Laporan Kebencanaan Geologi, 28 Mei 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

 

I. SUMMARY :
Hari ini, Senin 28 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Mei 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 5 kali gempa Tornillo
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 182 kali gempa Hembusan

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi :

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 27 Mei 2018 tercatat :

  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Hembusan

Tanggal 28 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 30 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Mei 2018 tercatat :

  • 6 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA :

VONA terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:34 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 600 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 400 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Melalui seismograf tanggal 27 Mei 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-18 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

 Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

 VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 14:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan utara.

Melalui seismograf tanggal 27 Mei 2018 tercatat :

  • 159 kali gempa Letusan
  • 142 kali gempa Hembusan
  • 47 kali gempa Guguran

Rekomendasi :

 Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA : 

 VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei  2018 yang dibandingkan bulan April 2018, relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Seluma , Provinsi Bengkulu
  2. Jakarta Selatan , Provinsi DKI Jakarta
  3. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
  4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  5. Kota Subulussalam dan Sabang, Provinsi Aceh
  6. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera barat

Penyebab : 

Penyebab longsor diperkirakan kemiringan lereng terjal, tanah pelapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.

Dampak  :

Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan arus lalu lintas terganggudi Kabupaten Seluma (Provinsi Bengkulu), di Kabupaten Pesisir Selatan ( Provinsi Sumatera Barat)di Kota Subulussalam dan Sabang, ( Provinsi Aceh) dan di Kabupaten Limapuluh Kota ( Provinsi Sumatera barat); satu rumah kontrakan tertimpa longsordi Jakarta Selatan ( Provinsi DKI Jakarta); ;seorang anak berusia 4 tahun meninggal dunia dan satu rumah tertimpa longsor di Kabupaten Agam (Provinsi Sumatera Barat);

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
 

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Merapi, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Mei 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 5 kali gempa Tornillo
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 182 kali gempa Hembusan

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 27 Mei 2018 tercatat :

  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Hembusan

Tanggal 28 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung. Anda dapat Auckland escort on rentgirl direktori lokal.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian 30 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Mei 2018 tercatat :

  • 6 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 600 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 400 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Melalui seismograf tanggal 27 Mei 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-18 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan utara.

Melalui seismograf tanggal 27 Mei 2018 tercatat :

  • 159 kali gempa Letusan
  • 142 kali gempa Hembusan
  • 47 kali gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke tenggara.
  3. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:34 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.
  4. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 14:13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
  5. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
  6. Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Mei 2018 yang dibandingkan bulan  April 2018  akan  relatif potensinya sama  di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kabupaten Seluma , Provinsi Bengkulu
  2. Jakarta Selatan , Provinsi DKI Jakarta,
  3. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,
  4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  5. Kota Subulussalam dan Sabang, Provinsi Aceh,
  6. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera barat,
  7. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,
  8. Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara,
  9. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara,
  10. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,
  11. Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra Utara, 
  12. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 
  13. Kabupaten Mandailing Natal (Madina),  Provinsi Sumatera Utara,
  14. Kabupaten Pinrang,  Provinsi Sulawesi Selatan,
  15. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi,
  16. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu,
  17. Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi,
  18. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah,
  19. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,
  20. Kabupaten Empatlawang, Provinsi Sumatra Selatan,
  21. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan,
  22. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,
  23. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur,
  24. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Seluma , Provinsi Bengkulu 

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Seluma dan sekitarnya sejak siang hingga sore hari menyebabkan longsor terjadi di Desa Kota Agung Kecamatan Seluma Timur, sekira pukul 17.30 WIB, Minggu (27/05/2018).Longsor tebing setinggi 10 meter yang berada diatas Jalan Lintas Barat (Jalinbar) yang menghubungkan Bengkulu-Lampung tersebut, mengakibatkan setengah badan jalan tertutup tanah, sehingga mengakibatkan arus lalu lintas terganggu

Sumber  : 

http://pedomanbengkulu.com/2018/05/longsor-tutup-sebagian-jalinbar-di-seluma-2/

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan  dan batuan/tanah yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan durasi lama.

2. Jakarta Selatan , Provinsi DKI Jakarta 

Terjadi tanah longsor di kawasan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Longsor menimpa satu rumah kontrakan, Minggu (27/5/2018). Kejadian dimulai sejak 17.30 WIB, akibatnya longsor menimpa satu rumah kontrakan. Untungnya tidak ada orang di rumah kontrakan Haji Syafruddin.

