Laporan Kebencanaan Geologi 06 November 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 6 November 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan - Barat.

Melalui rekaman seismograf pada 5 November 2018 tercatat:

- 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Barat.

Rekaman seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 6 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Timurlaut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf pada 5 Nopember 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Selatan - Baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 5 November 2018 tercatat:

  • 10 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Barat.

Melalui rekaman seismograf pada 5 November 2018 tercatat:

  • 281 kali gempa Letusan
  • 13 kali gempa Vulkanik Dangkal.
  • 6 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Harmonik.
  • 28 kali gempa Hembusan
  • Tremor terekam menerus dengan amplitudo 2 - 27 mm (dominan 8 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 06:56 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah selatan.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 25 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 500 - 800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat - Baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 November 2018 pukul 14:10 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Barat.

Gunungapi Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 600 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Timur.

Melalui seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 94 kali gempa Letusan
  • 90 kali gempa Hembusan
  • 37 kali gempa Guguran
  • 23 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 16:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas ke sebagian besar wilayah Indonesia utamanya Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , dan Kalimantan.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

2.Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Penyebab:Penyebab longsor diduga akibat kemiringan lereng yang terjal serta tanah pelapukan yang tebal dan bersifat sarang, erosi sungai serta dipicuh oleh hujan, deras yang terjadi secara terus menerus.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan satu rumah dengan 7 penghuninya terancam longsor di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; tanggul longsor kembali yang sebelumnya telah mengakibatkan 5 rumah dan satu bengkel hanyut di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018.

c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci*, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan - Barat.

Melalui rekaman seismograf pada 5 November 2018 tercatat:

- 1 kali gempa Hembusan

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.

Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali).

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Barat.

Rekaman seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 6 November 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dml, secara adinistratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate) , Provinsi Maluku Utara.

Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf pada 5 Nopember 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

 

Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas muka laut.

Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.

Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).

Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).

Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.

Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.

Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.

Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.

Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.

Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, dengan tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah Selatan - Baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 5 November 2018 tercatat:

  • 10 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

Gunungapi Krakatau (Lampung).

Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Barat.

Melalui rekaman seismograf pada 5 November 2018 tercatat:

  • 281 kali gempa Letusan
  • 13 kali gempa Vulkanik Dangkal.
  • 6 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Harmonik.
  • 28 kali gempa Hembusan
  • Tremor terekam menerus dengan amplitudo 2 - 27 mm (dominan 8 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati diatas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 25 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 500 - 800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat - Baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 - 600 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara - Timur.

Melalui seismograf tanggal 5 November 2018 tercatat:

  • 94 kali gempa Letusan
  • 90 kali gempa Hembusan
  • 37 kali gempa Guguran
  • 23 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Gamalama, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

(4) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

(5) G. Krakatau, Lampung.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 06:56 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah selatan.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 November 2018 pukul 14:10 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Barat.

(8) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Oktober 2018 pukul 12:58 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2018 yang dibandingkan bulan Oktober 2018 akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,   Maluku dan Papua . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,

2.Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur*,

3.Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh,

4.Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat,

5.Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat,

6.Kabupaten Timika, Provinsi Papua,

7.Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali,

8.Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung,

9.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,

10.Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur,

11.Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat,

12.Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi,

13.Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara,

14.Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat,

15.Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung,

16.Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat,

17. Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh,

18. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,

19. Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat,

20.Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,

21.Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,

22.Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat,

23.Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi,

24.Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat,

25. Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau,

26. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,

27. Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian gerakan tanah terbaru:

1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Hujan deras menyebabkan tanah longsor menggerus bagian belakang rumah di atas tebing yang dihuni tujuh warga di wilayah Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tidak ada korban jiwa pada bencana yang terjadi di Kampung Jambelaer, RT19/RW04, Desa Cibatu pada Minggu, (4/11) sekitar pukul 22.00 WIB. Tanah longsor tersebut berawal dari hujan deras yang melanda daerah tersebut. Tiba-tiba tebing setinggi sekitar lima meter yang dijadikan permukiman warga mengalami tanah longsor. Akibatnya, rumah milik Tata yang dihuni tujuh orang ikut tergerus di bagian belakang.

Sumber berita : https://www.liputan6.com/regional/read/3684495/tanah-longsor-gerus-rumah-warga-di-sukabumi

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang meterialnya menimbun rumah. Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

2.Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur

Tanggul sungai Bengawan Solo kembali mengalami pergerakan, senin 5 November 2018. Longsor kali ini terjadi di Dusun Glogok Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sebelumnya, longsor ini juga terjadi di tanggul di Desa Keduyung Kecamatan Laren dan mengakibatkan 5 rumah dan satu bengkel hanyut. Pada longsor kali ini, tanah bantaran ini tidak sampai mengancam rumah warga karena rumah penduduk masih jauh dari lokasi kejadian. Bantaran yang mengalami sliding lebar 1 meter, panjang kurang lebih 100 meter dengan kedalaman 3.50 meter. Jarak dengan tanggul dan retakan atau sliding sepanjang 40 meter.Sementara penurunan tanah kurang lebih sepanjang 100 meter dengan kedalaman 3.50 meter. Sedangkan jarak penurunan tanah dari retakan ke debit air kurang lebih 2 meter sepanjang 30 meter dengan kedalaman 4, 5 meter. Kejadian ini perlu diwaspadai, karena sliding adalah pecahan tanah yg terus bergerak.

Sumber berita : http://surabaya.tribunnews.com/2018/11/05/tanggul-bengawan-solo-di-sumberwudi-lamongan-longsor-sepanjang-100-meter-ini-kata-dinas-pengairan

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah. Penyebab gerakan tanah diantaranya dipicu oleh penggerusan material di bagian bawah sungai, ketidakstabilan tanggul, tanah lapukan yang gembur dan sarang serta mudah menyerap air.

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar lokasi bencana harus waspada dan segera menjauh, terutama pada waktu hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi pemukiman dan pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
  • Menanam tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk menjaga kestabilan lereng;
  • Membuat penahan tebing jalan yang pondasinya kuat dan dalam untuk memperkuat kestabilan lereng;
  • Masyarakat dan pengguna jalan di tepian sungai harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Pengguna Jalan dan masyarakat disekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/ BPBD setempat.