Geologi Untuk Perlindungan Dan Kesejahteraan Masyarakat: Mengulas Potensi Gempa Jakarta Dan Pengurangan Risikonya

Kamis, 8 Maret 2018 bertempat di ruang monitoring Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar didampingi oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani dan Kepala Pusat Survei Geologi Eko Budi Lelono, Pejabat Administrator dan Pengawas, Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Geologi, mengadakan siaran pers berkaitan dengan berkembangnya berita-berita tentang potensi gempa Jakarta dihadapan lebih dari 30 Media Daerah dan Nasional.

Dalam Siaran Pers yang dibagikan kepada Media bertemakan “GEOLOGI UNTUK PERLINDUNGAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: MENGULAS POTENSI GEMPA JAKARTA DAN PENGURANGAN RISIKONYA” Badan Geologi membahas tentang apa yang dimaksud dengan gempa bumi Megathrust, dituliskan dalam siaran pers tersebut dituliskan “Wilayah DKI Jakarta tersusun atas endapan Geologi Kuarter (produk gunung api dan alluvium) yang mempunyai ketebalan maksimum mencapai sekitar 1350 m (Cipta, 2017). Endapan ini merupakan endapan terurai (unconsolidated). Karakteristik endapan Cekungan Kuarter terurai ini sangat penting dalam penilaian potensi bahaya gempa bumi sebagai salah satu faktor penguatan gelombang gempa bumi (faktor amplifikasi). Hal ini dapat dirasakan dari beberapa kejadian gempa bumi dengan magnitude cukup besar pada jarak yang cukup jauh, tetapi dapat dirasakan cukup kuat di Jakarta. Misalnya Gempa Indramayu 9 Agustus 2007 (7,5 Mw), Gempa Tasikmalaya 2 September 2009 (7,0 Mw), Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2016 (6,5 Mw), dan Gempa Lebak 23 Januari 2018 (5,9 Mw). Ini menandakan Jakarta memiliki kerentanan terhadap goncangan gempa bumi.”

Lebih jauh dalam siaran pers dituliskan “Pengurangan kerentanan terhadap gempa bumi adalah dengan penataan ruang berbasis kebencanaan yang termasuk di dalamnya pembangunan bangunan yang tahan gempa bumi. Peningkatan kapasitas dilakukan kepada masyarakat dan stake holder dengan cara sosialisasi yang kontinyu mengenai pengetahuan gempa bumi, langkah-langkah evakuasi dan penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi serta peningkatan kewaspadaan. Dan alangkah baiknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kerjasama yang erat antar pemerintah, swasta dan masyarakat harus terus dijalin dan ditingkatkan dalam mengantisipasi kejadian bencana termasuk membuat berbagai skenario untuk kesiapan semua lini ketika terjadi krisis.”

Badan Geologi dalam penutup siaran persnya “Nilai utama keberhasilan mitigasi bencana adalah minimalnya kerugian akibat kejadian bencana. Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, Perlindungan kepada masyarakat terhadap resiko bencana geologi menjadi salah satu prioritas Pemerintah, khususnya juga tugas di Badan Geologi. Komunikasi yang baik dan kerja sama erat antar lembaga, instansi terkait serta masyarakat akan membuat kita semakin kuat dan siap. Badan Geologi senantiasa melakukan komunikasi dan menjalin kerja sama lebih intensif lagi dengan berbagai intansi baik BMKG, BNPB, LIPI, BPPT, Kementerian PUPR, Kementerian ATR, Bappenas, Perguruan Tinggi Asosiasi maupun Pemerintah DKI Jakarta. Jakarta harus merangkul kerja bersama yang lebih erat dan serius saat ini dan masa-masa mendatang untuk menangani berbagai permasalahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Badan Geologi, siap setiap saat membantu melakukan mitigasi dan juga akan selalu melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang kebencanaan geologi secara intensif dan kontinyu untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas dalam menghadapi bencana geologi. “

Lebih lengkapnya Siaran Pers bertemakan “Geologi Untuk Perlindungan Dan Kesejahteraan Masyarakat: Mengulas Potensi Gempa Jakarta Dan Pengurangan Risikonya” dapat dilihat di bawah ini.

