Kepala Desa Malasari, Kec. Nanggung

LAPORAN SEMENTARA

 SELASA TANGGAL 23 JANUARI 2018 S/D PUKUL 21.00 WIB.

Malasari 12 (120218)

 

DATA JUMLAH PENGUNGSI

BENCANA GEMPA BUMI

DESA MALASARI KEC. NANGGUNG KAB. BOGOR

HARI RABU PER TANGGAL 24 JANUARI 2018 PUKUL 16.00 WIB 

Pada hari ini Selasa tanggal 23 Januari 2018 pukul 13.30 WIB, telah terjadi Musibah Bencana Alam ( Gempa Bumi ) di Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Adapun Warga yang ngungsi tersebut adalah sebagai berikut :

Malasari 13 (120218)

 

LAPORAN SEMENTARA

AKIBAT GEMPA BUMI

DESA MALASARI KEC. NANGGUNG KAB. BOGOR

 RABU TANGGAL 24 JANUARI 2018 S/D PUKUL 16.00 WIB

Malasari 14 (120218)

 

Malasari 15 (120218)

Foto 1.1 Memperlihatkan retakan pada dinding dan lantai bangunan, saat gempabumi terjadi, retakan yang terjadi lebarnya sekitar 1 cm dan terus berkembang sampai dengan 27 Januari 2018 pukul 19.30. Gempabumi ini juga menimbulkan gerakan tanah berupa longsoran kecil pada tebing di sebelah rumah yang mengalami kerusakan (bawah tengah).

 

Malasari 16 (120218)

Foto 1.2 Memperlihatkan bangunan lain di kampung Citalahab yang mengalami kerusakan. Rumah ini didirikan pada jarak yang dekat sekali dengan lereng yang mengalami retakan dan  mengarah ke lembah yang dimanfaatkan menjadi lahan persawahan dan  sungai.

 

Malasari 17 (120218)

Foto 1.3 Memperlihatkan tiang listrik yang bergeser akibat gerakan tanah yanhg dipicu oleh gempabumi di kampung Citalahab.

 

Malasari 18 (120218)

Foto 1.4  Memperlihatkan nendatan pada badan jalan di kampung Citalahab Kampung RT 01 RW 011 (kiri). Sebagian retakan pada jalan setapak yang di bawahnya terdapat pemukiman yang sudah dipadatkan (kanan).

 

Malasari 19 (120218)

Foto 1.5  Memperlihatkan retakan pada permukaan di kampung Garung Kampung RT 04 RW 011 pada tebing yang di sekitar permukiman yang mengarah ke sawah. Retakan pada tembok penahan yang berada di antara permukiman dan mengancam rumah di bawahnya jika runtuh (kanan).

 

Malasari 20 (120218)

Foto 1.6   Memperlihatkan nendatan pada badan jalan di kampung Garung Kampung RT 04 RW 011 yang bertambah dalam dan lebat setelah gemabumi 23 Januari 2018

 

Malasari 21 (120218)

Foto 1.7   Memperlihatkan retakan tanah di kampung Cilanggar yang sudah ditutup dan dipadatkan (kiri). Rumah yang dibangun sangat dekat dengan tebing yang sebelumnya dipotong dengan kemiringan sangat terjal (kanan).

 

Malasari 22 (120218)

Foto 1.8  Memperlihatkan rumah yang hancur dan terancam longsor karena letaknya yang semakin dekat dengan tebing lereng.

 

Malasari 23 (120218)

Foto 1.9   Memperlihatkan bangunan Mess Perkebunan Teh Nirmala yang rusak berat akibat gempa bumi 23 Januari 2018

 

Malasari 24 (120218)

Foto 1.10  Memperlihatkan rumah-rumah yang terancam jika retakan berkembang menjadi longsoran yang lebih besar. Retakan di sekitar pabrik dan kantor perkebunan teh (garis merah) dan dua rumah yang harus direlokasi karena berada dekat di bawah retakan (tanda panah). Foto kanan memperlihatkan alur di bawah retakan dan di atas permukiman yang terancam.

 

Malasari 25 (120218)

Foto 1.11  Memperlihatkan retakan di kebun teh (garis merah) yang mengancam rumah di bawahnya (Tanda panah kiri). Kanan rumah yang berada di bawah retakan dan letaknya dekat sekali dengan tebing lereng.

 

Malasari 26 (120218)

Foto 1.12  Memperlihatkan rekahan/lubang yang terbentuk pada areal persawahan di kp. Legok Batu, Desa Malasari

 

Malasari 27 (120218)

Foto 1.13 Sosialisasi mitigasi gerakan tanah langsung di lapangan di pemukiman warga pekerja perkebunan teh Nirmala, didampingi manager perkebunan, BPBD, dan aparat TNI/Polri setempat