Perjalanan Penuh Tantangan Tim Tanggap Darurat Gerakan Tanah Pvmbg

PERJALANAN PENUH TANTANGAN TIM TANGGAP DARURAT GERAKAN TANAH PVMBG MENCAPAI LOKASI LONGSORAN DI PELAWANGAN SEMBALUN, GUNUNG RINJANI

 

Hari Minggu 29 Juli 2018 gempabumi berkekuatan 6,4 SR melanda wilayah Lombok Timur. Gempabumi ini telah memicu terjadinya gerakan tanah di jalur pendakian Pelawangan Sembalun dan tebing kaldera Gunung Rinjani. Untuk mengetahui kondisi gerakan tanah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membentuk tim tanggap darurat untuk melakukan pemeriksaan di lapangan. Kegiatan ini penuh dengan risiko dan tantangan, mengingat gempa yang masih sering terjadi, tetapi akan dilakukan dengan perhitungan yang matang untuk menghindari hal buruk jika terjadi gerakan tanah akibat goncangan gempabumi.

Tim tanggap darurat beranggotakan empat orang personel dari Bidang Mitigasi Gerakan Tanah, PVMBG, terdiri dari Yunara D. Triana, Anas Luthfi, Yohandi Kristiawan, dan Riyadi. Tim berangkat dari Bandung hari Selasa 31 Juli 2018 menuju Mataram dan sore hari tiba di Pos Utama Madayin, Sambelia. Dengan memanfaatkan waktu yang tersedia tim melakukan koordinasi dengan Petugas di Pos Utama Madayin dan Tim Tanggap Darurat Gempa Bumi, PVMBG yang telah tiba sehari sebelumnya di lokasi. Malam hari koordinasi dilanjutkan dengan petugas Pos Pengamatan Gunungapi Rinjani, PVMBG di Sembalun. Koordinasi dilakukan untuk mengetahui kondisi gunung api pasca terjadinya gempa bumi dan kondisi kegempaan yang terjadi.

 

RINJANI COVERfoto-1

Foto koordinasi di Pos Utama Madayin (kiri). Foto tengah koordinasi dengan jajaran Dirjen KSDAE Kementerian LHK. Foto Kanan koordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani

 

Rabu, 1 Agustus 2018 tim melakukan lanjutan koordinasi dengan pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan ini ditujukan untuk mendapatkan informasi awal dan kondisi gerakan tanah yang diketahui dan melaporkan rencana tim yang akan berangkat menuju lokasi gerakan tanah di jalur pendakian, mengingat lokasi masih dalam kondisi ditutup dan tidak boleh ada pendakian selama masa tanggap darurat. Setelah diskusi dan mendapat izin dari Kapolres, Dandim, Kasdim, dan Balai TNGR, disepakati bahwa tim akan melakukan pendakian dengan didampingi oleh petugas dari TNGR.

Untuk mematangkan rencana dan faktor keselamatan selama pemeriksaan gerakan tanah, tim selalu komunikasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Rinjani untuk mengetahui aktivitas kegempaan. Kejadian gempa menjadi perhatian khusus karena dikhawatirkan akan kembali memicu terjadinya gerakan tanah. Sempat timbul kekhawatiran, karena pada hari Rabu terjadi tujuh kali gempa tektonik lokal yang dirasakan dengan skala II MMI. Tetapi pada perkembangannya rekaman kejadian gempa terasa mengalami penurunan, sehingga diputuskan bahwa tim berangkat pada hari Kamis 2 Agustus 2018 pagi. Tim pendakian dari PVMBG berjumlah empat orang, yaitu Yunara D. Triana dan Yohandi Kristiawan dari tim TDGT PVMBG, serta Mutaharlin dan R. Fajar Anugrah petugas pos Pengamatan Gunungapi Rinjani, PVMBG. Anggota tim dari TNGR terdiri dari Joko Subiyantoro, Sugiri Didiono, dan Abdulah. Untuk kebutuhan logistik dan kebutuhan lainnya tim dilengkapi oleh dua orang porter lokal.

Hari Kamis 2 Agustus 2018, pendakian baru bisa dimulai pada pukul 07.00 pagi karena dilakukan dulu pengamatan kondisi kegempaan yang terjadi 12 jam sebelumya serta kondisi cuaca yang memungkinkan untuk dilakukan perekaman data menggunakan drone. Sebelum berangkat diputuskan bahwa tim akan menginap di jalur pendakian selama satu malam di lokasi yang dinilai aman dan jauh dari runtuhan batu ataupun terjangan material longsoran, jika terjadi kembali longsoran akibat goncangan gempabumi. Tempat yang dinilai aman adalah di pos 4 pada jalur pendakian di sekitar bukit Penyesalan.

