Laporan Kebencanaan Geologi, 19 April 2019

Logo_ESDM

I. SUMMARY
Hari ini, Jumat 19 April 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas Level IV (Awas). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013 hingga Juli 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal,tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 3 kali Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3152 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 11 April 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 19 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2019 pukul 18:47 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. 

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas-kabut 0III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 15 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 150 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18  April 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Hybrid
  • 10 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (167 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada April 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal  18 April 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal  
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 April 2019 pukul 16:40 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 57 mm dan lama gempa 38 detik, secara visual tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 29 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh 

Rekomendasi: 

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga 0III kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 700 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 April 2019 pukul 18:16 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah baratdaya.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0III, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 88 kali gempa Letusan
  • 64 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Guguran
  • 16 kali Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Tornelo

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 - 150 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 12 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali Getaran Banjir dengan amplitudo 4-5 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian masimum 300 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat

  • 197 kali gempa Hembusan
  • 1 kali getaran banjir dengan amplitudo 16 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019, potensinya relatif sama tingginya    utamanya wilyah indonesia bagian Timur, namun terjadi penurunan potensinya meliputi wilayah   Wilayah Sumatera bagian Timur,Jawa , Bali . dan Nusantenggara Barat.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  4. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal dan labil serta dipicu oleh air hujan.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan  dua perkerja tertimpa lobgsor di  Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur; akses jalan terhambat di Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat , di  Kabupaten Badung, Provinsi Bali dan di Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

  1. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 3 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak  20 Desember 2018.
  3. 16 gunungapi status WASPADA/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili  Lewotolok, Banda Api, dan G. Anak Krakatau).
  4. Sisanya 49 gunungapi status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Pengiriman Tim Tanggap Darurat dilakukan ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan sosialisasi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal,tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Penduduk yang bermukim di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi Gunung Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.
Erupsi terakhir terjadi pada 11 April 2019 pukul 18.47 WITA dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 2000 meter di atas puncak disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos PGA yang berada 12 km di sebelah Selatan-Baratdaya Puncak Gunung Agung.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 19 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 5 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember Pkl 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas-kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 15 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat.
G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 Pkl 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3000 m.
Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 Maret 2019 sekitar pukul 12:00 WITA. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 150 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18  April 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Hybrid
  • 10 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September- 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga). 
Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak  25 Maret 2019 Pkl 12:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal  
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 29 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh 

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang  adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga 0III kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal,  tinggi sekitar 700 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang  adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder  berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0III, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu  dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 88 kali gempa Letusan
  • 64 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Guguran
  • 16 kali Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Tornillo

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 - 150 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 12 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali Getaran Banjir dengan amplitudo 4-5 mm Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian masimum 300 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:

  • 197 kali gempa Hembusan
  • 1 kali getaran banjir dengan amplitudo 16 mm

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 300 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi  di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat di sekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines
  •  VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera UtaraVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
  2. G. Agung, BaliVONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2019 pukul 18:47 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.
  3. G. Soputan, Sulawesi UtaraVONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
  4. G. Karangetang, Sulawesi UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
  5. G. Anak Krakatau, LampungVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 April 2019 pukul 16:40 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 57 mm dan lama gempa 38 detik, secara visual tidak teramati.
  6. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  7. G. Dukono, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 April 2019 pukul 18:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah baratdaya.
  8. G. Ibu, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
  9. G. Gamalama, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
  10. G. Kerinci, Jambi VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut
  11. G. Bromo, Jawa TimurVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019 ,   potensinya relatif sama tingginya  utamanya wilayah Indonesia bagian Timur  .Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai  utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, ,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara,  Sulawesi  Tengah  dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di

  1. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  4. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  5. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  6. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  7. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat
  8. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
  9. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)
  10. Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur
  11. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  12. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
  13. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Timur
  14. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  15. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  16. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
  17. Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat
  18. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  19. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur
  20. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  21. Kabupaten Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah
  22. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  23. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  24. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur
  25. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat
  26. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. 

Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir  di :
1. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur

 Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi Kamis, 18 April 2019 pukul 08.00 WIB pada tambang tradisional batu kapur yang longsor/ runtuh dan menimpa 2 orang pekerja di depo batu kapur turut Dukuh Gadu Ds. Gadudero Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.
Sumber:https://www.patinews.com/tambang-batu-kapur-di-sukolilo-longsor-satu-orang-meninggal-dunia/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal dan labil serta dipicu oleh air hujan.

2. kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat

 Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada jalan bagian abutment (kepala jembatan) Sungai Cijangkelok di sekitar Dusun Karangsari, Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
Sumber: https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/04/18/tebing-penyangga-jalan-longsor-akses-ke-cibingbin-terancam-putus
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, air yang melimpah serta dipicu erosi sungai yang tinggi.

