Peningkatan Status Gunungapi Agung, Bali Dari Level Iii (siaga) Ke Level Iv (awas)

 

Peningkatan status G. Agung berdasarkan data pengamatanvisual dan instrumental G. Agung, Bali sampai 27 November 2017 pukul 06:00 WITA sebagai berikut:

I. Pendahuluan

  1. Secara geografis, G. Agung terletak pada posisi koordinat 8.342°LS dan 115.508° BT. Puncak G. Agung berada pada ketinggian 3142 m di atas permukaan laut.
  2. Secara administratif G. Agung termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.
  3. Gunungapi Agung diamati secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem dan Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem,Bali.
  4. Data pengamatan G. Agung diolah dan dianalisis oleh ahli gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengevaluasi aktivitas gunungapi serta mengestimasi potensi ancaman bahayanya sehingga menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi.
  5. Sejarah perkembangan status gunungapi:
    1. Pada 12 Maret 1963, terjadi erupsi aktivitas G. Agungdengan skala VEI 5 dengan tinggi kolom erupsi setinggi 8-10 km diatas puncak G. Agung dan disertai oleh aliran piroklastik yang menghancurkan beberapa desa disekitar G. Agung dan disusul oleh aliran lahar yang menewaskan setidaknya 1100 jiwa.
    2. G. Agung selesai bererupsi pada tanggal 27 Januari 1964 dan menyisakan kawah dengan diameter 500m sedalam 200m.
    3. Peningkatan jumlah gempa vulkanik dan tektonik lokal yang dimulai pada tanggal 10 Agustus 2017, kemudian disertai oleh munculnya solfatara pada tanggal 13 September 2017 membuat status G. Agung ditingkatkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada tanggal 14 September 2017.
    4. Peningkatan jumlah gempa vulkanik sangat intensif yang dimulai pada tanggal 14 September 2017, kemudian disertai oleh munculnya air ke permukaan yang mengindikasikan adanya gangguan hidrologis akibat pergerakan magma sehingga pada tanggal 18 September 2017 membuat status G. Agung ditingkatkan dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada tanggal 18 September 2017 pukul 21.00 WITA.
    5. Peningkatan jumlah gempa vulkanik yang signifikan dan pola peningkatan energi seismik kemudian terus meningkat secara eksponensial dan cenderung mengarah ke satu garis asymptote (erupsi/letusan), maka pada tanggal 22 September 2017 pukul 20.30 WITA, status G. Agung ditingkatkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
    6. Penurunan jumlah dan amplitudo gempa vulkanik dan serta berkurangnya gempa terasa secara drastis membuat status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas)ke Level III (Siaga) pada tanggal 29 Oktober 2017pukul 16:00 WITA.

II. Hasil Pengamatan

2.1 Visual

Pengamatan visual Gunungapi Agung selama status Level III (Siaga) dariperiode Minggu, 29 Oktober 2017 hingga Minggu, 27 November 2017 pukul 06:00 WITA (30 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 117.4 mm, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara, timur, selatan dan utara. Suhu udara sekitar 16 - 31.4°C. Kelembaban 60 - 94%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Kronologi letusan freatik sampai magmatik dari tanggal 21-27 November 2017 sebagai berikut:

  1. Pada tanggal 21 November 2017 mulai pukul 17:05 WITA teramati erupsi freatik pertama Gunung Agung yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 700 m di atas puncak.
  2. Pada tanggal 25 November 2017pukul 17:20 WITA mulai teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu-kehitaman dengan intensitas tebal dengan tinggi maksimum 2000 m di atas bibir kawah.Pada malam hari teramati cahaya terang di puncak Gunung Agung. Cahaya ini kemungkinan besar merupakan manifestasi dari aktivitas lava pijar di kawah Gunung Agung. Fenomena ini menandai fase transisi dari erupsi freatik ke erupsi magmatik. Abu vulkanik jatuh utamanya ke arah barat-baratdaya ke Desa Menanga, Desa Rendang termasuk ke Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang yang berjarak 12.5 km dari puncak.
  3. Pada tanggal 26 November 2017
  • Pukul 05.05 WITA erupsi magmatik teramati memiliki ketinggian 2000 meter dari atas bibir kawah dengan warna abu kelabu tebal. Abu menyebar ke arah tenggara dan timur jatuh paling tebal di Desa Sibetan (5 mm). Abu menyebar terjauh sampai ke Nusa Penida, Lombok, dan Sumbawa.
  • Kemudian intensitas erupsi abu mengalami peningkatan pada pukul 05.45 dengan ketinggian mencapai 3000 meter dari atas puncak, hingga mencapai ketinggian 3300 m pada pukul 11:00 WITA.
  • Terdengar dua kali suara dentuman dari kawah gunung agung di Pos PGA Agung Jarak 12,5 Km dari kawah disertai kilat pada pukul 20:51 WITA
  • Terdengar satu kali suara dentuman dari kawah gunung agung di Pos PGA Agung Jarak 12,5 Km dari kawahpada pukul 22.51 WITA.
  • Sinar api di puncak semakin sering teramati dimalam hari dari CCTV di Bukit Asah dan Pos PGA Agung di Batulompeh.

