Laporan Kebencanaan Geologi 02 Agustus 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Kamis 2 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi data teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2018 tercatat:

  • 13 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah  barat.
Rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 26 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 2 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat: 7 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah ke arah timur dan timur laut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:

  • 63 kali gempa Letusan
  • 31 kali gempa Hembusan
  • 44 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-15 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati/nihil. Teramati asap kawah utama berwarna putih, bertekanan lemah dengan intensitas tipis setinggi 20 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 3  kali gempa Hembusan
  • 15 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah, dengan intensitas tebal setinggi  600 - 700 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2018 pukul 07:05 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara - baratlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang  dengan  intensitas tipis hingga sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.
Melalui seismograf tanggal 31 Juli 2018 tercatat:

  • 101 kali Gempa Letusan
  • 147 kali Gempa Hembusan
  • 50 kali Gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Juli 2018 pukul 16:27 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah 
Penyebab: Penyebab gerakan tanah adalah air yang mengalir di saluran irigasi tersumbat dan meluber ke sela-sela retakan tanah di tebing, sehingga tebing menjadi lembek dan longsor.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan akses jalan bagi warga tertutup material longsoran  di Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Perairan Barat daya Kaur, Bengkulu 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 1  Agustus 2018, pukul 22:25 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,47° BT dan 5,76° LS, dengan magnitudo 5,5 SR pada kedalaman 28 km, berjarak 163 km baratdaya Kaur, Bengkulu. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,47° BT dan 5,58° LS dengan kekuatan M4,9 dan kedalaman 50 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,621° BT dan 5,576° LS, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 28,8 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu Pulau Engano dan pesisir barat Bengkulu dan Lampung. P. Enggano disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier, dan wilayah barat Pulau Sumatera disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.
Dampak gempa bumi: Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi: 

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah ke arah timur dan timur laut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:
- 63 kali gempa Letusan
- 31 kali gempa Hembusan
- 44 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-15 mm (dominan 3 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.
G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati/nihil. Teramati asap kawah utama berwarna putih, bertekanan lemah dengan intensitas tipis setinggi 20 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2018 tercatat:
- 3 kali gempa Guguran
- 3  kali gempa Hembusan
- 15 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
- 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah, dengan intensitas tebal setinggi  600 - 700 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2018 pukul 07:05 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara - baratlaut.
G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang  dengan  intensitas tipis hingga sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.
Melalui seismograf tanggal 31 Juli 2018 tercatat:
- 101 kali Gempa Letusan
- 147 kali Gempa Hembusan
- 50 kali Gempa Guguran
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Juli 2018 pukul 16:27 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018  yang dibandingkan bulan  Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah 
Penyebab: Penyebab gerakan tanah adalah air yang mengalir di saluran irigasi tersumbat dan meluber ke sela-sela retakan tanah di tebing, sehingga tebing menjadi lembek dan longsor.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan akses jalan bagi warga tertutup material longsoran  di Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Perairan Barat daya Kaur, Bengkulu 
Informasi Gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 1  Agustus 2018, pukul 22:25 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,47° BT dan 5,76° LS, dengan magnitudo 5,5 SR pada kedalaman 28 km, berjarak 163 km baratdaya Kaur, Bengkulu. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,47° BT dan 5,58° LS dengan kekuatan M4,9 dan kedalaman 50 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,621° BT dan 5,576° LS, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 28,8 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu Pulau Engano dan pesisir barat Bengkulu dan Lampung. P. Enggano disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier, dan wilayah barat Pulau Sumatera disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi:
Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.
Dampak gempa bumi:
Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.
LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI
2 Agustus 2018 (06:00 WIB)
I. SUMMARY:
Hari ini, Kamis 2 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi data teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah  ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2018 tercatat:
- 13 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tornillo
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
- 1 kali gempa Getaran Banjir
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah  barat.
Rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:
- 5 kali gempa Hembusan
- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 26 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 2 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 7 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
G. Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah ke arah timur dan timur laut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:
- 63 kali gempa Letusan
- 31 kali gempa Hembusan
- 44 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 3 kali gempa Vulkanik Dalam
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-15 mm (dominan 3 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.
G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati/nihil. Teramati asap kawah utama berwarna putih, bertekanan lemah dengan intensitas tipis setinggi 20 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2018 tercatat:
- 3 kali gempa Guguran
- 3  kali gempa Hembusan
- 15 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
- 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah, dengan intensitas tebal setinggi  600 - 700 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2018 tercatat:
- 1 kali gempa Letusan
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2018 pukul 07:05 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara - baratlaut.
G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang  dengan  intensitas tipis hingga sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.
Melalui seismograf tanggal 31 Juli 2018 tercatat:
- 101 kali Gempa Letusan
- 147 kali Gempa Hembusan
- 50 kali Gempa Guguran
- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Juli 2018 pukul 16:27 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.   Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah*, 2. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 3.Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.   Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah
Empat Dusun di wilayah Desa Mlayang, Kecamatan Sirampog, Brebes kesulitan akses jalan lantaran jalan utama mereka tertutup material longsor. Longsor terjadi pada Rabu (1/8/2018) pagi yang mengakibatkan akses jalan bagi warga tertutup material longsoran.
Longsoran sepanjang 15 meter tersebut berakibat jalan tidak bisa dilalui baik manusia maupun kendaraan. Warga Dukuh Mlayang Luhur, Kubang Gede, Igir Tenjo dan Karanganyar. Longsor terjadi akibat air yang mengalir di saluran irigasi tersumbat dan meluber ke sela-sela retakan tanah di tebing di atas jalan. Akibatnya dinding tebing menjadi lembek dan longsor ke bawah.
.
Sumber  : http://portalpantura.com/empat-dusun-kesulitan-akses-akibat-longsor/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook
Penyebab gerakan tanah adalah air yang mengalir di saluran irigasi tersumbat dan meluber ke sela-sela retakan tanah di tebing, sehingga tebing menjadi lembek dan longsor.
Rekomendasi:
Segera membersihkan material longsoran yang dan puing puing reruntuhan tanah
Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
Menata pola pengaliran/system drainase agar saluran air tidak meluber
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.