Laporan Kebencanaan Geologi 6 April 2018

 Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 6 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah setinggi 100 - 700 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, timur laut, selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 5 April 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Fase Banyak
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah - sedang ke arah timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 5 April 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 10 kali Gempa Tektonik Jauh

Teramati erupsi pada pukul 01:37 WITA dengan kolom ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak (3642 m di atas permukaan laut) dimana abu teramati berwarna kelabu, condong ke arah Barat. Terkait erupsi ini telah dikirimkan VONA dengan kode warna Orange pada pukul 02:09 WITA.Tanggal 6 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 100-300 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 5 April 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2018 pukul 09:28 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 5 April 2018 tercatat:

  • 95 kali Gempa Letusan
  • 43 kali Gempa Hembusan
  • 22 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2018 yang dibandingkan bulan Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung

2.Kota Tanggerang, Provinsi Jawa Banten

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi, erosi sungai serta dipicuh curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan 2 rumah warga rusak dan longsor menutupi sebagian jalan di Kota Lampung (Provinsi Lampung); satu rumah pinggir sungai rusak di Kota Tanggerang (Provinsi Jawa Banten); lahan pertanian kentang milik warga dan jalan desa tertimbun material di Kabupaten Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah)

Longsor terjadi di Desa Campursari, Kecamatan Kejajar longsor pada Rabu (04/04/2018), sekitar pukul 05.00. Longsor pada tebing dengan ketinggian lebih dari 15 meter di sepanjang jalur Desa Campursari ygang mengakibatkan areal lahan pertanian kentang milik warga dan jalan desa tertimbun material.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah setinggi 100 - 700 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, timur laut, selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 5 April 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Fase Banyak
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 6 April 2018 dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 500 m dari puncak. Angin bertiup lemah - sedang ke arah timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 5 April 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 10 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 6 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi umumnya tertutup kabut dan cerah, teramati asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 100-300 m dari puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 5 April 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 5 April 2018 tercatat:

  • 95 kali Gempa Letusan
  • 43 kali Gempa Hembusan
  • 22 kali Gempa Tremor Harmonik

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 02.09 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 01.37 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Maret 2018 pukul 09:28 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2018 yang dibandingkan bulan Maret 2018 akan relaif potensinya menurun di seluruh indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir terjadi di:

1.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung*,

2.Kota Tanggerang, Provinsi Banten*,

3. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah*,

4. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur,

5. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,

6. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung,

7. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung,

8..Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,

9.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,

10. Kabupaten Sleman , Provinsi DIY,

11. Kabupaten Sumedang , Provinsi Jawa Barat,

12. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,

13.Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (Okus), Provinsi Sumatera Selatan,

14.Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo,

15.Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara, 16.Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung

Longsor terjadi di Jalan WR Supratman, Gang Raden Danial RT 07 Lk 2, Kelurahan Gunung Mas, Kecamatan Telukbetung Selatan, dan Jalan Raden Imba Kusuma, Kelurahan Beringin Raya RT-06/RW-06, Kecamatan Kemiling, Bandarlampung, Rabu (4/4//2018) malam. Mengenai mengenai 2 rumah warga di kelurahan Gunung Mas, dan pinggir jalan Kelurahan Beringin.

Sumber: http://translampung.com/warga-bandarlampung-dilanda-musibah-longsor-lagi/

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kota Tangerang, Provinsi Banten

Terjadi longsor di bibir Kali Angke, Sudimara Selatan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Rabu (4/4/2018) dinihari, yang mengakibatkan satu rumah di samping kali rusak berat.

Sumber: https://wartabanten.id/2018/04/diguyur-hujan-rumah-warga-di-ciledug-longsor.html?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+WartaBanten+%28Warta+Banten+Online%29

Penyebab gerakan tanah diduga akibat tererosinya turap sungai yang dipicu oleh meningkatnya debit air sungai dikarenakan curah hujan yang tinggi. Tipe gerakan tanah merupakan erosi lateral.

3. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah

Longsor terjadi di Desa Campursari, Kecamatan Kejajar longsor pada Rabu (04/04/2018), sekitar pukul 05.00. Longsor pada tebing dengan ketinggian lebih dari 15 meter di sepanjang jalur Desa Campursari ygang mengakibatkan areal lahan pertanian kentang milik warga dan jalan desa tertimbun material.

Sumber:http://wonosobo.sorot.co/berita-2648-tebing-belasan-meter-longsor-jalan-dan-lahan-pertanian-tertutup.html

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi:

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
  • Warga yang bertempat tinggal di atas tebing yang longsor untuk mengungsi ke tempat yg lebih aman, dan warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing tersebut.
  • Segera memperbaiki turap agar longsoran tidak meluas
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar longsoran agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai atau sekitar tebing sungai harap waspada terhadap potensi longsoran susulan
  • Jika muncul retakan segera ditutup dengan tanah agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.