Laporan Kebencanaan Geologi 31 Desember 2017

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 31 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-1000 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2017 tercatat:

- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)

- 20 kali Gempa Hembusan

- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 31 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

- 2 kali Gempa Hembusan

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

- Status Level IV (Awas) hanya berlaku pada radius 8-10 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan NORMAL dan masih tetap AMAN.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 100-400 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah baratdaya-barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 2800 m diatas puncak, dan 54 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah timur-tenggara.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2017 Pukul 14:58 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 5260 m di atas permukaan laut atau 2800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat-baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 30 Desember 2017 tercatat:

- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).

- 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2017 pukul 08:00 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 30 Desember 2017 tercatat:

- 100 kali gempa letusan

- 55 kali gempa Hembusan

- 34 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 10 m diatas kawah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 30 Desember 2017 tercatat:

- 86 kali Gempa Hembusan

- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam

- 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat

Penyebab

Penyebab gerakan tanah diduga akibat tanah pelapukan yang tebal dan labil, kemiringan lereng yang curam, dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi dan lama sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Dampak

Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan jalur jalan  tertimbun dan  lalu lintas terputus sementara di jalur  lintas Sumatera Barat - Riau

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);

c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).

Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu putih hingga kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-1000 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 30 Desember 2017 tercatat:

- 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)

- 20 kali Gempa Hembusan

- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 31 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

- 2 kali Gempa Hembusan

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 100-400 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah baratdaya-barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 2800 m diatas puncak, dan 54 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah timur-tenggara.

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 30 Desember 2017 tercatat:

- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).

- 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 30 Desember 2017 tercatat:

- 100 kali gempa letusan

- 55 kali gempa Hembusan

- 34 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.

Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati berkabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah setinggi 10 m diatas kawah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 30 Desember 2017 tercatat:

- 86 kali Gempa Hembusan

- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam

- 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2017 Pukul 10:05 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2017 Pukul 14:58 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 5260 m di atas permukaan laut atau 2800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat-baratdaya.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Desember 2017 pukul 08:00 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1.Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat*,

2.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,

3. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi,

4. Kabupaten Pasuruan , Provinsi Jawa Timur,

5. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah,

6. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah,

7. Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah,

8. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali,

9. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara,

10.  Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,

11. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali,

12. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat,

13. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten,

14. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali,

15. Kabupaten Tapanuli Selatan , Provinsi Sumatera Utara,

16. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat ,

17.  Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat

Gerakan tanah terjadi Jorong Ulu Aia, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Terjadi pada Jumat, 29 Desember 2017, jam 20:40 WIB. Gerakan tanah ini mengakibatkan terputus sementara arus lalu lintas Sumatera Barat - Riau dengan panjang longsor yang menimbun badan jalan hanya sekitar 20 meter yang tertutupi material longsor berupa tanah dan batu. Longsor tersebut disebabkan hujan lebat yang terjadi sejak jumat sore dan  hingga malam  masih hujan, namun dengan intensitasnya ringan,

http://regional.liputan6.com/read/3210675/banjir-dan-longsor-landa-50-kota-jalur-sumbar-riau-mampet; http://pekanbaru.tribunnews.com/2017/12/29/limapuluh-kota-longsor-jalan-sumbar-riau-ditutup

Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dari tebing tepi jalan raya. Penyebab gerakan tanah diduga akibat tanah pelapukan yang tebal dan labil, kemiringan lereng yang curam, dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi dan lama sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

•Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama;

•Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim di sekitar tempat bencana gerakan tanah segera mengungsi ke tempat yang lebih aman;

•Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalulintas kembali lancar dengan tetap kewaspadaan selama melakukan kegiatan pembersihan tersebut;

•Melandaikan lereng, dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras;

•Memperbaiki drainase dan saluran air permukaan agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan serta tidak membiarkan bebas air melalui lereng;

•Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng;

•Memasang rambu rambu daerah rawan longsor di sepanjang jalan;

•Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;

•Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.