Penurunan Aktivitas Gunung Bromo

Hasil evaluasi tingkat aktivitas G.Bromo di Provinsi Jawa Timur.

I. PENDAHULUAN

Gunungapi Bromo secara geografis terletak pada 7° 56’ 30” LS dan 112°57’ 00” BT dengan tinggi puncaknya 2.329 meter dari permukaan laut. Secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lumajang, Provinsi  Jawa Timur.

Pada  November 2010 aktivitas G. Bromo meningkat sehingga pada 23 November 2010 pukul 08:00 WIB, tingkat aktivitas G. Bromo dinaikan dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga). Aktivitas masih terus meningkat sehingga pada tanggal 23 November 2010, pukul 15.30 WIB dinaikan lagi dari level III (Siaga) menjadi level IV (Awas).

Pada Desember 2010 potensi ancaman dari erupsi mulai berkurang (walaupun erupsi masih tetap terjadi) sehingga pada tanggal 8 Desember 2010, pukul 12.00 WIB tingkat aktivitas diturunkan dari level IV (Awas) menjadi level II (Siaga), dan pada tanggal 13 Juni 2011, pukul 18.00 WIB tingkat aktivitas G. Bromo diturunkan dari level III (Siaga) menjadi level II (Waspada). Aktivitas vulkanik G. Bromo meningkat lagi sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga) sejak 4 Desember 2015 Pukul 14.00 WIB, kemudian diturunkan lagi dari level III (Siaga) ke Level II (Waspada) pada tanggal 26 Februari 2016. Tanggal 26 September 2016 pukul 06.00 WIB tingkat aktivitas G. Bromo di naikan dari Level II (Waspada) menjadi level III (Siaga).


II. PEMANTAUAN

1. Pemantauan Visual
  • Tanggal 1 - 7 Oktober 2016, cuaca cerah-mendung, angin tenang, suhu udara 9 - 220C. Gunung tertutup kabut - jelas, pada saat gunung tampak jelas teramati asap kawah putih kelabu coklat kemerahan tipis-tebal, tekanan lemah-sedang, tinggi asap sekitar 100-700 meter dari puncak ke timur – baratdaya.
  • Tanggal 8 -14 Oktober 2016, cuaca cerah-mendung, angin tenang, suhu udara 1- 250C. Gunung tertutup kabut - jelas, pada saat gunung tampak jelas teramati asap kawah putih tipis sedang-tebal, tekanan lemah - sedang, tinggi asap sekitar 500-900 meter dari puncak ke barat – baratdaya.
  • Tanggal 15 - 20 Oktober 2016, hingga pukul 06.00 WIB, cuaca cerah-mendung, angin tenang, suhu udara 8 - 220C. Gunung tertutup kabut - jelas, pada saat gunung tampak jelas teramati asap kawah putih kelabu kecoklatan sedang-tebal, tekanan lemah-sedang, tinggi asap sekitar 50-700 meter dari puncak ke barat-barat laut – baratdaya.

2. Kegempaan

  • Tanggal 1 - 7 Oktober 2016, Terekam Tremor menerus dengan amplituda maksimum 0.5 - 23 mm (dominan 2 mm), 11 kali Gempa Hembusan dengan amplituda maksimum 10-15 mm dan lama gempa 19-23 detik, 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 12-19 mm, S-P 1.1-2.2 detik dan lama gempa 6-7 detik, 2 kali Gempa Vulkanik dangkal (VB) dengan amplituda maksimum 16-18 mm dan lama gempa 6-8 detik, 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 35 mm, dan lama gempa 102 detik.
  • Tanggal 8 - 14 Oktober 2016, Terekam  Tremor menerus dengan amplituda maksimum 0.5 - 18 mm (dominan 1 mm). 1 (satu) kali Gempa Hembusan dengan amplituda maksimum 17 mm dan lama gempa 16 detik, 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 9-21 mm, S-P 1-1.5 detik dan lama gempa 9-14 detik,  1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda maksimum 18 mm dan lama gempa 6 detik, 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 26-36 mm, dan lama gempa 41-85 detik. 
  • Tanggal 15 - 20 Oktober 2016, hingga pukul 06.00 WIB, Terekam Tremor menerus dengan amplituda maksimum 0.5 - 14 mm (dominan 1 mm), 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 15 mm, S-P 1.1 detik dan lama gempa 6 detik, 2 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 24-36 mm, dan lama gempa 85-289 detik.

 Selama periode 1 - 20 Oktober 2016 gempa yang terekam adalah: 13 kejadian Gempa Hembusan, 2 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 7 kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 10 kejadian Tektonik Jauh (TJ), dan Tremor menerus dengan amplituda maksimum berkisar 0.5 – 23 mm. (Lampiran 1).

