Laporan Kebencanaan Geologi 6 Januari 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 06 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap putih hingga kelabu tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah barat dan timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 05 Januari 2018 tercatat:

- 19 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)

- 20 kali Gempa Hembusan

- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) tidak terasa.

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 06 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)

- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)

- 4 kali Gempa Hembusan

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

- Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.

-Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

- Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan NORMAL dan masih tetap AMAN.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan abu vulkanik maksimum mencapai ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya dan selatan.

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-400 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara, timur, dan timurlaut. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1500-2500 m diatas puncak, dan 39 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 1000 m ke arah tenggara dan timur.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Januari 2018 Pukul 14:18 WIB, terkait letusan abu tebal tekanan sedang setinggi 4960 m dari permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya gunung tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 100-200 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 05 Januari 2018 tercatat:

- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).

- Gempa letusan nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Dari tanggal 02-06 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami kerusakan. Perbaikan segera dilakukan.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah tidak  teramati adanya asap kawah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 05 Januari 2018 tercatat:

- 5 kali Gempa Hembusan

- Nihil Gempa Fase Banyak.

- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam.

- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.

- Nihil Gempa Tektonik Lokal.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah

2.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

3.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah

4.Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah

5.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

6.Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah

7.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

8.Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali

9.Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat

10.Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng,  pemukiman dan jalan  di bangun di dekat tebing sungai, erosi sungai, sifat tanah pelapukan yang labil dan mudah terosi , vegetasi yang terus berkurang diperbukitan, tanah timbunan pada fondasi yang tidak kuat, talud yang tidak tertanam pada batuan keras, drainase air tidak berfungsi / tidak ada serta dipicuh oleh  tingginya curah hujan baik sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak :

Gerakan tanah / tanah longsor menutup jalan di Kabupaten  Magetan ( Provinsi Jawa Tengah) ,  di Kabupaten Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah), di Kabupaten Gianyar (Provinsi Bali ), dan di  Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur serta  mengancam puluhan rumah Kabupaten Banyumas (Provinsi Jawa Tengah); satu rumah warga rusak di Kabupaten Kebumen,  Banjarnegara( Provinsi Jawa Tengah), di  Kabupaten Jember ( Provinsi Jawa Timur) dan di Kabupaten Karawang  (Provinsi Jawa Barat) ; satu rumah terancam di Kabupaten Purbalingga (Provinsi Jawa Tengah)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);

c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).

Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap air tipis putih hingga kelabu tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah barat dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 05 Januari 2018 tercatat:

- 19 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)

- 20 kali Gempa Hembusan

- Nihil Tektonik Lokal (TL).

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 06 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)

- Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)

- 4 kali Gempa Hembusan

- Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lemah dari arah kawah setinggi 50-400 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara, timur, dan timurlaut. Melalui rekaman seismograf dan visual

tercatat 4 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1500-2500 m diatas puncak, dan 39 kali gempa guguran,  jarak luncur guguran 1000 m ke arah tenggara dan timur.

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap kawah putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 100-200 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 05 Januari 2018 tercatat:

- Gempa Letusan nihil.

- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).

- Tektonik Lokal nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan timur. Sistem rekorder seismograf dari tanggal 02-06 Januari 2018 mengalami kerusakan, perbaikan segera dilakukan.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati cerah hingga berkabut, saat cuaca cerah tidak teramati adanya asap kawah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 05 Januari 2018 tercatat:

- 5 kali Gempa Hembusan

- Nihil Gempa Fase Banyak.

- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal

- 5 kali Gempa Vulkanik Dalam

- Nihil Gempa Tektonik Lokal.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baradaya dan selatan.

(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Januari 2018 Pukul 14:18 WIB, terkait letusan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 4960 dari permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke timurlaut.

(3) G. Dukono, Maluku Utara. Children and adults like to play on this site in different games of shooting and playing pistols.

VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah*,

2.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah*,

3.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah*,

4.Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah*,

5.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur*,

6.Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah*,

7. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah*,

8. Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali*,

9. Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat*,

10. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur*,

11.Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah,

12.Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah,

13.Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan,

14. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,

15. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan,

16. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,

17. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah,

18.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.

19.Kabupaten Bantul, Provinsi DI. Yogyakarta,

20. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,

21. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,

22. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,

23.Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah,

24.Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat,

25. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali,

26.  Kabupaten Pidie , Provinsi Aceh,

27. Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau,

28. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,

29. Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat,

30. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah

Hujan deras yang mengguyur wilayah barat Jawa Tengah, pada Selasa sore hingga Kamis, 4 Januari 2018, memicu bencana tanah longsor dan pergerakan tanah di sejumlah kawasan Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Wonosobo.

  • Di Kabupaten Banyumas, longsor terjadi di lima titik. Rincinya, tiga titik di Kecamatan Lumbir, satu di Gumelar, dan satu titik di Ajibarang.
  • Di Kecamatan Lumbir, longsor dan pergerakan tanah terjadi di Desa Dermaji dan Karanggayam; Di Desa Dermaji, longsor menimpa jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Banyumas menuju Kabupaten Cilacap via Tayem, Kecamatan Karangpucung. Akibatnya, jalur sempat tak bisa dilewati baik oleh sepeda motor maupun mobil. Longsor juga mengancam dua rumah warga, yakni milik Takrib dan Heri . di Desa Karanggayam,  gerakan tanah terjadi di permukiman penduduk yang berada di lereng. Akibat peristiwa ini, penghuni tiga rumah yang berada di lereng tersebut harus diungsikan. Dikhawatirkan gerakan tanah akan berlanjut dan membahayakan jiwa penghuni. Di desa ini, hujan deras juga memicu longsor yang menutup jalan penghubung antardusun di Desa Karanggayam.
  • Kecamatan Ajibarang , gerakan tanah di Desa Darmakradenan. Dalam peristiwa itu, Gunung Batu Kapur di desa setempat ambrol dan mengancam perumahan warga di RT 01 RW 01.
  • Kecamatan Gumelar ; terjadi tanah longsor di Grumbul Karang Alang RT. 03/06, Ds. Paningkaban, Kec. Gumelar, Kab. Banyumas pada hari  Rabu, 3 Januari 2018 pukul 15.00 WIB. Dampak Longsor menutup jalan Ds. Paningkaban,

http://m.liputan6.com/regional/read/3215754/longsor-terjang-banyumas-banjarnegara-dan-wonosobo

http://bpbdjateng.info/aktivitas-/laporan-bencana/53-longsor/7072-tanah-longsor-di-kab-banyumas.html

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kemiringan lereng, tanah pelapukan yang muda tererosi, drainase air yang tidak berfungsi menyebabkan  air melimpas di jalan dan dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor.

2.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

Hujan deras disertai angin yang mengguyur Kecamatan Sruweng pada Sejak Rabu (03/01) hingga pagi hari tadi telah mengakibatkan tebing setinggi 8 meter dengan panjang 14 meter di RT 02/03 Desa Penusupan, Kecamatan Sruweng, mengalami longsor.

Kepala Desa Penusupan mengungkapkan, peritiwa tersebut terjadi pada hari Rabu (03/01) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Akibat dari kejadian tersebut, satu rumah milik warga setempat mengalami kerusakan yang cukup parah. tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun korban kini menderita kerugian material yang ditaksir mencapai Rp 15 juta

http://kebumen.sorot.co/berita-3295-link-.html

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, rumah yang dibangun didekat tebing, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah

4.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah

Jalan Potorono yang merupakan jalan provinsi ikut Desa Pulosaren Polsek Kepil Kabupaten Wonosobo kembali longsor.  Senin 18 /12/2017 telah terjadi longsor hingga menutup jalan membuat arus lalu lintas macet total telah berhasil dibuka kembali dan Kamis 4/1/2018 kembali longsor serta menutup separoh jalan. sepanjang jalan tanjakan Potorono  ini memang sangat rawan longsor apalagi bila musim penghujan. Maka pengguna jalan harus berhati-hati apalagi berada pada tanjakan terjal.  Tidak ada korban dalam peristiwa ini.

https://www.wonosobozone.com/%e2%80%8bjalan-potorono-longsor-lagi/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

4.Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah

Hujan deras telah membuat talut jalan penghubung antarwilayah Kecamatan Ngariboyo dan Plaosan di Desa Bangsri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur longsor, sejak Kamis (4/1/2018). Meskipun berada di perkampungan, jalur tersebut tergolong ramai. Banyak sepeda motor, mobil pribadi maupun pikap melintas di ruas jalan yang talutnya longsor. Sekarang dengan kondisi seperti ini, mobil tidak mungkin bisa lewat, sehingga harus memutar melewati jalur lain yang lebih jauh. Bagian talut yang longsor sepanjang 35 meter dengan ketinggian sekitar 20 meter yang menghubungkan tiga desa, di Dukuh Dawung Desa Bangsri, Kecamatan Ngariboyo

http://www.kbknews.id/2018/01/05/talut-jalan-penghubung-antar-kecamatan-di-magetan-longsor/

; dan https://kanalindonesia.com/33556/2018/01/05/diduga-salah-perencanaan-talud-tebing-desa-bangsri-magetan-longsor/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kemiringan lereng, tanah pelapukan yang muda tererosi, drainase air yang tidak berfungsi menyebabkan air terakumulasi di tubuh talud, kontruksi talud yang kurang kuat dan dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor.

5.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

Jembatan penghubung antar 2 desa Yaitu Desa Karangrejo dan Desa Gumukmas disamping sebelah Timur selatan plengsengan ambrol. Dampak dari akibat gejala alam tersebut salah satu penghuni rumah harus terpaksa pindah diduga karena ketakutan. Tangkis plengsengan Sungai Karangrejo yang diketahui warga ambrol pada Kamis (4/1/2018) sore kemarin. Dari lokasi plengsengan ambrol jembatan karang anyar tersebut terlihat memang berdampak pada bangunan milik warga bernama Khosim, (22) pemilik cucian motor yang secara langsung terkena imbas seperti pecahnya bangunan dan sebagian bangunanya terkena dampak dari gejala alam tersebut.

http://hukrim.memontum.com/6840-dampak-longsor-plengsengan-jembatan-karangrejo-berimbas-ke-rumah-warga

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat erosi sungai

6.Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah

  • Kecamatan Karang Kobar , hujan deras memicu tebing setinggi 12 meter dan lebar longsor tujuh meter di Desa Paweden, RT 01 RW 03, Kecamatan Karangkobar, longsor, Kamis, 4 Januari 2018, sekitar pukul 15.00 WIB. Akibatnya material tersebut menutup akses jalan kabupaten. Saat ini warga dari lima desa itu harus memutar hingga 8 kilometer untuk pergi kantor kecamatan atau pusat kabupaten. Longsor ini menutup akses jalan warga di lima desa. Meski tidak sampai terisolir namun warga harus memutar hingga 8 kilometer.
  • Kecamatan Purwanegara, gerakan tanah pada tebing yang ditumbuhi rumpun bambu terjadi di dusun Kromong, desa Kali Tengah pada Kamis pagi pukul 08:00 WIB mengakibatkan menutup akses jalan utama menuju pasar Merden dan jalur alternatif menuju Kebumen.