 ============================================

 SIARAN PERS BADAN GEOLOGI

“GEOLOGI UNTUK PERLINDUNGAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: MENGULAS POTENSI GEMPA JAKARTA DAN PENGURANGAN RISIKONYA”

Gambaran Umum

Gempa bumi megathrust dapat dikategorikan sebagai gempa bumi yang berasosiasi dengan aktifitas subduksi pada kedalaman dangkal (0 – 50 km) dan berlokasi dekat dengan palung subduksi (trench). Megathrust berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan yang besar dengan maksimum magnitudo hingga 9,5. Jalur megathrust memanjang dari sebelah barat ujung utara Sumatra, ke selatan Jawa hingga di selatan Bali dan Nusa Tenggara yang terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen, salah satunya adalah segmen di selatan Selat Sunda.

Data sejarah menunjukkan terdapat 3 kejadian gempa bumi besar yang pernah tercatat mengguncang Jakarta yaitu: 1699, 1780 dan 1834, yang diduga berasal dari sumber gempa bumi di sekitar Jakarta. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan di wilayah Jakarta serta kota-kota lain di Jawa Barat dan Lampung. Sumber gempa bumi berskala besar berpotensi terjadi di sekitar Jakarta, yang dapat berasal dari zona subduksi, intraslab maupun patahan di darat. Namun, sampai saat ini belum ada cara untuk memprediksi kejadian gempabumi (tempat, waktu dan besaran) secara tepat namun potensi besaran dan dampak gempabumi dapat dihitung secara ilmiah.

Wilayah DKI Jakarta tersusun atas endapan Geologi Kuarter (produk gunung api dan alluvium) yang mempunyai ketebalan maksimum mencapai sekitar 1350 m (Cipta, 2017). Endapan ini merupakan endapan terurai (unconsolidated). Karakteristik endapan Cekungan Kuarter terurai ini sangat penting dalam penilaian potensi bahaya gempa bumi sebagai salah satu faktor penguatan gelombang gempa bumi (faktor amplifikasi). Hal ini dapat dirasakan dari beberapa kejadian gempa bumi dengan magnitude cukup besar pada jarak yang cukup jauh, tetapi dapat dirasakan cukup kuat di Jakarta. Misalnya Gempa Indramayu 9 Agustus 2007 (7,5 Mw), Gempa Tasikmalaya 2 September 2009 (7,0 Mw), Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2016 (6,5 Mw), dan Gempa Lebak 23 Januari 2018 (5,9 Mw). Ini menandakan Jakarta memiliki kerentanan terhadap goncangan gempa bumi.

 

Upaya Mitigasi Dalam Rangka Pengurangan Risiko Bencana

Kondisi Jakarta memiliki kerentanan terhadap goncangan gempa bumi dari sumber gempa bumi yang berjarak cukup jauh, karena tersusun atas endapan kuarter yang terurai (unconsolidated) dan tebal. Untuk itu perlu adanya pemetaan tapak local (site class) secara detil, untuk mengetahui karakteristik tapak lokal Jakarta terhadap penguatan akibat goncangan gempa bumi. Keberadaan jalur patahan aktif yang diperkirakan melewati Jakarta masih belum diketahui secara pasti. Penelitian dan pemetaan secara detil diperlukan untuk mengidentifikasi seberapa aktif patahan tersebut. Karena jika ada patahan aktif di Jakarta, ada potensi terjadi kerusakan di sepanjang jalur patahan tersebut.

Jakarta masih dikategorikan relatif aman untuk ditinggali. Masyarakat harus tetap tenang, tidak perlu khawatir berlebihan namun terus tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Seperti kita ketahui, gempa bumi tidak membunuh, namun robohnya bangunan yang menyebabkan korban jiwa. Sumber gempa bumi atau bahaya gempa bumi yang berpotensi melanda wilayah Jakarta tidak dapat dihilangkan ataupun dikurangi oleh manusia, upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi dapat dilakukan dan ditingkatkan melalui pengurangan kerentanan (risiko) terhadap gempa bumi dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi gempa bumi.

