Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis No. 365/89/BPBD/2018 bulan Maret 2018, perihal Permohonan dilakukan Kajian Geologi terhadap bencana alam pergerakan tanah atau tanah amblas di Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, bersama ini kami sampaikan laporan singkat hasil pemeriksaan sebagai berikut:

A. GERAKAN TANAH

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:
  1. Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang, Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat : 108° 26' 39,7" BT dan 07° 08' 40,8" LS. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada tanggal 20 Februari 2018.
  2. Dusun Desa, Desa Tigaherang, Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat : 108° 26' 30,2" BT dan 07° 07' 56" LS. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada tanggal 20 Februari 2018.
  3. Dusun Cihawar Mekarsari, Desa Sukaharja, Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat : 108° 28' 26,4" BT dan 07° 09' 6,8" LS. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada tanggal 20 Februari 2018.
  4. Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari, Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat : 108° 26' 40,1" BT dan 07° 12' 4,1" LS. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada tanggal 20 Februari 2018.
  5. Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur, Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat : 108° 25' 38,6" BT dan 07° 13' 11,4" LS. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada tanggal 10 Maret 2018.
  6. Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur, Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat : 108° 25' 41,5" BT dan 07° 13' 30,2" LS. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada tanggal 10 Maret 2018.

 

2. Dampak Gerakan Tanah :

Gerakan tanah ini mengakibatkan :

a. Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang:
  • 11 rumah di bawah tebing terancam
  • Jalan desa terancam
b. Dusun Desa, Desa Tigaherang:
  • Jalur jalan penghubung Kabupaten Ciamis-Kuningan terancam.
c. Dusun Cihawar Mekarsari, Desa Sukaharja:
  • 1 rumah rusak berat
  • 7 rumah terancam
d. Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari:
  • 22 rumah rusak
  • Jalan desa retak-retak
  • Area persawahan terancam
e. Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur:
  • 12 rumah terancam
f. Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur:
  • 8 rumah terancam
  • 1 masjid terancam
  • Area persawahan terancam

 

3. Kondisi daerah bencana :
 

a. Morfologi : Secara umum daerah bencana merupakan daerah lereng perbukitan  bergelombang dengan kemiringan lereng 23° - 40°.

b. Geologi : Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, P3G, 1986) batuan penyusun daerah bencana berupa batuan produk gunungapi tua (QTvs) yang terdiri dari breksi gunungapi, breksi aliran, tufa dan lava bersusunan andesit sampai basal dan anggota Formasi Halang (Tmph) yang bagian atasnya disusun oleh batulempung dan napal, bagian tengah banyak mengandung sisipan atau perselingan dengan batupasir greywacke gampingan yang mengandung hornblende, feldspar, kuarsa dan kalsit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lokasi bencana diketahui bahwa:

  • Desa Tigaherang: tersusun oleh tanah pelapukan dengan tingkat pelapukan tinggi, terdiri dari material endapan yang berukuran lempung hingga kerikil. Tanah pelapukan di lokasi ini berupa pasir lempungan, dengan warna cokelat kemerahan, lunak, dan porous, dengan ketebalan 2 – 5 meter.  perselingan batupasir dan batunapal. Diperkirakan batas antara tanah pelapukan dengan perselingan batupasir dan batunapal merupakan bidang gelincir dari material longsoran.
  • Dusun Cihawar Mekarsari, Desa Sukaharja: tersusun oleh tanah pelapukan dengan tingkat pelapukan tinggi, terdiri dari material endapan yang berukuran lempung hingga pasir. Tanah pelapukan di lokasi ini berupa pasir lempungan, dengan warna cokelat kemerahan, lunak, dan porous, dengan ketebalan 3 – 5 meter.  Di bawah tanah pelapukan terdapat breksi andesit. Diperkirakan batas antara tanah pelapukan dengan breksi andesit merupakan bidang gelincir dari material longsoran.
  • Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari: tersusun oleh tanah pelapukan dengan tingkat pelapukan tinggi, terdiri dari material endapan yang berukuran lempung hingga kerikil. Tanah pelapukan di lokasi ini berupa pasir lempungan, dengan warna cokelat kemerahan, lunak, dan porous, dengan ketebalan 2 – 4 meter.  Di bawah tanah pelapukan terdapat breksi andesit. Diperkirakan batas antara tanah pelapukan dengan breksi andesit merupakan bidang gelincir dari material longsoran.
  • Desa Tanjungsukur: tersusun oleh tanah pelapukan dengan tingkat pelapukan tinggi, terdiri dari material endapan yang berukuran lempung hingga kerikil. Tanah pelapukan di lokasi ini berupa pasir lempungan, dengan warna cokelat kemerahan, lunak, dan porous, dengan ketebalan 2 – 5meter.  Di bawah tanah pelapukan terdapat breksi andesit. Diperkirakan batas antara tanah pelapukan dengan breksi andesit merupakan bidang gelincir dari material longsoran.