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3800228/tebing-longsor-di-banjarnegara-tutup-jalan-kabupaten; dan http://requisitoire-magazine.com/2018/01/05/tebing-longsor-di-banjarnegara-tutup-akses-jalan-kabupaten/; https://satelitpost.com/regional/tebing-longsor-tutup-jalan-kalitengah

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

7. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

Hujan deras dan angin kencang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Purbalingga, Jumat (5/12). Hujan deras juga menyebabkan longsor di desa Keranganyar Kecamatan Karanganyar. Akibat kejadian tersebut , satu rumah lagi rusak akibat longsor. Longsor yang terjadi di Desa Karanganyar Kecamatan Karanganyar, menyebabkan fondasi dan tembok rumah Kisran Sarmadi mengalami kerusakan. Kalau tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan yang menyebabkan rumah menjadi roboh. Untuk sementara, keluarga korban diungsikan ke rumah saudaranya

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/01/05/p22w2o415-hujan-angin-dan-longsor-dua-rumah-rusak.

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, struktur geologi setempat, dan dipicuh oleh curh hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

8. Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali

Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di jalan di Jalan Keliki-Tegallalang, kejadian ini berlangsung  tanggal 5 Januari 2018 sekitar jam 14.00. Bermula dari hujan deras yang terjadi sejak dinihari kemarin, membuat tebing di pinggir jalan itu menjadi labil. Dampaknya pohon di atas tebing di sebelah barat jembatan depan Villa Alam Sari dan tiang listrik tumbang menutupi jalan. Kejadian ini membuat ruas jalan yang menjadi penghubung Kecamatan Tegallalang dengan Kecamatan Payangan itu tertutup total

http://sinergi.radarmalang.id/longsor-tiang-listrik-melintang-di-jalan-keliki-tegallalang-bali-express/

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah

9. Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi  di Kabupaten Karawang, Kamis (4/1/2018) sekitar 16:00 WIB . Sebuah rumah di Dusun Kaligandu RT 004/002 di Desa Wanajaya, Telukjambe Barat, tergerus longsor. Saat itu, wilayah tersebut tengah dilanda hujan. Beruntung, tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya saja, sebuah rumah yang dihuni 6 orang  nyaris rata dengan tanah.

http://aksirasisoniafm.com/2018/01/05/1-rumah-di-kaligandu-telukjambe-nyaris-rata-dengan-tanah-tergerus-longsor/

Penyebab gerakan tanah  diperkirakan akibat  rumah di bangun dekat tebing, tanah pelapukan dan timbunan yang mudah tererosi dan dipicuh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

10. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur

Hujan deras yang mengguyur daerah Kota Batu mengakibatkan plengsengan bahu jalan di Jalan Melati RT01/RW03 Dusun Kapru, Desa Gunung Sari Bumiaji, Kota Batu, ambles dimana lokasi bahu jalan yang ambles ini terletak tepat di bibir sungai. Plengsengan bahu jalan yang ambrol memiliki dimensi panjang 15-20 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi sekira 7-8 meter. Kejadian longsor ini terjadi pada Kamis (4/1) sekira pukul 21.30 WIB, namun laporan baru diketahui pada Jumat (5/1) pukul 09.10 WIB. Hujan deras kemarin sore membuat debit air sungai brantas naik, sehingga menyebabkan plengsengan dan bahu jalan sepanjang 20 meteran ini, ambrol. Juga ada 9 pohon di pinggir jalan juga ikut ambrol

https://malangtoday.net/malang-raya/batu/bahaya-plengsengan-di-bibir-sungai-kota-batu-rawan-ambles/

Penyebab gerakan tanah  diperkirakan akibat  jalan  di bangun dekat tebing, tanah pelapukan dan timbunan yang mudah tererosi, erosi sungai dan dipicuh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi :

•Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama;

•Masyarakat yang bermukim pada rumah yang terancam ambruk agar mengungsi sementara waktu

•Agar dibangun bangunan penahan erosi sungai ;

•Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

•Tidak membangun di dekat  tebing sungai;

•Menata aliran air permukaan pada lereng ;

•Retakan segera ditutup agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut;

•Memelihara vegetasi berakar kuat dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng

•Memasang rambu rambu daerah rawan longsor di sepanjang jalan rawan longsor;

•Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;

•Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.