Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan bencana gerakan tanah di wilayah Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai berikut:

 A. DESA SELENGEN, KECAMATAN KAYANGAN

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Dompu Indah, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Secara geografis berada pada koordinat 116°17’53.1” BT dan 8°15’56.7” LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 9 Agustus 2018 setelah terjadinya gempa bumi di wilayah utara Pulau Lombok pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan Magnitude 7,0 dan gempa bumi pada tanggal 9 Agustus 2018 dengan Magnitude 5,9.

 

2. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng perbukitan bergelombang halus-kasar di kaki G. Rinjani sebelah timur-barat dengan puncak tertinggi di G. Sangkareang (2588 m dpl). Kemiringan lereng secara umum berkisar antara 10° - 20° namun sangat terjal di bagian lembah dengan kemiringan lereng mencapai >60°. Di dasar lereng terdapat alur Lokok (Sungai) Amoramor yang bersifat permanen dengan lebar 2-12 meter.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lombok, Nusa Tenggara Barat (Andi Mangga, dkk. 1994), lokasi gerakan tanah disusun oleh tuf berbatuapung, breksi lahar, dan lava dari Formasi Lekopiko (Qvl). Pada pengamatan di lapangan, batuan penyusun daerah bencana berupa tufa batuapung dalam kondisi lapuk sebagian, mudah hancur, sangat poros, terdapat struktur perlapisan. Tanah penutup berupa pasir halus hingga lanau berwarna putih kecoklatan, bersifat lepas dan mudah runtuh dengan tebal 1 – 3 meter.
  • Keairan, Kondisi keairan berupa air permukaan yang cukup melimpah dan jernih, terutama dari aliran sungai yang tetap mengalir sepanjang tahun. Aliran sungai yang terbendung material longsor menjadi sumber air bagi warga yang dipompa dan dialirkan melalui pipa.
  • Tata guna lahan, Lahan di lokasi gerakan tanah berupa ladang/tegalan dan permukiman. Vegetasi bervariasi dari tanaman kecil hingga besar. Pada lereng bagian bawah umumnya berupa ladan sayuran sedangkan permukiman menempati daerah datar dan lereng bagian bawah, beberapa rumah menempati lereng agak terjal.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah pada Pulau Lombok (Badan Geologi, 2008), daerah bencana pada jalur jalan Mataram-Senggigi-Pemenang-Gunungsari,  terletak pada zona gerakan tanah menengah sampai tinggi. Artinya, daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah sampai tinggi untuk terkena gerakan tanah. Pada zona menengah gerakan tanah dapat tejadi terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dan baru masih aktif bergerak.

 

3. Situasi gerakan tanah dan dampak bencana

Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi di 3 titik. Longsoran pertama terjadi pada lereng di antara permukan dan jalan desa dengan tinggi lereng 10 meter, kemiringan lereng 60° dan longsor ke arah barat. Longsoran kedua terjadi pada lereng di antara permukiman dan Sungai Amoramor dengan tinggi lereng 40 meter, lebar gawir 120 meter, kemiringan lereng rata-rata 62° dan arah landaan N 306° E. Material longsor di lokasi kedua ini membendung aliran sungai di dekat kelokan sungai sehingga alirannya melimpah memotong kelokan. Longsoran ketiga terjadi pada lereng di antara jalan dan Sungai Amoramor, dengan tinggi lereng 16 meter, kemiringan lereng tegak dan arah landaan ke timur atau masuk ke lembah sungai yang telah mengering karena terbendung oleh material longsoran kedua.

Dampak dari gerakan tanah ini antara lain:

  • 4 (empat) orang meninggal dunia
  • 2 (dua) rumah hancur terbawa longsoran
  • 4 (empat) rumah terancam
  • Aliran Sungai Amoramor terbendung sehingga berpotensi menimbulkan banjir bandang jika bendungan tersebut bobol secara cepat.
  • Akses jalan menuju Dusun Sambi Jengkel terancam terputus

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah di Kabupaten Lombok Utara secara umum adalah interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh gempabumi. Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan adalah sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang terjal hingga tegak
  • Material penyusun lereng yang bersifat mudah runtuh dan kurang kompak
  • Kaki lereng yang sebelumnya sudah lemah akibat erosi aliran sungai
  • Gempa bumi terasa yang terjadi berulang kali terutama pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan magnitude 7,0 dan magnitude 5,9 pada tanggal 9 Agustus 2018 yang menjadi pemicu gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Guncangan gempabumi yang terjadi berulang kali mengakibatkan daya ikat batuan mengalami penurunan dan terbentuk retakan-retakan pada permukaan tanah. Kemiringan lereng yang sangat curam, sifat material lereng yang rapuh serta kestabilan lereng yang sudah terganggu mengakibatkan tanah semakin mudah bergerak ke luar lereng sehingga batuan yang telah terkekarkan runtuh secara gravitasional.

