Laporan Kebencanaan Geologi 20 Agustus 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 20 Agustus 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan intensitas lemah setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 73 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Terasa

Tanggal 20 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 48 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut - baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 248 kali gempa Letusan
  • 118 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Harmonik
  • 11 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Agustus 2018 pukul 18:30 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 41 mm dengan durasi sekitar 59 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - baratdaya. Melalui rekaman seismograf pada 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 13 kali gempa Low Frekuensi
  • 4 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan sedang, dengan intensitas tebal setinggi 500 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan warna asap putih kelabu dan tinggi 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut.

Melalui seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Agustus 2018 pukul 09:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara-timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.

Melalui seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 98 kali Gempa Letusan
  • 217 kali Gempa Hembusan
  • 66 kali Gempa Guguran

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:59 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018,   umumnya potensinya cenderung sama di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi kejadian gerakan tanah .

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, material penyusun lereng merupakan batuan Gunungapi bersifat lepas dan dipicuh oleh guncangan gempa berulang kali.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan bukit longsorbtanpa korban jiwa dan kerusakan bangunan di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Tanggapan Kejadian Gempa Bumi Tanggal 19 Agustus 2018 Di Timurlaut Lombok Timur, NTB

Bersama ini, kami sampaikan laporan tanggapan terjadinya gempa bumi di timurlaut Lombok Timur, NTB berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG, Jakarta dan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sebagai berikut:

Informasi Gempa Bumi:

Pada hari ini, Minggu, tanggal 19 Agustus 2018, telah terjadi tujuh kali gempa bumi yang diperkirakan terjadi pada sumber yang sama dengan gempa bumi yang terjadi pada tanggal 5 Agustus 2018.

(1). Gempa bumi pertama terjadi pada pukul 11:06:13 WIB, dengan pusat gempa pada koordinat 8,29°LS dan 116,62°BT dengan magnitudo 5,4 S.R. pada kedalaman 10 km, berjarak 25 km arah timurlaut Lombok Timur, NTB.

(2) Gempa bumi kedua terjadi 4 menit kemudian yaitu pada pukul 11:10:22 WIB dengan pusat gempa bumi pada koordinat 8,24°LS dan 116,66°BT, dengan magnitudo yang lebih besar yaitu 6,5 S.R. pada kedalaman 10 km, berjarak 32 Km arah timurlaut Lombok Timur.

(3) Gempa bumi ketiga terjadi pada pukul 21:56:27 WIB dengan lokasi pusat pada 8,28°LS dan 116,71°BT (30 km timurlaut Lombok Timur), kedalaman 10 km, dengan magnitudo 7,0 S.R.;

(4) Gempa bumi keempat terjadi pada pukul 22:16:37 WIB di lokasi 8,35°LS dan 116,51°BT (18 km baratlaut Lombok Timur), kedalaman 10 km, dengan magnitudo 5,6 S.R.;

(5)Gempa kelima terjadi pukul 22:28:59 WIB pada lokasi 8,30°LS dan 116,56°BT (23 km baratlaut Lombok Timur), kedalaman 10 km, magnitudo 5,8 S.R.;

(6)Gempa bumi keenam terjadi pada pukul 23:21:09 pada koordinat 8,50°LS dan 116,85°BT, pada kedalaman 10 km dengan magnitudo 5,0 S.R.;

(7) Gempa bumi ketujuh terjadi pada pukul 23:37:38 WIB, pada koordinat 8,25°LS dan 116,84°BT (42 km timurlaut Lombok Timur), pada kedalaman 10 km dengan magnitudo yg lebih besar yaitu 5,5 S.R.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di darat. Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh batuan sedimen dan batuan metamorf berumur Pra Tersier hingga Tersier; batuan gunung api berumur Tersier hingga Kuarter, dan aluvium berumur Resen. Pada daerah yang tersusun oleh batuan yang telah tersesarkan dan terlapukkan dan daerah aluvium sangat rentan terhadap goncangan gempa bumi karena bersifat urai, lepas, dan belum terkonsolidasi, sehingga akan memperkuat efek getaran gempa.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi dan kedalamannya sumber gempa bumi berasosiasi dengan zona pensesaran naik busur belakang ( Flores back- arc Thrust) yang berarah relatif barat-timur. Diperkirakan gempa-gempa hari ini terjadi pada segmen-segmen yang berbeda pada pensesaran naik busur belakang, hal ini yang menyebabkan gempa-gempa ini memiliki magnitudo yang lebih besar.