c. Tata Guna Lahan :

Tata guna lahan pada daerah pemeriksaan berupa:

  • Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang: lereng atas berupa kebun campuran, lereng tengah berupa jalan, kebun campuran dan permukiman, sedangkan lereng bawah berupa sawah, permukiman, dan kolam.
  • Dusun Desa, Desa Tigaherang: lereng atas berupa jalan desa dan permukiman, lereng tengah dan bawah berupa kebun campuran dan permukiman.
  • Dusun Cihawar Mekarsari, Desa Sukaharja: berupa kebun campuran, permukiman dan sawah.
  • Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari: berupa kebun campuran, jalan desa dan permukiman.
  • Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur: lereng atas berupa kebun campuran, lereng tengah dan bawah berupa rumah, kolam, kebun campuran dan sawah
  • Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur: berupa kebun bambu dan terdapat sawah dan permukiman di bawah kebun bambu.
d. Keairan :

Kondisi keairan dari masing-masing lokasi gerakan tanah adalah sebagai berikut:

  • Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang: terdapat mata air tepat di ujung bawah mahkota longsoran, yang merupakan salah satu sumber air warga dan dialirkan memakai pipa paralon.
  • Dusun Desa, Desa Tigaherang: sumber air warga berasal dari air sumur gali dengan dalam mukai air sekitar 15 meter.
  • Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari: munculnya mataair pada ujung mahkota longsoran.
  • Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur: terdapat mata air di bagian tekuk lereng yang merupakan sumber air bagi warga sekitar.

e. Kerentanan Gerakan Tanah :

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Ciamis (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), kedua daerah bencana termasuk pada zona kerentanan gerakan tanah menengah artinya pada daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah – tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama  pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Maret 2018 di Kabupaten Ciamis  (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), kedua daerah bencana termasuk pada zona kerentanan gerakan tanah menengah artinya pada daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah – tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama  pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Kondisi Gerakan Tanah :

Kondisi gerakan tanah pada masing-masing lokasi adalah sebagai berikut:

  • Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang: gerakan tanah berupa rayapan yang diindikasikan oleh hadirnya retakan yang sangat intensif. Rayapan ini dapat berkembang menjadi longsoran bahan rombakan apabila turun hujan dengan intensitas tinggi dan dalam kurun waktu yang lama. Mahkota dengan lebar 25 meter dan panjang landaan. Terdapat retakan di sepanjang mahkota dengan lebar sekitar 50 cm dan dalam sekitar 2 meter.
  • Dusun Desa, Desa Tigaherang: gerakan tanah berupa rayapan yang diindikasikan oleh adanya retakan dan amblasan. Gerakan tanah ini memiliki lebar mahkota sekitar 18 meter, amblas sedalam 1 meter, dan panjang landaan sekitar 16 meter. Pergerakan mengarah ke arah timur laut (N 55°E) atau ke arah lembah.
  • Dusun Cihawar Mekarsari, Desa Sukaharja: gerakan tanah berupa rayapan yang diindikasikan dengan adany retakan. Pada saat pemeriksaan, retakan telah ditutup dengan semen dan tanah liat. Lebar retakan mencapai 3 cm dengan arah (N 215°E). Arah pergerakan relatif ke arah lembah.
  • Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari: gerakan tanah berupa rayapan dengan kehadiran retakan yang intensif. Retakan memiliki arah barat timur (N 96°E dan N 89°E ). Mahkota gerakan tanah memiliki lebar 42 meter, tinggi 4 meter, panjang landaan 86 meter dan arah pergerakan relatif ke arah baratdaya (N 205°E). Di bawah mahkota terdapat amblasan atau tanah yang turun sekitar 20 – 50 cm.
  • Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur: gerakan tanah berupa rayapan dengan arah pergerakan relatif ke arah baratdaya (N 190°E). Banyak terdapat retakan di kebun campuran dan permukiman dengan  arah relatif barat-timur dan tenggara-baratlaut.
  • Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur: gerakan tanah berupa rayapan diindikasikan dengan kehadiran retakan yang intensif dengan arah relatif barat-timur. Arah pergerakan relatif ke selatan. Lebar mahkota sekitar 20 meter, panjang landaan sekitar 35 meter. Retakan memiliki lebar sekitar 30 cm.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air,
  • Bidang gelincir berupa kontak antara tanah pelapukan yang bersifat sarang dengan batuan di bawahnya (breksi andesit dan perselingan batupasir dan batunapal) yang bersifat lebih kedap air;
  • Banyaknya air permukaan (air hujan, limbah rumah tangga, dan air kolam ikan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
  • Lereng bukit yang curam;
  • Dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah;

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah di Desa Tigaherang, Desa Sukaharja, Desa Tanjungsari dan Desa Tanjungsukur, Kecamatan Raja Desa ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh tanah pelapukan bersifat sarang, yaitu mudah menyerap air. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap melalui pori tanah dan retakan, sehingga tanah permukaan menjadi jenuh. Tanah menjadi jenuh dan bobot massa tanah meningkat. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Retakan-retakan yang terjadi dan aliran air permukaan yang mengarah ke dalam retakan, sehingga gerakan tanah semakin intensif.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan didukung oleh drone dapat disimpulkan bahwa:

Dusun Sukamulya dan Dusun Desa  (Desa Tigaherang),  Dusun Cihawar Mekarsari  (Desa Sukaharja), Dusun Garunggang (Desa Tanjungsari), Dusun Karoya dan Dusun Cileueur (Desa Tanjungsukur), Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis pada saat ini masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa rayapan terutama pada saat dan setelah turun hujan deras;

 

Rekomendasi Teknis : 

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

a. Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang :

  • Para pengguna jalan hendaknya selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat;
  • Memasang rambu rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan para pengguna jalan;
  • Apabila pergerakan tanah terus berkembang, maka disarankan untuk merelokasi rumah rusak dan terancam yang berada di bawah atau di dekat tebing;
  • Mengurangi jumlah kolam yang berada di lereng atas, jika terdapat kolam maka kolam agar dibuat dengan konstruksi yang kedap air seluruhnya. Apabila kolam tidak dibuat kedap, maka kolam harus dikeringkan;
  • Apabila hendak dilakukan perbaikan jalan, disarankan untuk memasang tiang pancang atau sejenisnya yang kedalamanya menyesuaikan kedalaman batuan dasar, yaitu hingga menembus bidang gelincir;
  • Membuat tembok penahan pada tebing jalan bagian atas sesuai kaidah geologi teknik;
  • Memantau dengan intensif perkembangan pergerakan tanah. Apabila terdapat retakan, diharap segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung (bukan pasir) untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah. Apabila gerakan tanah terus berkembang, segera melapor ke BPBD setempat;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukannya relatif tebal dan bersifat lepas. Apabila akan melakukan pemotongan lereng harus mengikuti kaidah geologi teknik;
  • Memperbaiki dan mengatur drainase di sisi kanan atau kiri badan jalan, antara lain dengan mengarahkan drainase supaya air tidak melalui tubuh longsoran dan menjenuhi tanah, serta dengan membuat saluran air tersebut dengan konstruksi kedap air;
  • Pemeliharaan dan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng pada area lahan pesawahan yang berada di sekitar permukiman
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

