Evaluasi Data Pengamatan G. Gamalama - Maluku Utara Dalam Tingkat Aktivitas Level Ii (waspada) Hingga 23 Oktober 2016

Hasil evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Gamalama di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara periode 1 Januari – 23 Oktober 2016  sebagai berikut: 

I. PENDAHULUAN

  1. Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Maluku Utara. Secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara, sedangkan secara geografi puncaknya terletak pada 0o 48’ Lintang Utara dan 127o 19’ 30” Bujur Timur, dengan ketinggian 1715 meter di atas permukaan laut.
  2. Erupsi G. Gamalama umumnya mempunyai tanda-tanda yang mengawali letusan (precursor) yang sangat singkat. Kemunculan gempa-gempa vulkanik tidak banyak namun dapat diikuti oleh letusan yang bersifat freatik - freatomagmatik. Kemunculan gempa-gempa vulkanik umumnya diawali oleh aktivitas tektonik regional dan diikuti oleh kejadian gempa-gempa Tektonik Lokal. Karakteristik seperti ini juga teramati pada letusan G. Gamalama pada tahun 2003, 2011, 2014 dan 2015.
  3. Pada periode November - Desember 2014, terjadi beberapa kali gempa tektonik di kawasan Laut Maluku dengan skala mencapai 7,3 SR, tetapi hal ini tidak secara langsung memicu peningkatan kegempaan G. Gamalama.  Pada 18 Desember 2014 terjadi erupsi freatik pada pukul 22:41:18 WIT. Erupsi ini didahului dengan getaran Tremor menerus yang terekam sejak pkl. 22:09 WIT. Kolom letusan lk. 2000 m condong ke arah timur diikuti dengan hujan abu vulkanik tipis di beberapa lokasi di sekitar G. Gamalama.
  4. Tingkat aktivitas G. Gamalama dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) pada 18 Desember 2014 pukul 23:00 WIT. Kemudian diturunkan menjadi WASPADA (Level II) pada 10 Maret 2015 pukul 10.00 WIT.
  5. Selama tahun 2015 terjadi 2 (dua) kali erupsi, yaitu pada 16 Juli dan 8 September 2015. Pada 3 Agustus 2016 terjadi erupsi dari titik erupsi Desember 2014. Penyebaran material piroklastik letusan tahun 2015 dan 2016  masih berada di dalam radius 1,5 km yang sesuai dengan rekomendasi pada tingkat aktivitas WASPADA (Level II), sehingga tingkat aktivitasnya tidak dinaikkan.

 

 

II. HASIL PEMANTAUAN

2.1. Visual

Selama Januari hingga Oktober  2016 pengamatan dapat dilakukan dengan baik ke arah kawah/puncak, walaupun terkadang tertutup kabut. Kawah utama/puncak teramati hembusan asap berwarna putih sedang hingga tebal dengan tinggi 5 - 200 m dari atas puncak. Rekahan timur teramati hembusan asap berwarna putih tipis-tebal dengan tinggi 5 - 250 m dari atas rekahan.

Pada tanggal 3 Maret terjadi kenaikkan tinggi hembusan asap dari rekahan timur menjadi 600 m, berwarna putih tebal, tetapi fenomena ini tidak diikuti dengan gejala kenaikkan aktivitas baik secara visual ataupun instrumental pada hari-hari berikutnya. Pada 3 dan 4 Agustus 2016 terjadi erupsi yang menghasilkan kolom letusan lk. 1000 m dari atas puncak. Hingga akhir periode pengamatan tinggi ketebalan asap hembusan dari rekahan timur relatif stabil pada 5-200 m dari atas rekahan dengan warna asap hembusan  putih sedang-tebal, sedangkan asap hembusan dari kawah Utama berwarna putih tipis dengan tinggi 10-150 m dari atas puncak. 

Grafik tinggi asap hembusan (dari rekahan timur laut) selama periode 1 Januari hingga 23 Oktober  2016 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1. 

