Peningkatan Tingkat Aktivitas G. Rinjani Dari Normal Menjadi Waspada

Hasil evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Rinjani, Nusa Tenggara Barat hingga 27 September 2016 mengingat terjadi erupsi bersifat eksplosif dalam skala kecil yang menghasilkan kolom abu letusan dari Puncak Barujari pada pukul 14:45 WITA, sebagai berikut:

I. Pendahuluan

  1. Secara geografis, G. Rinjani terletak pada posisi koordinat 8o25’ LS dan 116o28’ BT. Puncak G. Rinjani berada pada ketinggian 3726 m di atas permukaan laut.
  2. Secara administratif G. Rinjani termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  3. Gunungapi Rinjani diamati secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
  4. Data pengamatan G. Rinjani diolah dan dianalisis oleh ahli gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengevaluasi tingkat aktivitas gunungapi serta mengestimasi potensi ancaman bahayanya sehingga menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi.
  5. Sejarah perkembangan tingkat aktivitas gunungapi:
    1. Pada 25 Oktober 2015 pukul 13:00 WITA, tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu
    2. Pada 19 Januari 2016 pukul 17:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal). Hal ini didasari oleh penurunan aktivitas kegempaan dan aktivitas permukaan yang teramati secara visual.

 

 II. Hasil Pengamatan

 

2.1 Visual

  1. Pada bulan Juli 2016: Secara umum cuaca cerah - mendung, angin bertiup perlahan - sedang dari arah barat atau timur, suhu udara 11 – 34˚ C. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut.
  2. tanggal 1 Agustus 2016 pukul 11:40 WITA berdasarkan satelit Himawari teramati erupsi dari kawah G. Barujari yang berada di dalam Kaldera G. Rinjani. Kolom abu erupsi bergerak ke arah selatan.
  3. Pada bulan September 2016: Secara umum cuaca cerah - mendung, angin bertiup perlahan - sedang dari arah barat atau timur, suhu udara 13 – 34˚ C. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut.

 

2.2 Instrumental

  1. Pada bulan Juli 2016: Terekam 35 kejadian Tremor dengan amplitudo maksimum 1 - 7 mm dan lama gempa 15 - 260 detik, 34 kejadian Gempa Low Frequency (LF), 18 kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 54 kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  2. Pada bulan Agustus 2016: Terekam 69 kejadian Tremor dengan amplitudo maksimum 1 - 8 mm dan lama gempa 10 - 120 detik, 56 kejadian Gempa Low Frequency (LF), 8 kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 12 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB),13 kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 51 kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  3. Pada bulan September 2016 sampai tanggal 26 : Terekam 34 kejadian Tremor dengan amplitudo maksimum 2 - 5 mm dan lama gempa 15 - 110 detik, 51 kejadian Gempa Low Frequency (LF), 45 kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB),5 kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 44 kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).

(terlampir di Gambar 2). 

 

III. Evaluasi

  1. Tingkat kegempaan G. Rinjani sebelum erupsi secara umum tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.
  2. Secara visual, dari kawah G. Barujari tidak tampak hembusan maupun aktivitas permukaan lain yang mengindikasikan adanya anomali sebelum terjadi letusan.
  3. Hingga saat ini, masih terdapat potensi erupsi lanjutan yang diindikasikan dengan terekamnya gempa tremor Hembusan dengan amplituda maksimum 2 – 5  mm dengan lama gempa 15 – 110 detik. 

 

IV.Potensi Bencana

  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Rinjani dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Barujari yang terletak di dalam Kaldera G. Rinjani.
  2. Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi G. Rinjani mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, hujan abu dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dan abu terletak di dalam kaldera, jatuhan abu juga dapat tersebar di sekeliling G. Rinjani tergantung pada arah angin.
  3. Ancaman bahaya secara tidak langsung berada di daerah utara G. Rinjani terutama di daerah aliran sungai Kokok Putih yang berhulu di area bukaan kawah. Erupsi di dalam kaldera dapat menyebabkan peningkatan muka air Danau Segara Anak yang selanjutnya berpotensi menyebabkan banjir bandang di Sungai (Kokok) Putih.

(terlampir di Gambar 3: Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani) 

 

V. Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka mulai tanggal 27 September 2016 pukul 15:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
  2. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat aktivitas G. Rinjani. 

 

VII. Rekomendasi

  1. Masyarakat di sekitar G. Rinjani dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan beraktivitas/berkemah di dalam Kaldera G. Rinjani dan di dalam radius 3 km dari kawah G. Barujari yang berada di dalam Kaldera G. Rinjani.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan iritasi mata.
  3. Masyarakat di sekitar G. Rinjani diharap tenang dan tetap waspada, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Rinjani.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Rinjani.
  5. Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan MItigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Rinjani yang terletak di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

 

 

Lampiran

 Gambar 1. Visual Erupsi G. Rinjani 27 September 2015 pukul 14.45 WITA.

Rinjani 1 (270916)

 

Gambar 2. Grafik Kegempaan G. Rinjani

Tanggal 1 Januari 2016 – 31 Juli 2016

Rinjani 2 (270916)

Rinjani 3 (270916)

Rinjani 4 (270916)

Rinjani 5 (270916)

Rinjani 6 (270916)

Rinjani 7 (270916)

 

Gambar 3. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani

Rinjani 8 (270916)