Laporan Kebencanaan Geologi 15 April 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 15 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih-kelabu intensitas tebal, tekanan sedang setinggi 200 m di atas puncak. Teramati titik api (api diam) di puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai erupsi. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 14 April 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 14 April 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 15 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2018 pukul 09.48 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 09.04 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas sedang hingga tebal, tekanan sedang setinggi 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 14 April 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-14 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 April 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 14 April 2018 tercatat:

  • 115 kali Gempa Letusan
  • 55 kali Gempa Hembusan
  • 9 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2018 yang dibandingkan bulan Maret   2018,   relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi yang dipicuh curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan akses jalan tertimbun longsor di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktifitas dan pengguna jalan di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.
  • Masyarakat agar menggunakan jalur alternatif lain dan tidak memaksakan lewat daerah longsor hingga jalan dibersihkan dan dinyatakan aman dari pemerintah setempat.
  • Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan agar akses jalan dapat pulih kembali. Proses pembersihan agar selalu mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap gerakan tanah susulan.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Baratdaya Lampung Selatan

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 15 April 2018, pukul 01:02 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 105,34° BT dan 6,17° LS , dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 71 km baratdaya Lampung Selatan, Lampung. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 105,50° BT dan 6,01° LS , dengan magnitudo 4,6 Mw pada kedalaman 10 km. Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 105,205° BT dan 6,282° LS , dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 57,7 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat Gempa Bumi berlokasi di Selat Sunda, wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah pesisir selatan Lampung dan pesisir barat Banten. Wilayah tersebut didominasi oleh batuan Vulkanik dan sedimen berumur Kuarter. Batuan Kuarter tersebut umumnya bersifat urai, lepas, belum kompak sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan pergerakan sesar aktif yang berada di Selat Sunda.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih-kelabu intensitas tebal, tekanan sedang setinggi 200 m di atas puncak. Teramati titik api (api diam) di puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai erupsi. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 14 April 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, namun pada tanggal 6 April 2018 pukul 01.37 terjadi erupsi dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 14 April 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 15 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas sedang hingga tebal, tekanan sedang setinggi 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 14 April 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-14 mm (dominan 2 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

 

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 14 April 2018 tercatat:

  • 115 kali Gempa Letusan
  • 55 kali Gempa Hembusan
  • 9 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 12 April 2018 pukul 17:25 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:55 WIB dimana tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut, angin bertiup ke barat - baratdaya.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2018 pukul 09.48 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 09.04 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.