2.2. Instrumental

Jenis dan jumlah gempa yang terekam selama periode Januari hingga 23 Oktober   2016 adalah sebagai berikut:

Januari 2016: 2 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 277 kali gempa Hembusan, 114 kali gempa Tektonik Lokal, 436 kali gempa Tektonik Jauh dan 2 kali Getaran Banjir. Terjadi 1 kali gempa Terasa dengan kekuatan II-III MMI pada tanggal 20 Januari. Tremor Harmonik terekam 79 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-3 mm.

Februari 2016: 5 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 289 kali gempa Hembusan, 221 kali gempa Tektonik Lokal, 483 kali gempa Tektonik Jauh dan 1 kali Getaran Banjir. Terjadi 3 kali gempa Terasa dengan kekuatan I-III MMI pada tanggal 24 Februari. Tremor Harmonik terekam 21 kali dengan amplitudo maksimum 1-2 mm. 

Maret 2016: 19  kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 138 kali gempa Hembusan, 82 kali gempa Tektonik Lokal dan 312 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam 5 kali dengan amplitudo maksimum 1-2 mm. Terekam 2 kali Gempa Terasa pada tanggal 14 dan 30 Maret 2016 dengan skala MMI I-II. Getaran banjir terjadi sebanyak 5 kali. 

April 2016: 10 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 162 kali gempa Hembusan, 34 kali gempa Tektonik Lokal, 396 kali gempa Tektonik Jauh dan 4 kali Teleseismik. Tremor Harmonik terekam 21 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-4 mm. Terekam 3 kali Gempa Terasa pada tanggal 5 dan 15 April 2016 dengan skala MMI I-II dan 6 kali getaran banjir. 

Mei 2016: 3 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 37 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Tektonik Lokal, 129 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  8 kali dengan amplitudo maksimum 0,5-2,5 mm. Pada tanggal 2 dan 3 Mei terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-6 mm, tetapi tidak disertai perubahan visual maupun kenaikkan kegempaan yang signifikan. 

Juni 2016: 78 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 273 kali gempa Hembusan, 51 kali gempa Tektonik Lokal, 561 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  31 kali dengan amplitudo maksimum 1-4 mm. Terjadi 15 kali getaran Banjir/lahar dan 5 kali gempa Terasa dengan intensitas I-III MMI. 

1-30 Juli 2016: 19 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 108 kali gempa Hembusan, 64 kali gempa Tektonik Lokal, 403 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  4 kali dengan amplitudo maksimum 1 mm. Sejak 14 Juli terekam getaran Tremor menerus dengan amplitudo maksimum dominan 1,5 mm. Terjadi kenaikkan amplitudo pada tanggal 15 hingga 18, 29 dan 30 Juli, tetapi tidak disertai perubahan visual maupun kenaikkan gempa-gempa vulkanik yang signifikan. 

31 Juli 2016: terjadi kenaikkan jumlah gempa-gempa vulkanik, terekam 18 kali Gempa Vulkanik dalam (VA), 17 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 6 kali Gempa Tektonik Jauh, 19 kali Gempa Hembusan. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-11 mm. 

1-2 Agustus 2016: gempa-gempa vulkanik masih terekam dengan jumlah yang cukup signifikan. Terjadi 37 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 26 kali Gempa Tektonik Jauh, 55 kali Gempa Hembusan. Tremor menerus masih terekam dengan amplitudo maksimum 0,5-1,5 mm. 

3 Agustus 2016:

  • Pada pukul 06.14.12 WIT terekam gempa Tektonik (info dari BMKG, 86 km Barat Daya Halmahera Barat, kedalaman 18Km, 4,6 SR), diikuti dengan tremor menerus dengan amplituda maksimum 1,5 mm.
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo maksimum 1,5 – 46 mm, S-P 10.21 – 14.33 detik dan lama gempa 36,64 – 100,62 detik.
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo maksimum 13 mm, S-P 1,1 detik dan lama gempa 14,05 detik.
  • 5 kali gempa Tremor Harmonik dengan amplitudo maksimum 1,5 – 6 mm dan lama gempa 33,77 – 908,89 detik.
  • 8 kali gempa Hembusan dengan amplitudo maksimum 1,5 – 7 mm dan lama gempa 6,47 – 24,34 detik.
  • 2 kali Gempa letusan pada pukul 09.09.21 dan 09.10.02 WIT, dengan durasi 15 dan 27 detik, amplitudo maksimum 25 dan 35 mm.
  • Gempa Tremor Menerus dengan amplitudo maksimum 0,5 – 17 mm, dominan 3 mm terekam sejak pkl. 07.42 WIT. 

