Laporan Kebencanaan Geologi, 23 Mei 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Kamis 23 Mei 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 12 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 16 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Mei 2019 pukul 12:33 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 5 mm dan lama gempa 1687 detik, secara visual tidak teramati.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 23 Mei 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Mei 2019 pukul 02:09 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 meter di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 27 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 19 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Mei 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornilo
  • 4 kali gempa Low Frequency
  • 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalaml
  • 9 kali gempa Harmonik
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Mei 2019 pukul 11:00 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dan lama gempa 45 detik.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 500 meter dan warna asap putih, kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa letusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 Mei 2019 pukul 18:50 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.

Gunungapi Ibu (Halmahera)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter di atas puncak.

Melalui seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 92 kali gempa Letusan
  • 86 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Guguran
  • 83 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-II. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 17 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 400 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 354 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Teknonik Lokal
  • 1 kali gempa Teknonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Mei 2019 pukul 18:04 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 18.04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.505 m di atas permukaan air laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah tenggara.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2019 dibandingkan April 2019, potensinya relatif mengalami penurunan , namun kewaspadaan tetap terhadap potensi terjadinya gerakan tanah yang meliputi wilayah   Wilayah pantai Sumatera bagian barat , Sulawesi bagian Tengah

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan

2. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana.

Dampak : dua orang korban di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan *, akses lalu lintas terhambat di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di baratlaut Boalemo, Gorontalo

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 22 Mei 2019, pukul 01:42:45 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 122,12° BT dan 1,03° LU, dengan magnitudo 5,2 pada kedalaman 16 km, berjarak 61 km Baratlaut Boalemo, Gorontalo.

Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 122,36° BT dan 0,62° LU, dengan magnitudo Mw 4,9 pada kedalaman 42 km.

Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 122,084° BT dan 1,013° LU, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 49,5 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan pra-Tersier yang sebagian telah terlapukkan. Batuan yang telah mengalami pelapukan tersebut dapat bersifat urai dan lepas, sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi di sebelah utara Pulau Sulawesi.

Dampak gempa bumi;

Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi, kemudian intensitasnya semakin melemah seiring bertambahnya jarak dengan pusat gempa bumi. Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di kota Gorontalo, dan Gorontalo Utara dengan intensitas III-IV MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

2) Gempa bumi di timurlaut Maluku Baratdaya, Maluku

Informasi Gempa Bumi:

Gempabumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 22 Mei 2019, pukul 08:39:56 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 7,33° LS dan 129,25° BT, dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman 148 Km, berjarak 185 Km Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku. Menurut GFZ Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 7,36° LS dan 129,06° BT, dengan magnitudo 4,7 Mw pada kedalaman 156 km. Sedangkan berdasarkan informasi USGS, pusat gempa bumi berada pada koordinat 7,146° LS dan 129,155° BT, dengan magnitudo M 4,7 pada kedalaan 173,6 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempabumi yaitu Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kai, sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan sedimen Tersier yang terlapukkan diperkirakan goncangan gempabumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan kedalaman pusatnya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas di Weber Deep dan aktivitas sesar laut aktif di sebelah utara Kepulauan Tanimbar, Maluku.

3) Gempa bumi di Perairan Selayan Jawa

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 22 Mei 2019, pukul 18:50 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 108,55° BT dan 10,21° LS, dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km, berjarak 278 km Tenggara Pangandaran, Jawa Barat. Berdasarkan informasi dari GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 108,52°BT dan 10,28°LS dan dengan magnitudo 4,8 mb dan kedalaman 10 km. USGS, Amerika Serikat melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat dan 108,588°BT dan 10,236°LS dengan magnitudo M 4,7 dan kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di selatan Pulau Jawa bagian tengah. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter, dan sebagian kecil batuan sedimen dan karbonat berumur Tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.

Penyebab gempa bumi:

Gempa bumi berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise. Gempa bumi terjadi akibat reaktivasi sesar yang disebabkan oleh litosfer samudera yang mendekati zona subduksi dan menekuk ke dalam parit (trench) laut dalam.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini tidak memicu tsunami. Belum ada laporan terkait intensitas guncangan gempa bumi ini

Rekomendasi:

(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. tingkat aktivitas saat ini:

a. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

b. 16 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).

c. Sisanya 49 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 12 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 16 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 6 Mei 2019 pukul 22:55 WITA, teramati erupsi dengan ketinggian sekitar 5.142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

 

Tanggal 23 Mei 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 27 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 19 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornilo
  • 4 kali gempa Low Frequency
  • 6 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalaml
  • 9 kali gempa Harmonik
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Dukono (Halmahera)

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 500 meter dan warna asap putih, kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Mei 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa letusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Gunungapi Ibu (Halmahera)

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter di atas puncak.

Melalui seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 92 kali gempa Letusan
  • 86 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Guguran
  • 83 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-II. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 17 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 400 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 354 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Teknonik Lokal
  • 1 kali gempa Teknonik Jauh

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 22 Mei 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Mei 2019 pukul 12:33 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 5 mm dan lama gempa 1687 detik, secara visual tidak teramati.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Mei 2019 pukul 02:09 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 meter di atas puncak.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Mei 2019 pukul 11:00 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dan lama gempa 45 detik.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 Mei 2019 pukul 18:50 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Timur.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Mei 2019 pukul 18:04 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik coklat pada pukul 18.04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.505 m di atas permukaan air laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah tenggara.

(11) G. Bromo, JawaTimur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2019 dibandingkan april 2019 ,   potensinya relatif akan mengalami penurunan .Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain di wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara , Maluku , NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan*,

2. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara*,

3. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat,

4.Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatera Selatan,

5.Kabupaten Labura, Provinsi Sumatra Utara,

6.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah,

7.Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,

8.Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat,

9.Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan,

10.Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,

11.Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.

*Gerakan tanah seminggu terakhir terjadi terakhir di :

1.Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan

Gerakan tanah terjadi di Pulau Matasirih Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru Kalsel . 13 titik longsor ditemukan dari dua desa yaitu Teluk Sungai dan Labuan Barat. Dalam musibah tanah longsor tersebut, seorang ibu dan bayinya ikut menjadi korban.

Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2019/05/21/bpbd-temukan-13-titik-rawan-longsor-di-pulau-matasirih-di-kalsel

Gerakan tanah diperkirakan disebabkan oleh kondisi tanah/ batuan yang lemah dan bersifat lepas, morfologi yang curam dan kemungkinan adanya pemotongan lereng, dan dipicu curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah. Disamping faktor litologi, faktor stratigrafi juga mungkin cukup berperan untuk terjadinya gerakan tanah di daerah ini, yaitu adanya batuan kedap air yang berada dibawah batuan yang sarang pada badan/tebing jalan.

2. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara

Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa, Selasa (21/5) sore, mengakibatkan terjadinya longsor yang menutupi akses jalan di desa tersebut. Longsor yang terjadi, setinggi dua meter dengan panjang hingga mencapai 10 meter. Tak ada satu pun kendaraan yang bisa melintasi ruas jalan tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa, Johanis Pesik, mengatakan pihaknya terus berupaya membersihkan longsoran tersebut, mengingat akses jalan itu, menjadi salah akses utama di wilayah Kecamatan Eris.

Sumber: https://kumparan.com/manadobacirita/longsor-tutup-akses-jalan-di-desa-maumbi-minahasa-1r7pHQ1MZnO

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang beraktivitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
  • Material longsoran segera dibersihkan dan pembersihan material longsoran harap memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta memasa dinding penahan pada tebing yang rawan longsor bila diperlukan;
  • Memperbaiki sistem drainase pada tebing atas yang longsor;
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.