Laporan Kebencanaan Geologi 05 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Senin 05 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut dan sering hujan. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 04 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 05 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut.  Tinggi asap putih tipis tekanan sedang di kawah utama 50-500 m dari puncak. Angin umumnya berhembus ke segala arah barat, baratdaya, selatan, tenggara dan timur. Kolom abu letusan teramati putih kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 1200 m dari puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 500-1000 m ke arah tenggara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 04 Februari 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Letusan
  • 9 kali Gempa Guguran
  • 20 kali Gempa Low-Frequency
  • 3 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (tidak terasa).

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Februari 2018 pukul 00:28 WIB, terkait letusan selama 48 detik dan amplitudo maksimum 26 mm . Dua menit sebelumnya tinggi kolom abu letusan 3660 m dari permukaan laut atau 1200 m dari puncak (selama 115 detik dan amplitudo maksimum 80 mm) condong ke arah selatan.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan di kawah utama dengan ketinggian 200-400 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Kolom abu condong ke timur. Melalui seismograf tanggal 04 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-26 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 2 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Februari 2018 pukul 08:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300 - 600 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Seismograf berjalan normal. Kegempaan terakhir pada 04 Februari 2018  terekam :

  • 107 kali gempa letusan- 89 kali gempa Hembusan
  • 39 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut. Pengamatan secara visual asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 5-25 m. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 04 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :8 kali Gempa Hembusan.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi:

  1. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
  3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
  4. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, adanya lapisan kedap air bertindak yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah, saluran drainase yang kurang baik serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  satu rumah rusak berat, 2 korban meninggal dan satu anak trauma dKabupaten Banyuwangi (Provinsi Jawa Timur); lalu lintas terganggu di  Kabupaten Bireun, (Provinsi Aceh); satu rumah rusak dan warga dievakuasi di  Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat); satu rumah di relokasi dan 3 rumah warga lainnya terancam karena retakan tanah yang amblas di Kabupaten Kulonprogo (Provinsi D.I.Yogyakarta) Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di perairan barat, Sumatra Barat
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 4 Februari 2018, pukul 06:23:52 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,70° BT dan 1,24° LS, dengan magnitudo 4,8 SR pada kedalaman 22 km, berjarak 84 km baratdaya Pariaman, Sumatra Barat. Berdasarkan GFZ pusat gempa bumi berada pada koordinat 99,72° BT dan 1,27° LS, dengan magnitudo M 4,7 pada kedalaman 53 km. USGS menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,688° BT dan 1,399° LS, dengan magnitudo M 4,7 pada kedalaman 45,7 km.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa bumi:Berdasarkan BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Kota Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Pesisir Selatan dan Agam dengan intensitas II-III MMI serta di Padang panjang dengan intensitas I-II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi korban jiwa ataupun kerusakan.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut dan sering hujan. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 04 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik 
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 05 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Tinggi asap putih tebal tekanan sedang teramati 50-500 m dari puncak. Angin umumnya berhembus ke segala arah barat, baratdaya, selatan, tenggara dan timur. Tinggi kolom abu letusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1200 m dari puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 500-1000 m ke arah tengara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 04 Februari 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Letusan
  • 9 kali Gempa Guguran
  • 20 kali Gempa Low-Frequency
  • 3 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa  Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (tidak terasa).

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap hembusan/letusan di kawah utama dengan ketinggian 200-400 m dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang hingga tebal. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur. Melalui seismograf tanggal 04 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-26 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 2 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap dan abu erupsi dengan ketinggian 300-600 m dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga sedang. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga selatan. Seismograf berjalan normal. Kegempaan terakhir pada 04 Februari 2018 terekam :

