Pers Rilis Aktivitas Gunungapi Anak Krakatau, Rabu 3 Oktober 2018

Logo_ESDM

Bandung 3 Oktober 2018 bertempat di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Jl. Diponegoro No. 57 Bandung diadakan konferensi pers berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau, konferensi pers dillakukan oleh Kepala PVMBG.

Gunungapi Anak Krakatau, terletak di Selat Sunda adalah gunungapi strato tipe A dan merupakan gunungapi muda yang muncul dalam kaldera, pasca erupsi paroksimal tahun 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau. Aktivitas erupsi pasca pembentukan dimulai sejak tahun 1927, pada saat tubuh gunungapi masih di bawah permukaan laut. Tubuh anak krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 2013. Sejak saat itu dan hingga kini G. anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar). Saat ini G. Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018). Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi epusif berupa aliran lava. Pada tahun 2016 letusan terjadi pada 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi pada tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Tahun 2018, kembali meletus sejak tanggal 29 Juni 2018 sampai saat ini berupa letusan strombolian.

Letusan pada tahun 2018, precursor letusan 2018 diawali dengan munculnya gempa tremor dan penigkatan jumlah gempa Hembusan dan Low Frekuensi pada tanggal 18-19 Juni 2018. Jumlah Gempa Hembusan terus meningkat dan akhirnya pada tanggal 29 Juni 2018 G. Anak Krakatau meletus.

Lontaran material letusan sebagian besar jatuh di sekitar tubuh G. Krakatau atau kurang dari 1 km dari kawah, tetapi sejak tanggal 23 Juli teramati lontaran material pijar yang jatuh di sekitar pantai, sehingga radius bahaya G. Krakatau diperluas dari 1 km menjadi 2 km dari kawah.

Aktivitas Terkini, selama bulan September hingga saat ini, aktivitas letusan masih berlangsung disertai suara dentuman hingga menggetarkan kaca di Pos PGA Anak Krakatau yang berjarak 42 km dari pusat letusan. Pemantauan secara visual sering tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati letusan yang menerus dengan tinggi kolom letusan berkisar antara 200 - 500 meter, kolom letusan tertinggi terpantau setinggi 2500 m diatas puncak pada tanggal 22 September. Pada umumnya sebaran abu Vulkanik letusan menyebar ke arah barat laut sampai barat daya. 

Hasil pengamatan langsung dari pulau Rakata pada 22 September, tampak bahwa lontaran material pijar sebagian besar jatuh di sekitar tubuh G. Krakatau dan sebagian kecil jatuh sampai ke laut. Leleran lava mengalir ke arah selatan - tenggara dan sudah mencapai laut.

Kegempaan didominasi oleh jenis gempa letusan rata-rata 400 kejadian perhari dan gempa tremor menerus dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale).

Potensi Bencana Erupsi G. Krakatau, Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh G. Anak Krakatau yang berdiameter ± 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktifitas G. Anak Krakatau  saat ini adalah lontaran material pijar dalam radius 2 km dari pusat erupsi. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 3 Oktober 2018, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau masih tetap Level II  (Waspada). Sehubungan dengan status Level II (Waspada) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati G. Krakatau dalam radius 2 km dari Kawah. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi G. Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.