3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali

 Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada sekitaran Br. Abing Petang, Desa Sulangai, Badung, Kamis (18/4). Tidak ada korban jiwa hanya menimbulkan terputusnya jalur ini
Sumber:https://twitter.com/punapibali/status/1118739443551092736
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan.

4. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan

 Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada jalan poros Sa’dan via Tallunglipu. Dampaknya jalan poros Sa’dan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Material longsor berupa rumpun bambu dan tanah menutupi semua badan jalan. Kejadian Longsor terjadi sekitar pukul 16.30 Wita, Rabu, 17 April 2019. 
Sumber:https://www.karebatoraja.com/breaking-news-jalan-poros-rantepao-sadan-tertutup-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar merelokasi para korban, dan mengevaluasi system pertambangan yang baik
  • Memperkuat kestabilan lereng, membuat penahan lereng atau melandaikan lereng,
  • Agar pengguna jalan tidak melewati jembatan tersebut,
  • Agar masyarakat yang dibantaran sungai/pinggir sungai dipindahkan sementara
  • Memperkuat kestabilan lereng, membuat penahan erosi seperti bronjong dan pengatuan drainase normalisasi sungai
  • Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Pembersihan Material longsoran dan saluran air 
  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan melintasi area tersebut agar waspada dan berhati-hati, khususnya pada keadaan hujan
  • Memperkuat pondasi jalan, memperhatikan kestabilan lereng, membuat penahan lereng dan pengatuan/pembuatan drainase
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.
I. SUMMARY
Hari ini, Jumat 19 April 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas Level IV (Awas). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013 hingga Juli 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal,tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 3 kali Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
Gunungapi Agung (Bali)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3152 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 11 April 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 19 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.
VONA:
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2019 pukul 18:47 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. 
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas-kabut 0III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 15 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 13 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA:
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 150 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18  April 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Guguran
- 6 kali gempa Hembusan
- 16 kali gempa Hybrid
- 10 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 4 kali gempa Vulkanik Dalam
- 8 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.
Rekomendasi:
Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:
- Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (167 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada April 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal  18 April 2019 tercatat:
- 4 kali gempa Hembusan
- 10 kali gempa Low Frekuensi
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal  
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm
Rekomendasi:
Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 April 2019 pukul 16:40 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 57 mm dan lama gempa 38 detik, secara visual tidak teramati.
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 29 kali gempa Guguran
- 7 kali gempa Hembusan 
- 1 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh 
Rekomendasi:
- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga 0III kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 700 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 April 2019 pukul 18:16 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah baratdaya.
Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0III, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat: 
- 88 kali gempa Letusan
- 64 kali gempa Hembusan
- 17 kali gempa Guguran
- 16 kali Tremor Harmonik
- 2 kali gempa Tornelo
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 - 150 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 12 kali gempa Tektonik Jauh
- 3 kali Getaran Banjir dengan amplitudo 4-5 mm
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak 
menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian masimum 300 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 197 kali gempa Hembusan
- 1 kali getaran banjir dengan amplitudo 16 mm
Rekomendasi:
- Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
- Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.
Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak 
menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1mm
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA:
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019, potensinya relatif sama tingginya    utamanya wilyah indonesia bagian Timur, namun terjadi penurunan potensinya meliputi wilayah   Wilayah Sumatera bagian Timur,Jawa , Bali . dan Nusantenggara Barat.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur
2. Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat
3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
4. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal dan labil serta dipicu oleh air hujan.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan  dua perkerja tertimpa lobgsor di  Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur; akses jalan terhambat di Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat , di  Kabupaten Badung, Provinsi Bali dan di Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
b. 3 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak  20 Desember 2018.
c. 16 gunungapi status WASPADA/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili  Lewotolok, Banda Api, dan G. Anak Krakatau).
d. Sisanya 49 gunungapi status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Pengiriman Tim Tanggap Darurat dilakukan ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan sosialisasi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal,tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Hembusan
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Penduduk yang bermukim di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.
Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Statusnya saat ini adalah Level 
III (Siaga).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke 
dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi Gunung Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.
Erupsi terakhir terjadi pada 11 April 2019 pukul 18.47 WITA dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 2000 meter di atas puncak disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos PGA yang berada 12 km di sebelah Selatan-Baratdaya Puncak Gunung Agung.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 1 kali gempa Hembusan
- 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 19 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Statusnya saat ini 
adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember Pkl 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas-kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 15 meter 
dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 13 kali gempa Guguran
- 3 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi 
pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat.
G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi 
Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 Pkl 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah 
utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3000 m.
Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari 
Kawah Utama sejauh 2000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 Maret 2019 sekitar pukul 12:00 WITA. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 150 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18  April 2019 tercatat:
- 6 kali gempa Guguran
- 6 kali gempa Hembusan
- 16 kali gempa Hybrid
