Penurunan Aktivitas Gunung Papandayan

Hasil evaluasi aktivitas G. Papandayan di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat:

I. Pendahuluan

Gunung Papandayan merupakan gunungapi strato tipe A. Secara geografis G. Papandayan terletak pada 7o19’42” LS dan 107o44 BT dengan tinggi 2665 m dpl (di atas permukaan laut). Pada tanggal 31 Januari 2013 pukul 15:00 status kegiatan G. Papandayan diturunkan dari Level III (Siaga) ke Level II (Waspada). Sejak 05 Mei 2013 pukul 12:00 WIB dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Berdasarkan pemantauan kegempaan yang menunjukkan semakin menurun, maka status G. Papandayan diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 6 Juni 2013.

 

II. Pengamatan

2.1 Kegempaan

Kegempaan G. Papandayan dipantau dengan 4 stasiun seismik (4 short-period). Berikut hasil pengamatan kegempaan dalam periode 1 Agustus – 17 Oktober 2016:

  • 1 – 31 Agustus 2016: terekam 47 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 229 kali kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 4 kali kejadian gempa Low-frequency (LF), 11 kali kejadian gempa Hybrid, 17 kali kejadian gempa Tornillo/Monokromatik, 50 kali kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL), dan 100 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • 1 – 30 September 2016: terekam 42 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 210 kali kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 22 kali kejadian gempa Low-frequency (LF), 4 kali kejadian gempa Hybrid, 11 kali kejadian gempa Tornillo/Monokromatik, 81 kali kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL), dan 111 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • 1 – 7 Oktober 2016: terekam 8 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 91 kali kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 8 kali kejadian gempa Low-frequency (LF), 4 kali kejadian gempa Hybrid, 16 kali kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL), dan 24 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • 8 – 14 Oktober 2016: terekam 9 kali kejadian gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 11 kali kejadian gempa Low-frequency (LF), 2 kali kejadian gempa Hybrid, 15 kali kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL), dan 20 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • 15 – 17 Oktober 2016: terekam 16 kali kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 2 kali kejadian gempa Low-frequency (LF), 3 kali kejadian Gempa Tektonik Lokal (TL), dan 7 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ). 

2.2 Visual

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi Papandayan di Desa Pakuwon, Kecamatan Cisurupan dalam periode 1 Agustus – 17 Oktober 2016 sebagai berikut:

  • 1 – 31 Agustus 2016: Cuaca di pos dan sekitarnya pada umumnya terang-mendung. Angin tenang hingga bertiup dari Selatan dan Timurlaut. Suhu udara tercatat antara 18 - 280C, tercatat 29 kali hujan dengan intesitas gerimis hingga deras. Gunung tampak jelas dari pagi-siang hari, teramati hembusan asap berwarna putih tipis-sedang dengan tinggi berkisar 5-35 meter. 
  • 1 – 30 September 2016: Cuaca di pos dan sekitarnya pada umumnya terang-mendung. Angin tenang hingga bertiup dari Utara, Selatan dan Timurlaut. Suhu udara tercatat antara 19 - 300C, tercatat 35 kali hujan dengan intesitas gerimis hingga deras. Gunung tampak jelas dari pagi-siang hari, teramati hembusan asap berwarna putih tipis-sedang dengan tinggi berkisar 10-35 meter.
  • 1 – 7 Oktober 2016: Cuaca di pos dan sekitarnya pada umumnya terang-mendung. Angin tenang hingga bertiup dari Selatan dan Timurlaut. Suhu udara tercatat antara 19 - 280C, tercatat 7 kali hujan dengan intesitas gerimis hingga sedang. Gunung tampak jelas dari pagi-siang hari, teramati hembusan asap berwarna putih tipis-sedang dengan tinggi berkisar 20-35 meter.
  • 8 – 14 Oktober 2016: Cuaca di pos dan sekitarnya pada umumnya terang-mendung. Angin tenang hingga bertiup dari Utara, Selatan dan Timurlaut. Suhu udara tercatat antara 20 - 260C, tercatat 14 kali hujan dengan intesitas gerimis hingga deras. Gunung tampak jelas dari pagi-siang hari, teramati hembusan asap berwarna putih tipis-sedang dengan tinggi berkisar 15-35 meter. 
  • 15 – 17 Oktober 2016: Cuaca di pos dan sekitarnya pada umumnya terang-mendung. Angin tenang hingga bertiup dari Selatan dan Timurlaut. Suhu udara tercatat antara 19 - 260C, tercatat 2 kali hujan dengan intesitas gerimis. Gunung tampak jelas dari pagi-siang hari, teramati hembusan asap berwarna putih tipis-sedang dengan tinggi berkisar 20-25 meter.