b. Dusun Desa, Desa Tigaherang:
  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat, warga yang bertempat tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Memantau dengan intensif perkembangan retakan yang terjadi. Apabila terdapat retakan, diharap segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung (bukan pasir) untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah; Apabila gerakan tanah terus berkembang, segera melapor ke BPBD setempat;
  • Apabila pergerakan tanah terus berkembang, maka disarankan untuk merelokasi rumah rusak dan terancam yang berada di bawah atau di dekat tebing;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukannya relatif tebal dan bersifat lepas. Apabila akan melakukan pemotongan lereng harus mengikuti kaidah geologi teknik;
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing;
  • Apabila hendak membangun permukiman, sebaiknya dengan kostruksi kayu;
  • Memperbaiki dan mengatur drainase, antara lain dengan mengarahkan air permukaan supaya air tidak melalui tubuh longsoran dan menjenuhi tanah, serta dengan membuat saluran air tersebut dengan konstruksi kedap air;
  • Pemeliharaan dan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng pada area lahan pesawahan yang berada di sekitar permukiman;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

c. Dusun Cihawar Mekarsari, Desa Sukaharja:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat, warga yang bertempat tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Memantau dengan intensif perkembangan pergerakan tanah. Apabila terdapat retakan, diharap segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung (bukan pasir) untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah. Apabila gerakan tanah terus berkembang, segera melapor ke BPBD setempat;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukannya relatif tebal dan bersifat lepas. Apabila akan melakukan pemotongan lereng harus mengikuti kaidah geologi teknik;
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing;
  • Apabila hendak membangun permukiman, sebaiknya dengan kostruksi kayu;
  • Memperbaiki dan mengatur drainase, antara lain dengan mengarahkan drainase supaya air tidak melalui retakan atau tubuh longsoran dan menjenuhi tanah, serta dengan membuat saluran air tersebut dengan konstruksi kedap air;
  • Mengurangi jumlah kolam yang berada di lereng atas, jika terdapat kolam maka kolam agar dibuat dengan konstruksi yang kedap air seluruhnya. Apabila kolam tidak dibuat kedap, maka kolam harus dikeringkan;
  • Pemeliharaan dan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng pada area lahan pesawahan yang berada di sekitar permukiman
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

d. Dusun Garunggang, Desa Tanjungsari:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat, warga yang bertempat tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Memantau dengan intensif perkembangan pergerakan tanah. Apabila terdapat retakan, diharap segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung (bukan pasir) untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah; Apabila gerakan tanah terus berkembang, segera melapor ke BPBD setempat;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukannya relatif tebal dan bersifat lepas. Apabila akan melakukan pemotongan lereng harus mengikuti kaidah geologi teknik;
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing;
  • Apabila hendak membangun permukiman, sebaiknya dengan kostruksi kayu;
  • Memperbaiki dan mengatur drainase, antara lain dengan mengarahkan drainase supaya air tidak melalui retakan atau tubuh longsoran dan menjenuhi tanah, serta dengan membuat saluran air tersebut dengan konstruksi kedap air;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

e. Dusun Karoya dan Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur :

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat, warga yang bertempat tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Memantau dengan intensif perkembangan retakan yang terjadi. Apabila terdapat retakan, diharap segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung (bukan pasir) untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah; Apabila gerakan tanah terus berkembang, segera melapor ke BPBD setempat;
  • Apabila pergerakan tanah terus berkembang, maka disarankan untuk merelokasi rumah terancam yang berada pada tebing atau di dekat tebing bagian bawah;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukannya relatif tebal dan bersifat lepas. Apabila akan melakukan pemotongan lereng harus mengikuti kaidah geologi teknik;
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah tebing;
  • Apabila hendak membangun permukiman, sebaiknya dengan kostruksi kayu;
  • Untuk memperlambat/menghindari peresapan/penjenuhan air ke tanah dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan :
    • Pengendalian air permukaan (surface drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (subsurface drainage) serta pengaliran parit pencegat. Penataan drainase (air permukaan maupun limbah rumah tangga) dengan saluran yang kedap air dan juga pembuatan dinding penahan lereng pada lereng yang kritis;
    • Mengurangi jumlah kolam yang berada di lereng atas, jika terdapat kolam maka kolam agar dibuat dengan konstruksi yang kedap air seluruhnya. Apabila kolam tidak dibuat kedap, maka kolam harus dikeringkan;
    • Perbaikan drainase di daerah pesawahan/perkebunan dengan pembuatan saluran irigasi yang kedap air;
  • Pemeliharaan dan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng pada area lahan pesawahan yang berada di sekitar permukiman
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

