Laporan Kebencanaan Geologi, 10 Juni 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Senin, 10 Juni 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi Sinabung terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih - hitam dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi 50 - 1000 meter dari puncak. Teramati letusan dengan tinggi kolom 7000 m dari puncak. Teramati awan panas letusan dengan jarak luncur 3500 m mengarah ke timur, tenggara, dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Awan Panas Letusan
  • 5 kali gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 3 - 120 mm, dominan 20 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 9 Juni 2019 pukul 16:48 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 9460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m dari puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah utama tidak teramati dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 10 Juni 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Mei 2019 pukul 11:42 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur-timurlaut.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis sampai sedang tinggi sekitar 25 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 17 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut hingga jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hybrid
  • 23 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.25 - 1 mm, dominan 1 mm.

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Mei 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 5 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Juni 2019 pukul 09:31 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 49 mm dan lama gempa 260 detik.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis hingga tebal setinggi 50 meter dari puncak. Dari CCTV teramati awan panas guguran ke arah hulu K. Gendol dengan jarak luncur 1000 m, guguran lava pijar ke hulu K.Gendol 22 kali, jarak luncur 250 - 1000 m.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 63 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 21 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera)

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 100 hingga 200 meter dengan warna asap putih, kelabu.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 22 mm, dominan 2 mm.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Juni 2019 pukul 07:00 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Ibu (Halmahera)

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 115 kali gempa Letusan
  • 84 kali gempa Hembusan
  • 18 kali gempa Guguran
  • 41 kali gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 5 kali gempa Tektonik Lokal
  • 13 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati dari puncak karena gunung tertutup kabut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 106 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juni 2019 pukul 06:42 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik berwarna kelabu pada pukul 06:04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2019 dibandingkan Mei 2019, potensinya relatif sama dan potensinya rendah disebagian besar wilyah indonesia, namun kewaspadaan tetap terhadap potensi terjadinya gerakan tanah yang meliputi wilayah   Wilayah pantai Sumatera bagian utara dan barat , Sulawesi bagian Tengah

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.            Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan

2.            Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah daerah bencana.

Dampak : 23 KK mengungsi di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan; akses lalu lintas terhambat di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di baratdaya Cilacap, Jawa Tengah

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 9 Juni 2019, pukul 16:32:22 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 108.86° BT dan 8.51° LS, dengan magnitudo M5.7 pada kedalaman 10 km, berjarak 88 km baratdaya Cilacap, Jawa Tengah.

GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 108.85° BT dan 8.41° LS dengan magnitudo 5.3 Mw dan kedalaman 67 km. USGS, Amerika Serikat, menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 108.981° BT dan 8.236° LS pada kedalaman 80.4 km dengan magnitudo M5.2.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah Cilacap dan pesisir jawa tengah. Wilayah tersebut pada umumnya disusun oleh endapan kuarter dan batuan berumur tersier berupa batuan sedimen dan batuan gunungapi. Batuan berumur Kuarter serta batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak sehingga bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi ini berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan BMKG, gempa bumi ini di rasakan pada skala III MMI di Cilacap, ciamis, pangandaran,kebumen, II MMI di Bandung dan I-II MMI di Kota Banjar, Tasikmalaya, Garut, Sukabumi dan Banjarnegara. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.

Belum ada laporan resmi adanya kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi ini.

2) Gempa bumi di Tenggara Nusa Dua, Bali

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu tanggal 9 Juni 2019, pukul 16:47:40 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada Kordinat 11,75° LS dan 115,66° BT, dengan magnitudo 5,2 pada Kedalaman 10 Km, berjarak 331 Km Tenggara Nusa Dua, Bali.

Menurut informasi GFZ, pusat gempa bumi berada pada Kordinat 11,76° LS dan 115,66° BT, dengan magnitudo M 5,2 pada Kedalaman 10 Km. Sedangkan berdasarkan informasi USGS, pusat gempa bumi berada pada Kordinat 11,535° LS dan 115,655° BT, dengan magnitudo M 4,9 pada Kedalaman 10 Km.