2.3     Pengukuran Tiltmeter dan Suhu Tanah

Metode pemantauan deformasi yang dipasang di G. Papandayan adalah Tiltmeter. Dua alat Tiltmeter dipasang di 2 lokasi, Nangklak dan G. Walirang sejak 21 November 2014. Di lokasi yang sama dipasang juga sensor suhu tanah. Data Tiltmeter dan suhu tanah ditelemetrikan ke Pos PGA G. Papandayan. Tiltmeter baik stasiun Walirang maupun stasiun Nangklak rekaman terputus-putus sejak tanggal 4 November 2015 hingga 26 Januari 2016. Sejak tanggal 26 Januari 2016, data mulai terekam kembali. Hasil pengukuran sejak Januari 2016 hingga saat ini, tiltmeter Walirang komponen X (Tangensial) dan Y (Radial) menunjukkan hasil pengukuran tilt flat dan stabil. Tiltmeter Nangklak menunjukkan hasil yang berbeda dimana komponen Y (Radial) menurun. 

2.4     Pengukuran pH dan Suhu Solfatara/Fumarola/Air Danau Kawah

Pengukuran pH dan Suhu Solfatara/Fumarola/Air Danau Kawah mengambil beberapa titik ukur. Pengukuran pH dilakukan hanya untuk di air danau Kawah Baru, sedangkan pengukuran suhu dilakukan di solfatara Kawah Mas, solfatara dan fumarola Kawah Manuk, dan danau Kawah Baru. Hasil pengukuran suhu solfatara dan fumarola Kawah Manuk dan solfatara Kawah Mas, serta air danau Kawah Baru cenderung stabil. Pengukuran pH di danau Kawah Baru relatif menurun.

 

III. Potensi Bencana

Potensi bencana yang mungkin terjadi di G. Papandayan adalah erupsi freatik secara tiba-tiba disertai keluarnya gas beracun atau terjadinya erupsi gas terarah (directed lateral blast). Potensi lainnya berupa longsoran tebing di sekitar kawah G. Papandayan, terutama di sektor selatan, barat dan timur laut yang dapat memicu terjadinya lahar. Selain itu dengan adanya penumpukan material hasil erupsi di kompleks G. Papandayan yang tercatat hampir 3 juta m3, di hulu S. Cibeureum dan S. Ciparugpug, jika terjadi hujan lebat juga berpotensi terjadinya lahar yang akan mengalir mengikuti alur sungai tersebut.

 

IV. Evaluasi

Kegempaan G. Papandayan bulan September 2016 berfluktuasi namun cenderung menurun bila dibandingkan bulan Agustus 2016. Gempa Vulkanik Dangkal (VB) mendominasi rekaman seismik, namun gempa Vulkanik Dalam (VA), Low-Frequency (LF), Vulkanik Hybrid, Tornillo/Monokromatik, Tektonik Lokal dan Tektonik Jauh juga terekam. Pada bulan Agustus 2016 kegempaan harian gempa Vulkanik (Dangkal/VB dan Dalam/VA) 9 kejadian. Pada bulan September 2016 kegempaan Vulkanik (Dangkal/VB dan Dalam/VA) dengan 9 kejadian/hari. Memasuki bulan Oktober, periode 1-7 Oktober, kegempaan Vulkanik (Dangkal/VB dan Dalam/VA) meningkat dengan 14 kejadian/hari. Periode 8-14 Oktober rata-rata gempa Vulkanik harian 12 kejadian dan periode 15-17 Oktober menurun dengan 8 kejadian/hari. Gempa Low-Frequency (LF), Vulkanik Hybrid, dan Tornillo/Monokromatik cenderung menurun. (Lampiran 1) 

Mengamati kegempaan Vulkanik baik Vulkanik Dangkal (VB) maupun Vulkanik Dalam (VA) dalam 11 tahun terakhir (2006-2016) terlihat bahwa ambang batas jumlah gempa Vulkanik Dangkal adalah sekitar 20 kejadian/hari, sedangkan untuk Gempa Vulkanik Dalam (VA) di sekitar 5 kejadian/hari. Peningkatan jumlah gempa Vulkanik yang melebihi ambang batas, beberapa kasus didahului oleh gempa Tektonik Lokal/Terasa. Peningkatan kegempaan ini secara umum terjadi sesaat hanya dalam 1-2 hari dan kemudian mereda kembali, tanpa adanya perubahan visual yang teramati dari kawah-kawah aktif G. Papandayan. (Lampiran 2) 