 

Raja 1 (180418)

Gambar 1. Peta Petunjuk Lokasi Gerakan Tanah di Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

 

Raja 2 (180418)

Gambar 2. Peta Geologi Daerah Kecamatan Raja Desa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

 

Raja 3 (180418)

 

Raja 4 (180418)

 

Raja 5 (180418)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kampung Desa, Desa Tigaherang, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

 

Raja 6 (180418)

Gambar 6. Sketsa penampang A-B Situasi Gerakan Tanah di Kampung Desa, Desa Tigaherang, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

 

Raja 7 (180418)

Gambar 7. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kampung Garunggang, Desa Tanjungsari, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

 

Raja 8 (180418)

Gambar 8. Sketsa penampang A-B Situasi Gerakan Tanah di Kampung Garunggang, Desa Tanjungsari, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

 

Raja 9 (180418)

Gambar 9. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Maret 2018 di Kabupaten Ciamis

 

1. Foto Desa Tigaherang

Raja 10 (180418)

Foto 1. Kondisi gerakan tanah di Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang. Retakan di sepanjang mahkota dengan lebar sekitar 50 cm dan dalam sekitar 2 meter

 

Raja 11 (180418)
Foto 2. Rumah terancam di Dusun Sukamulya, Desa Tigaherang yang berada di bawah tubuh longsoran. Kolam yang berada di sekitar lokasi gerakan tanah, sebaiknya dikeringkan atau diganti konstruksi yang kedap air pada bagian sisi dan dasar kolam.

 

Raja 12 (180418)

Foto 3. Penurunan tanah di Dusun Desa, Desa Tigaherang, Kecamatan Raja Desa, Ciamis.

 

Raja 13 (180418)

Foto 4. Rumah terancam di Dusun Desa, Desa Tigaherang, Kecamatan Raja Desa, Ciamis dihimbau untuk selalu waspada terutama saat dan setelah hujan deras dan lama.

 

2. Foto Desa Tanjungsari

Raja 14 (180418)

Foto 5. Kondidi gerakan tanah di Dusun Garunggang, desa Tanjungsari, Kecamatan Raja Desa yang merupakan gerakan tanah rayapan dengan kehadiran retakan yang cukup intensif. Gerakan tanah ini dapat berkembang menjadi longsoran material rombakan terutama apabila turun hujan deras dan lama.

 

Raja 15 (180418)

Foto 6. Mataair yang muncul pada ujung mahkota longsoran

 

Raja 16 (180418)

Foto 7. Pada saat pemeriksaan terdapat kolam yang tidak kedap. Kolam yang berada di sekitar lokasi gerakan tanah, sebaiknya dikeringkan atau diganti konstruksi yang kedap air pada bagian sisi dan dasar kolam.

 

3. Foto Desa Tanjungsukur

Raja 17 (180418)

Foto 8. Longsoran bahan rombakan di Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur, Kecamatan Raja Desa yang mengancam rumah di bawahnya. 

 

Raja 18 (180418)

Foto 9. Retakan di lereng bukit pada kebun campuran di Dusun Karoya, Desa Tanjungsukur, Kecamatan Raja Desa yang menerus dan masih berpotensi untuk berkembang terutama saat hujan deras dan lama. 

 

Raja 19 (180418)

Foto 10. Kondisi gerakan tanah di Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur, Raja Desa yang berupa rayapan diindikasikan dengan kehadiran retakan yang intensif dengan arah relatif barat-timur. Arah pergerakan relatif ke selatan. Lebar mahkota sekitar 20 meter, panjang landaan sekitar 35 meter. Retakan memiliki lebar hingga 30 cm.