3. Deformasi 

Pemantauan deformasi di G. Bromo menggunakan metoda EDM (Elektronik Distace       Measurement), GPS, Tiltmeter dan Borehole.

Metoda EDM di G. Bromo terdiri satu titik Reference  (POS) dan 3 titik pantau yang permanen, yaitu: Sta.Kursi, Sta. Bromo dan Sta. Batok. Pengukuran dengan metoda EDM sangat tergantung cuaca, jika titik pantau tertutup kabut maka pengukuran tidak bisa dilakukan. Data pengukuran EDM sejak tanggal 7 Februari hingga 17 Oktober 2016, deformasi berfluktuatif dengan kecenderungan stabil (Lampiran 2).

Pengukuran GPS dilakukan secara periodik terdiri dari satu titik Referensi Sta. POST dan 3 titik rover, yaitu: Sta. WDRN (Widodaren), Sta. PURA (Pura), dan Sta BTNG (Bitingan) dari hasil dua kali pengukuran periode pendek tanggal 14 Oktober dan 18 Oktober 2016 dengan perubahan deformasi deflasi berkisar 0,08 cm hinggga 13 cm dengan arah vektor menjauh dari kawah, pusat tekanan berada pada kedalaman 6,8 km (Lampiran 3)

Stasiun borehole tiltmeter dan Tiltmeter berada 600 meter dari kawah aktif. Data pengukuran borehole tiltmeter sejak tanggal 7 Februari 2016 adalah sebagai berikut, pada  tanggal 6 Maret 2016 deformasi mengindikasikan fluktuasi yang kecil, kemudian  sejak tanggal 8 Juli 2016 ada indikasi deflasi (penurunan) tubuh G. Bromo dengan tekanan dominan dari arah tangensial (X), sedangkan dari arah radial (Y) sejak tanggal 22 September 2016 hingga 9 Oktober 2016 ada indikasi inflasi (pembumbungan) dan pada tanggal 10 Oktober 2016 ada indikasi peningkatan yang signifikan. Sejak tanggal 12 Oktober 2016 kedua komponen relatif datar (stabil). Data tiltmeter pasca pergantian sensor tanggal 29 Oktober 2016 hingga 18 Oktober 2016 relatif datar (stabil). (lampiran 4)

4. Geokimia

Pengukuran fluks SO2 di G. Bromo yang bertujuan mengukur kandungan fluks SO2 (Sulfur Dioksida/belerang oksida) dalam asap hembusan/letusan G. Bromo, namun pengukuran ini sangat tergantung cuaca. Pengukuran fluks SO2 di G. Bromo ini dimulai lagi pada tanggal 17 Juli 2016, dimana sebelumnya pernah diukur pada Oktober 2005, Maret 2007, Desember 2008, dan Desember 2009. Secara umum fluks  SO2 dapat dilihat dari grafik 4. Pada periode tanggal 17 Juli 2016 – 5 Oktober 2016 fluks  SO2 berkecenderungan berfluktuasi namun kurang signifikan. (Lampiran 5).

 

III. EVALUASI

  • Secara visual aktivitas G. Bromo jelas-tertutup kabut saat jelas teramati asap kawah putih tipis hingga putih kelabu kecoklatan, tekanan lemah-sedang dengan tinggi kolom asap berkisar 50 – 900 meter dari puncak dengan arah yang berubah-ubah dominan timur-barat-barat daya.
  • Rekaman kegempaan didominasi oleh Tremor menerus dengan amplituda maksimum berfluktuasi dalam kisaran 0.5-18 mm dengan dominan 1 mm.
  • Deformasi G. Bromo menunjukkan inflasi kecil sejak 23 September 2016 selama beberapa hari, dan pada periode akhir oktober saat ini deformasi berfluktuasi kecil.
  • Fluks gas SO2 dari kawah G. Bromo sedikit menunjukkan peningkatan pada akhir September 2016 namun secara umum berfluktuasi kecil.

 

IV. Potensi Bahaya

  • Berpotensi terjadinya erupsi freatik dan magmatik yang tiba-tiba, sebaran material vulkaniknya berupa hujan abu dan lontaran batu (pijar) mulai sekitar kawah hingga radius 1 km dari pusat erupsi.