Energi kumulatif gempa Vulkanik (Vulkanik Dangkal dan Dalam) menunjukkan laju energi gempa Vulkanik relatif stabil atau tidak ada perubahan energi yang signifikan hingga pertengahan Oktober 2016. (Lampiran 3) 

Setelah perbaikan di bulan Januari 2016 hingga saat ini, tiltmeter Walirang komponen X (Tangensial) dan Y (Radial) menunjukkan hasil pengukuran tilt flat dan stabil, fluktuasi hanya terkait variasi harian. Bila dibandingkan sebelum perbaikan alat, tiltmeter Walirang menunjukkan perubahan yang signifikan dan teramati sesuai dengan pola suhu, diindikasikan musim kemarau/hujan mempengaruhi hasil pengukuran tilt. Tiltmeter Nangklak menunjukkan hasil yang berbeda dimana komponen Y (Radial) menurun atau deflasi dan pola deflasi ini tetap teramati sejak alat terpasang. Diindikasikan perubahan musim tidak mempengaruhi pola tiltmeter Nangklak. (Lampiran 4a dan 4b)

 

Hasil pengukuran suhu solfatara dan fumarola Kawah Manuk dan solfatara Kawah Mas cenderung menurun suhunya. Pengukuran air danau Kawah Baru menunjukkan suhu yang cenderung stabil, sedangkan pH di danau Kawah Baru relatif menurun. (Lampiran 5)

 

V. Kesimpulan
  • Berdasarkan hasil pengamatan instrumental dan visual serta analisis data pemantauan maka terhitung tanggal 19 Oktober 2016 pukul 06.00 WIB, tingkat aktivitas G. Papandayan diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal). 
  • Jika terjadi perubahan peningkatan aktivitas vulkanik G.Papandayan secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat dinaikkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya. 
  • Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi aktivitas G. Papandayan, serta pemahaman akan aktivitas G.Papandayan harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman bahaya letusan G. Papandayan. 

 

VI. Rekomendasi

Sehubungan dengan status G. Papandayan yang berada pada Level I (Normal) maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat di sekitar G. Papandayan dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan beraktivitas dan mendekati kawasan bukaan kawah G. Papandayan, yaitu : Kawah Baru, Kawah Nangklak, Kawah Emas, Kawah Manuk/Balagadama, dalam radius 500 meter, karena  kawasan kawah-kawah aktif G. Papandayan merupakan tempat keluarnya gas-gas vulkanik yang membahayakan kehidupan manusia. (Lampiran 6)
  2. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Tk I) dan Pemerintah Kabupaten Garut (BPBD Tk II) agar membuat tanda-tanda larangan untuk tidak memasuki kawasan kawah aktif G. Papandayan bagi masyarakat dan pengunjung/wisatawan/pendaki.
  3. Masyarakat di sekitar G. Papandayan agar tetap tenang, tidak terpancing isu-isu, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut dan BPBD Provinsi Jawa Barat.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi  melalui Pos Pengamatan G. Papandayan di  Desa Pakuwon, Kecamatan Cisurupan selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Tk I) dan Pemerintah Kabupaten Garut (BPBD Tk II) tentang aktivitas G. Papandayan.
  5. Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Barat dan BPBD Kabupaten Garut dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Papandayan

 

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1. Grafik Kegempaan harian G. Papandayan periode 1 Januari  2015 – 17 Oktober 2016

Papandayan 1 (201016)

Papandayan 2 (201016)

 

Lampiran 2. Grafik Kegempaan harian G. Papandayan 1 Januari 2006 - 17 Oktober 2016

Papandayan 3 (201016)

 

Lampiran 3. Grafik energi kumulatif gempa Vulkanik G. Papandayan periode 1 Januari  2015 – 17 Oktober 2016

Papandayan 4 (201016)

 

Lampiran 4a. Grafik Tiltmeter stasiun Walirang periode  November 2014 –  17 Oktober 2016

Papandayan 5 (201016)

 

Lampiran 4b. Grafik Tiltmeter stasiun Nangklak periode November 2014 – 17 Oktober 2016

Papandayan 6 (201016)

 

Lampiran 5. Grafik hasil pengukuran pH dan suhu solfatara/fumarola/air danau Januari 2015 - September 2016

Papandayan 7 (201016)

 

Lampiran 6a. Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Papandayan

Papandayan 8 (201016)


Papandayan 9 (201016)