Setelah menempuh pendakian sekitar 5 jam tim beristirahat di pos 3 untuk makan siang dan melepas lelah. Setelah istirahat dan makan siang perjalanan dilanjutkan menuju pos lokasi base camp. Setelah menempuh waktu total pendakian 6 -7 jam, tim tiba di lokasi untuk bermalam dalam kondisi cuaca mulai berkabut. Selama di base camp  dilakukan diskusi kembali dan perencanaan matang untuk pemeriksaan lokasi secara visual dan pengamatan dengan menggunakan drone, terutama penentuan lokasi yang aman untuk pengoperasian drone dan jalur yang dilalui dalam pengamatan visual sampai ke pelawangan Sembalun. Disepakati bahwa pengoperasin drone dilakukan di sekitar lembah yang terbuka di sekitar bukit penyesalan oleh Yohandi, Yunara dan petugas TNGR. Sedangkan pengamatan visual dan pengambilan foto sampai pelawangan akan dilakukan oleh petugas pos Pengamatan Gunung Rinjani, Mutaharlin, Fajar ditemani dua orang porter lokal. Petugas pengamatan juga akan melakukan pengecekan peralatan pemantauan gunung api dan pengamatan secara visual terhadap kondisi gunung pasca terjadinya gempabumi.

foto-2

Tim gabungan PVMBG dan Balai TNGR di Base camp Pos 4 Bukit Penyesalan

Selama istirahat dan bermalam, sempat terjadi hal-hal yang sebelumnya sangat tidak diharapkan,  beberapa kali goncangan gempa dirasakan. Sekitar pukul 18.30 terjadi goncangan gempa yang disertai dengan runtuhan batu pada tebing yang berada di sebelah timur base camp. Untuk mengetahui kegempaan yang terjadi, tim selalu berkomunikasi dengan petugas di pos Pengamatan, ketika terjadi gempa informasi langsung diketahui oleh tim. Setelah sempat tidak terjadi gempa terasa, sekitar pukul 24.00 sampai dengan pukul 03.00 hari Jumat 3 Agustus 2018, terjadi 5 kali gempa terasa, dan satu di antaranya guncangan dirasakan kuat. Gempa dengan guncangan kuat ini terjadi sekitar pukul 03.07 wita. Guncangan gempa bumi dengan magnitude 4,9 SR sesuai informasi dari BMKG ini juga dirasakan di seluruh wilayah Lombok.

Jumat 3 Agustus 2018 pagi hari sekitar pukul 05.00 wita, tim kembali berdiskusi untuk melakukan kegiatan dengan antisipasi yang harus dilakukan jika terjadi kembali gempa. Mengingat kondisi kegempaan yang masih aktif, diputuskan bahwa pemeriksaan dilakukan dengan cepat dan selalu memperhatikan kondisi sekitar, terutama dari potensi runtuhan batu dan longsoran tanah.

Sekitar pukul 6.30 tim yang terdiri dari petugas pengamatan Gunung Rinjani, Mutaharlin, Fajar, dan dua orang porter lokal melanjutkan pendakian ke arah Pelawangan. Sekitar pukul 07.00  tim drone menyusul melakukan pendakian untuk perekaman dari dataran terbuka di lokasi Cemara Siu.

foto-3

Foto retakan pada jalur pendakian di sekitar lokasi pngambilan gambar dengan drone (Kiri). Foto kanan pengoperasian drone di Cemara Siu

Selama kegiatan ini, terjadi kembali beberapa kali gempa dirasakan, sesuai informasi dari pos pengamatan melalui radio komunikasi yang mengirimkan sinyal terjadinya gempa tektonik lokal. Perjalanan penuh risiko dilakukan oleh petugas pengamatan gunung Rinjani, Mutaharlin dkk., ini dilakukan untuk mendapatkan data faktual gerakan tanah yang terjadi, kondisi peralatan pengamatan pemantauan gunungapi, dan visual gunung Rinjani pasca gempabumi. Informasi kondisi gunung sangat dibutuhkan dalam mitigasi letusan gunungapi. Selama pemeriksaan Mutaharlin dkk, yang melakukan pemeriksaan di Pelawangan merasakan guncangan gempa dan terdengar bunyi gemuruh dari runtuhan batu di sekitar jalur menuju danau, dinding kaldera sebelah barat, dan pada tebing gunung Sangkareang. Demikian juga yang dilakukan tim drone, Yunara, Yohandi dan petugas TNGR bukan tanpa risiko, mengingat pengoperasian drone berada pada lokasi yang di sekitarnya dijumpai juga retakan-retakan. Sekitar pukul 09.00 wita, kegiatan sudah diinstruksikan untuk diakhiri dan tim segera kembali ke pos 4 untuk persiapan perjalanan kembali ke Sembalun.

 

foto-4

 

Foto atas memperlihatkan longsoran-longsoran akibat gempabumi hasil pengambilan gambar dengan drone. Foto bawah runtuhan batu yang terjadi akibat gempabumi yang terjadi saat pemeriksaan lokasi.

Sekitar pukul 11.40 wita, tim mulai melakukan perjalanan pulang menuju sembalun setelah beristirahat sejenak dan makan siang. Pukul 16.00 tim sudah kembali di Pos Pengamatan Gunung Rinjani. Perjalanan pemeriksaan gerakan tanah dan pengecekan alat pemantauan gunungapi selesai dilaksanakan dengan baik dan seluruh tim kembali dengan selamat.