Laporan Kebencanaan Geologi 02 Juni 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Sabtu 2 Juni 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 50-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2018 tercatat:

  • 31 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali gempa Tremor Harmonik

Tanggal 2 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis dengan ketinggian 10 m di atas puncak. Terjadi 3 kali Letusan dengan ketinggian kolom asap 1000 - 6000 m diatas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 8 kali gempa Guguran
  • 20 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Juni 2018 pukul 21:07 WIB, terkait dengan adanya aktivitas erupsi dengan ketinggian kolom abu setinggi  3968 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 400 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 400 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah utara - baratlaut. Melalui seismograf tanggal 1 Juni 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-24 mm (dominan 4 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Juni 2018 pukul 08:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara. Melalui seismograf tanggal 1 Juni 2018 tercatat:

  • 93 kali gempa Letusan
  • 162 kali gempa Hembusan
  • 56 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2018 yang dibandingkan bulan  Mei 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali di wilayah Sulawesi dan Maluku. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
  2. Kota Ambon, Provinsi Maluku
  3. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas pada badan jalan serta dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. 
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan satu rumah rusak di Kota Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur); lalu lintas terhambat di Kota Ambon (Provinsi Maluku) dan di Kabupaten Sigi  (Provinsi Sulawesi Tengah)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa Bumi di Perairan Baratlaut Maluku Tenggara Barat, Maluku      
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 1 Juni 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 09:23:01 WIB, pusat gempa bumi berada di bawah dasar laut, dengan episenter 5,95° LS dan 130,54°BT dengan magnituda 5,1 SR pada kedalaman 118 km di bawah dasar laut yang  berjarak 198 Km barat laut Maluku Tenggara Barat, Maluku
Kondisi Geologi Daerah Terdekat:Pusat gempa bumi berada di laut, pulau yang terdekat umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier, batuan vulkanik berumur Kuarter dan aluvium berumur Resen. Adanya tutupan lahan yang tebal yang bersifat, urai dan lepas, akan memperkuat efek dari guncangan gempa.
Penyebab Gempa Bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi di selatan Laut Banda.
Dampak Gempa Bumi: Belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPPD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang energinya lebih kecil dari gempa bumi utama.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 50-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2018 tercatat:

  • 31 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 50 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 1 Juni 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali gempa Tremor Harmonik

Tanggal 2 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis dengan ketinggian 10 m di atas puncak. Terjadi 3 kali Letusan dengan ketinggian kolom asap 1000 - 6000 m diatas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 1 Juni 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 8 kali gempa Guguran
  • 20 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 400 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 400 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah utara - baratlaut. Melalui seismograf tanggal 1 Juni 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-24 mm (dominan 4 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi

Dukono.
Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara. Melalui seismograf tanggal 1 Juni 2018 tercatat:

  • 93 kali gempa Letusan
  • 162 kali gempa Hembusan
  • 56 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.
  3. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Juni 2018 pukul 21:07 WIB, terkait dengan adanya aktivitas erupsi dengan ketinggian kolom abu setinggi  3968 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
  4. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Juni 2018 pukul 08:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara.
  5. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Juni 2018 yang dibandingkan bulan  Mei 2018  akan  cenderung menurun potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
  2. Kota Ambon, Provinsi Maluku
  3. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah
  4. Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
  5. Kota Ambon, Provinsi Maluku
  6. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  7. Kota Bukittinggi, Provinsi  Sumatera Barat
  8. Kota Ambon, Provinsi Maluku
  9. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur,  Provinsi Sulawesi Utara
  10. Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan
  11. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu
  12. Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu
  13. Kabupaten Seluma , Provinsi Bengkulu
  14. Jakarta Selatan , Provinsi DKI Jakarta
  15. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
  16. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  17. Kota Subulussalam dan Sabang, Provinsi Aceh
  18. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera barat.
Kejadian Gerakan Tanah terbaru:

1. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Gerakan tanah terjadi di daerah pemukiman di Jalan Bukit Niaga RT. 12, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 31 Mei 2018 pukul 03.30 WITA. Bencana ini mengakibatkan tembok penahan rumah rusak menimpa 1 (satu) rumah di bawahnya.
Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2018/05/31/longsor-di-klandasan-ilir-1-mobil-tertimpa-bebatuan
Penyebab gerakan tanah diduga akibat konstruksi tembok penahan yang kurang baik. Selain itu dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2. Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Gerakan tanah terjadi di daerah jalur Jalan Perumtel Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 31 Mei 2018 subuh. Gerakan tanah ini mengakibatkan badan jalan amblas ini, serta talud dan pondasi lepas ke dalam jurang sehingga arus lalu lintas terhambat.
Sumber : https://terasmaluku.com/jalan-longsor-kembali-terjadi-di-kota-ambon/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, drainase air yang tidak berfungsi baik menyebabkan air melimpas pada badan jalan serta dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

3. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah
Gerakan tanah terjadi di daerah jalur jalan Kilometer 57 dari Kota Palu ke arah Kulawi, tepatnya di Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Jum’at, 1 Juni 2018 pagi. Arus lalulintas di jalan poros Kota Palu ke dataran Kulawi dan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tersebut terputus total untuk kendaraan roda empat sejak Jumat pagi, karena badan jalan beraspal beton sekitar 10 meter terbawa longsor (erosi/terkikis) oleh aliran sungai di sisi jalan. Selain di Desa Omu tersebut, ada beberapa titik di jalur jalan tersebut yang juga mengalami longsor baik di sisi lereng maupun tebing/jurang.
Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/06/01/p9mdtl384-jalan-poros-palukulawi-putus-akibat-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat erosi pada tebing badan jalan oleh aliran air sungai yang meluap ke jalan akibat curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadinya longsor. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi:

  • Masyarakat harap meningkatkan kewaspadaan ketika berada di daerah  rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan.
  • Bagi pemilik rumah yang tertimpa material longsoran agar mengungsi ke tempat yang lebih aman dari ancaman bencana gerakan tanah sebelum perbaikan tembok penahan
  • Memperbaiki tembok penahan lereng dengan mengikuti kaidah konstruksi yang baik, dengan melandaikan lereng, mengatur drainase sekitar tembok penahan
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Memperbaiki talud dan pondasi dengan mengikuti kaidah konstruksi yang baik, dengan melandaikan lereng, mengatur drainase sekitar badan jalan.
  • Menata aliran air permukaan pada tebing di atas jalan tersebut dengan saluran kedap air agar air permukaan (run off) tidak menggenang dan meresap ke dalam tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Pada tebing badan jalan yang longsor terkikis air sungai agar dibangun talud dengan mengikuti kaidah konstruksi yang baik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.