2.2 Pengamatan Instrumental

2.2.1   Seismik

Gunungapi Agung selama status Level III (Siaga) dari periode Minggu, 29 Oktober 2017 hingga Minggu, 26 November 2017 pukul 24:00 WITA (29 hari) terekam 2 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 1-24 mm dan lama gempa 26-40 detik. 12 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 2 - 12 mm dan lama gempa 26 - 115 detik. 41 kali gempa Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 1 - 9 mm dan lama gempa 30 - 14400 detik. 5 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 1 - 10 mm dan lama gempa 27 - 180 detik. 805 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 1 - 23 mm dan lama gempa 4 - 45 detik. 747 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 1 - 27 mm, S-P 1 - 3 detik dan lama gempa 6 - 49 detik. 76 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 2 - 28 mm, S-P 4 - 11 detik dan lama gempa 21 - 106 detik. 6 kali gempa Terasa dengan amplitudo 8 - 28 mm dan lama gempa 81 - 450 detik. 70 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 1 - 28 mm, S-P 10 - 86 detik dan lama gempa 28 - 260 detik. 1 kali gempa Harmonik dengan amplitudo 5 mm dan lama gempa 50 detik. Tremor Menerus dengan amplitudo 2 - 7 mm, dominan 3 mm.

  1. Pada tanggal 21 November 2017 mulai pukul 18:54 WITA terekam tremor menerus dengan amplitudo maksimum 3 – 5 mm.
  2. Pada tanggal 25 November 2017 terekam 44 kali gempa vulkanik, 2 kali gempa tektonik lokal, 4 kali gempa hembusan, 2 kali tremor non harmonik dan 2 kali gempa letusan. Energi seismik teramati belum lebih tinggi dari pada saat kondisi Level IV (Awas), Sebaliknya, hal ini mengindikasikan bahwa sistem sudah relatif terbuka sehingga gempa-gempa yang berperan dalam membuka jalur ke permukaan jumlahnya sudah tidak banyak lagi. Magma semakin mudah menerobos hingga keluar ke permukaan.
  3. Pada tanggal 26 November 2017 kemunculan gempa tremor semakin intensif dan terekam di semua stasiun seismik G. Agung.Kegempaan pada 26 November 2017 pada periode pukul 00.00-24.00 WITA tercatat31 kali gempa vulkanik, 2 kali gempa low-frequency, 1 kali gempa letusan dan tremor letusan secara menerus. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5 – 7 mm (dominan 3 mm) yang disertai Tremor Harmonik dan gempa Vulkanik Dalam dan Dangkal. Terekam oeverscale menguat di stasiun PSAG dan beberapa stasiun lainnya mulai pukul 21:36 WITA
  4. Pada tanggal 27 November 2017 pukul 00:00 – 06.00 WITA, terekam gempa Letusan 1 kali, Vulkanik Dalam 1 kali dan Tektonik Lokal 1 kali. Tremor menerus teramati dengan amplitude 1-10 mm dominan 2 mm.

2.2.2   Deformasi

  • Pemantauan GPS di 5 titik di sekitar Gunung Agung tidak menunjukkan pola deformasi yang jelas.
  • Tiltmeter di Yehkori sekitar 4 km dari puncak Gunung Agung menunjukkan pola inflasi (penggembungan) dengan rate 3 mikroradian per hari.

2.2.3   Geokimia

 Tanggal 21 November 2017 pukul 08:00 WITA

Dengan menggunakan Drone didapatkan CO2: 35 ppmv (part per million volume) di atas background, SO2 tidak terekam, H2O: 98% dan Rasio CO2/SO2 lbh besar dr 100.

Tanggal 22 November 2017 pukul 13:00 WITA

Menggunakan DOAS didapatkan Fluks SO2: 660 (+/-121)  ton/hari (pada jarak 12 km dari kawah di bagian tenggara G. Agung).

Tanggal 23 November 2017 pukul 10:00 WITA

 Dengan menggunakan Drone didapatkan CO2: 70 ppmv di atas bacground, SO2: 0.4-0.6 ppmv, H2O grafik puncak tidak terlihat jelas. Rasio CO2/SO2: 82

Tanggal 24 November 2017 pukul 12:00 WITA

Dengan Menggunakan Drone didapatkan CO2: 40 ppmv, SO2: 0.05 ppmv, H2S: 0, H2O: 97.7% dan Rasio CO2/SO2: 811.

