Laporan Kebencanaan Geologi 27 Juli 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Kamis 27 Juli 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 200-700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 26 Juli 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Getaran Banjir

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga sedang setinggi 50-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, barat dan tenggara.
Rekaman seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 27 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 27 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Juli 2018 pukul 18:45 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur dan tenggara.

G. Krakatau (Lampung).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat daya. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 132 kali gempa Letusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-50 mm (dominan 15 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas. Asap teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.
Melalui rekaman seismograf pada 26 Juli 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 11 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati elas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal setinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut.
Melalui seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Juli 2018 pukul 11:25 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur - timur laut.
Melalui seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 120 kali Gempa Letusan
  • 124 kali Gempa Hembusan
  • 40 kali Gempa Guguran
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Juli 2018 pukul 18:04 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juli 2018 yang dibandingkan bulan  Juni 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat penambangan yang tidak memperhatikan aspek keteknisan,kemiringan lereng terjal, kondisi geologi yaitu litologi batuan di daerah lokasi bencana serta dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan satu orang penambang tewas di Kabupaten Blitar ( Provinsi Jawa Timur) dan di Kabupaten Jepara (Provinsi Jawa Tengah);sawah milik warga tertimbun material longsoran dan memutuskan saluran irigasi di Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di barat laut Maluku Tenggara Barat, Maluku
Informasi gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 26 Juli 2018, pukul 03:13:16 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 129,56° BT dan 7,19° LS, dengan magnitudo 5,3 S.R. pada kedalaman 145 km, berjarak 203 km baratlaut Maluku Tenggara Barat, Maluku.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut, tepatnya di sebelah baratlaut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi tersusun oleh endapan permukaan, dan batuan sedimen berumur Kuarter dan Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan posisi sumber gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia di Laut Banda. 
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan adanya kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2) Gempa bumi di Barat Daya Bengkulu, Bengkulu 
Informasi gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 26 Juli 2018, pukul 12:58:36 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,30° BT dan 6,03° LS, dengan magnitudo M5,0 pada kedalaman 16 km, berjarak 198 km barat daya Kaur, Bengkulu. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,22 °BT dan 6,18 ° LS dengan magnitudo M5.0 Mw dan kedalaman 10 km. USGS, Amerika Serikat melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 6,102°LS dan 102,277°BT, dengan magnitudo M 4,9 dan kedalaman 25,5 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di perairan di sebalah barat daya Bengkulu. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu pesisir barat Bengkulu dan Pulau Enggano. Wilayah barat Pulau Sumatera khususnya Provinsi Bengkulu pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter, sedangkan Pulau Enggano didominasi oleh batuan sedimen Tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan. 
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut. 
Dampak gempa bumi: Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 200-700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 26 Juli 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauch
  • 1 kali Getaran Banjir

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. 
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga sedang setinggi 50-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, barat dan tenggara. 
Rekaman seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 27 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 27 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 - 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 - 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 - 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 - 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat daya. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 132 kali gempa Letusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-50 mm (dominan 15 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas. Asap teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.
Melalui rekaman seismograf pada 26 Juli 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 11 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal setinggi 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut.
Melalui seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur - timur laut.
Melalui seismograf tanggal 26 Juli 2018 tercatat:

  • 120 kali Gempa Letusan
  • 124 kali Gempa Hembusan
  • 40 kali Gempa Guguran
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Juli 2018 pukul 18:45 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur dan tenggara.
  3. G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.
  4. G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  5. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 25 Juli 2018 pukul 11:25 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  6. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Juli 2018 pukul 18:04 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Juli 2018 yang dibandingkan bulan Juni 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terjadi di: 

  1. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Tabalong , Provinsi Kalimantan Selatan
  5. Kabupaten Ngawi,  Provinsi Jawa Timur
  6. Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.

Kejadian Gerakan Tanah terbaru:
1. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di lokasi tambang pasir tepatnya  Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis 26 Juli 2018 pukul 05.00 WIB yang mengakibatkan satu orang penambang tewas akibat tertimpa longsoran tebing dengan tinggi sekitar 10 meter.
Sumber : https://news.detik.com/jawatimur/4133948/satu-penambang-pasir-di-blitar-tewas-tertimpa-tebing-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat penambangan yang tidak memperhatikan aspek keteknisan dan kemiringan lereng terjal. Jenis gerakan tanah diperkirakan  tipe robohan bahan rombakan.

2. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di lokasi tambang batu tradisonal tepatnya di Desa Pancur Blok Gondoriyo, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis tanggal 26 Juli 2018 sekitar pukul 08.00 WIB dan mengakibatkan satu orang penambang tewas  tertimbun material longsoran dari tebing setinggi 30 meter.
Sumber : https://news.detik.com/jawatengah/4134542/penggali-batu-di-jepara-tewas-tertimbun-longsoran-tebing
Penyebab gerakan tanah diduga akibat penambangan yang tidak memperhatikan aspek keteknisan dan kemiringan lereng terjal. Jenis gerakan tanah diperkirakan  tipe robohan bahan rombakan.

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Kampung Pasirhaur RT 23/06, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 24 Juli 2018 mengakibatkan sebagian sawah milik warga tertimbun material longsoran dan memutuskan saluran irigasi yang mengairi sekitar 30 hektare sawah. Gerakan tanah merupakan kejadian yang susulan yang kedua kalinya namun sekarang  dimensinya lebih besar yaitu lebar sekitar 50 meter dan panjang 100 meter.
Sumber : https://kumparan.com/sukabumi-update/longsor-terjang-desa-bojonggaling-sukabumi-sawah-kering-akibat-irigasi-terputus-27431110790553967
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi :

  • Masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
  • Masyarakat disekitarnya agar mewaspadai dan menjauhi tebing penambangan tersebut;
  • Penambangan sebaiknya harus mengikuti kaidah teknis penambangan dan pemotongan lereng;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu;
  • Mengevaluasi penambangan tradisonal yang dilakukan di daerah tersebut
  • Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat;
  • Segera memperbaiki saluran irigasi yang tertimbun material longsor dengan mengutamakan keselamatan karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.