Pengurangan kerentanan terhadap gempa bumi adalah dengan penataan ruang berbasis kebencanaan yang termasuk di dalamnya pembangunan bangunan yang tahan gempa bumi. Peningkatan kapasitas dilakukan kepada masyarakat dan stake holder dengan cara sosialisasi yang kontinyu mengenai pengetahuan gempa bumi, langkah-langkah evakuasi dan penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi serta peningkatan kewaspadaan. Dan alangkah baiknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kerjasama yang erat antar pemerintah, swasta dan masyarakat harus terus dijalin dan ditingkatkan dalam mengantisipasi kejadian bencana termasuk membuat berbagai skenario untuk kesiapan semua lini ketika terjadi krisis.

Nilai utama keberhasilan mitigasi bencana adalah minimalnya kerugian akibat kejadian bencana. Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, Perlindungan kepada masyarakat terhadap resiko bencana geologi menjadi salah satu prioritas Pemerintah, khususnya juga tugas di Badan Geologi. Komunikasi yang baik dan kerja sama erat antar lembaga, instansi terkait serta masyarakat akan membuat kita semakin kuat dan siap. Badan Geologi senantiasa melakukan komunikasi dan menjalin kerja sama lebih intensif lagi dengan berbagai intansi baik BMKG, BNPB, LIPI, BPPT, Kementerian PUPR, Kementerian ATR, Bappenas, Perguruan Tinggi Asosiasi maupun Pemerintah DKI Jakarta. Jakarta harus merangkul kerja bersama yang lebih erat dan serius saat ini dan masa-masa mendatang untuk menangani berbagai permasalahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Badan Geologi, siap setiap saat membantu melakukan mitigasi dan juga akan selalu melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang kebencanaan geologi secara intensif dan kontinyu untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas dalam menghadapi bencana geologi.

 

Bandung, 8 Maret 2018

Kepala Badan Geologi,

 

 

Rudy Suhendar

------------------------------------------------------------------------

“FAQ”

Pertanyaan Umum dan Jawaban Terkait Gempa Bumi di Jakarta

1. Apakah yang dimaksud dengan Megathrust?

Megathrust merupakan salah satu jenis sumber gempa bumi dengan mekanisme sesar naik dan ukurannya sangat besar yang terbentuk dari proses subduksi (tumbukan) antara dua lempeng tektonik, dimana salah satunya menunjam ke bawah yang lainnya. Wilayah Indonesia merupakan lokasi pertemuan beberapa lempeng tektonik seperti Lempeng Indo-Australia di sebelah selatan, Lempeng Eurasia, dimana Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan berada, serta Lempeng Filipina dan Lempeng Pasifik di sebelah timur laut. Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke arah utara dan sebagian dari lempeng tersebut menunjam ke bawah Lempeng Eurasia yang bergerak relatif ke selatan. Dari pertemuan dua lempeng tersebut dapat ditemui zona subduksi dan sumber gempa bumi megathrust dari sebelah barat ujung utara Sumatra, ke selatan Jawa hingga di selatan Kepulauan Lesser (Bali dan Nusa Tenggara) yang terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen, salah satunya adalah Segmen Sunda (di selatan selat sunda). Di wilayah tengah dan timur Indonesia juga terdapat zona subduksi dari Lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat daya dan menunjam ke bawah lempeng Eurasia dan lempeng Indo Australia.

Gempa bumi megathrust dapat dikategorikan sebagai gempa bumi yang berasosiasi dengan aktifitas subduksi pada kedalaman 0 – 50 km dan berlokasi dekat dengan palung subduksi (trench). Megathrust berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan yang besar – sangat besar, dengan maksimum dapat mencapai 9,5 skala magnitudo.

2. Bagaimana kondisi geologi dan potensi bencana geologi di Jakarta?

Lapisan tanah dan batuan Wilayah Jakarta merupakan sedimen lunak yang mengisi cekungan Geologi yang terdiri dari 3 (tiga) Kelompok Fasies Endapan Kuarter dengan ketebalan mencapai ± 250 meter dibagian Utara dan menipis ke arah Selatan dengan ketebalan ± 40 meter. Endapan ini merupakan endapan terurai (unconsolidated) dan tersusun atas endapan fasies darat, transisi dan inner klastik. Karakteristik endapan Cekungan Kuarter terurai ini sangat penting dalam penilaian potensi bencana gempabumi sebagai salah satu faktor penguatan gelombang gempabumi (faktor amplifikasi).