  • 107 kali gempa letusan
  • 89 kali gempa Hembusan
  • 39 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung umumnya tertutup Kabut. Pengamatan secara visual asap kawah menunjukkan asap putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian 5-25 m dari puncak. Arah angin ke timur. Melalui rekaman seismograf pada 04 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :- 8 kali Gempa Hembusan.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:55 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Februari 2018 pukul 00:28 WIB, terkait dengan letusan selama 48 detik dan amplitudo maksimum 26 mm. Dua menit sebelumnya letusan abu mencapai ketinggian 3660 m dari permukaan laut atau 1200 kolom dari puncak (selama 115 detik dan amplitudo maksimum 80 mm) condong ke arah selatan.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Februari 2018 pukul 08:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
  3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta
  5. Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat
  6. Kabupaten Kudus, Jawa Tengah
  7. Kabupaten Muaro Jambi, Jambi
  8. Kabupaten Pati, Jawa Tengah
  9. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  10. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
  11. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten
  12. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat
  13. Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
  14. Kabupaten Banjar negara, Provinsi Jawa Tengah
  15. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  16. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,
  17. Kabupaten Badung, Provinsi  Bali
  18. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  19. Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten
  20. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta
  21. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
  22. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  23. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  24. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  25. Kabupaten  Manggarai,  Provinsi Nusa Tenggara Timur
  26. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  27. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur
  28. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi pada tebing setinggi 4 meter yang materialnya menimpa pemukiman yang berada di bawahnya di Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur pada hari Minggu, 4 Februari 2018 sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, memang kondisi hujan sangat deras. Air hujan menggerus tanah di sekitar rumah pasutri tersebut Gerakan tanah mengakibatkan 2 (dua) orang meninggal dunia dan 1 (satu) rumah rusak.
Sumber berita : http://www.balipost.com/news/2018/02/04/36490/Longsor-di-Sambungrejo,Pasutri-Tewas...html
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah yang poros dan mudah menyerap air, saluran drainase yang kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

2.Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
Gerakan tanah terjadi di Ruas jalan lintasan Bireuen-Takengon, tepatnya di kilometer 33, kawasan Suka Tani, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh pada hari Sabtu, 3 Februari 2018. Dampak gerakan tanah mengakibatkan Ruas jalan lintasan Bireuen-Takengon rusak sepanjang 10 meter.
Sumber berita : https://www.goaceh.co/berita/baca/2018/02/04/jalan-kilometer-33-bireuentakengon-longsor-lagi/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter#sthash.ENl8kowM.dpbs
Gerakan tanah diperkirakan berupa rayapan. Penyebab gerakan tanah diantaranya erosi sungai, kurangnya saluran drainase serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah / tanah longsor .

3. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

 Gerakan tanah / tanah longsor menimpah rumah warga bernama Ani ( 67) yang berada di bibir tebing di Kampung Carangpulang Rt 02/07, Desa Cikarawang Dramaga pada hari   Minggu (4/2/2018) sekitar pukul 13.30 WIB. Longsor diduga dipicuh oleh  curah hujan yang mengguyur Bogor sejak beberapa hari ini mengalami longsor. Warga sementara ini telah  di evakuasi ketempat yang lebih aman.
Sumber  : http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2018/02/04/kampung-carangpulang-terkena-longsor-rumah-nenek-ini-hancur-begini-kondisinya/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.

4.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta

Gerakan tanah / tanah longsor memicuh terjadinya retakan tanah sepanjang sekitar 500 meter di Pedukuhan Gerpule, Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang amblas pada Sabtu (03/02/2018) kemarin. Kejadiannya setelah hujan deras, ada suara gemuruh keras sekali, warga yang  berada di lokasi dan langsung lari menuju ke tempat yang aman Retakan tanah berbentuk tapal kuda ini amblas sedalam 25 meter dan berpotensi terjadinya longsor susulan. Retakan tersebut telah muncul sejak dua tahun lalu. Namun retakan tersebut mulai menunjukkan pergerakan yang signifikan sejak November 2017 lalu. Dampaknya satu rumah di relokasi dan 3 rumah warga lainnya terancam karena retakan tanah yang amblas 
Sumber :http://tribratanews.kulonprogo.jogja.polri.go.id/terjadi-tanah-longsor-di-wilayah-banjarharjo-kalibawang/;  dan http://www.jatengpos.com/2018/02/tanah-ambles-ancam-empat-kk-di-kulonprogo-891391
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, kondisi geologi setempat , tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,  drainase air tidak berfungsi mengakibatkan air mengalir / melimpas sisi tebing longsor, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

Rekomendasi :

  • Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran atau dibawah tebing agar selalu waspada terutama saat hujan;
  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Tidak melakukan aktifitas diatas atau dibawah tebing yang terjal;
  • Melakukan perkuatan pada tebing lereng;
  • Memasang rambu - rabu peringatan rawan longsor;
  • Tidak mendirikan bangunan yang terlalu dekat dengan tebing
  • Membuat saluran drainase yang kedap air, serta mengalirkannya menjauh dari retakan;
  • Memperkuat lereng pinggir sungai untuk menahan erosi;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.