Kondisi Geologi Daerah Terkena Gempa Bumi:

Pusat gempa bumi ini berada di laut, daerah terdekat pusat gempa bumi tersusun oleh batuan karbonat berumur Tersier dan batuan gunungapi berumur Kuarter. Pada batuan yang telah mengalami pelapukan, belum kompak dan bersifat lepas akan memperkuat efek goncangan gempa sehingga akan lebih dirasakan.

Penyebab Gempa Bumi:

Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, berada di outer rise, di luar sistem zona subduksi.

Dampak Gempa Bumi:

Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

b. 16 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).

c. Sisanya 49 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 28 Mei 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi Sinabung terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih - hitam dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi 50 - 1000 meter dari puncak. Teramati letusan dengan tinggi kolom 7000 m dari puncak. Teramati awan panas letusan dengan jarak luncur 3500 m mengarah ke timur, tenggara, dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Awan Panas Letusan
  • 5 kali gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 3 - 120 mm, dominan 20 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 31 Mei 2019 pukul 11:42 WITA, teramati erupsi dengan tinggi kolom abu erupsi mencapai 2000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah utama tidak teramati dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 10 Juni 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 1 kali gempa Hembusan

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis sampai sedang tinggi sekitar 25 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 17 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut hingga jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hybrid
  • 23 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.25 - 1 mm, dominan 1 mm.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 5 mm, dominan 2 mm.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis hingga tebal setinggi 50 meter dari puncak. Dari CCTV teramati awan panas guguran ke arah hulu K. Gendol dengan jarak luncur 1000 m, guguran lava pijar ke hulu K.Gendol 22 kali, jarak luncur 250 - 1000 m.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 63 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 21 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Dukono (Halmahera)

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 100 hingga 200 meter dengan warna asap putih, kelabu.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 22 mm, dominan 2 mm.

Gunungapi Ibu (Halmahera)

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 115 kali gempa Letusan
  • 84 kali gempa Hembusan
  • 18 kali gempa Guguran
  • 41 kali gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 5 kali gempa Tektonik Lokal
  • 13 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Harmonik

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati dari puncak karena gunung tertutup kabut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 106 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 1 mm, dominan 1 mm

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi 200 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 9 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 9 Juni 2019 pukul 16:48 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 9460 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m dari puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Mei 2019 pukul 11:42 WITA , terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5.142 meter di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur-timurlaut.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Juni 2019 pukul 09:31 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 49 mm dan lama gempa 260 detik.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Juni 2019 pukul 07:00 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juni 2019 pukul 06:42 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik berwarna kelabu pada pukul 06:04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur.

(11) G. Bromo, JawaTimur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2019 dibandingkan Mei 2019 ,   potensinya relatif sama dan rendah disebagian besar wilayah Indonesia.Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain di wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara .

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan*,

2.Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan*,

3. Kota Ambon, Provinsi Maluku,

4. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau,

5. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,

6. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,

7.Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat,

8.Kota Ambon, Provinsi Maluku,

9. Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Gerakan tanah seminggu terakhir terjadi terakhir di :

1.Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan

Gerakan tanah terjadi di Pegunungan di Dusun Toddang Lempang, Desa Tompobulu, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 8 Juni 2019, tidak ada korban jiwa namun sedikitnya 23 KK atau 85 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman dari bencana gerakan tanah.

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2019/06/09/longsor-di-tompobulu-bone-23-kk-mengungsi

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2.Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan

Gerakan tanah terjadi di tebing jalan di Kampung Lappo Batu Dusun Wanua Waru Desa Wanua, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 8 Juni 2019 siang hari yang mengakibatkan tebing sepanjang 20 meter menutupi badan jalan sehingga tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut.

Sumber : https://fajar.co.id/2019/06/09/jalan-dusun-wanua-waru-longsor-akses-warga-terputus/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan terdapat saluran air yang debitnya sangat besar sehingga mengikis tebing jalan. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi :

  • Masyarakat harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing;
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.