Laporan Kebencanaan Geologi, 08 Mei 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Rabu 8 Mei 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas Level IV (Awas). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013 hingga Juli 2018 dan tanggal 7 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati Letusan dengan ketinggian 2.000 meter di atas puncak berwarna kelabu dan intensitas tipis hingga tebal condong ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 17 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Low Frequency
  • 8 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.5 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Mei 2019 pukul 06:41 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.460 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak, dengan intensitas tebal, angin bertiup ke arah tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3.152 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017. Letusan terakhir tejadi pada tanggal 6 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter di atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 8 Mei 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak         berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Mei 2019 pukul 23:02 WITA, terkait erupsi pukul 22:55 WITA. Erupsi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 5.142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter di atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 15 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 150 mdi atas puncak dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Mei 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 7 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm.

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Mei 2019 pukul 05:36 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 55 mm dan lama gempa 53 detik, secara visual tidak teramati.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 250 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 30 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 200 meter dan warna asap putih hingga kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Mei 2019 pukul 09:29 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

Gunungapi Ibu (Halmahera)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter di atas puncak.

Melalui seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 84 kali gempa Letusan
  • 12 kali gempa Guguran
  • 58 kali gempa Hembusan
  • 100 kali Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Lokal
  • 13 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300 meter di atas puncak dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 213 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor terus menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Mei 2019 pukul 17:25 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 17.08 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.105 m di atas permukaan air laut atau sekitar 300 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah tenggara.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 400 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2019 dibandingkan April 2019, potensinya relatif mengalami penurunan , namun kewaspadaan tetap terhadap potensi terjadinya gerakan tanah yang meliputi wilayah   Wilayah pantai Sumatera bagian barat , Sulawesi bagian Tengah

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara

2.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan

3.Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

4.Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana, kontruksi jembatan yang sudah tidak kuat lagi menahan beban lebih sehingga terjadi amblasa Selain itu curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

Dampak :akses jalan terhambat di Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara dan di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali; sekolah rusak berat di Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan; dua orang tewas dan satu orang terluka di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. tingkat aktivitas saat ini:

a. 1 (satu) gunungapi tingkat aktivitas Level IV ( AWAS), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 3 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

c. 16 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).

d. Sisanya 49 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level IV (Awas). Pengiriman Tim Tanggap Darurat dilakukan ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan sosialisasi.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati Letusan dengan ketinggian 2.000 meter di atas puncak berwarna kelabu dan intensitas tipis hingga tebal condong ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 17 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Low Frequency
  • 8 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.5 mm

Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 6 Mei 2019 pukul 22:55 WITA, teramati erupsi dengan ketinggian sekitar 5.142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter di atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 8 Mei 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter di atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 15 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat.

Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m.

Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 150 mdi atas puncak dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 7 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 3 mm.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 250 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 30 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Dukono (Halmahera)

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 200 meter dan warna asap putih hingga kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm.

Gunungapi Ibu (Halmahera)

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter di atas puncak.

Melalui seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 84 kali gempa Letusan
  • 12 kali gempa Guguran
  • 58 kali gempa Hembusan
  • 100 kali Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Lokal
  • 13 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300 meter di atas puncak dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • 213 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor terus menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 400 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 7 Mei 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Mei 2019 pukul 06:41 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 meter di atas puncak, dengan intensitas tebal, angin bertiup ke arah tenggara.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Mei 2019 pukul 23:02 WITA, terkait erupsi pukul 22:55 WITA. Terkait erupsi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 5.142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Mei 2019 pukul 05:36 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 58 mm dan lama gempa 46 detik, secara visual tidak teramati.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Mei 2019 pukul 09:29 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Februari 2019 pukul 19:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Mei 2019 pukul 17:25 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 17.08 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.105 m di atas permukaan air laut atau sekitar 300 m di atas puncak. kolom abu begerak ke arah tenggara.

(11) G. Bromo, JawaTimur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2019 dibandingkan april 2019 ,   potensinya relatif akan mengalami penurunan .Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain di wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

 

1.Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara*,

2.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan*,

3.Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali*,

4.Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali*,

5.Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,

6.Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan,

7.Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara,

8.Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,

9.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah,

10.Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara,

11.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,

12.Kabupaten Purwokerto, Provinsi Jawa Tengah,

13.Kota Ambon, Provinsi Maluku,

14. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur,

17.Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

*Gerakan tanah seminggu terakhir terjadi terakhir di :

1.Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara

Gerakan tanah terjadi di jalan penghubung antar desa yang menghubungkan Desa Gonting Malaha dengan Desa Buntu Maraja, tepatnya di Dusun I, Desa Buntu Maraja, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin 6 Mei 2019 malam hari yang mengakibatkan longsor tebing jalan sehingga akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan akibat tertutup material longsoran.

Sumber :

https://news.metro24jam.com/read/2019/05/07/69315/diguyur-hujan-jalan-penghubung-antar-desa-kecamatan-bandar-pulau-tertimbun-longsor

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan

Gerakan tanah terjadi di sebuah bangunan sekolah SMPN 10 Saluputti, Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gerakan tanah tersebut mengakibatkan tebing longsor dan menimpa bangunan sekolah sehingga mengalami rusak berat.

Sumber :

https://www.inews.id/daerah/sulsel/tertimbun-longsor-aktivitas-sekolah-di-tana-toraja-lumpuh/537277

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan terdapat saluran air yang debitnya sangat besar sehingga mengikis tebing tersebut. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

3.Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

Gerakan tanah terjadi di Jembatan Subak tepatnya di Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa 7 Mei 2019 sekitar pukul 07.30 WITA ketika sedang memperbaiki jembatan dengan cara mengurugnya. Namun tiba-tiba bagian tengah jembatan amblas dan mengakibatkan dua orang tewas dan satu orang terluka akibat tertimbun material jembatan yang amblas.

Sumber :

http://www.balipost.com/news/2019/05/07/74727/Tertimbun-Longsor-saat-Urug-Jembatan,...html

https://news.okezone.com/read/2019/05/07/340/2052628/tertimbun-longsor-saat-urug-jembatan-2-orang-tewas

https://news.okezone.com/read/2019/05/07/244/2052545/uruk-jembatan-2-warga-tabanan-tewas-tertimbun-longsor

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kontruksi jembatan yang sudah tidak kuat lagi menahan beban lebih sehingga terjadi amblasan. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan/material urugan jembatan.

4.Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

Gerakan tanah terjadi di Jalan Raya yang menghubungkan Gianyar – Klungkung tepatnya di Dusun Uma Salakan, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin 6 Mei 2019 dini hari yang mengakibatkan tebing setinggi 4 meter longsor sehingga akses jalan sempat tidak bisa dilalui kendaraan karena tertutup material longsoran.

Sumber :

https://www.nusabali.com/berita/51715/tanah-longsor-tutup-akses-jalan

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi :

  • Para pengguna jalan dan masyarakat disekitar lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Menata kembali drainase/air permukaan;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing;
  • Kepada seluruh civitas akademik agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga atau para civitas akdemik dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan atau penambahan beban pada jembatan;
  • Memperbaiki / membangun kembali jembatan dengan kontruksi jembatan yang memenuhi standar sesuai kegunaannya.
  • Memperhatikan faktor kekuatan jembatan sesuai dengan batas beban jembatan tersebut;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.