Tanggal 26 November 2017 pukul 9.30-11.30 WITA

 Dengan menggunakan DOAS didapatkan Fluks SO2: 5494(+/-1618) ton/hari (pada jarak lk.12 km dari kawah di bagian tenggara G. Agung).

2.2.4   Penginderaan Jauh Satelit

  • Data satelit Sentinel-2 pada 9 November 2017 masih merekam adanya citra panas di permukaan kawah Gunung Agung.
  • Data satelit Aster TIR pada 15 November 2017 menunjukkan adanya peningkatan jumlah piksel/citra panas sebesar 12 kali lebih banyak dibandingkan satu bulan sebelumnya (14 Oktober 2017).
  • Data satelit GOME-2 menunjukkan adanya konsentrasi gas magmatik SO2 berkisar 1000-2000 ton/day akibat aktivitas erupsi Gunung Agung pada tanggal 26 November 2017.
  • Data satelit D-InSAR mengindikasikan adanya inflasi (penggembungan) menjelang letusan 21 November 2017.
  • Satelit Himawari (berdasarkan laporan dari VAAC Darwin) merekam bahwa ketinggian abu letusan Gunung Agung telah mencapai 8000 meter di atas permukaan laut.

III. Evaluasi

  1. Pasca penurunan status ke Level III (Siaga), pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan adanya asap solfatara dikawah G. Agung setinggi 700 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis sampai tebal dengan tekanan lemah sampai sedang. Pada tanggal 21 November 2017 pukul 17:05 WITA teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 700 m di atas bibir kawah. Pada tanggal 25 November 2017 mulai teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 2000 m di atas bibir kawah. Pada tanggal 26 November 2017 pukul 05.05 WITA erupsi tersebut teramati memilikiketinggian 2000 meter dari atas bibir kawah. Kemudian mengalami peningkatan pada pukul 05.45 dengan perkiraan ketinggian 3000 meter dari atas puncak, hingga mencapai ketinggian 3400 m pada pukul 11:00 WITA.
  2. Jumlah gempa vulkanik meningkat cukup signifikan pada tanggal 25 November sebelum terjadinya letusan. Energi seismik teramati belum lebih tinggi dari pada saat kondisi Level IV (Awas). Hal ini tidak berarti bahwa potensi letusan lebih kecil, hal ini mengindikasikan bahwa sistem sudah relatif terbuka sehingga gempa-gempa yang berperan dalam membuka jalur ke permukaan jumlahnya tidak banyak. Pasca erupsi tanggal 25 November 2017, kemunculan gempa tremor semakin intensif(terlampir di Gambar 2).
  3. GPS masih menunjukkan pola yang relatif stabil hingga cenderung stasioner. Namun demikian, citra satelit InSAR pada periode 12-20 November 2017 menunjukkan adanya sinyal deformasi di dalam kawah di sektor Timurlaut. Gunung Agung mengalami inflasi sebelum letusan freatik 21 November 2017 dan inflasi juga masih terus terekam oleh tiltmeter yang terpasang 4 km dari puncak Gunung Agung di sebelah Selatan  (Gambar 3). Hal ini mengindikasikan adanya tekanan yang cukup kuat ke permukaan.
  4. Pengukuran gas dengan drone pasca erupsi freatik 21 November 2017 menunjukkan bahwa gas-gas magmatik seperti CO2 dan SO2 secara konsisten terus teramati. Hal ini mengindikasikan bahwa sumbat lava telah terbuka sehingga ada jalur tempat gas-gas ini dapat keluar dengan lebih mudah. Kemunculan gas CO2 dan SO2 mengindikasikan bahwa saat ini aktivitas fisis di dalam tubuh G. Agung bersifat magmatik dan tingkatannya relatif tinggi.
  5. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental aktivitas G. Agung, dapat disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung saat ini berada pada tingkatan yang sangat tinggi sehingga probabilitas untuk terjadi erupsi lebih besar menjadi semakin meningkat. Perlu dipahami bahwa kejadian erupsi tidak dapat dipastikan seberapa besar intensitasnya. Mengestimasi karakter erupsi G. Agung ke depan cenderung lebih sulit dari gunungapi lainnya karena tidak adanya data instrumental sebagai pembanding dengan erupsi sebelumnya. Satu-satunya data yang dapat dijadikan pedoman adalah fenomena rentetan Gempa Terasa yang dirasakan oleh masyarakat di sekeliling G. Agung pada tahun 1963 juga dirasakan pada tahun ini. Namun demikian, upaya mitigasi bencana erupsi perlu dilakukan. Hingga saat ini kecenderungan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung meningkat sudah teramati. 