4 Agustus 2016 hingga pukul 06.00 WIT:  1 kali gempa Tektonik Jauh (TJ)  dengan amplitudo maksimum 21 mm, S-P 19.56 detik dan lama gempa 62,62 detik. Gempa Tremor Menerus dengan amplitudo maksimum 0,5 – 4 mm, dominan 2 mm. 

5-31 Agustus 2016: 34 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 11  kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 192  kali gempa Hembusan, 71 kali gempa Tektonik Lokal, 299 kali gempa Tektonik Jauh. Tremor Harmonik terekam  36 kali dengan amplitudo maksimum 1-10 mm.

September 2016: 11 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 3  kali gempa Vulkanik Dangkal (VB),  119  kali gempa Hembusan,  1 kali gempa Low Frequency (LF), 50  kali gempa Tektonik Lokal, 410  kali gempa Tektonik Jauh dan 8 kali Getaran Banjir.  Tremor Harmonik terekam  22 kali dengan amplitudo maksimum 1-7 mm. 

1-23 Oktober 2016: 17 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 1  kali gempa Vulkanik Dangkal (VB),  68  kali gempa Hembusan,  43 kali gempa Tektonik Lokal,  295  kali gempa Tektonik Jauh dan 4 kali Getaran Banjir.  Tremor Harmonik terekam  12 kali dengan amplitudo maksimum 1-4 mm.  Pada tanggal 8 dan 9 Oktober terjadi masing-masing 1 kali gempa Terasa dengan intensitas II MMI (tanggal 8) dan III MMI (tanggal 9). 

Grafik  jenis dan jumlah kegempaan G. Gamalama selama periode 1 Januari hingga 23 Oktober  2016 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.

 

III. EVALUASI
  1. Erupsi G. Gamalama umumnya mempunyai pola dimana rangkaian gempa Tektonik diikuti oleh kenaikkan gempa-gempa vulkanik sebagaimana yang terjadi pada Desember 2014 dan Juli 2015. Selain itu terdapat juga jenis erupsi yang tidak diawali dengan aktivitas tektonik, seperti yang terjadi pada 8 September 2015  yang merupakan ‘sudden magmatic pulse, dicirikan oleh intensitas letusan yang relatif kecil dan tidak didahului oleh peningkatan gempa-gempa Tektonik Lokal maupun Vulkanik sebagaimana pola umum yang terjadi pada letusan Desember 2014 dan Juli 2015. Diduga, erupsi yang terjadi pada 3 Agustus 2016 masih termasuk ke dalam jenis kedua (sudden magmatikc pulse).
  2. Terjadi kenaikkan jumlah gempa VA sejak 6 Juni 2016. Gempa VA terekam setiap hari dengan jumlah bervariasi. Jumlah terbesar terjadi pada tanggal 9 (16 kejadian), tanggal 22 (10 kejadian) dan tanggal 23 (8 kejadian), sedangkan pada tanggal lainnya jumlah VA berkisar 1 hingga 4 kejadian. Diduga akumulasi gempa VA ini menyebabkan terjadinya proses peretakan batuan yang intens di dalam tubuh G. Gamalama disusul kejadian gempa LF pada 20 dan 26 Juli mengindikasikan adanya suplai fluida. Kemunculan gempa LF menunjukkan bahwa pressure buildup di Gamalama sudah berlangsung sebelumnya, dan tekanan sudah di dekat permukaan. Kenaikan fluida ke kedalaman yang lebih dangkal ditandai pula dengan kenaikkan amplitudo Getaran Tremor (Lampiran 3) yang terdeteksi sejak pertengahan Juli 2016. Fenomena ini kemudian diikuti dengan kejadian erupsi pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2016.
  3. Pasca erupsi 3 Agustus 2016 kegempaan kembali didominasi oleh Gempa Hembusan dengan jumlah fluktuatif. Gempa-gempa vulkanik (VA, VB  dan Tremor) masih terjadi dalam jumlah yang relatif menurun serta tidak teramati perubahan visual yang signifikan atau pun erupsi susulan. Jumlah dan jenis gempa ini akan dipantau secara intensif untuk mendeteksi jika terjadi peningkatan yang sangat cepat yang dapat diikuti oleh terjadinya letusan. 

