Laporan Kebencanaan Geologi, 20 April 2019

Logo_ESDM

I. SUMMARY
Hari ini, Sabtu 20 April 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas Level IV (Awas). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013 hingga Juli 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 150 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 4 kali Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3152 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 11 April 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 20 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2019 pukul 18:47 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. 

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunungapi Soputan (1809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 22 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19  April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Hybrid
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (167 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada April 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal  19 April 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Low Frekuensi
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 April 2019 pukul 16:40 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 57 mm dan lama gempa 38 detik, secara visual tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 20 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 2 Kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh 

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga 0-III kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 400 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2019 pukul 09:17 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0III, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 93 kali gempa Letusan
  • 16 kali gempa Guguran
  • 46 kali gempa Hembusan
  • 18 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tornelo
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian masimum 500 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 199 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 500 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah:
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019, potensinya relatif sama tingginya    utamanya wilyah indonesia bagian Timur, namun terjadi penurunan potensinya meliputi wilayah   Wilayah Sumatera bagian Timur,Jawa , Bali . dan Nusantenggara Barat.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  4. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan

Penyebab gerakan tanah diduga akibat Talud/ dinding penahan tebing yang kurang kuat dan kemiringan lereng yang sangat curam, batuan/tanah pelapukan bersifat sarang dan mudah rapuh. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor menyebabkan talud/dinding penahan tebing rusak berat di Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; satu rumah rusak berat di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat; longsor di perbukitan dan berpotensi terjadinya banjir bandang di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur; akses jalan terhambat Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di tenggara Lombok Tengah, NTB 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi tersebut terjadi pada hari Jumat, tanggal 19 April 2019, pukul 19:29:14 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 11,67 °LS dan 116,29°BT, dengan magnituda 5,0 pada kedalaman 10 km, berada 329 km tenggara Lombok Tengah.   

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Secara geologi, daerah yang terkena gempa bumi tersusun oleh batuan vulkanik yang berumur Tersier, dan endapan aluvium yang berumur Kuarter. Guncangan gempa bumi juga akan dirasakan di daerah yang tersusun batuan sedimen Tersier dan Batuan berumur Pra-Tersier yang telah terlapukkan yang berada di sekitar daerah tersebut. Endapan yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi akan berpotensi memperkuat efek guncangan gempa bumi, sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Gempa bumi berpusat di lempeng samudera Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise . Gempa bumi diperkirakan terjadi akibat reaktivasi sesar yang disebabkan oleh litosfer samudera yang mendekati zona subduksi dan menekuk ke dalam parit ( trench )laut dalam.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang biasanya energinya lebih kecil dari gempa bumi utama.


II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

  1. 1 (satu) gunungapi status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 3 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
  3. 16 gunungapi status WASPADA/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan G. Anak Krakatau).
  4. Sisanya 49 gunungapi status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Pengiriman Tim Tanggap Darurat dilakukan ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan sosialisasi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 150 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 4 kali Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi Gunung Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.
Erupsi terakhir terjadi pada 11 April 2019 pukul 18.47 WITA dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 2000 meter di atas puncak disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos PGA yang berada 12 km di sebelah Selatan-Baratdaya Puncak Gunung Agung.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 20 April 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Statusnya saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember Pkl 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3000-5000 m di atas puncak. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 22 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat.
G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 Pkl 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3000 m.
Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 Maret 2019 sekitar pukul 12:00 WITA. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19  April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Hybrid
  • 7 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September- 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga). 
Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 Pkl 12:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal  19 April 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Low Frekuensi
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal  
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 20 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 2 Kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh 

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga 0-III kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 400 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 19 April 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. 
Melalui seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 93 kali gempa Letusan
  • 16 kali gempa Guguran
  • 46 kali gempa Hembusan
  • 18 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tornelo
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara.Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). 
Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Tektonik Jauh Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian masimum 500 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:

  • 199 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 500 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 April 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi  di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera UtaraVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
  2. G. Agung, BaliVONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2019 pukul 18:47 WITA, terkait erupsi dengan tinggi kolom abu ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.
  3. G. Soputan, Sulawesi UtaraVONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.
  4. G. Karangetang, Sulawesi UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
  5. G. Anak Krakatau, LampungVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 April 2019 pukul 16:40 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 57 mm dan lama gempa 38 detik, secara visual tidak teramati.
  6. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  7. G. Dukono, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2019 pukul 09:17 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.
  8. G. Ibu, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.
  9. G. Gamalama, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
  10. G. Kerinci, JambiVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 13 April 2019 pukul 15:59 WIB, terkait hembusan asap kawah dengan tinggi sekitar 4205 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur laut
  11. G. Bromo, JawaTimurVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  April  2019 dibandingkan Maret  2019 ,   potensinya relatif sama tingginya  utamanya wilayah Indonesia bagian Timur  .Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai  utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung, ,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara,  Sulawesi  Tengah  dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

  1. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  4. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
  5. Kabupaten Pati , Provinsi Jawa Timur
  6. Kabupaten Kuningan , Provinsi Jawa Barat
  7. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  8. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  9. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  10. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat
  11. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
  12. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)
  13. Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur
  14. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  15. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
  16. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Timur
  17. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  18. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  19. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
  20. Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat
  21. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  22. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur
  23. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
  24. Kabupaten Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah
  25. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  26. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, 

Gerakan tanah terakhir terjadi terakhir  di :
1. Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 Gerakan tanah terjadi di Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat 19 April 2019 sore hari mengakibatkan talud/dinding penahan tebing rusak berat dan saluran air meluap sehingga sejumlah pemukiman warga di Perum Cemerlang sempat terendam banjir.
Sumber : https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/pq7lzc430/talud-longsor-rumah-di-cemerlang-sukabumi-terendam-banjir
Penyebab gerakan tanah diduga akibat Talud/ dinding penahan tebing yang kurang kuat dan kemiringan lereng yang sangat curam. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

 Gerakan tanah terjadi di dua lokasi yang berbeda pada hari Kamis 18 April 2019  yaitu di Kp. Cijantur, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor pada pukul 17.00 WIB yang mengakibatkan satu rumah rusak akibat tebing setinggi 5 meter longsor dan menima salah satu tembok rumah. Selain itu long terjadi di Kp. Banaraja RT.02 RW.16, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan mengakibatkan satu rumah rusak berat dan akses jalan terganggu karena tertutup material longsoran.
Sumber : https://beritautama.net/news/cuaca-ekstrem-dua-rumah-di-bogor-rusak-diterjang-longsor/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan terdapat saluran air yang debitnya sangat besar sehingga mengikis tebing jalan. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

3. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 Gerakan tanah terjadi di Bea Dolor, Desa Compang Necak, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu 17 April 2019 mengakibatkan longsor di perbukitan dan material longsoran tersebut membendung aliran Kali Wae Tagong yang berada di bwahnya. Akibat terbendungnya aliran sungai tersebut yang mencapai sekitar 1 km akan berpotensi terjadinya banjir bandang apabila volume air nya besar dan menjebol bendung alam tersebut.
Sumber : https://kumparan.com/florespedia2019/longsor-di-compang-necak-manggarai-timur-bpbd-himbau-warga-waspada-1quyLL8UIhF
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

4. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.

 Gerakan Tanah terjadi di objek wisata Pango-pango, Kelurahan Pasang, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis 18 April 2019 pukul 16.30 WITA yang mengakibatkan akses jalan poros menuju obejek wisata tersebut putus tidak bisa dilalui kendaraan bermotor akibat tertutup material longsoran.
Sumber : https://www.karebatoraja.com/longsor-di-objek-wisata-pango-pango-difoto-dari-udara/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Bagi masyarakat yang rumahnya dekat dengan daerah bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan talud/ penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Pemilik rumah yang mengalami bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Menata kembali drainase/air permukaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing;
  • Masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai tersebut dibagian hilir dari longsoran agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena berpotensi banjir bandang/luapan apabila bending alam tersebut jebol
  • Segera membuka bendung alam tersebut sebelum volume airnya meningkat dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi longsor susulan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.