Laporan Kebencanaan Geologi 24 Agustus 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis,  24 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung :

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis mencapai ketinggian 50-200 m dari puncak, condong ke arah Timur dan Barat. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 2 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 1500-2000 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara dan Barat . Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 1000 m ke arah Tenggara dan Timur.  Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

 -Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 23 Agustus 2017 Pukul 16:15 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 2000 condong ke arah Tenggara dan Timur.

G. Dukono:

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-400 m condong ke Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 127 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 22 Agustus 2017 pukul 06:28 WIT. Tinggi kolom abu 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Ibu:

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi putih kelabu mencapai 200-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017 pukul 10:27 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:


1. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara,

2. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, 

3. Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi; lereng yang agak terjal; tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air.

Dampak :

1. Gerakan Tanah  / Tanah Longsor terjadi di Jalan lingkar Selatan Bolaang Mongondow, mengakibatkan sementara waktu jalan tidak bisa dilewati kendaraan bermotor  akibat tertutup material longsoran.

2. Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, mengakibatkan  arus lalu lintas menjadi tersendat akibat sebagian badan jalan tertutup material longsoran.

3. Gerakan tanah terjadi di Kab.Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara mengakibatkan  badan jalan tertimbun material longsoran sehingga tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 

Masyarakat dapat mengunduh melalui  http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

II. DETAIL:


1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.


Gunungapi Sinabung.

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Kepulan asap putih tipis teramati mencapai ketinggian 50-200 m condong ke arah Timur dan Barat. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 2 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom mencapai 1500-2000 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara dan Barat. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 1000 m ke arah Timur dan Tenggara. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.

Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 02-03 Agustus 2017 dilakukan pada Tanggal 06 Agustus 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 23700 m3. Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
 

Gunungapi Dukono.

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 127 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-18 mm (dominan 4 mm).


Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu.

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 200-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan:- Letusan 85 kali- Hembusan 38 kali- Guguran  15 kali- Tremor harmonik 1 kaliBadan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara

-Kemenhub,- BMKG, 

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines

- VAAC Darwin, 

- VAAC Tokyo, 

- dll


VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 23 Agustus 2017 Pukul 16:15 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 2000 m condong ke arah Tenggara dan Timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 22 Agustus 2017 pukul 06:28 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1429 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017 pukul 10:27 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan Agustus  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Beberapa wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan utamanya   di wilayah Aceh dan Sumatera Barat, Sumatra Utara. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara*,

2. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu*,

3. Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara*,

4. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat,                  

 5. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,

6 Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara,              

7. Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta,

8. Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur,      

9.Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah,

10.  Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara,  

11. Kabupaten Mimika, Papua.


Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara

Gerakan tanah terjadi di Jalan lingkar Selatan Bolaang Mongondow, tepatnya di ruas jalan Matali – Torosik Kecamatan Lolayan, Kab. Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 22 Agustus 2017 pukul 11:30 WITA. Dampak dari gerakan tanah ini mengakibatkan sementara waktu jalan tidak bisa dilewati kendaraan bermotor  akibat tertutup material longsoran. Sumber : http://manado.tribunnews.com/2017/08/22/longsor-terjang-matali-torosik Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sifat batuan yang lapuk, poros air dan mudah luruh juga kemiringan lereng yang cukup curam.

Rekomendasi :

• Tidak melakukan aktifitas disekitar daerah longsoran• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak• Para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.

2. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu

Gerakan tanah terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, salah satunya satu titik menutup badan jalan yang menghubungkan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Lampung. Dampaknya arus lalu lintas menjadi tersendat akibat sebagian badan jalan tertutup material longsoran. Sumber : http://www.kbknews.id/2017/08/22/longsor-di-perbatasan-bengkulu-lampung/ Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama dan kemiringan lereng yang cukup curam sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

• Tidak melakukan aktifitas disekitar daerah longsoran

• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan

• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak

• Para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan

• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.


3. Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara

Gerakan tanah terjadi di akses jalan nasional yang menghubungkan antara wilayah Kec.Mentarang Hulu, Kab.Malinau dengan Desa Long Bawan, Kec. Krayan, Kab.Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Dampaknya jalan sepanjang 1 km putus total akibat sebagian besar badan jalan tertimbun material longsoran sehingga tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. Sumber : https://media-merdeka.com/2017/jalan-nasional-sepanjang-1-km-longsor-wilayah-perbatasan-mentarang-dan-krayan-terisolir.htm Penyebab gerakan tanah diduga kemiringan lereng yang cukup curam, sifat batuan yang mudah luruh dan curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi :

• Tidak melakukan aktifitas disekitar daerah longsoran

• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan

• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak

• Para pengguna jalan dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan

• Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.