 

IV. POTENSI BAHAYA

1. Mengingat sejarah letusan G. Gamalama yang sering diawali oleh kejadian gempabumi tektonik di Zona Punggungan Mayu atau Lempeng Laut Maluku, maka saat ini potensi bahaya G. Gamalama adalah kemungkinan terjadinya letusan freatik ataupun magmatik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

2. Berdasarkan sejarah panjang aktivitasnya, daerah yang berpotensi terlanda bahaya letusan G. Gamalama tertuang dalam Peta Kawasan Rawan Bencana (lampiran 4), dimana:

  1. Awan panas, aliran lava, lontaran atau guguran batu (pijar), lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat berpotensi melanda kawasan dalam radius 2,5 km dari pusat erupsi.
  2. Aliran lahar/banjir dan kemungkinan perluasan awan panas dan aliran lava, hujan abu dan lontaran batu (pijar) berukuran lebih kecil, berpotensi melanda kawasan dalam radius 3,5 km dari pusat erupsi.
  3. Di musim penghujan perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya aliran lahar hujan. Kawasan yang berpotensi terlanda lahar hujan utamanya adalah kawasan yang dilalui oleh sungai-sungai yang berhulu di G. Gamalama.

Hingga akhir Oktober 2016 masih terekam kejadian getaran banjir yang mengindikasikan adanya aliran rombakan batuan di lereng bagian atas G. Gamalama yang suatu saat dapat memasuki lairan sungai di bawah nya.

Peta Kawasan Rawan Bencana selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.

3. Penyebaran material batuan yang dihasilkan letusan 3 Agustus 2016 yang membahayakan jiwa manusia masih berada di dalam radius 1,5 km atau masih di dalam rekomendasi pada tingkat aktivitas WASPADA (Level II). Hingga saat ini aktivitas G. Gamalama terus dipantau dan dievaluasi secara intensif untuk dapat diantisipasi sejak dini jika terjadi perubahan aktivitas.

 

V. KESIMPULAN 

  1. Berdasarkan pengamatan visual, instrumental dan evaluasi potensi bahaya letusan G. Gamalama hingga tanggal 23 Oktober  2016, maka tingkat aktivitas G. Gamalama masih berada pada Level II (WASPADA).
  2. Jika terjadi perubahan aktivitas vulkanik G. Gamalama secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan aktivitas vulkanik dan tingkat ancamannya.

 

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Gamalama dalam tingkat aktivitas Level II (WASPADA) maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  2. Masyarakat di sekitar G. Gamalama diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Gamalama yang tidak jelas sumbernya, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah/Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kota.
  3. Pada musim hujan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai bahaya sekunder berupa ancaman aliran lahar.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan BPBD Kota Ternate tentang aktivitas G. Gamalama.
  5. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Gamalama di Jl. Sabia Belakang, Kecamatan Sangaji Utara, Kota Ternate Utara, Propinsi Maluku Utara atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1:

Grafik kegempaan G. Gamalama, periode 1 Januari – 23 Oktober  2016

Gamalama 1 (271016)

Gamalama 2 (271016)

 

Lampiran 2:

Grafik tinggi kolom hembusan gas  G. Gamalama, periode 1 Januari – 23 Oktober  2016

Gamalama 3 (271016)

 

Lampiran 3:

Grafik jumlah dan amplituda getaran Tremor  G. Gamalama periode 1 Januari – 23 Oktober  2016

Gamalama 4 (271016)

 

Lampiran 4:

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Gamalama

Gamalama 5 (271016)