Berdasarkan Peta Seismotektonik yang disusun Pusat Survei Geologi, Badan Geologi diketahui adanya beberapa patahan aktif di wilayah DKI Jakarta. Pada bagian utara melintang dari Timur-Barat terdapat kelurusan Patahan Baribis, sedangkan di sebelah selatan wilayah ini melintang Patahan Bogor yang juga berarah Timur-Barat. Disamping itu wilayah DKI Jakarta juga diapit oleh Patahan Cisadane pada bagian barat dan Patahan Bekasi pada bagian Timur. Namun keberdaaan patahan aktif di sekitar Jakarta ini masih memerlukan penilitian rinci lebih lanjut di lapangan. Terkait dengan gempabumi, tetap saja indikasi keberadaan patahan-patahan aktif ini harus diwaspadai.

3. Apakah pernah terjadi gempa bumi di Jakarta?

Berdasarkan data sejarah kegempaan, catatan oleh ahli gempa Jerman Winchmann (1918), pernah terjadi gempa bumi besar yang berasal dari sumber gempa di sekitar Jakarta dan menimbulkan kerusakan berat di wilayah Jakarta serta kota-kota lain di sekitar Jawa dan Lampung. 3 kali gempa besar terjadi pada 5 Januari 1699, 22 Januari 1780 dan 10 Oktober 1834. Namun dikarenakan pada saat itu belum ada alat pengukuran gempa, sehingga tidak ada catatan jelas dari mana lokasi pusat gempa.

Sedangkan dalam 10 tahun ke belakang, setidaknya ada empat gempa bumi yang guncangannya dirasakan cukup kuat hingga di Jakarta, diantaranya Gempa Indramayu 9 Agustus 2007 (7,5 Mw), Gempa Tasikmalaya 2 September 2009       (7,0 Mw), Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2016 (6,5 Mw), dan Gempa Lebak 23 Januari 2018 (5,9 Mw). Ini menandakan Jakarta memiliki kerentanan terhadap goncangan gempa.

4. Apakah benar akan terjadi lagi gempa skala besar dan bagaimana memprediksi terjadinya gempa tersebut?

Di wilayah Indonesia pada umumnya yang memiliki kerentanan gempa, Gempa bumi berskala besar berpotensi terjadi, baik yang berasal dari zona subduksi, intraslab maupun patahan di darat. Belum ada cara untuk memprediksi kejadian gempabumi (tempat, waktu dan besaran) secara tepat, namun potensi besaran dan dampak gempabumi pada prinsipnya dapat dihitung dan diprediksi secara ilmiah.

5. Bagaimana sumber gempa bumi yang dapat berdampak di wilayah Jakarta?

Secara geologis ada 3 kelompok gempa bumi yang memungkinkan dapat menimbulkan dampak di wilayah Jakarta adalah:

  • Sumber gempa bumi dari subduksi (megathrust). Jaraknya zona subduksi lebih dari 200 km terhadap Kota Jakarta. Jika terjadi gempa bumi besar (8 – 9,5 Mw) yang bersumber dari zona subduksi dapat merambat hingga wilayah Jakarta, intensitas biasanya menurun namun karena amplifikasi tinggi, dapat berdampak terutama terhadap bangunan/infrastruktur tinggi.
  • Sumber gempa bumi dari intraslab (zona dalam pertemuan kerak samudera dan kerak benua, kedalaman umumnya >90 Km) dengan posisi pusat gempa terletak di bawah wilayah Jakarta. Maksimum magnitudonya diperkirakan lebih kecil daripada gempa bumi subduksi, namun juga dapat menimbulkan efek kerusakan, terutama terhadap bangunan/infastruktur tinggi.
  • Sumber gempa bumi yang diakibatkan aktivitas patahan aktif di darat sekitar Jakarta (Baribis, Citarik, Cimandiri ??). Magnitudo maksimum pada umumnya lebih kecil daripada gempa bumi subduksi dan intraslab. Karena jaraknya dekat dan pusat gempa bumi dangkal, dampak gempa bumi bisa berpengaruh langsung terhadap bangunan perumahan rakyat dan gedung yang tidak terlalu tinggi.

 

6. Keberadaaan patahan aktif di sekitar Jakarta saat ini masih menjadi perdebatan, Bagaimana tanggapan dari Badan Geologi?