 

6. Kesimpulan dan rekomendasi

Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil pengamatan visual di lapangan, telah terjadi gerakan tanah yang dipicu oleh gempa bumi berupa longsoran bahan rombakan pada tebing.
  2. Gerakan tanah dipicu gempa bumi terasa yang terjadi berulang kali.
  3. Berdasarkan kondisi di lapangan, gerakan tanah berpotensi meluas yang ditandai dari kehadiran retakan-retakan di bagian atas lereng yang memanjang searah lereng dan gempa bumi yang masih terjadi.

Rekomendasi 

  1. Tidak beraktivitas di sekitar lokasi retakan dan dinding lereng dengan potensi runtuhan batu dan longsoran, terutama pada saat terjadi gempa.
  2. Untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan agar dipasang rambu-rambu peringatan bahaya longsor dan runtuhan batu pada jalur jalan menuju Sambi Jengkel.
  3. Permukiman yang letaknya dekat dengan retakan dan dekat dengan dinding tebing yang telah longsor, agar direlokasi menjauhi retakan dan dinding tebing, mengingat sifat batuan penyusun yang bersifat rapuh dan mudah runtuh jika terjadi goncangan.
  4. Selain faktor kegempaan harus diperhatikan juga faktor hujan. Saat memasuki musim penghujan, potensi berkembangnya retakan menjadi longsoran bahan rombakan semakin meningkat, sehingga disarankan tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah.
  5. Agar dilakukan pembersihan material longsoran yang menutup badan jalan dan yang membendung sungai agar akses jalan kembali lancar dan aliran sungai kembali normal untuk menghindari terjadinya banjir bandang.
  6. Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah bukit mengingat karakter tanah yang mudah runtuh ketika terjadi gempabumi.
  7. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

  

B. DESA LOLOAN, KECAMATAN BAYAN

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Idekibanggodek, Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Secara geografis berada pada koordinat 116°25’51.9” BT dan 8°14’31.6” LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 9 Agustus 2018 setelah terjadi gempa bumi di wilayah utara Pulau Lombok dengan Magnitude 7,0 pada tanggal 5 Agustus 2018 dan Magnitude 5,9 pada tanggal 9 Agustus 2018.

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa punggungan yang memanjang utara – selatan hingga berbatasan langsung dengan daerah pantai utara Pulau Lombok dengan kemiringan lereng 10° - 30°, setempat pada gawir memiliki kemiringan lereng mencapai 80°. Terdapat alur Sungai Reak di dasar lembah dengan aliran bersifat permanen, mengalir ke arah utara.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lombok, Nusa Tenggara Barat (Andi Mangga, dkk. 1994), lokasi gerakan tanah disusun oleh tuf berbatuapung, breksi lahar, dan lava dari Formasi Lekopiko (Qvl). Tanah penutup berdasarkan pengamatan lapangan berupa pasir halus berwarna putih, bersifat lepas dan mudah runtuh dengan tebal 1 – 3 meter.
  • Keairan, Kondisi keairan berupa air permukaan yang cukup melimpah dan jernih, terutama dari aliran sungai yang tetap mengalir sepanjang tahun.
  • Tata guna lahan, Tataguna lahan di lokasi gerakan tanah berupa kebun, ladang, permukiman dan sawah tadah hujan. Di bagian atas lereng berupa padang rumput dan vegetasi kecil lainnya, sedangkan kebun campuran menempati bagian tengah lereng. Permukiman, ladang dan sawah menempati bagian bawah lereng hingga berbatasan dengan Sungai Reak di dasar lembah.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah pada Pulau Lombok (Badan Geologi, 2008), Kecamatan Bayan terletak pada zona gerakan tanah menengah sampai tinggi. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah sampai tinggi untuk terkena gerakan tanah. Pada zona menengah gerakan tanah dapat terjadi terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dan baru masih aktif bergerak.