Sumber :

https://news.detik.com/berita/4041224/longsor-di-petukangan-utara-jaksel-timpa-kontrakan-warga

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat tanah yang tebal dan kelerengan.

3. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat

Hujan Deras yang menguyur sejak pukul 14.00 Wib di Kota Painan dan sekitarnya membuat beberapa titik rawan longsor terjadi, diantaranya ruas Jalan Painan- Kambang Tepatnya Di Bukit Ransam Kec.IV Jurai Kab.Pesisir Selatan,Minggu 27 Mei 2018. Seperti diketahui, sejak Sabtu 26 Mei 2018 sampai Minggu 27 Mei 2018, intensitas hujan di Kota Painan terlihat cukup tinggi.

Sumber :

http://www.kabarnagari.com/2018/05/hujan-deras-beberapa-ruas-jalan-di.html

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat Kelerengan , tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi

4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

Hujan lebat yang terjadi di sebagian wilayah di Sumatera Barat, sejak Sabtu (26/5/2018) pagi hingga malam, mengakibatkan banjir dan longsor di sejumlah kecamatan di Kabupaten Agam, yaitu di Baso, Sungai Puar dan Tanjung Mutiara. Bahkan di Baso, tepatnya di kawasan Kasiak, Jorong Baruah, Nagari Padang Tarok, seorang anak berusia 4 tahun bernama Ahmad Mufadel Afif, meninggal dunia setelah tertimbun longsoran tebing setinggi 5 meter yang ada di dekat rumahnya sekitar pukul 11.30 WIB. 

Sumber :

https://sumatraberita.com/hujan-lebat-di-sumbar-berakibat-banjir-bocah-4-tahun-tewas-tertimbun-longsor-di-wilayah-agam/

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat Kelerengan , tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi

5. Kota Subulussalam dan Sabang, Provinsi Aceh

Akses jalan nasional wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela) menuju Medan, Sumatera Utara lumpuh total akibat badan jalan longsor sehingga badan jalan putus total, Sabtu, 26 Mei 2018, petang. Lokasi badan jalan putus berada di wilayah Pakpak Bharat, Simpang Lae Merempat, Buluh Didi lewat Pos Polisi Jalan Raya (PJR). Akibatnya Jalan Aceh, Subulussalam menuju Medan putus total tepatnya di buluh didi. Sejumlah kendaraan roda empat juga tampak terparkir di sana tidak bisa melintas, satu unit alat berat berada di lokasi sedang mengais timbunan longsor agar tidak saluran air tidak tersumbat. Lokasi badan jalan putus berjarak sekitar 7 km dari wilayah perbatasan Sumut Aceh yakni Desa Lae Ikan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam.Sementara di Sabang longsor di Gampong Kuta Ateuh dan Lingkungan Taqwa, Gampong Ie Melee Kecamatan Sukajaya

Sumber :

https://sumugah.com/jalan-nasional-aceh-medan-putus-total-akibat-longsor/

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan  dan batuan/tanah yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan durasi lama.

6. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera barat

Minggu 27/5 dinihari sekitar jam 01.30 wib jalan menuju Nagari Maek Kecamatan Bukit Barisan Limapuluh Kota ditimpa material longsor.Tanah dari tebing jalan menimbun badan jalan sehingga tidak dapat dilewati kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Akibat terbannya badan jalan ini sekitar 8 jam jalur tidak bisa dilewati sampai petugas dari dinas terkait datang dengan alat berat menyingkirkan material longsor tersebut. Hujan yang mengguyur Limapuluh Kota dan khususnya sekitar daerah ini mengakibatkan tanah tebing turun menimbun jalan setinggi 6 meter

Sumber :

http://beritasumbar.com/diguyur-hujan-deras-jalan-menuju-nagari-maek-ditimbun-longsor/

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan  dan batuan/tanah yang dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan durasi lama.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana khususnya pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan
  • Membuat rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan pada jalan penghubung tersebut.
  • Warga yang tingggal di dekat tebing / lereng agar lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama.
  • Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan.
  • Pemilik rumah yang terancam longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan memelihara vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana khususnya pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan pada jalan penghubung tersebut
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.