Beberapa kejadian gempabumi yang turut menggoncang Jakarta, sedikit banyak mengindikasikan keberadaan patahan aktif di wilayah Jakarta. Gempa-gempa yang telah terjadi seperti Gempa Indramayu 9 Agustus 2007, Gempa Tasikmalaya 2 September 2009, Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2016, dan Gempa Lebak 23 Januari 2018, memiliki pusat gempa yang cukup jauh dari Jakarta, namun getarannya di Jakarta terasa cukup besar. Hal ini menandakan, bahwa selain amplifikasi tinggi juga terdapat media perambatan getaran gempa tersebut melalui jalur-jalur patahan aktif. Keberadaan jalur patahan-patahan aktif ini, harus diketahui dan diteliti lagi lebih detil dan akurat, karena pada umumnya kerusakan yang ditimbulkan sepanjang jalur patahan ini akan lebih intensif.

7. Apakah faktor – faktor penyebab tingginya kerusakan akibat gempa?
  • Parameter sumber gempa bumi: yang meliputi besarannya dan mekanismenya, semakin besar magnitudo maka semakin tinggi potensi kerusakan
  • Jarak pusat gempa bumi: semakin dekat jarak sumber gempa bumi maka intensitas guncangan akan semakin kuat dan potensi kerusakan akan semakin tinggi.
  • Sifat fisis batuan permukaan: jika semakin lunak, lepas dan tebal tanah permukaan maka semakin tinggi amplifikasi guncangan gempa bumi dan semakin berpotensi mengalami kerusakan
  • Kualitas bangunan: tentunya mempengaruhi ketahanan bangunan tersebut terhadap guncangan gempabumi. Dalam hal ini building code dan tata ruang pada daerah rawan bencana harusnya lebih ketat.
8. Apakah gempa akan menimbulkan potensi Tsunami? Bagaimana dengan di Jakarta?

Tsunami adalah gelombang laut yang terjadi karena adanya gangguan yang tiba-tiba (impulsif) pada laut. Gangguan impulsif tersebut terjadi akibat adanya perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba dalam arah vertikal atau horizontal.

Perubahan tersebut disebabkan oleh tiga sumber utama, yaitu gempa tektonik, letusan gunung api, ataupun longsoran yang terjadi di dasar laut. Pada umumnya tsunami di Indonesia disebabkan oleh gempabumi. Gempabumi yang dapat menyebabkan biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Lokasi episenter terletak di laut,
  • Kedalaman pusat gempa relatif dangkal, kurang dari 70 km,
  • Memiliki magnitudo besar M > 7.0 SR,
  • Mekanisme pergerakannya adalah sesar naik (thrusting fault) atau sesar turun (normal fault). 

Terkait dengan isu terjadinya gempabumi megathrust, maka apabila ciri-ciri yang disebutkan di atas telah terpenuhi, maka kemungkinan dapat terjadi tsunami. Namun apakah tsunami ini dapat mencapai Jakarta masih menjadi pertanyaan karena letak Jakarta relatif jauh dari samudera Hindia yang menjadi pusat gempa.

9. Apakah pulau Jawa akan tenggelam dan terbelah?

Tidak, berita ini hoax semata!!. Proses geologi berlangsung pada skala waktu geologi dengan satuan ribuan hingga jutaan tahun. Dinamika bumi berlangsung dalam satuan milimeter per tahun, sehingga proses tenggelam atau terpisahnya bagian suatu pulau memerlukan waktu jutaan bahkan puluhan atau ratusan juta tahun.

10. Apakah masih aman tinggal dan beraktifitas di Jakarta?

Jakarta memang berpotensi terkena dampak gempa bumi. Korban jiwa dan harta benda akibat gempa bumi pada umumnya dikarenakan oleh tertimpa bangunan yang roboh akibat guncangan gempa. Jakarta masih bisa dikatakan aman dari gempa bumi selama kita selalu waspada, melakukan kajian mendalam mengenai bahaya guncangan gempabumi dan memasukkan kajian ini ke dalam rencana tata ruang. Tata ruang dan pembangunan berbasis bencana ini harus dipatuhi secara ketat oleh pemerintah maupun masyarakat.

