Laporan Kebencanaan Geologi 13 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Selasa 13 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah dapat teramati setinggi 100-400 m di atas puncak. Teramati 1 kali letusan dengan ketinggian 700 m di atas puncak dan 12 kali guguran lava dengan jarak luncur 500-1500 m mengarah ke timur dan tenggara. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada 12 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 12 kali Gempa Guguran
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 8 kali Gempa Low-Frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali Gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Februari 2018 pukul 14:59 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 14:48 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke Selatan.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih setinggi 200-400 m di atas puncak. Angin mengarah ke Timur. Rekaman seismograf tanggal 12 Februari 2018 tercatat:

  • 7 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Tremor Harmonik
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Tanggal 13 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Februari 2018 pukul 07:39 WITA, terkait penurunan aktivitas vulkanik dan hembusan asap putih sekitar 100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timurlaut.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut.  Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut. Melalui seismograf tanggal 12 Februari 2018 tercatat:

  • Gempa Letusan 1 kali
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm).

Tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Februari 2018 pukul 08:04 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1329 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Timur dan Barat. Pada 12 Februari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan (carrier off).  
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian maksimum 5-25 meter di atas puncak, condong ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Februari 2018 tercatat:

  • 18 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  • Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
  • Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  • Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, tanah lapukan/ tanah urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, kurang berfungsinya drainase/saluran air menyebabkan air melimpas pada tebing di dekat pemukiman dan jalur jalan, serta di picu  oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah
Dampak: Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan   satu villa rusak parah dan akses jalan terputus di Kabupaten Tegal ( Provinsi Jawa Tengah); arus lalu lintas lumpuh 6 jam di Kabupaten Pacitan (Provinsi Jawa Timur); lalu lintas terganggu, 3 rumah rusak dan satu orang terluka di Kabupaten Magelang (Provinsi Jawa Tengah); 2 rumah warga rusak dan lalu lintas terhambat di Kabupaten Kulon Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta); 5 rumah rusak di  Kabupaten Ponorogo (Provinsi Jawa Timur); jalan rusak dan lalu lintas terganggu di Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah) dan di Kabupaten Bogor, (Provinsi Jawa Barat).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Laporan Harian TIm Tanggap Darurat PVMBG -Badan Geologi Gempa bumi Pidie
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 8 Februari 2018, pukul 16.52.47 WIB. Berdasarkan informasi BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 4,66 LU dan 96,27 BT, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 10 km, berlokasi di darat pada jarak 26 km timur laut kabupaten Aceh Barat. Berikut hasil pemeriksaan Tim Tanggap Darurat di lapangan pada 12 Februari 2018.

  1. Mengunjungi Pos PGA Peut Sagoe di Ds Mane, Kec. Mane. Berdasarkan data PPGA Peut Sagoe terekam sebanyak 8 kali gempa bumi susulan setelah gempa bumi utama tanggal 8-12-2018.
  2. Melakukan pemeriksaan dampak Gempa bumi di Ds Bangkeh, SMP N 1 Mane, SMA N 1 Geumpang dan Puskesmas Geumpang.
  3. Melakukan diskusi tentang mitigasi gempa bumi dengan penduduk Ds Bangkeh.
  4. Melakukan pengukuran mikrotremor di Ds Bangkeh, SMP N 1 Mane, timur Puskesmas Geumpang.
  5. Besok Tim Tanggap Darurat akan melanjutkan pemeriksaan di Desa lain di Kec Geumpang dan Kec Mane.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah dapat teramati setinggi 100-400 m di atas puncak. Teramati 1 kali letusan dengan ketinggian 700 m di atas puncak dan 12 kali guguran lava dengan jarak luncur 500-1500 m mengarah ke timur dan tenggara. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada 12 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 12 kali Gempa Guguran
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 8 kali Gempa Low-Frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali Gempa Tektonik Lokal

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih setinggi 200-400 m di atas puncak. Angin mengarah ke Timur. Rekaman seismograf tanggal 12 Februari 2018 tercatat:

  • 7 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Tremor Harmonik
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Tanggal 13 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut.  Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut. Melalui seismograf tanggal 12 Februari 2018 tercatat:

  • Gempa Letusan 1 kali
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm).

Tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Timur dan Barat. Pada 11 Februari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan (carrier off).  
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian maksimum 5-25 meter di atas puncak, condong ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Februari 2018 tercatat:

  • 18 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Februari 2018 pukul 14:59 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 14:48 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke Selatan.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Februari 2018 pukul 07:39 WITA, terkait penurunan aktivitas vulkanik dan hembusan asap putih sekitar 100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timurlaut.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Februari 2018 pukul 08:04 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1329 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
  3. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  4. Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  6. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  7. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  8. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  9. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat
  10. Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara
  11. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  12. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan
  13. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  14. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur 
  15. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
  16. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  17. Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan
  18. Kabupaten Gunung Mas,  Provinsi Kalimantan Tengah
  19. Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  20. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  21. Kabupaten  Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  22. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  23. Kabupaten Sragen, Provinsi  Jawa Tengah
  24. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  25. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
  26. Kabupaten Jember , Provinsi Jawa Timur
  27. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
  28. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
  29. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  30. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  31. Kabupaten Jepara, Provinsi  Jawa Tengah
  32. Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah
  33. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  34. Kabupaten Minahasa Selatan , Provinsi Sulawesi Utara
  35. Kota Menado, Provinsi Sulawesi Utara
  36. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
  37. Kabupaten  Serang, Provinsi Banten
  38. Kabupaten  Jember, Jawa Timur.


Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor pada tebing menimpah  sebuah vila di objek wisata Guci ambruk yang merupakan milik pemerintah daerah setempat akibat diguyur hujan yang cukup deras selama beberapa hari. Selain itu masih dititik yang sama yaitu jalan setapak dari parkiran sebelah barat menuju pancuran 13 dan pancuran 5 tertutup tanah longsor. Dampak longsor tersebut mengakibatkan sebuah  vila yang sudah dibangun sejak 30 tahun itu rusak parah. 
Sumber :  https://kumparan.com/panturapost/vila-di-objek-wisata-guci-tegal-ambruk-terbawa-tanah-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran tanah.

2.Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
Curah hujan tinggi memicuh  gerakan tanah / tanah longsor pada  tebing setinggi 10 meter dan panjang 15 meter yang  menutup jalur Pacitan-Ponorogo sehingga arus lalu lintas menjadi lumpuh selama 6 jam. Diatas jalur Pacitan-Ponorogo merupakan tanah perbukitan dengan kontur tanah yang labil. 
Sumber :  https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3862197/jalur-pacitan-ponorogo-kembali-normal-usai-terdampak-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, tanah yang bersifat porus dan labil, serta di picu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran tanah.

3.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi  di : 

  • Dusun Ngaglik, Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur; Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Desa Giri Tengah sejak Minggu (11/2/2018) mengakibatkan terjadinya tanah longsor pada pukul 19.30 WIB dimana mengakibatkan dua rumah rusak dan seorang terluka.
  • Dusun Banar, Desa Deangan, Kecamatan Mertoyudan; Hujan yang terjadi sejak minggu siang menyebabkan tebing setinggi 4 meter dengan panjang 15 meter longsor dimana ketebalan material longsoran antara 20 hingga 30 cm dan panjang material longsoran 10 meter, material longsoran cukup membahayakan pengguna jalan dimana akses jalan sebagian tertutup dan menutup saluran air hingga meluap ke badan jalan.
  • Dusun Tukung, Desa Ngemplak , Kecamatan Windusari; Hujan yang terjadi sejak minggu siang menyebabkan tebing setinggi 25 meter dengan panjang 12 meter longsor dan menyebabkan 1 rumah mengalami kerusakan.  

Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, Tanah yang bersifat porus dan labil, kurangnya vegetasi serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran tanah.
4.Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di : 

  • Pedukuhan Menggermalang Desa Gerbosari Kecamatan Samigaluh; hujan yang deras yang terjadi sejak minggu sore (11/2/2018) mengakibatkan tebing jalan setinggi 15 meter dan sepanjang 30 meter longsor dimana material longsoran tersebut mengenai bagian samping dan belakang salah satu rumah penduduk.
  • Desa Gerbosari Kecamatan Samigaluh; hujan yang deras yang terjadi sejak minggu sore (11/2/2018) mengakibatkan longsor dimana material longsor mengenai salah satu rumah warga.
  • Desa Purwoharjo dan Desa Sidoharjo Kecamatan Samigaluh; hujan yang deras yang terjadi sejak minggu sore (11/2/2018) mengakibatkan ases jalan tertutup oleh material longsor

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2018/02/12/longsor-di-samigaluh-kulonprogo-terjang-rumah-warga
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, Tanah yang bersifat porus dan labil, serta di picu oleh  curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran tanah.

5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di dua kecamatan yaitu Kecamatan Ngrayun dan Kecamatan Slahung di Kabupaten Ponorogo pada . Minggu (11/2/2018) malam. Sebelumnya, hujan deras mengguyur wilayah Ponorogi sejak Minggu sore hingga malam. Dampaknya  lima rumah yang rusak milik Suwarno, 63, warga Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung;  Sukadi, 58, warga Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun; Janiyo, 57, warga Desa Sendang Ngrayun; Nyamin, warga Baosan Lor, Ngrayun; dan rumah Juri, warga Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun. Rumah yang rusak itu berada di bawah tebing. Seperti yang terjadi di Desa Baosan Kidul, rumah milik Sukadi diterjang longsoran tanah dari tebing setinggi empat meter.
Sumber : http://www.jatengpos.com/2018/02/longsor-ponorogo-5-rumah-di-ngrayun-dan-slahung-rusak-diterjang-tanah-longsor-893924
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, Tanah yang bersifat porus dan labil, serta di picu oleh  curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran tanah.

6.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor pada jalur jalan jalan raya Bulukerto-Slogohimo, Senin (12/2) pagi yang dipicuh oleh hujan yang turun di wilayah Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Atas kejadian tersebut kerugian akibat kerusakan infrastruktur mencapai Rp 300 juta.  yang merusak jalan milik DPU Kabupaten tersebut terjadi di ruas jalan Bulukerto - Slogohimo tepatnya 60 meter dari Mako Polsek Bulukerto. Volume yang mengalami longsor panjang sekitar 10 meter tinggi sekitar 8 meter sedangkan badan jalan yang ikut longsor mencapai sepertiga dari lebar jalan 5 meter. 
Sumber  : http://www.wawasan.co/home/detail/2625/Jalan-Longsor-di-Bulukerto-Kerugian-Rp-300-Juta
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, tanah lapukan / urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, kurang berfungsinya drainase/saluran air menyebabkan air melimpas pada tebing di dekat pemukiman dan jalur jalan, serta di picu  oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah

7. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Citeureup – Hujan deras yang mengguyur Citereup cukup membuat warga ketar-ketir. Pasalnya sebagian wilayah Kecamatan Citeureup yang berbukit bukit, membuat bencana longsor bisa kapan saja terjadi. Seperti longsor yang terjadi di jalan Raya Citeureup – Sukamakmur, Kampung Lewibilik Desa Tajur Kecamatan Citeureup pada tanggal 11 Februari 2018 hari Sabtu malam sekitar pukul 19.00 WIB. Longsor menutup sebagian jalanraya, akibatnya akses jalan tidak dapat dilalui. Saat ini jalan sudah dapat dilintasi, walaupun hanya satu sisi. 
Sumber  : http://www.metropolitan.id/2018/02/jalan-raya-citeureup-sukamakmur-tertutup-longsor/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, Tanah yang bersifat porus dan labil, serta di picu oleh  curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran tanah.

Rekomendasi 

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
  • Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi gerakan tanah susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah;
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Tidak membangun pemukiman di dekat  tebing / lereng;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geologi teknik.