Laporan Kebencanaan Geologi 06 Desember 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Kamis 6 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang - tebal, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 6 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - sedang dengan ketinggian 50 dari atas kawah puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 4 Desember 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 21 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis - sedang, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat - Baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 23 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 25 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 9 kali gempa Harmonik
  • gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1-25 mm (dominan 5 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Desember 2018 pukul 11:15 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih sedang - tebal setinggi 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 49 kali gempa Guguran
  • 12 kali gempa Hembusan
  • 2kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu dengan ketinggian 400 m di atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Desember 2018 pukul 08:37 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Barat.

Gunungapi Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 91 kali gempa Letusan
  • 116 kali gempa Hembusan
  • 26 kali gempa Guguran
  • 11 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas ke sebagian besar wilayah Indonesia Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
  • Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil dan pemotongan lereng yang curam, erosi tebing sungai dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan lalu lintas terhambat dan rumah rusak di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, satu rumah rusak di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di barat laut Kep. Talaud, Sulawesi Utara

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 5 Desember 2018, pukul 15:13 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126,28° BT dan 4,27° LU, dengan magnitudo 5,3 pada kedalaman 67 km, berjarak 54 km Barat Laut Kep. Talaud, Sulawesi Utara.

Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 126,76° BT dan 4,59° LU, dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km.

Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 126,165° BT dan 4,361° LU, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 75,9 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa disusun oleh batuan aluvium dan vulkanik berumur Kuarter, batuan sedimen berumur Tersier dan batuan pra-Tersier. Batuan vulkanik Kuarter dan aluvium bersifat urai/lepas sehingga memperkuat efek guncangan gempabumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi Punggungan Mayu yang berada di Laut Maluku.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Tahuna dengan intensitas II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

 

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap 50 m dari atas puncak, berwarna putih, intensitas tipis - tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati 100 m di atas puncak, berwarna putih, intensitas sedang - tebal, tekanan lemah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 6 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis - sedang dengan ketinggian 50 dari atas kawah puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Baratdaya - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 4 Desember 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 21 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis - sedang, tekanan asap lemah hingga sedang, dan tinggi sekitar 200 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat - Baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 23 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:

VONA terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 16 Oktober 2018 pukul 22:34 WITA, terkait hembusan asap dengan tinggi maksimum 1834 di atas permukaan laut atau sekitar 50 meter di atas puncak.

Gunungapi Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati dari atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Utara - Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 25 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 9 kali gempa Harmonik
  • gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1-25 mm (dominan 5 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Desember 2018 pukul 11:15 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 938 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Utara.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih sedang - tebal setinggi 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Timur - Selatan.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 49 kali gempa Guguran
  • 12 kali gempa Hembusan
  • 2kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu dengan ketinggian 400 m di atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor terekam menerus dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Desember 2018 pukul 08:37 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Barat.

Gunungapi Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200 – 800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah Utara dan Barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 5 Desember 2018 tercatat:

  • 91 kali gempa Letusan
  • 116 kali gempa Hembusan
  • 26 kali gempa Guguran
  • 11 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Oktober 2018 pukul 18:30 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Utara.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November 2018 akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah*,

2.Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat*,

3.Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat,

4.Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat,

5.Kabupaten Kendal, Jawa Tengah,

6.Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,

7.Kabupaten Banjarnegara, Jawa tengah,

8.Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,

9. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,

10.Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat,

11.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan,

12.Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara,

13. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,

14. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,

15. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,

16. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,

17. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,

18. Kabupaten Agam,Provinsi Sumatera Barat,

19. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung;

20.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,

21. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,

22. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur,

23. Kabupaten Tabanan, Provinsu Bali,

24. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,

*Kejadian gerakan tanah terbaru:

1.Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Gerakan tanah terjadi di Grumbul Windusari, Desa Kalisalak, Kecamatan kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Terjadi pada hari Selasa, 4 desember 2018. Gerakan tanah ini Berdampak terhadap rumah warga dan juga menutup akses jalan antar Desa.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/774694/belasan-rumah-terdampak-pergerakan-tanah-di-banyumas

Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat di picu oleh curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, sehingga lereng menjadi tidak stabil. Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa tipe longsoran.

2.Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Tanah Longsor terjadi di Kampung Nyalindung, kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Terjadi pada hari Selasa, 4 Desember 2018 sekitar pukul 18.30 WIB. Gerakan tanah ini mengakibatkan 1 rumah mengalami kerugian akibat tertimpa material longsor.

Sumber : http://jabar.tribunnews.com/2018/12/05/sempat-tertimpa-lemari-seorang-anak-korban-longsor-di-ciumbuleuit-bandung-alami-trauma

Jenis Gerakan Tanah diperkirakan berupa tipe longsoran. Penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena kemiringan lereng yang tidak stabil karna lereng yang sangat terjal serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar Masyarakat yang beraktifitas disekitar wilayah bencana lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Material longsoran segera dibersihkan.
  • Menata aliran permukaan/drainase pada lereng tersebut dengan saluran yang kedap air serta membangun gorong gorong.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor/runtuhan batu
  • Tidak mengembangkan bangunan pada lereng jalan yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
  • Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat
  • Tidak melakukan penggundulan hutan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.