IV. Potensi Bencana

  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung.
  2. Berdasarkan sejarahnya, jika terjadi erupsi G. Agung seperti pada tahun 1963 maka potensi bahaya yang mungkin terjadi dapat berupa lontaran piroklastik (bom vulkanik/batu panas),hujan abu, aliran piroklastika, aliran lava, hingga banjir lahar.Jika terjadi erupsi, potensi bahaya primer yang dapat terjadi di dalam radius 8 km berupa jatuhan piroklastik dengan ukuran sama atau lebih besar dari 6 cm.
  3. Hasil pemodelan potensi sebaran hujan abu menunjukkan bahwa jika terjadi erupsi saat ini dengan asumsi indeks eksplosivitas erupsi VEI III (Gambar 4) maka sektor Barat, Baratlaut dan Utara dari G. Agung adalah sektor yg paling terancam. Sektor tersebut berpotensi terlanda hujan abu lebat dengan ketebalan maksimum mencapai 1.6 meter (hingga jarak 15 km dari Puncak Gunung Agung) dan ketebalan maksimum 0.4 meter (hingga jarak 30 km dari Puncak Gunung Agung).
  4. Hasil pemodelan potensi sebaran abu vulkanik di udara mengindikasikan bahwa abu vulkanik dapat tersebar jauh dari Puncak G. Agung dan diperkirakan dapat mengganggu operasional penerbangan dari dan ke: Bali, Lombok, Surabaya, dan Banyuwangi. Namun mengenai potensi gangguan abu vulkanik di udara sangat mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga pihak-pihak yang terkait keselamatan penerbangan diharapkan untuk adaptif sesuai dengan kondisi aktual.
  5. Hasil pemodelan potensi aliran piroklastik (Awan Panas) dengan asumsi bahwa erupsi pembuka memiliki volume erupsi 5 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauansekitar 10 km dalam waktu kurang dari 3 menit. Namun jika volume erupsi melebihi 10 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauan melebihi 10 km (Gambar 5). Oleh karena itu, ke depan PVMBG dapat mengubah rekomendasi gunungapi sesuai dengan perkembangan data pemantauan terbaru.
  6. Ancaman bahaya aliran piroklastik (Awan Panas) tersebut di atasmaupun aliran lava utamanya berada pada sektor utara lereng G. Agung terutama di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, pada sektor Tenggara terutama di daerah aliran Sungai Tukad Bumbung, dan pada sektor Selatan-Baratdaya terutama di daerah Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah(terlampir di Gambar 6: Peta Kawasan Rawan Bencana G. Agung).

V. Kesimpulan

  1. Hingga saat ini berdasarkan data yang diamati dan dianalisis secara komprehensif oleh PVMBG, aktivitas G. Agung disimpulkan menunjukkan kecenderungan peningkatan.
  2. Jika erupsi terjadi, terdapat potensi bencana yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi karena saat ini banyak masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Selain itu, masyarakat di sekeliling Gunung Agung juga belum memiliki pengalaman yang cukup banyak untuk menghadapi erupsi Gunung Agung karena gunungapi ini terakhir meletus pada tahun 1963 (54 tahun yang lalu).
  3. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka terhitung mulai tanggal  27 November 2017 pukul 06.00 WITA status Gunungapi Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) keLevel IV (Awas).

VI. Rekomendasi

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitasapapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari Kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari Kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Desa Ban, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, Kubu, Tulamben, Datah, Nawakerti, Pidpid, Buanagiri, Bebandem, Jungutan, Duda Utara, Amerta Buana, Sebudi, Besakih dan Pempatan.
  2. Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin.Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Timur-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  3. Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali,segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  4. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Agung, ditambah dengan curah hujan yang relatif tinggi, maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di G. Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar. Jika lahar mengalir dengan intensitas yang sangat tinggi dan membahayakan keselamatan, masyarakat dapat menjauh sementara ke tempat yang lebih aman sampai kondisi memungkinkan untuk kembali.
  5. Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana erupsi G. Agung. Diharapkan agar proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  6. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  7. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  8. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  9. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  10. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun  rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation)

 

Gambar 1. Visual G. Agung pada tanggal 21 dan 26 November 2017

agung awas

agung awas2

Visual Tanggal 21 November 2017

agung awas3

agung awas4

Visual Tanggal 26 November 2017

 

Gambar 2. Grafik Kegempaan, RSAM dan Frekuensi Dominan G. Agung

agung awas5

agung awas6

 

agung awas7

Gambar 3. Grafik Tiltmeter G. Agung yang terpasang di Yehkori


agung awas8

Gambar 4. Pemodelan Erupsi yang menghasilkan Jatuhan Piroklastik dengn skenario VEI-III (di buat oleh Python-Fall3D).


agung awas9

Gambar 5. Pemodelan Aliran Piroklastik G. Agung

 

agung awas10

agung awas11