Laporan Kebencanaan Geologi 24 Oktober 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu 24 Oktober 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih sedang hingga tebal setinggi 300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 Kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

 

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Rekaman seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 2 kali Vulkanik Dangkal
  • 4 kali Tektonik Jauh
  • 1 kali Tektonik Lokal

Tanggal 24 Oktober 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

 Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih sedang hingga tebal setinggi 25 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur Laut.
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 19 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor menerus amplitudo 0.5 – 2 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

 Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, kolom asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 19 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 24 Oktober 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 5 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA: VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, intensitas tipis, tinggi asap mencapai 50 meter di atas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 336 kali gempa Letusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam.
  • 9 kali gempa Vulkanik Dangkal.
  • Gempa Tremor menerus dengan amplitudo 2 - 30 mm (dominan 7 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 06:56 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah selatan.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Tenggara. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 77 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 9 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, intensitas tebal, tinggi asap mencapai 200 - 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke Timur.
Melalui seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Oktober 2018 pukul 10:22 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Timur.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, ketinggian mencapai 200 - 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan Utara.
Melalui seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 72 kali gempa Letusan
  • 104 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Guguran

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 16:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Oktober 2018  yang dibandingkan bulan  Agustus 2018,   umumnya potensinya cenderung sedikit mengalami peningkatan di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , JawaBagian Barat, Sulawesi , Bali , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur
  3. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat

Penyebab:  Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana serta adanya penggalian tanpa pertimbangan teknik yang benar. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan   rumah terancam dan 4 rumah rusak  di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat; satu penggali tambang tewas di Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi  Sigi 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Senin, 22 Oktober 2018, pukul 23:07 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 120,18° BT dan 1,63° LS, dengan magnitudo 5,2 pada kedalaman 10 km, berjarak 42 km tenggara Sigi, Sulawesi Tengah. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 120,20° BT dan 1,70° LS, dengan magnitudo 5,0 Mw pada kedalaman 10 km. Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 120,180° BT dan 1,669° LS, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah Kabupaten Sigi. Wilayah tersebut pada umumnya tersusun oleh batuan sedimen dan batuan malihan (batuan metamorf) berumur Pra Tersier yang membentuk lajur sesar dengan lereng curam dan kebanyakan lapuk. Batuan yang lapuk, urai, lepas, dan belum kompak (unconsolidated) dapat bersifat memperkuat guncangan gempa bumi sehingga lebih rentan.
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Sesar Palu Koro yang relatif berarah barat laut – tenggara. 
Dampak gempa bumi: Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Palu dengan intensitas II-III MMI, Mamuju II-III MMI, Masamba II MMI, Toraja II MMI, Poso III MMI, Parigi II-III MMI, dan Tentena II-III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.



II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih sedang hingga tebal setinggi 300 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Barat.
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 Kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

 

Gunungapi Agung (Bali).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur dan Barat.
Rekaman seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 2 kali Vulkanik Dangkal
  • 4 kali Tektonik Jauh
  • 1 kali Tektonik Lokal

Tanggal 24 Oktober 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dml, secara adinistratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate) , Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih sedang hingga tebal setinggi 25 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur Laut.
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 19 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor menerus amplitudo 0.5 – 2 mm, dominan 1 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas muka laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, kolom asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 19 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 24 Oktober 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 5 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, intensitas tipis, tinggi asap mencapai 50 meter di atas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 336 kali gempa Letusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam.
  • 9 kali gempa Vulkanik Dangkal.
  • Gempa Tremor menerus dengan amplitudo 2 - 30 mm (dominan 7 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah Timur Laut dan Tenggara. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 77 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 9 kali gempa Hembusan

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, intensitas tebal, tinggi asap mencapai 200 - 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke Timur.
Melalui seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-5 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, ketinggian mencapai 200 - 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur dan Utara.
Melalui seismograf tanggal 23 Oktober 2018 tercatat:

  • 72 kali gempa Letusan
  • 104 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
  2. G. Agung, Bali. VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
  3. G. Gamalama, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
  4. G. Soputan, Sulawesi Utara, VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak
  5. G. Krakatau, Lampung. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 06:56 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah selatan.
  6. G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta. VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  7. G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Oktober 2018 pukul 10:35 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Timur.
  8. G. Ibu, Maluku Utara. VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 16:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober 2018 yang dibandingkan bulan September  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian pulau jawa bagian  Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur
  3. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Sigi , Provinsi Sulawesi Tengah
  5. Kabupaten Magetan,Provinsi  Jawa Timur
  6. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat
  7. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  8. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
  9. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  10. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatra Utara
  11. Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatra Selatan
  12. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  13. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatra Utara
  14. Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan
  15. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
  16. Kota Bogor,  Priovinsi Jawa Barat
  17. Kabupaten Tanggerang, Provinsi Banten, 
  18. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  19. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

Kejadian gerakan tanah terbaru: 
1.Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Kelurahan Sukaresmi RT 5/3, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 21 Oktober 2018 malam hari pukul 21.00 WIB yang mengakibatkan tebing setinggi 10 meter longsor dan mengancam satu unit rumah yang berada dibawahnya.
Sumber : http://bogor.tribunnews.com/2018/10/22/tebing-setinggi-lebih-dari-10-meter-di-kota-bogor-longsor-satu-pemilik-rumah-diungsikan
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
 

2. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur 
Gerakan tanah terjadi di galian sumur Desa Kota Anyar Kecamatan Kota Anyar Senin (22/10/2018). Gerakan tanah yang terjadi di galian sumur Desa Kota Anyar Kecamatan Kota Anyar mengakibatkan satu orang penggali tanah tertimbun, material longsoran sepanjang 2 meter. 
Sumber:https://www.inews.id/daerah/jatim/penggali-sumur-tewas-tertimbun-tanah-di-probolinggo/289185
Penyebab gerakan tanah diduga akibat penggalian tanah, kondisi tanah yang labil, tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat

 Gerakan tanah  terjadi di Rt 3/14 Kelurahan Pasir Jaya Kampung Huni Bongkok Selasa (23/10/2018). Gerakan tanah yang terjadi di Rt 3/14 Kelurahan Pasir Jaya Kampung Huni Bongkok mengakibatkan tiga rumah warga rusak, material longsoran berasal dari tebing setinggi 5 meter.
Sumber:http://bogor.tribunnews.com/2018/10/23/longsor-di-kelurahan-pasir-jaya-tutup-saluran-air-tiga-rumah-warga-terkena-dampak-luapan
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah yang labil, tertutupnya saluran air dan tebing terjal. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang berada/tinggal dekat dari lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi longsor susulan;
  • Memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan tembok penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Tidak membuat saluran drinase yang langsung membuang air ke daerah bencana atau sekitar tebing.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air
  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan segera pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing bagian atas
  • Tidak melakukan penggalian di daerah tebing karena dimungkinkan terjadinya rawan longsor dan apabila penggalian tebing dilakukan maka dengan menggunakan kaidah kaidah geologi tekhnik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.