- 10 kali gempa Vulkanik Dangkal
- 4 kali gempa Vulkanik Dalam
- 8 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.
Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September- 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi 
cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III 
(Siaga). 
Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak  25 Maret 2019 Pkl 12:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 4 kali gempa Hembusan
- 10 kali gempa Low Frekuensi
- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal  
- Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm
Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 29 kali gempa Guguran
- 7 kali gempa Hembusan 
- 1 kali gempa Hybrid
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 1 kali gempa Tektonik Jauh 
Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang  adalah 
Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga 0III kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal,  tinggi sekitar 700 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 18 April 2019 tercatat:
- 3 kali gempa Letusan
- 1 kali gempa Vulkanik Dalam
- 1 kali gempa Tektonik Lokal
- 5 kali gempa Tektonik Jauh
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm
Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang  adalah Level 
II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder  berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0III, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu  dengan 
intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat: 
- 88 kali gempa Letusan
- 64 kali gempa Hembusan
- 17 kali gempa Guguran
- 16 kali Tremor Harmonik
- 2 kali gempa Tornillo
Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada 
umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). 
Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak 
atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 - 150 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 2 kali gempa Hembusan
- 2 kali gempa Tektonik Lokal
- 12 kali gempa Tektonik Jauh
- 3 kali Getaran Banjir dengan amplitudo 4-5 mm
Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian masimum 300 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- 197 kali gempa Hembusan
- 1 kali getaran banjir dengan amplitudo 16 mm
Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 300 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 18 April 2019 tercatat:
- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi  di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat di sekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano 
Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG,
- Air Nav,
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin,
- VAAC Tokyo,
- dll.
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan 
laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali
VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2019 pukul 18:47 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.
(3) G. Soputan, Sulawesi Utara
VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
(5) G. Anak Krakatau, Lampung
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 April 2019 pukul 16:40 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 57 mm dan 
lama gempa 38 detik, secara visual tidak teramati.
(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta
VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(7) G. Dukono, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 April 2019 pukul 18:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah baratdaya.
(8) G. Ibu, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
(9) G. Gamalama, Maluku Utara
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
(10) G. Kerinci, Jambi 
VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut
(11) G. Bromo, Jawa Timur
VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.
Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019 ,   potensinya relatif sama tingginya  utamanya wilayah Indonesia bagian Timur  .Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai  utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, ,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara,  Sulawesi  Tengah  dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:
1. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur*, 2. Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat*, 3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali*, 4. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan*, 5.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 6.Kabupaten Badung, Provinsi Bali, 7.  Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 8.  Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, 9.  Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), 10.  Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, 11.  Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat ,  12.  Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, 13.  Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Timur, 14.  Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat , 15. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 16. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 17. Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, 18. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 19. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, 20. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 21. Kabupaten Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah, 22. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 23. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 24.Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, 25.Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, 26. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. 
*Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir  di :
1. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi Kamis, 18 April 2019 pukul 08.00 WIB pada tambang tradisional batu kapur yang longsor/ runtuh dan menimpa 2 orang pekerja di depo batu kapur turut Dukuh Gadu Ds. Gadudero Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.
Sumber:https://www.patinews.com/tambang-batu-kapur-di-sukolilo-longsor-satu-orang-meninggal-dunia/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal dan labil serta dipicu oleh air hujan.
2. kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada jalan bagian abutment (kepala jembatan) Sungai Cijangkelok di sekitar Dusun Karangsari, Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
Sumber: https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/04/18/tebing-penyangga-jalan-longsor-akses-ke-cibingbin-terancam-putus
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, air yang melimpah serta dipicu erosi sungai yang tinggi.
3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada sekitaran Br. Abing Petang, Desa Sulangai, Badung, Kamis (18/4). Tidak ada korban jiwa hanya menimbulkan terputusnya jalur ini
Sumber:https://twitter.com/punapibali/status/1118739443551092736
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan.
4. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi pada jalan poros Sa’dan via Tallunglipu. Dampaknya jalan poros Sa’dan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Material longsor berupa rumpun bambu dan tanah menutupi semua badan jalan. Kejadian Longsor terjadi sekitar pukul 16.30 Wita, Rabu, 17 April 2019. 
Sumber:https://www.karebatoraja.com/breaking-news-jalan-poros-rantepao-sadan-tertutup-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi :
Agar merelokasi para korban, dan mengevaluasi system pertambangan yang baik
Memperkuat kestabilan lereng, membuat penahan lereng atau melandaikan lereng,
Agar pengguna jalan tidak melewati jembatan tersebut,
Agar masyarakat yang dibantaran sungai/pinggir sungai dipindahkan sementara
Memperkuat kestabilan lereng, membuat penahan erosi seperti bronjong dan pengatuan drainase normalisasi sungai
Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
Pembersihan Material longsoran dan saluran air 
Agar masyarakat yang beraktifitas dan melintasi area tersebut agar waspada dan berhati-hati, khususnya pada keadaan hujan
Memperkuat pondasi jalan, memperhatikan kestabilan lereng, membuat penahan lereng dan pengatuan/pembuatan drainase
Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.