Laporan Kebencanaan Geologi 17 Mei 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 17 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga hujan, teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 700 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 16 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum antara 1-56 mm (dominan 15 mm).

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis dengan ketinggian 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 16 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 17 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 April 2018 pukul 23:17 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level I (NORMAL). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 16 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Guguran
  • 2 kali Gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Pemerintah Daerah dan masyarakat pada umumnya agar segera melakukan upaya penanggulangan bahaya abu vulkanik agar gangguan kesehatan dan kerugian yang lain akibat abu vulkanik dapat diminimalisir.
  • Letusan freatik masih mungkin terjadi kembali di waktu yang akan datang. Masyarakat yang bermukim di sekitar G. Merapi untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya abu.
  • Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar di luar radius 2 km, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait penurunan potensi terjadinya erupsi.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 16 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-14 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 Mei 2018 pukul 18:18 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui seismograf tanggal 16 Mei 2018 tercatat:

  • 76 kali Gempa Letusan
  • 42 kali Gempa Hembusan
  • 24 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.            Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

2.            Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.

3.            Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan.

Penyebab : Penyebab diperkirakan akibat kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan atu orang meninggal dunia, dan satu orang luka-luka. di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat);lalulintas dari arah jalan nasional Sidikalang menuju Silalahi dan sebaliknya sempat putus total di Kabupaten Dairi (Provinsi Sumatera Utara);badan jalan tertimbun material longsoran, 9 motor tertimbun material longsoran di Kabupaten Sinjai (Provinsi Sulawesi Selatan)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Tenggara Tolikara, Papua

Informasi Gempa bumi:

Gempabumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 16 Mei 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 09:12:16 WIB, pusat gempa berada pada koordinat 3,70° LS dan 138,67°BT dengan magnituda 6,1 SR pada kedalaman 111 km berjarak 132 km tenggara Tolikara, Papua.

Kondisi geologi daerah terdekat:

Pusat gempa bumi berada di darat, daerah sekitar disusun oleh batuan ultramafik, metamorf dan karbonat yang berumur Pra Tersier dengan lereng curam, lalu batuan gunungapi Tersier dan batuan Kuarter yang bersifat lepas sehingga memperkuat efek goncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan patahan lokal

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban. Berdasarkan BMKG, terasa MMI III-IV di Wamena, MMI III di Nabire dan Genyem. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena berpusat di darat.

2) Gempa bumi di perairan selatan Pulau Jawa (Baratdaya Pacitan), Jawa Timur

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 16 Mei 2018, pukul 22:30:16 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 110,35° BT dan 11,10° LS, dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 29 km, berjarak 335 km barat daya Pacitan, Jawa Timur. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 110,41° BT dan 10,96° LS , dengan magnitudo M4,9 pada kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di selatan Pulau Jawa. Daerah yang berdekatan dengan pusat  gempa bumi tersusun atas batuan sedimen berumur Tersier dan batuan vulkanik berumur Kuarter. Getaran gempa bumi terasa pada batuan vulkanik yang bersifat urai dan tidak terkompaksi sehingga bersifat memperkuat efek guncangan.

Penyebab gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga hujan, teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 700 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 16 Mei 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum antara 2-56 mm (dominan 15 mm).

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 30 April 2018 pukul 22:45 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis dengan ketinggian 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 16 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 17 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Gunung Merapi secara administratsi terletak di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. G. Merapi (2913 m dpl) mengalami letusan freatik tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB. Kolom asap letusan setinggi 5500 m di atas puncak. Letusan ini merupakan letusan freatik yang ke 7 paska erupsi 2010 berselang 4 tahun sejak letusan freatik terakhir pada tanggal 20 April 2014.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Melalui rekaman seismograf pada 16 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Guguran
  • 2 kali Gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 16 Mei 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-14 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui seismograf tanggal 16 Mei 2018 tercatat:

  • 76 kali Gempa Letusan
  • 42 kali Gempa Hembusan
  • 24 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 April 2018 pukul 23:17 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

(3) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Mei 2018 pukul 15.01 WITA, terkait penurunan potensi terjadinya erupsi.

(4) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 15 Mei 2018 pukul 18:18 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

(5) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018 akan relatif potensinya sama di seluruh indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

2.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara*,

3.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan*,

4. Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara,

5.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan,

6.Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Gerakan tanah terjadi di Kampung Sengked RT 03/ RW03, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada Hari Rabu, 16 Mei 2018, pukul 18.00 wib. Gerakan tanah ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia, dan satu orang luka-luka.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/710550/polisi-evakuasi-warga-akibat-longsor-bogor

Penyebab gerakan tanah akibat kemiringan lereng yang terjal dipicu ujan deras yang terjadi sejak siang hari. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.a

Gerakan Tanah terjadi di badan Jalan menuju lokasi Danau Toba, Pantai Silalahi-Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara. Terjadi pada hari Rabu, 16 Mei 2018, sekitar pukul 05.00 WIB. Gerakan tanah ini mengakibatkan lalulintas dari arah jalan nasional Sidikalang menuju Silalahi dan sebaliknya sempat putus total.

Sumber:http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2018/05/16/37167/jalan_ke_lokasi_wisata_silalahi_paropo_tertutup_longsor/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana, kondisi tanah pelapukan yang labil, kemiringan lereng yang terjal. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3.Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gerakan tanah di sekitar wilayah PLTA Tangka, Minipi, Kelurahan Tassiliu Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Terjadi pada hari Senin, 14 Mei 2018 sekitar pukul 01.00 WITA. Gerakan tanah ini mengakibatkan badan jalan tertimbun material longsoran, 9 motor tertimbun material longsoran.

 

Sumber: https://suarajelata.com/2018/05/16/tanah-longsor-di-sinjai-barat-9-motor-tertimbun/

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimbun badan jalan disekitar PLTA. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

Rekomendasi:

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
  • Melandaikan lereng, menata drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geotek.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing bagian atas.
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemrintah daerah / BPBD setempat.