 

3. Situasi gerakan tanah dan dampak bencana

Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan yang berasal dari tebing lereng yang memanjang utara-selatan. Longsor bergerak ke arah N 195° E dengan lebar gawir 105 meter, tinggi lereng 43 meter dan kemiringan lerengnya mencapai 67°. Gerakan tanah ini mengakibatkan permukiman yang berada di bawah lereng menjadi terancam.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah di Kabupaten Lombok Utara secara umum adalah interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh gempabumi. Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan adalah sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Tanah pelapukan berupa pasir yang berasal dari endapan piroklastik yang bersifat lepas dan mudah runtuh ketika terjadi guncangan.
  • Gempa bumi terasa yang terjadi berulang kali terutama pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan magnitude 7,0 dan magnitude 5,9 pada tanggal 9 Agustus 2018 yang menjadi pemicu gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Guncangan gempabumi yang terjadi berulang kali mengakibatkan daya ikat batuan mengalami penurunan dan terbentuk retakan-retakan pada permukaan tanah. Kemiringan lereng yang curam, sifat material lereng yang rapuh serta kestabilan lereng yang sudah terganggu mengakibatkan tanah semakin mudah bergerak ke luar lereng sehingga batuan yang telah terkekarkan runtuh secara gravitasional ketika guncangan gempa terjadi kembali.

 

6. Kesimpulan dan rekomendasi

Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil pengamatan visual di lapangan, telah terjadi gerakan tanah yang dipicu oleh gempa bumi berupa longsoran bahan rombakan pada tebing.
  2. Gerakan tanah dipicu gempabumi terasa yang terjadi berulang kali.
  3. Berdasarkan kondisi di lapangan pada saat pemeriksaan, masih ada potensi longsoran pada tebing yang telah longsor sebelumnya.
  4. Gempa bumi terasa yang masih terus terjadi dapat memicu longsoran susulan di sekitar lokasi gerakan tanah.

Rekomendasi 

  1. Tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan lereng yang berpotensi longsor, terutama pada saat terjadi guncangan akibat gempa.
  2. Permukiman yang letaknya dekat dengan dinding tebing yang telah longsor, agar mengungsi menjauh dari dinding tebing, mengingat sifat batuan penyusun yang bersifat rapuh dan mudah runtuh jika terjadi goncangan.
  3. Selain faktor kegempaan harus diperhatikan juga faktor hujan. Saat memasuki musim penghujan, material longsoran yang masih menggantung di tubuh longsoran dapat bergerak turun sehingga disarankan tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pada alur alir sungai yang menjadi jalan mengalirnya bahan rombakan pada saat dan setelah turun hujan.
  4. Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah bukit mengingat karakter tanah yang mudah runtuh ketika terjadi gempabumi.
  5. Tidak mengembangkan permukiman mendekat atau di sekitar lembah dan alur alir sungai yang akan menjadi jalan mengalirnya aliran bahan rombakan.
  6. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

C. DESA SENARU, KECAMATAN BAYAN

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di area wisata Air Terjun Sindanggile, Dusun Batukoq, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Secara geografis berada pada koordinat 116°24’31.4” BT dan 8°17’57.8” LS. Gerakan tanah terjadi setelah gempa bumi menerjang wilayah utara Pulau Lombok dengan Magnitude 7,0 pada tanggal 5 Agustus 2018 dan Magnitude 5,9 pada tanggal 9 Agustus 2018.

 

2. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi sekitar Desa Senaru secara umum merupakan punggungan di kaki Gunung Rinjani bagian utara dengan kemiringan lereng agak terjal di puncak punggungan dan curam sampai sangat curam di bagian lembah. Setempat di sekitar sungai terdapat gawir tegak yang membentuk air terjun pada aliran sungainya. Sungai Munjur mengisi dasar lembah dengan aliran yang bersifat permanen. Elevasi berkisar antara 420 – 550 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lombok, Nusa Tenggara Barat (Andi Mangga, dkk. 1994), lokasi gerakan tanah disusun oleh lava, breksi dan tuf Gunung Rinjani yang digabung dalam Satuan Batuan Gunungapi Tak Terpisahkan (Qhv(r)). Tanah penutup berdasarkan tinjauan lapangan berupa pasir berwarna cokelat terang, bersifat mudah lepas dan sangat poros, berada di atas lapisan breksi.
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah bencana terbatas, saluran irigasi yang menjadi sumber air telah mengering karna terbendung material longsor. Air sungai berada di lembah curam sehingga sulit untuk dimanfaatkan untuk menjadi sumber air sehari-hari.
  • Tata guna lahan, Tataguna lahan di lokasi gerakan tanah berupa hutan, kebun campuran, permukiman dan jalan utama. Area hutan menempati sisi lereng curam hingga bibir sungai, sementara kebun campuran berada di sela-sela area permukiman di bagian atas lereng. Jalan utama yang menjadi akses satu-satunya berada di antara permukiman di puncak punggungan.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah pada Pulau Lombok (Badan Geologi, 2008), Desa Senaru berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah sampai tinggi. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah sampai tinggi untuk terkena gerakan tanah. Pada zona menengah gerakan tanah dapat tejadi terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dan baru masih aktif bergerak.

 

3. Situasi gerakan tanah dan dampak bencana

Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan pada tebing-tebing curam di tepi sungai. Terdapat kurang lebih 5 (lima) gawir longsor berukuran besar, sebuah gawir longsoran lama, dan beberapa gawir yang lebih kecil. Tebing tersusun oleh breksi yang telah lapuk yang menumpang pada lapisan tuf yang mudah runtuh. Arah gerak longsor menuju badan sungai namun belum sampai membendung alirannya. Kemiringan lereng pada gawir yang longsor berkisar antara 60° - 80°, setempat hingga 90° (tegak). Gerakan tanah ini mengakibatkan saluran irigasi terputus, sebuah penginapan dan 5 rumah terancam.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah di Kabupaten Lombok Utara secara umum adalah interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh gempabumi. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan adalah:

  • Tanah pelapukan berupa pasir yang berasal dari endapan gunungapi yang bersifat lepas dan mudah runtuh ketika terjadi guncangan.
  • Dinding-dinding tebing yang tersusun oleh breksi telah lapuk sehingga mudah runtuh ketika terjadi guncangan gempabumi.
  • Kemiringan lereng yang sangat curam bahkan tegak pada beberapa tempat sehingga tanah yang bersifat lepas menjadi mudah bergerak ketika diguncang gempabumi.
  • Gempa bumi terasa yang terjadi berulang kali terutama pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan magnitude 7,0 dan magnitude 5,9 pada tanggal 9 Agustus 2018 yang menjadi pemicu gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Guncangan gempabumi yang terjadi berulang kali mengakibatkan daya ikat batuan mengalami penurunan dan terbentuk retakan-retakan pada permukaan tanah. Kemiringan lereng yang curam, sifat material lereng yang rapuh serta kestabilan lereng yang sudah terganggu mengakibatkan tanah semakin mudah bergerak ke luar lereng sehingga batuan yang telah terkekarkan runtuh secara gravitasional ketika guncangan gempa terjadi kembali.

 

6. Kesimpulan dan rekomendasi

Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil pengamatan visual di lapangan, telah terjadi gerakan tanah yang dipicu oleh gempa bumi berupa longsoran bahan rombakan pada tebing.
  2. Total ada sekitar 5 gawir longsoran besar yang teridentifikasi dan beberapa gawir longsoran yang lebih kecil.
  3. Gerakan tanah dipicu gempabumi terasa yang terjadi berulang kali.
  4. Berdasarkan kondisi di lapangan pada saat pemeriksaan material longsor belum sepenuhnya jatuh ke dasar lereng, masih ada sebagian yang tertinggal di tubuh longsoran.
  5. Gempa bumi terasa yang masih terus terjadi dan adanya material longsor yang tersisa, maka dapat disimpulkan bahwa potensi terjadinya longsor masih ada.