 

V. KESIMPULAN
  • Aktivitas G. Bromo kegempaan didominasi oleh getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum yang cenderung menurun.
  • Pengukuran deformasi dengan Tiltmeter, EDM dan GPS inflasi tidak menunjukkan deformasi yang signifikan.
  • Ancaman erupsi freatik dan magmatik berupa abu dan lontaran material pijar bisa terjadi sampai radius 1 km.
  • Berdasarkan data pengamatan dan analisa data kegempaan, visual, dan potensi bahaya erupsi maka mulai tanggal 20 Oktober 2016 pukul 18.00 WIB tingkat aktivitas G. Bromo diturunkan dari Level III (SIAGA) menjadi Level II (Waspada).
  • Tingkat aktivitas G. Bromo akan dinaikan/diturunkan jika terjadi peningkatan/penurunan aktivitas yang dipantau secara intensif oleh ahli gunungapi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

 

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan tingkat aktivitas G. Bromo Level II (WASPADA), maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Bromo, dan tetap menjaga kewaspadaan terhadap kejadian erupsi yang menerus dan lebih besar. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten dan BPBD terkait, dan Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru tentang aktivitas G. Bromo.
  3. Jika terjadi erupsi yang disertai hujan abu  (arah bergantung besar dan arah angin), masyarakat agar menyiapkan/menggunakan masker penutup hidung dan pelindung mata.
  4. Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang agar memasang papan-papan peringatan di lautan pasir yang menyatakan batas radius 1 km dari Kawah G. Bromo.
  5. Pemerintah Daerah, BPBD di Kabupaten senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Bromo di Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat).
  6. Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (BPBD Provinsi), dan BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Pasuruan dan BPBD Kabupten Malang tentang aktivitas G. Bromo

 

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1. Grafik Harian Kegempaan G. Bromo periode 1 Januari 2016  - 20 Oktober 2016

Selama periode 1 - 20 Oktober 2016 gempa yang terekam adalah: 13 kejadian Gempa Hembusan, 2 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 7 kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 10 kejadian Tektonik Jauh (TJ), dan Tremor menerus dengan amplituda maksimum berkisar 0.5 – 23 mm.

Bromo 1 (211016)

 

Lampiran 2. Grafik EDM periode 7 Februari – 17 Oktober 2016

Pengukuran EDM sering terkendala kabut, Pengukuran EDM mulai tanggal 7 Februari 2016 dengan menggunakan 3 titik dan berdasarkan hasil pengukuran sejak tanggal 7 Februari hingga 17 Oktober 2016, deformasi berfluktuatif dengan kecenderungan stabil.

Bromo 2 (211016)

 

Lampiran 3. Arah perubahan vektor GPS

Hasil dua kali pengukuran periode pendek tanggal 14 Oktober dan 18 Oktober 2016 dengan perubahan deformasi deflasi berkisar 0,08 cm hinggga 13 cm dengan arah vektor menjauh dari kawah, pusat tekanan berada pada kedalaman 6,8 km

Bromo 3 (211016)

 

Lampiran 4. Grafik Tilt periode 7 Februari 2016 – 18 Oktober 2016

Stasiun borehole tiltmeter dan Tiltmeter berada 600 meter dari kawah aktif. Data pengukuran borehole tiltmeter sejak tanggal 7 Februari 2016 adalah sebagai berikut, pada  tanggal 6 Maret 2016 deformasi mengindikasikan fluktuasi yang kecil, kemudian  sejak tanggal 8 Juli 2016 ada indikasi deflasi (penurunan) tubuh G. Bromo dengan tekanan dominan dari arah tangensial (X), sedangkan dari arah radial (Y) sejak tanggal 22 September 2016 hingga 9 Oktober 2016 ada indikasi inflasi (pembumbungan) dan pada tanggal 10 Oktober 2016 ada indikasi peningkatan yang signifikan. Sejak tanggal 12 Oktober 2016 kedua komponen relatif datar (stabil). Data tiltmeter pasca pergantian sensor tanggal 29 Oktober 2016 hingga 18 Oktober 2016 relatif datar (stabil).

Bromo 5 (211016)

Bromo 6 (211016)

 

Lampiran 5. Grafik Fluks SO2 G. Bromo periode 17 Juli 2016 – 5 Oktober 2016

Pengukuran Fluks SO2 di G. Bromo yang bertujuan mengukur kandungan fluks SO2 (Sulfur Dioksida/belerang oksida) dalam asap hembusan/letusan G. Bromo, pengukuran ini sangat tergantung cuaca. Pengukuran fluks SO2 di G. Bromo ini dimulai lagi pada tanggal 17 Juli 2016, dimana sebelumnya pernah diukur pada Oktober 2005, Maret 2007, Desember 2008, dan Desember 2009, secara umum fluks  SO2 dapat dilihat dari grafik 4, pada periode tanggal 17 Juli 2016 – 5 Oktober 2016 berkecenderungan berfluktuasi namun kurang signifikan.

Bromo 7 (211016)

 

Bromo 8 (211016)