Laporan Kebencanaan Geologi 07 Desember 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

 

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 07 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih keabuan tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 1000-2000 m di atas puncak condong kearah barat, baratdaya, dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari lava pijar di kawah puncak karena tertutup kabut dan hujan. Pada hari ini tidak terjadi erupsi eksplosif.  Terekam tremor over scale pada Pukul 14:46 WITA selama 20 menit dan pada Pukul 14:41 WITA sekama 18 menit dan Pukul 16:26 WITA selama 24 menit. Rekaman seismograf Tanggal 06 Desember 2017 tercatat:

  • 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 13 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (terasa).
  • Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.
  • 36 kali Low Frequency.
  • 9 kali Gempa Hembusan.
  • 1 kali Tremor Harmonik.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 1 mm.

Tanggal 07 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil Gempa Hembusan
  • 12 Gempa Low Frequency.
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)
  • Nihil Tektonik Lokal.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-20 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

VONA:

Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi letusan dan 33 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 1500 m dari puncak. Erupsi tidak disertai guguran lava dan disertai awan panas guguran meluncur ke lereng selatan sejauh 3500 m.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Desember 2017 Pukul 23:02 WIB, terkait letusan selama 300 detik. Puncak tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Tinggi kolom abu tidak teramati karena kabut. Melalui rekaman seismograf terekam:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-10 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa letusan nihil.
  • Vulkanik Dalam nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 09:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tampak tertutup kabut. Asap kelabu tebal tekanan sedang tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 06 Desember 2017 tercatat:

  • 99 kali gempa letusan
  • 86 kali gempa Hembusan
  • 38 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis 150 m. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 06 Desember 2017 tercatat:

  • 13 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Tremor Harmonik.
  • 1 kali Gempa Fase Banyak.
  • 2 kali Gempa Tornilo.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Tektonik Lokal.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicuh oleh curah hunjan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak

1.   Gerakan tanah / tanah longsor pada  tebing jalan warga di RT 01/02 , Desa Bantarkaret,  Kecamatan Nanggung . Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat  pada hari Senin (04/12) lalu mengakibatkan  lalu lintas warga terhambat.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1. Gempa bumi di baratdaya Kabupaten Lebong, Bengkulu

Informasi Gempa Bumi;

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 6 Desember 2017, pukul 03:46 WIB. Berdasarkan informasi BMKG pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,15° BT dan 3,16° LS sebesar Magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km. Pusat gempa bumi berjarak 5 km barat daya Kabupaten Lebong, Bengkulu. Berdasarkan GFZ, Jerman,  pusat gempa bumi berada pada koordinat 102,14° BT dan 3,14° LS, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 10 km. Berdasarkan USGS Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 102,147° BT dan 3,159° LS, dengan magnitudo M 4,9 pada kedalaman 35 km.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Sesar Sumatra di daratan.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini dirasakan di Lebong sebesar III-IV MMI, di Lubuk Linggau dan Bengkulu Utara sebesar III MMI, dan di kota Bengkulu sebesar II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Kerusakan bangunan ditemukan akibat goncangan gempa bumi berupa retakan bangunan.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

===

2. Gempabumi di Perairan Timur Laut Banggaikep, Sulawesi Tengah

Informasi Gempabumi;

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu tanggal, 6 Desember 2017, pukul 23:06:56 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0.64°LU dan 123.70° BT dengan magnitudo 5,5 SR pada kedalaman 10 km berjarak 104 km timur laut Banggaikep, Sulawesi Tengah.

Penyebab Gempabumi;

Diperkirakan berasal dari aktivitas sesar naik Batui yang terbentuk akibat tumbukan antara Mikro Kontinen Banggai Sula dan Busur Sangihe.

Dampak Gempabumi;

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi;

- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi BPBD setempat.

- Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2.  Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).

Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih keabuan tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 1000-2000 m di atas puncak condong kearah barat dan timur. Pada malam hari teramati sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Hari ini tidak terjadi letusan. Terekam tremor over scale pada Pukul 14:46 WITA selama 20 menit dan pada Pukul 16:26 WITA selama 24 menit.

Rekaman seismograf pada Tanggal 06 Desember 2017 tercatat:

  • 11 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 13 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (terasa).
  • Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.
  • 36 kali Low Frequency
  • 9 kali Gempa Hembusan.
  • Nihil Tremor Harmonik.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 1 mm.

Tanggal 07 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil Gempa Hembusan
  • 12 kali Gempa Low Frequency.
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)
  • Nihil Tektonik Lokal.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-20 mm (dominan 1 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi letusan dan 33 gempa guguran. Secara visual teramati tinggi kolom abu tebal tekanan sedang 1500 m dari puncak. Erupsi tidak disertai guguran lava dan disertai awan panas guguran meluncur ke lereng selatan sejauh 3500 m.

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup tampak jelas hingga berkabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Erupsi berupa hembusan menerus kolom abu tebal tidak teramati karena tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf Tanggal 06 Desember 2017:

  • Tremor terkait hembusan abu menerus dengan amplitudo 0,5-10 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan nihil.
  • Vulkanik Dalam nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunung tampak berkabut dan secara visual hembusan asap kawah berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang tidak dapat diamati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 06 Desember 2017 tercatat:

  • 99 kali Gempa Letusan
  • 86 kali Gempa Hembusan
  • 38 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.

Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 150 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 06 Desember 2017 tercatat:

  • 3kali Gempa Hembusan
  • Nihil Tremor Harmonik.
  • 2 kali Gempa Tornilo
  • 1 kali Gempa Fase Banyak.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Tektonik Lokal.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Desember 2017 Pukul 23:02 WIB, terkait  letusan selama 300 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 09:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

2. Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara,

3. Kabupaten Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah,

4. Kabupaten Tapanuli Tengah , Provinsi Sumatera Utara,

5. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah,

7. Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh,

6. Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur,

7. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali,

8. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara,

9. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,

10. Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh,

11. Kabupaten Solok, Sumatera Barat,

12. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara,

13. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,

14. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan,

15. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur,

16.  Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah ,

17.  Kota Sabang, Provinsi Aceh,

18.  Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh,

19. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah,

20. Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur,

21. Kota Subulussalam, Provinsi Aceh,

22. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara,

23. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh,

24. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,

25.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur,

26. Kota Lhokseumawe , Provinsi Aceh,

27. Kabupaten Indramayu, Provinsi  Jawa Barat,

28. Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu,

29. Kabupaten Bireun, Provinsi  Aceh,

30. Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah / tanah longsor Tebing setinggi 12 meter ambrol dan menutupi akses jalan warga di RT 01/02 , Desa Bantarkaret,  Kecamatan Nanggung pada hari Senin (04/12) lalu.  Musababnya, kondisi tanahnya labil tak kuat me-nahan derasnya hujan. Saat hujan, wilayah tersebut selalu di landa longsor dan jalan ambles. Hal serupa juga kerap terjadi di wilayah lainnya. Camat Nanggung Mulyadi menjelas¬kan, ada tiga desa rawan long¬sor. Selain Bantarkaret, dua lainnya adalah Desa Cisarua dan Malasari.

Sumber  :

http://www.radarbogor.id/2017/12/06/tiga-desa-langganan-longsor/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicuh oleh curah hunjan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi

  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali dan pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang dapat  menimpa petugas kebersihan;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Melakukan penguatan pada lereng;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.