Rekomendasi 

  1. Tidak beraktivitas di sekitar lokasi bencana dan lereng yang berpotensi longsor, terutama pada saat terjadi guncangan akibat gempa.
  2. Untuk meningkatkan kewaspadaan para wisatawan, agar dipasang rambu-rambu peringatan bahaya longsor di sekitar lokasi wisata air terjun Sindanggile.
  3. Permukiman dan penginapan yang berada dekat dengan gawir terjal dan lokasi longsor agar direlokasi agak menjauh, mengingat sifat batuan penyusun yang bersifat rapuh dan mudah runtuh jika terjadi goncangan.
  4. Selain faktor kegempaan harus diperhatikan juga faktor hujan. Saat memasuki musim penghujan, potensi berkembangnya longsoran bahan rombakan dapat membendung aliran sungai di bawahnya sehingga disarankan tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pada alur sungai yang menjadi jalan mengalirnya bahan rombakan pada saat dan setelah turun hujan.
  5. Agar dilakukan pemantauan terjadinya penumpukan material longsoran di hulu hulu sungai. Jika dijumpai pembendungan agar dilakukan pembobolan untuk normalisasi aliran sungai dan menghindari terjadinya banjir bandang.
  6. Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng atau lembah mengingat karakter tanah yang mudah runtuh ketika terjadi gempabumi.
  7. Tidak mengembangkan permukiman mendekat atau di sekitar lembah dan alur sungai yang akan menjadi jalan mengalirnya aliran bahan rombakan.
  8. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Lombok 1 (180918)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

 

Lombok 2 (180918)

Gambar 2. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

 

Lombok 3 (180918)

Gambar 3. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

 

Lombok 4 (180918)

Gambar 4. Peta geologi Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

 

Lombok 5 (180918)

Gambar 5. Peta geologi Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

 

Lombok 6 (180918)

Gambar 6. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

 

Lombok 7 (180918)

Gambar 7. Peta situasi gerakan tanah di Desa Selengen, Kec. Kayangan, Kab.Lombok Utara, NTB

 

Lombok 8 (180918)

Gambar 8. Sketsa penampang gerakan tanah di Desa Selengen, Kec. Kayangan, Kab.Lombok Utara, NTB

 

Lombok 9 (180918)

Gambar 9. Peta situasi gerakan tanah di Desa Loloan, Kec. Bayan, Kab.Lombok Utara, NTB

 

Lombok 10 (180918)

Gambar 10. Sketsa penampang gerakan tanah di Desa Loloan, Kec. Bayan, Kab.Lombok Utara, NTB

 

Lombok 11 (180918)

Gambar 11. Peta situasi gerakan tanah di Desa Senaru, Kec. Bayan, Kab.Lombok Utara, NTB

 

Lombok 12 (180918)

Gambar 12. Sketsa penampang gerakan tanah di Desa Senaru, Kec. Bayan, Kab.Lombok Utara, NTB

 

FOTO-FOTO PEMERIKSAAN LAPANGAN

 DESA SELENGEN, KEC. KAYANGAN

Lombok 13 (180918)

Foto 1. Longsoran bahan rombakan yang mengancam jalan desa. Kiri: material longsor menimbun sebagian badan jalan dan mengancam permukiman di atasnya. Kanan: retakan dan longsor pada sebagian badan jalan yang berpotensi meluas dan memutus jalur jalan.

 

Lombok 14 (180918)

Foto 2. Gawir longsoran bahan rombakan akibat gempa bumi di Desa Selengen, Kec. Kayangan. Material longsor membendung badan sungai sehingga alirannya terhambat dan berubah jalur.

 

FOTO-FOTO PEMERIKSAAN LAPANGAN

 DESA LOLOAN, KEC. BAYAN

Lombok 15 (180918)

Foto 1. Kondisi daerah gerakan tanah di Desa Loloan, Kec. Bayan, Kab. Lombok Utara. Nampak permukiman di bawah gawir terjal yang terancam oleh gerakan tanah

 

Lombok 16 (180918)

Foto 2. Gawir longsor di Desa Loloan, Kec. Bayan, Kab. Lombok Utara. Sebagian material longsor terlihat masih tersisa di bagian atas gawir yang berpotensi longsor kembali jika hujan turun atau terkena guncangan gempa bumi.

 

FOTO-FOTO PEMERIKSAAN LAPANGAN

 DESA SENARU, KEC. BAYAN

Lombok 17 (180918)

Foto 1. Longsoran bahan rombakan pada tebing sungai di Desa Senaru, Kec. Bayan. Material longsor berpotensi membendung aliran sungai, mengancam saluran irigasi dan menutup jalur wisata menuju Air Terjun Sindanggile.

 

Lombok 18 (180918)

Foto 2. Beberapa gawir longsoran di bagian hulu Air Terjun Sindanggile. Longsor dengan dimensi serupa banyak terjadi di sepanjang tebing sungai ini.