11. Bagaimana Jakarta harus mempersiapkan diri untuk menghadapi gempa? Apa Rekomendasi Badan Geologi? 

Sumber gempa bumi atau bahaya gempa bumi yang berpotensi melanda wilayah Jakarta tidak dapat dihilangkan ataupun dikurangi oleh manusia, upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi kerentanan (risiko) terhadap gempa bumi dan meningkatkan kapasitas dalam menghadapi gempa bumi.

Pengurangan kerentanan terhadap gempa bumi adalah dengan penataan ruang berbasis kebencanaan yang termasuk di dalamnya pembangunan bangunan yang tahan gempa bumi. Peningkatan kapasitas dilakukan kepada masyarakat dan stake holder dengan cara sosialisasi yang kontinyu mengenai pengetahuan gempa bumi, langkah-langkah evakuasi dan penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi serta peningkatan kewaspadaan. Dan alangkah baiknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kerjasama yang erat antar pemerintah, swasta dan masyarakat harus terus dijalin dan ditingkatkan dalam mengantisipasi kejadian bencana termasuk membuat berbagai skenario untuk kesiapsiagaan ketika terjadi krisis.

12. Apa yang harus kita lakukan ketika gempa terjadi?

  • Bila berada di dalam bangunan, segera berlindung di bawah rangka bangunan atau di kolong benda yang kuat (Meja, Kursi, dll) setelah itu keluarlah menuju tempat terbuka menggunakan tangga darurat. Menjauhlah dari jendela kaca dan benda-benda yang berpotensi akan jatuh (Lampu, Lemari, Vas Bunga, dll). 
  • Bila berada di luar, cari tempat terbuka yang jauh dari bangunan, tiang listrik, baliho, pohon, dll yang berpotensi roboh. 
  • Bila sedang mengemudi, berhentilah dan menjauh dari jembatan atau terowongan. 
  • Bila berada di pegunungan, hindari lereng dan jurang dan waspadalah dengan reruntuhan batu atau tanah longsor akibat gempa. 
  • Bila berada di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang lebih tinggi untuk menghindari apabila gempa berpotensi menyebabkan gelombang tsunami. 

13. Apa rencana Badan Geologi selanjutnya?

Badan Geologi akan selalu meningkatkan kualitas data dan informasi guna memberikan informasi publik mengenai potensi gempabumi dan tsunami melalui berbagai kegiatan pemetaan, penelitian, pengkajian kondisi geologi wilayah secara komprehensif, pemberdayaan masyarakat dan memberikan rekomendasi-rekomendasi teknis; tidak terkecuali di wilayah Jakarta.

Salah satu faktor utama yang turut mempengaruhi keberhasilan mitigasi bencana gempabumi adalah akurasi data geologi dan geofisika yang kita miliki. Perlindungan kepada masyarakat terhadap resiko bencana geologi menjadi salah satu prioritas kerja di Badan Geologi. Badan Geologi akan melakukan komunikasi dan menjalin kerja sama lebih intensif lagi dengan berbagai intansi baik BMKG, BNPB, LIPI, Kementerian PUPR, Kementerian ATR, Bappenas, PT, Asosiasi, Pemerintah DKI Jakarta dan tentu saja warga masyarakat sendiri. Dibutuhkan kerja bersama yang lebih erat dan serius saat ini dan masa-masa mendatang untuk menangani permasalahan Jakarta. Badan Geologi, juga akan selalu melakukan sosialisasi tentang kebencanaan geologi secara intensif untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana geologi.

 

CP: Dr. Sri Hidayati (Ichi)

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi, PVMBG, Badan Geologi

Hp. 081391373669

 

 

KF-1

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar didampingi oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani, Kepala Pusat Survei Geologi Eko Budi Lelono dan  Sri Hidayati (Ichi) Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi, PVMBG, Badan Geologi  dalam kegiatan  siaran pers di ruang monitoring PVMBG

 

kf-3

Awak media yang hadir dalam siaran pers Badan Geologi

 

kf-6

Kepala Pusat Survei Geologi Eko Budi Lelono turut memberikan keterangan dalam siaran pers

 

Penulis : Yana Karyana (HUMAS_PCMBG)

Sumber Foto : Dewi Subektiningsih