Laporan Kebencanaan Geologi, 18 Meil 2019

Logo_ESDM

I. SUMMARY
Hari ini, Sabtu 18 Mei 2019,  Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas Level IV (Awas). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 12 Mei 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut.  Teramati asap kawah utama putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 500 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tornillo
  • 48 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Mei 2019 pukul 12:33 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 5 mm dan lama gempa 1687 detik, secara visual tidak teramati.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama tinggi sekitar 80 meter di atas puncak warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 18 Mei 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 12 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak  berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Mei 2019 pukul 02:09 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 10 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 36 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama tinggi sekitar 400 meter dari puncak, warna putih dengan intensitas tebal. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 14 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 0.5 mm

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Mei 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 meter diatas puncak, berwarna putih dan intensitas sedang.
Melalui seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 10 mm

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Mei 2019 pukul 14:12 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 357 meter di atas permukaan laut  atau sekitar 200 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 250 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 17 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Mei 2019 pukul 18:30 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.029 m di atas permukaan laut  atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter di atas puncak. Melalui seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 91 kali gempa Letusan
  • 99 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Guguran
  • 115 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 307 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Mei 2019 pukul 18:04 WIB, terkait  pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 18.04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.505 m di atas permukaan air laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah tenggara.  

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian 200 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2019 dibandingkan April 2019, potensinya relatif mengalami penurunan , namun kewaspadaan tetap terhadap potensi  terjadinya gerakan tanah yang  meliputi wilayah   Wilayah pantai  Sumatera bagian barat , Sulawesi bagian Tengah 
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan
  2. Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten
  3. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat

Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan curah hujan tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.
Dampak :  1 (satu) rumah rusak berat di  Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan  dan di  Kota Depok, Provinsi Jawa Barat ; jalur pipa PDAM putus dan jembatan terancam putus di Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. tingkat aktivitas saat ini:

  1. 1 (satu) gunungapi tingkat aktivitas Level IV ( AWAS), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 3 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
  3. 16 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).
  4. Sisanya 49 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level IV (Awas). Pengiriman Tim Tanggap Darurat dilakukan ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan sosialisasi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut.  Teramati asap kawah utama putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 500 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tornillo
  • 48 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh 

Penduduk yang bermukim disekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi lahar pada musim hujan.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.Erupsi terakhir terjadi pada 6 Mei 2019 pukul 22:55 WITA, teramati erupsi dengan ketinggian sekitar 5.142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama tinggi sekitar 80 meter di atas puncak warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 18 Mei 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 12 kali gempa Hembusan

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 10 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 36 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama tinggi sekitar 400 meter dari puncak, warna putih dengan intensitas tebal. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 14 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 0.5 mm

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga). 
Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 meter diatas puncak, berwarna putih dan intensitas sedang.
Melalui seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 10 mm

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 250 meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis. 
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 17 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf pada 17 Mei 2019 tercatat

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter di atas puncak. Melalui seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 91 kali gempa Letusan
  • 99 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Guguran
  • 115 kali Tremor Harmonik

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). 
Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Getaran Banjir

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:

  • 307 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian 200meter di atas puncak, dengan warna putih dan intensitas tipis.
Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Mei 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi  di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera UtaraVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Mei 2019 pukul 12:33 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 5 mm dan lama gempa 1687 detik, secara visual tidak teramati.
  2. G. Agung, BaliVONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Mei 2019 pukul 02:09 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 meter di atas puncak.
  3. G. Soputan, Sulawesi UtaraVONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.
  4. G. Karangetang, Sulawesi UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
  5. G. Anak Krakatau, LampungVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Mei 2019 pukul 14:12 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 357 meter di atas permukaan laut  atau sekitar 200 meter di atas puncak.
  6. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  7. G. Dukono, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Mei 2019 pukul 18:30 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.029 m di atas permukaan laut  atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.
  8. G. Ibu, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.
  9. G. Gamalama, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
  10. G. Kerinci, JambiVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Mei 2019 pukul 18:04 WIB, terkait  pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 18.04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.505 m di atas permukaan air laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah tenggara.  
  11. G. Bromo, JawaTimurVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Mei 2019 dibandingkan april 2019 ,   potensinya relatif akan mengalami penurunan .Namun wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai  utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  di wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung,    Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara,  Sulawesi  Tengah  dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

  1. Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan
  2. Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten
  3. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  5. Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur,
  6. Kota Padang Sidempuan, Provinsi  Sumatera Utara
  7. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  8. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  9. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  10. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  11. Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. 

Gerakan tanah seminggu terakhir terjadi terakhir  di :
1. Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi  Kalimantan Selatan
Gerakan tanah terjadi di Muara Banta Tengah RT 02, Kelurahan Kandangan Kota, Kec. Kandangan, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Gerakan tanah berupa longsoran tanah yang terjadi pada tebing tepi Sungai Amandiy di sekitar permukiman, mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak berat.
Sumber:http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/05/17/ditinggal-pergi-rumah-junaidi-di-muara-banta-tengah-hss-roboh-akibat-longsor
Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, erosi aliran sungai, dan kondisi lereng yang masih labil akibat longsor sebelumnya.

2. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Gerakan tanah terjadi di TPT Jembatan Rancagawe, Desa Aweh, Kec. Kalanganyar, Kab. Lebak, Banten. Gerakan tanah berupa longsoran tanah yang terjadi pada lereng turap jembatan setinggi 2 meter dan lebar 4 meter. Akibatnya, jalur pipa PDAM putus dan jembatan terancam putus.
Sumber:https://bantenhits.com/2019/05/17/tpt-jembatan-rancagawe-longsor-pasokan-air-bersih-ke-warga-tersendat/
Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan curah hujan tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.

3. Kota Depok, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Gang Masjid RT 02 RW 07, Kelurahan Sawangan Baru, Kec. Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Gerakan tanah berupa longsoran tanah yang terjadi pada tebing setinggi 5 meter di sekitar permukiman, mengakibatkan 1 (satu) rumah rusak berat.
Sumber:http://poskotanews.com/2019/05/16/longsor-timpa-rumah-di-sawangan-depok/
Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan curah hujan yang tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas dan tinggal di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.
  • Segera memperbaiki bronjong penahan erosi dengan konstruksi yang lebih kuat agar area longsoran tidak meluas. Proses perbaikan agar tetap mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap longsor susulan.
  • Masyarakat yang tinggal di lokasi dengan kondisi yang serupa dengan daerah bencana agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan di sekitar lereng terjal. Jika muncul retakan yang memanjang sejajar lereng agar segera mengungsi dan melapor kepada pihak BPBD atau aparat desa setempat.
  • Penghuni rumah yang rusak berat agar mengungsi sementara hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Menghindari kegiatan yang mengganggu kestabilan lereng seperti menebang pepohonan besar atau melakukan pemotongan lereng yang terlalu terjal.
  • Segera memperbaiki pipa air yang putus agar sumber air masyarakat kembali pulih.
  • Membangun perkuatan lereng untuk mencegah area longsoran meluas.
  • Segera membuat konstruksi perkuatan lereng agar area longsoran tidak meluas. Proses perbaikan agar tetap mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap longsor susulan.
  • Penghuni rumah yang rusak berat agar mengungsi sementara hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.