Dampak gempa bumi:

Data BMKG mencatat dampak gempa bumi di beberapa tempat, yang digambarkan dalam intensitas gempa pada skala MMI ( Modified Mercalli Intensity ), yaitu IV MMI di Lombok utara; IV MMI di Mataram; III MMI di Lombok Barat, Lombok Tengan, Lombok Timur dan Sumbawa Besar. Berdasarkan data yang terekam di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) PVMBG, gempa bumi dirasakan IV MMI di PGA G. Rinjani; III MMI di PGA G. Tambora; II MMI di PGA G. Agung dan PGA G. Sangeang Api. Data USGS memperlihatkan peta intensitas yang meliputi radius ke barat hingga ke Pulau Jawa bagian timur, sedangkan ke timur hingga ke Nusa Tenggara Timur. Saat laporan ini dibuat gempa bumi inibtekah menimbulkan bangunan roboh dan kebakaran di wilayah Pulau Bugin, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar akibat arus pendek listrik. Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Rekomendasi:

(1)Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2)Gempa bumi susulan diharapkan lebih kecil dari gempa bumi utama, namun kemungkinan gempa berkekuatan lebih besar bisa terjadi, sehingga masyarakat diharapkan tetap waspada.

(3) Masyarakat diharapkan tetap berada di tempat terbuka dan menghindari bangunan karena akibat guncangan gempa bumi yang telah berlangsung selama 15 hari berturut-turut, sehingga bangunan rawan roboh dan tidak layak huni.

(4) Waspadai retakan pada permukaan bumi, pencairan lahan (likuifaksi), dan longsoran.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar.

Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan intensitas lemah setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 73 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Terasa

Tanggal 20 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 48 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).

Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut - baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 248 kali gempa Letusan
  • 118 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Harmonik
  • 11 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-8 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - baratdaya.

Melalui rekaman seismograf pada 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 13 kali gempa Low Frekuensi
  • 4 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan sedang, dengan intensitas tebal setinggi 500 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan warna asap putih kelabu dan tinggi 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut.

Melalui seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas sedang setinggi 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.

Melalui seismograf tanggal 19 Agustus 2018 tercatat:

  • 98 kali Gempa Letusan
  • 217 kali Gempa Hembusan
  • 66 kali Gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Krakatau, Lampung.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Agustus 2018 pukul 18:30 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 41 mm dengan durasi sekitar 59 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara.

(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(5) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Agustus 2018 pukul 09:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke utara-timurlaut.

(6) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Agustus 2018 pukul 11:59 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Agustus 2018 yang dibandingkan bulan Juli 2018 akan cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara, Maluku dan Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat*,

2. Kabupaten Bangli, Provinsi. Bali,

3.Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gempa bumi susulan yang berkekuatan 6,5 skala richter (SR) di Lombok Timur akibatkan longsor. Longsor terjadi di lereng perbukitan Pegangsingan Gunung Rinjani di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Lombok Timur. Menurut BNPB,Longsor terjadi akibat gempa susulan 6,5 SR pada 19/8/2018 pukul 11.10 WIB. Masyarakat merasakan guncangan keras. Masyarakat segera keluar rumah.Berdasarkan info yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi terjadi di lokasi 8,44 Lintang Selatan, 116,66 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.Selang empat menit sebelumnya, tepatnya pada pukul 11:06 WIB terjadi gempa yang sama dengan kekuatan 5,4 SR.

Sumber : https:m.cnnindonesia.com/nasional/20180819

Penyebab: Penyebab diperkirakan akibat kemiringan lereng, material penyusun lereng merupakan batuan Gunungapi bersifat lepas dan dipicuh oleh guncangan gempa berulang kali.

Rekomendasi :

  • Masyarakat agar tidak panik dan selalu memantau informasi terkini berdasarkan sumber yang terpercaya atau instansi terkait (bmkg, pvmbg, bnpb)
  • Masyarakat agar menghindari daerah rawan longsor seperti tebing, daerah yang retak terutama d sekitar g. Rinjani dan bukit pergasingan.
  • Masyarakat pengguna jalan yang melintas ke arah Sembalun hendaknya berhati hati dan waspada saat melewati daerah Pusuk Sembalun
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.